Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 56


__ADS_3

"Tapi sebagai sahabat, gue ngerti kenapa lo ingin yang terbaik buat sahabat lo. Kalau lo penasaran kenapa gue bisa jatuh cinta sama sahabat lo, gue bakal cerita dan gue berharap cerita gue ini visa buat lo setuju rencana pdkt gue sama Rachel."


"Sekitar satu tahun yang lalu, di kegiatan kampus mengajar, di sana lag pertama kali kami bertemu. Wajahnya yang cantik, senyumnya yang riang dan sikapnya yang begitu ramah, berhasil mencuri perhatian gue. Tapi belum membuat gue tertarik."


"Lalu seiring berjalannya waktu, mata gue salah bergerak sendiri untuk menatap kearahnya. Kerulusannya saat mengajar anak-anak di sekolah resmi, Panti asuhan atau anak-anak jalanan. Kecerdasannya saat mengemukakan seseorang tanpa menggurui. Kehadirannya yang selalu membawa kebahagiaan karena dia tidak pernah menunjukkan kesedihan."


"Semua itu membuat gue nggak bisa mengalihkan pandangan. Gue sadar saat itu gue sudah jatuh cinta. Gue pikir hanya cinta sesaat, tapi semakin ke sini gue semakin tertarik dan semakin ingin mengenal Rachel.


"Biasanya jika mengenal seseorangterlalu lama gue cenderung bosan tapi semakin gue tahu tentang Rachel, gue semakin ingin tahu lebih. Ada yang spesial dalam diri Rachel yang tidak di miliki perempuan lain. Ketulusan. Gue bisa melihat itu dari sorot mata dan perilakunya."


Farel termenung dalam pikiran nya sendiri. Diam-diam membenarkan semua ucapan Angga. Sudah lebih dari 10 tahunmereka berteman, tapi Farel tidak pernah merasa bosan bertemu, mengobrol dan sekadar chatingan dengan Rachel. Bahkan rasanya Farel ingin selalu bersama Rachel 24 jam.


"Gimana setelah mendengar cerita gue, lo setuju gue pdkt sama Rachel?. Kalau bisa sekalian bantuin gue buat jadian sama sahabat lo. Lo juga-EH FAREL MAU KEMANA. BENTAR LAGI DOSEN MASUK WOY!."


Belum sempat Angga menyelesaikan kalimatnya, Farel meraih tasnya dan lari keluar kelas.


Tepat tak lama setelah itu, dosen memasuki ruang kelas. Beberapa mahasiswa menyayangkan Farel yang pergi begitu saja tanpa absen, atau setidaknya memberikan alasan kepada Dosen.


Di mata mereka mungkin Farel bandel, nakal dan seolah tidak memperdulikan kuliah. Namun siapa yang mengerti betapa gelisahnya dia sekarang. Farel bahkan tidak bisa memikirkan apapun selain nama Rachel di kepalanya. sebelum bertemu langsung dan memastikan Rachel tidak akan menjauh, Farel belum bisa tenang.


Farel berlari dengan kecepatan maksimal, beberapa kali mengucapkan maaf saat tanpa sengaja menabrak mahasiswa lain, bukannya menurunkan kecepatan Farel justru menambah kecepatan lari.


***


"Akhirnya sampai juga," Farel mengatur napas begitu sampai di depan pintu unit Apartement Rachel. Bulir-bulir keringat membasahi dahi dan dadanya baik turun sebab kepanikan melanda. Padahal Rachel tidak akan kemana-mana tapi kenapa Farel begitu panik.


Farel menekan bel dan menjeda beberapa detik, tapi tidak ada tanda-tanda membukakan pintu. Farel pun menekan bel. Masih belum di buka juga. Terhitung 5 kali farel memencet bel.


"Rachel, lo di dalam kan? Buka pintunya!."


Farel akhirnya menggedor-gedor pintu.


"Rel, please izinin gue ngomong sama lo. Gue mau ketemu lo."


Semua cara sudah Farel lakukan mulai dari memencet bel, mengetuk dan berteriak memanggil nama, tapi Rachel tetap tidak mau keluar juga. farel sampai menjambak rambutnya sendiri saking gelisah dan frustasinya.


"Gue coba masukin password, mungkin masih sama seperti dulu."

