Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 92


__ADS_3

Rachel tersenyum setelah mengakhiri chattingan dengan Brandon. Sebenarnya hari ini Rachel lelah sekali. Bukan fisik, melainkan batinnya yang sangar lelah. Untuk sesaat Rachel ingin sendiri, mengurung diri di kamar dan mengcharge ulang tenaga nya.


Tapi mau bagaimana lagi, Rachel tidak ingin egois hanya memikirkan diri sendiri. Sementara di luar sana ada banyak orang yang mengkhawatirkan nya. Contohnya Brandon, Brandon sudah jauh-jauh datang ke rumah nya rasanya tidak enak seandainya menolak kedatangannya.


Sekarang sudah pukul 19.00 di rumah nya masih ada Tian, Farel, Anggun sedangkan Sarah pulang lebih dulu karena harus mengurus ketiga krucilnya sekitar jam lima sore tadi. Tak lama setelah Sarah pulang, Wisnu, Sebastian, Rendy dan Dypta datang.


Setelah mengobrol banyak hal, sekarang waktunya pamit pulang.


Di halaman depan, Rachel dan Ayuma sedang berbicara dengan Anggun, Sebastian dan Wisnu.


"Dengar setelah kamu bercerai dengan Hendrawan status kamu berubah menjadi mantan istri. Tapi kamu tetap menjadi putri Papa, anak tersanyang Papa. Dan jangan sekali-kali panggil Papa dengan panggilan Om. Papa akan sangat marah kalau kamu melakukan itu."


Ayuma tersenyum, "Iya Pa, sampai kapan pun Papa akan selalu menjadi Papaku."


Wisnu mengalihkan pandangan nya pada Rachel sementara Sebastian dan Anggun berbicara dengan Ayuma.


"Tetap lah tersenyum seperti ini, senyum kamu membuat Kakek bahagia.


Kapan-kapan kalau ada waktu luang, kita dance Black pink lagi seperti dulu waktu kamu masih kecil."


Rachel tertawa, "Nanti Kakek encok."


"Kakek sudah banyak stok obat anti encok."


Cucu dan Kakek tertawa seolah virus kebahagiaan sehingga yang lainnya juga ikut tertawa.


Kemudian Sebastian, Wisnu dan Anggun berpamitan pulang. Mereka masuk ke dalam mobil, Sebastian melajukan mobil meninggalkan halaman rumah Ayuma.


Setelah semuanya berpamitan tinggal lah Bastian, Farel dan Rachel di ruang tamu.


"Lo nggak pulang?." tanya Bastian.


"Gue masih mau duduk bareng Rachel." Jawab Farel.


"Udah malem, besok aja lagi ke sini. Bukannya gue ngusir yah tapi kan kamu juga lagi proses penyembuhan. Lo harus banyak istirahat." ucap Rachel lembut.


"Bener tuh Rachel, sepupu gue udah capek, mau tidur." ucap Bastian.


"Lo juga balik." ucap Farel.


"Ck. Iyah gue juga balik." jengkel Bastian.


Akhirnya mereka berdua pun menuju kendaraan masing-masing. Tadinya Farel semobil dengan Sarah, tapi Sarah sudah pulang duluan dengan jemputan suaminya, sekaligus Anthony ingin melihat sekilas kondisi Rachel.


"Langsung pulang, Den?." tanya Pak Joni.


"Iya, Pak." Jawab Farel, karena tangannya sedang sakit Farel tidak bisa menyetir sendiri.


Pak Joni pun melajukan mobil tepat di belakang mobil Bastian yang keluar dari gerbang. Pandangan mata Farel tak lepas menatap Rachel, begitu juga Rachel yang menatap ke arahnya.


Rasanya Farel ingin menginap dan menemani Rachel 24 jam. Bahkan di dalam otaknya tersusun rencana ingin tidur di samping Rachel dan memeluknya sampai pagi.


"Goodnight, My Bar-bar girl." gumam Farel sembari tersenyum.


Tepat setelah mobil Farel meninggalkan gerbang, sebuah mobil BMW masuk ke gerbang rumah Rachel. Karena kaca mobil di biarkan terbuka, Farel bisa melihat pemilik mobil itu.


"Brandon?." gumam Farel.


Setelah mematikan mesin mobil, Brandon mengambil kantong belanjaan berisi makanan untuk Rachel, sementara untuk bunga, Brandon tinggalkan di mobil. Ini bukan waktu yang tepat untuk romantis-romantisan.


"Brandon." Sapa Rachel saat melihat Brandon mendekat.


"Hai."


"Ayo masuk, lo pasti capek perjalanan dari rumah Papa ke sini. Jaraknya lumayan jauh soalnya." Rachel mempersilahkan Brandon masuk ke dalam rumah.


"Mulai sekarang aku dan Mama tinggal di sini."


Brandon menganguk-angguk dan ⅖ aku bawakan makanan," Brandon menyodorkan kantong belanjaan kepada Rachel.


"Terima kasih."


Begitu sampai di ruang tamu, Rachel mempersilahkan Brandon duduk.


"Kamu mau minum sesuatu?."


Brandon menggeleng, "Aku ngga punya banyak waktu untuk minum. aku ingin menggunakan waktu lima menit yang kamu berikan untuk mengobrol. Lima menitnya di mulai dari kapan? Sekarang?."


Rachel tertawa melihat wajah panik Brandon.


"Di mulai dari sekarang!."


"Oke Rachel aku ingin bicara penting tentang ..." ucap Brandon dengan nada cepat tanpa jeda.


"Hahaha," Rachel tertawa mendengar Brandon bicara dengan cepat tanpa jeda.


"Rachek aku serius."


Perlahan Tachel berhenti tertawa, "Maaf, maaf aku bercanda. Kita bisa mengobrol lebih dari lima menit."

__ADS_1


"Serius?."


Rachel mengangyj, "Jadinya mau minum ala?.:


"Nggak usah aku nggak haus."


Sekarang mereka pun duduk di ruang tengah sambil Rachel membuka kantong velanjaan dari Brandon.


"Aku makan es kirimnya ya?."


Brandon menganguk.


Rachel pun memakan es krim sementara Brandin menatap lekat padanya.


"Rachel."


"Ya."


"Saat di rumah kamu tadi aku bertemu Papa kamu. Papa kamu bilang beliau ingin membatalkan perjodohan kita. Tapi aku menolaknya. Aku masih ingin perjodohan kita tetap lanjut. Maksudku aku senang dekat dengan kamu. Ah tidak, tidak bukan hanya senang tapi lebih dari senang. Aku nyaman dekat kamu..." Brandin trgugup sampai berbicara bertepatan.


Rachel masih menunggu sambil memegangi es krimnya.


"Bisakah kita tetap dekat?."


Diam-diam tanpa mereka sadari, Farel mendengar dari luar. Saat sampai di depan gerbang tadi Farel menyuruh supirnya menghentikan mobil dan menyuruh menunggu di luar sementara Farel masuk ke halaman rumah Rachel lagi.


Sekarang di sinilah Farel, di balik pintu depan sedang menguping pembicaraan mereka. Dan Farel baru tahu fakta yang sangat mengejutkan ternyata selama ini mereka di jodohkan. Sepertinya Brandon jatuh cinta pada Rachel sedangkan Rachel...


Jantung Fare berdebar kencang menunggu jawaban Rachel.


"Tentu saja kita bisa tetap dekat. Kita bisa jadi teman."


Rachel menyendokkan lagi es krim nya dan menatap pada Brandon. Sementara Brandon menelan ludah dengan susah payah, mengusap belakang leher, memainkan jari-jari dan menaik turunkan kaki yang menandakan gugupnya dia sekarang. Bahkan saat pemilihan menjadi kapten Basket pun Brandon tidak segugup ini.


Brandon jadi bingung apa orang-orang juga merasakan seperti dia saat PDKT dengan perempuan yang dia sukai.


"Maksudku lebih dari teman."


"Sahabat?." tanya Rachel dengan serius. "Aku punya lima sahabat, namanya Tian, Dypta, Rendy, Farel dah Lun- ah tidak tidak, Luna bukan sahabat ku lagi. Kalau kamu mau jadi sahabatku kamu bisa menggantikan posisi Luna."


Brandon bingung antara Rachel pura-pura tidak tahu sekarang Brandon ingin menyatakan perasaan atau Rachel memang tahu tapi sedang mengalihkan pembicaraan mereka. Tapi jika dilihat dari ekspresi Rachel, dia terlihat serius seolah memang tidak menyadari sekarang Brandon sedang mengungkapkan rasa cinta.


Astaga, Brandon benar-benar bingung sekarang.


Beginilah resiko jomblo selama 20 tahun, tidak punya pengalaman apa-apa tentang perempuan. Bukannya tidak ingin pacaran seperti teman-temannya tapi masalahnya belum ada perempuan yang menarik perhatiannya. Hanya Rachel, satu-satu nya perempuan yang ingin Brandon kenal lebih jauh.


Brandon menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan perlahan.


"Aku mau lebih dari sahabat, Rachel. Aku ... Aku mau jadi pacar kamu."


Rachel melotot lebar, nyaris tersedak salivanya sendiri saking terkejutnya dengan ungkapan perasaan Brandon. Jadi sejak tadi Brandon tampak gugup karena ingin menyatakan cinta? Astaga, Rachel hampir berpikir Brandon kebelet pop karena terlihat tidak nyaman dengan posisi duduknya. Ternyata oh ternyata...