__ADS_1


Di Apartement yang dulu, mereka mengetahui password masing-masing. Bahkan terakhir kali mereka mengubah password, sekitar tiga bulan yang lalu, mereka menyamakan password. Password tanggal pertama kali mereka bertemu, saat SD kelas 1.


"Semangar masih bisa."


Farel memasukkan enam angka dan ternyata.


Benar.


Saking senangnya Farel sampai mengepalkan tangan dan bersorak riang seolah baru saja memenangkan pertandingan Basket internasional.


,"Rachel, maaf kalau kedatangan gue membuat lo ngga suka tapi bener-bener pengen ketemu lo. Gue harap lo nggak akan muncul kepala gue dengan vas bunga kalau lo tahu gue masuk tanpa ijin."


Setelah menarik napas dalam dalam-dalam Farel pun membuka pintu. Hening seperti tidak ada tanda - tanda kehidupan.


"Apa Rachel belum pulang?. Apa mereka mampir makan dulu?


"Gue tunggu saja."


Farel meletakkan tas di sofa. Hendak duduk tapi tanpa sengaja matanya tertuju pada pintu kamar Rachel yang sedikit terbuka. Entah kenapa rasanya Farel ingin sekali mengecek kamar itu.


Mengikuti kata hati, Farel pun melangkahkan kaki mendekat, mendorong pintu, lalu perlahan melongokkan kepala dan...


Farel tersenyum samar sembari bernafas lega.


"Sial kenapa gue deg-degan gini sih,"


Jujur saja Farel sempat membanyangkan Rachel dan Brandon tidur siang bersama. Bahkan beberapa detik tadi Farel sampai menahan nafas saking porno nya. Tapi untunglah Rachel tidur sendiri.


Farel membiarkan pintu terbuka dan mendekati ranjang.


"Capek banget yah sampai lupa lepas sepatu," Farel tersenyum melihat Rachel tidur miring masih memakai sepatu kets nya.


Dengan hati-hati Farel melepas sepatu Rachel.


Bug.


"Astaga."

__ADS_1


Farel kaget tiba-tiba Rachel menenangkan kaki ke arahnya.


"Mimpi apa sih lo?."


Begitu sepatu dan kaos kaki sudah terlepas, Rachel bergerak-gerak kecil lalu tidur meringkuk sambil memeluk guling.


Setelah meletakkan sepatu di rak sepatu, Farek masuk kembali ke dalam kamar, duduk di tepi kasur tepat di samping Rachel. tidak ada yang doa lakukan hanya memandnagi wajah Rachel dalam diam.


"Berada di dekat lo dan nggak melakukan apapun seperti ini saja membuat gue merasa tenang."


Farel mengulurkan tangan dan menyingkirkan setelah rambut yang menutupi sisi wajah Rachel.


"Gue bingung kenapa lo kelihatan baik-baik saja meskipun lu jauh dari gue? Apa lo ngga terasa sedih gue jadian sama Luna? Apa lo ngga merasa kehilangan gue sebagai seorang sahabat?."


Melihat betapa nyenyak tidur Rachel, Farel jadi ikut mengantuk. Tak terasa mulutnya menguap. Farel pun merebahkan diri di samping Rachel. Cukup dekat tapi tetap berjarak.


Di tengah-tengah mereka ada guling, guling yang rasanya ingin Farel singkirkan agar jarak nya lebih dekat dengan Rachel. Namun Farel sadar mereka tidak bisa sedekat dulu. Dulu saat dia masih single dan bebas berdekatan dengan Rachel termasuk memeluknya saat tidur.


Perlahan Farel memejamkan mata dan terlelap menyusul Rachel ke alam mimpi.


***


Ring...ring...ring...


"Eughh," melenguh masih dengan mata terpejam Rachel mencari-cari alarm di nakas. Begitu menemukan langsung dua matikan.


Rachel belum beranjak bahkan untuk membuka mata saja Rachel masih enggan.


Kemudian meraih guling, memeluk erat hendak melanjutkan tidur. Namun Rachel merasa ada yang berbeda dengan gulingnya.


'Sejak kapan guling gue keras gini?.' batin Rachel sambil meraba-rava guling itu. Teksturnya lebih keras dan kasar dari gulingnya yang lembut dan empuk.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2