Rachel tidak berpikir sejauh itu untuk mengira Brandon akan mencintainya. Maksudnya... ini Brandon, kapten Basket yang sangat terkenal, sementara Rachel hanya perempuan biasa saja.


Rachel bukan bermaksud meremehkan dirinya sendiri. Rachel selalu percaya diri dengan apa yang dia miliki dan kemampuannya. Tapi untuk sekelas Brandon, Rachel tidak menyangka tipe perempuan Brandon bukan dari golongan terkenal seperti duta kampus, cheerleaders tim basket atau mahasiswa-mahasiswa seleb kampus.


Ini terlalu mendadak untuk Rachel, apalagi mereka baru kenal. Bagaimana bisa Brandon langsung jatuh cinta dalam waktu beberapa hari.


"Bagaimana? Kamu mau?."


Rachel menarik nafas dan mengeluarkan perlahan.


"Aku bingung harus menjawab apa. Mungkin aku memulai dengan terima kasih. Terima kasih sudah mencintaiku dan terima kasih sudah mengungkapkan perasaan kamu karena tidak semua orang berani menyatakan perasaannya. Aku sangat menghargai itu."


Brandon menunggu dengan gelisah.


"Tapi aku tidak bisa menerima perasaan kamu karena aku tidak mencintai kamu. Bukan, bukan berarti ada yang salah dengan kamu. Kamu keren, ganteng, baik, manis, kadang-kadang humoris juga, kamu perfect tapi aku... Aku yang tidak bisa secepat itu jatuh cinta tanpa mengenal orang itu lebih jauh. Kita baru beberapa hari bertemu. Maaf."


Rachel menggigit bibir bawahnya, khawatir kata-kata nya melukai hati Brandon.


Namun di luar dugaan Brandon justru tersenyum.


"Kalimat penolakan yang manis," Brandon terkekeh, "Ini pertama kalinya aku menyatakan perasaan jadi aku belum tahu gimana rasanya di tolak. Tapi waktu di tongkrongan aku sering mendengar teman-temanku di tolak dengan kata-kata kasar dan menyakitkan."


"Ini juga pertama kalinya ada yang menyatakan perasaan padaku dengan serius, bukan candaan seperti yang biasa Rendy lakukan. Jadi aku bingung harus menjawab apa. Astaga. Kamu bikin gugup tau."


Mata mereka saling bertemu dan sama-sama melempar senyum kikuk.


"Gimana kalau kita jalanin dulu, seiring berjalan nya waktu, saat kita semakin dekat mungkin kamu bisa jatuh cinta padaku. Dan seandainya setelah kita menjalani hubungan ini kamu tetap tidak bisa memcintaiku. It's oke cinta memang tidak bisa di paksa kan? Anggap saja ini menjadi pengalaman pertama kita soal menjalin hubungan."


Rachel terdiam, kemudian nama Farel muncul dalam kepalanya.


Sampai detik ini Rachel belum bisa menghapuskan nama Farel dari hati dan pikirannya. Bukan dalam waktu sebentar Rachel mencintai dan menganggumi Farel, dari kecil sampai sekarang kurang lebih 13 tahun.


Sejujurnya, Rachel tidak ingin mengenal laki-laki dulu setidaknya dia benar-benar melupakan Farel.


Apalagi di tambah dengan perceraian Mama dan Papa nya membuat Rachel agak trauma dengan laki-laki. Mama nya yang begitu mencintai Papa nya tapi Papa nya mencintai perempuan lain bahkan sampai berselingkuh dan memiliki anak lain.


Takut, Rachel takut seandainya dia benar-benar jatuh cinta dengan Brandon. Brandon berubah seperti Papa nya.

__ADS_1


Dua laki-laki yang Rachel harapkan cinta nya, Hendrawan dan Farel, sama-sama bertepuk sebelah tangan.


"Rachel," panggil Brandon lagi. "Maaf, kamu sedang dalam kondisi sulit tapi aku malah menambah beban kamu dengan ungkapan perasaanku. Maaf aku membuat kamu nggak nyaman dan terkesan memaksa. Kamu bisa memikirkan jawabannya besok, lusa atau kapan-kapan terserah kamu. Aku-"


"Tapi kamu mau janji?." tanya Rachel tiba-tiba.


"Janji apa?."


"Janji akan setia dan selalu mencintaiku?."


'Aku takut terluka lagi, Brandon.' Batin Rachel.


Brandon menganguk cepat, "Aku janji. Kamu bisa memegang janjiku."


Rachel memejamkan mata sejenak. Isi kepalanya begitu rumit sekarang.


Rachel tidak ingin mengenal laki-laki lagi. Tapi Rachel juga ingin di cintai. Rachel ingin merasakan bagaimana di sayangi dengan tulus. Rachel ingin merasakan cinta yang tidak bisa ia dapatkan dari Farel dan Hendrawan.


Setelah menghela nafas panjang. Rachel membuka mata lagu hingga bertatapan tepat dengan mata Brandon.


"Hm, kita bisa menjalani hubungan lebih serius hari ini."


"Katakan ini bukan mimpi?." tanya Brandon dengan wajah berbinar penuh harap.


Rachel tersenyum dan menganguk, "Bukan, Brandon ini bukan mimpi. Tapi untuk sekarang aku belum mencintai kamu. Tolong bantu agar aku bisa mencintai kamu."


'Dan tolong bantu aku melupakan Farel,' batin Rachel.


Brandon menganguk penuh antusias, meraih tangan Rachel dan menggenggam erat.


"Pasti aku akan membuat kamu jatuh cinta. Entah satu bulan ke depan, satu tahun atau beberapa tahun depan aku akan membuat kamu jatuh cinta padaku sampai hanya ada aku di pikiran dan hati kamu. Ya Tuhan, aku bahagia sekali sampai aku ingin berteriak sekarang."


Senyum Rachel mengembang. Harusnya sekarang Rachel yang bahagia Brandon datang dalam hidupnya dengan janji membawa kebahagiaan. Tapi Brandon terlihat sangat bahagia seolah dia baru memenangkan sesuatu yang sangat berharga di dunia ini. Rachel merasa begitu di hargai dan di cintai.


Rachel berharap bisa merasakan cinta yang tulus dari Brandon.


Bruk...


Rachel dan Brandon sama-sama terkejut mendengar suara benda jatuh dari luar.


"Suara apa?." tanya Brandon.


"Mungkin kucing," Jawab Rachel. "Aku cek dulu."Rachel ingin berdiri tapi tertahan mendengar suara mamanya.


"Loh ada tamu, Rachel kok nggak bilang-bilang sama Mama."


Brandon melempar senyum pada Ayuma yang baru datang.


"Kamu... Kalau tidak salah Brandon yang ingin Hendrawan jodohkan dengan Rachel kan?."


"Iya Tante. Saya Brandon. Maaf yah Tante saya belum memperkenalkan diri secara resmi pada Tante."


Ayuma menatap putrinya, Rachel melotot sesaat saya berkontak dengan mamanya, lalu tersenyum meringis Ayuma menganguk-anguk mengerti arti senyum putrinya tapi Ayuma butuh penjelasan mungkin nanti setelah Brandon pulang Ayuma akan bertanya ini itu kepada putrinya tentang hubungan mereka.


***


"Morning."


Dilara tersenyum mendengar suara serak laki-laki yang memeluknya dari belakang ini.


"Morning, Mas Hendrawan."


Dilara berbalik badan sehingga berhadapan dengan kekasihnya, sangat tampan. Dari zaman kuliah dulu sampai berumur lebih dari 40 tahun. Di mata Dilara kadar ketampanan Hendrawan tidak berkurang justru bertambah tua semakin gagah dan gentlement.


Moment seperti inilah yang Dilara idam-idamkan sejak dulu. Sejak berpacaran dengan Hendrawan, menikah, tidur seranjang saling berpelukan lalu saat membuka mata di pagi hari di sambut senyuman manis laki-laki yang paling dia cintai.


Dan setelah sekian puluh tahun harapan Dilara baru terkabul sekarang. Hanya saja mereka belum menikah. Tapi tak masalah, sebentar lagi Hendrawan akan bercerai dengan Ayuma, setelah itu mereka akan menikah.


"Ranjang kamu sangat nyaman, semalam tidur ku sangat nyenyak. Kamu juga nyenyak kan, Mas?."


"Hm, tidur ku sangat nyenyak, nyenyak sekali. Bukan tempat tidurnya tapi dengan siapa kita tidur. Senyuman apapun tempat tidur kita tidak akan terasa nyaman tanpa kamu. Aku bahkan jarang tidur di kamar ini. Aku hanya pulang saat butuh tubuh Ayuma."


Dilara tersenyum, "Tubuh Ayuma? jadi selama ini kamu menjadikannya boneka ****?."


"Ya begitulah."


"Kamu jahat sekali."


"Aku tidak jahat, kami sudah menikah jadi sudah seharusnya kami berhubungan intim."


Dilara menganguk-anguk, "Kehebatan kamu di ranjang pasti membuat Ayuma puas meskipun kamu sering mengabaikannya, Ayuma terus bertahan. Lagi pula mana rela Ayuma melepas suami setampan, semapan dan sehebat kamu. Tapi sayangnya laki-laki tampan ini hanya milikku, bukan begitu?."


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2