
Luna membawa ponselnya dan duduk di samping putranya.
"Nak, sepertinya papa ada pekerjaan mendadak dan nggak bisa pulang cepat."
"Iyah Mah, ga papa Kevin belum lapar."
Kruyuk.
Perut si kecil tidak bisa berbohong, Kevin memegang perutnya sambil meringis pada Mama nya.
"Itu suara Ayam, Mah. Bukan perut Kevin."
Luna tersenyum sembari sekuat tenaga menahan air mata yang mendobrak dari pelupuk mata.
"Kevin makan dulu yah, nanti kalau papa pulang Kevin makan lagi. Ayo Mama suapin."
Namun si kecil menggeleng, "Kevin mau nunggu papa pulang, Papa janji akan makan malam bersama kita. Kevin mau di suapin papa."
"Satu suap saja! nanti kalau papa pulang Kevin di suapin papa."
Lagi-lagi Kevin menggeleng, "Papa udah janji Mah. Tunggu papa sebentar. Kevin mau makan berdua sama papa."
Kevin merapatkan mulut. Melihat putranya sangat mengharapkan papa nya, tapi papa nya tak kunjung pulang, membuat Luna tak kuasa menahan tangis. Air mata nya jatuh begitu saja. Buru-buru Luna memalingkan wajah dan menghapus air mata nya. Dalam hati merutuk karena menangis di depan putranya.
"Mama, mama nangis?." Kevin mengulurkan tangan dan menyentuh lengan Mama nya, "Mama..." mata bulatnya ikut berkaca-kaca.
"Mama nangis gara-gara Kevin nggak mau makan? Ya udah Kevin makan sekarang, Mama jangan nangis." Kevin mencebikkan bibir ke bawah dan matanya semakin berair.
Luna menggeleng dan menatap putranya ingin mengatakan sesuatu tapi tidak sanggup. Dada nya begitu sesak sampai sulit berbicara. Air matanya tak bisa berhenti. Semakin dia usap semakin deras juga.
"Mama," Kevin naik ke atas kursi dan memeluk mama nya dari samping. "Maafin Kevin, Mah. Kevin akan makan banyak, Ayo suapin Kevin, tapi Mama jangan nangis."
Luna meraih tubuh putranya dan memeluknya dengan erat, "Bukan Sayang, bukan salah Kevin. Maafkan Mama."
[Maaf mama belum bisa membahagiakan kamu. Maaf mama melahirkan kamu, tapi selalu membuatmu bersedih.]
Dalam tangisan Luna mengeratkan pelukan dan mengecup sisi rambut putranya. Begitu juga Kevin yang mengeratkan pelukan tangan kecilnya di leher Luna. Luna memejamkan mata, menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan untuk menenangkan diri.
__ADS_1
Luna segera menghapus air mata dan menarik sudut bibir ke atas membentuk senyuman manis. Meskipun hatinya sakit luar biasa, dia harus tersenyum agar putranya ikut bahagia.
"Sayang," Luna melepaskan pelukan dan mengahapus air mata di pipi putranya yang basah oleh air mata. Luna sangat menyesal sudah menangis di depan Kevin. Sehingga putranya ikut menangis sesegukan seperti ini.
"Mama nangis bukan karena Kevin nggak mau makan, mama nangis karena mata mama ke masukan sesuatu. Kayaknya tadi ada nyamuk masuk ke mata mama."
"Nyamuk?."
"Iya."
Kevin mendekat dan menyentuh mata Luna dengan jari mungilnya, "Nggak ada mama. Mana nyamuk nakal yang udah buat mama nangis. Mau Kevin matiin."
Luna tersenyum dan mengecup pipi putranya.
"Nyamuknya udah mama buang."
"Tapi mata mama masih sakit? kalau Kecin sakit mama suka niup Kevin, sini Kevin tiap biar mama nggak sakit lagi."
Luna tersenyum, "Oh ini ceritanya Dokter Kevin lagi beraksi. Ok deh, Dokter Kevin mama sakit. Tolong sembuhin."
"Mama udah sembuh, Dokter Kevin hebat sekali. Terima kasih!." Luna menarik putranya dalam pelukan dan menciumi Kevin dengan gemas, Kevin tertawa dan mencium pipi Luna juga.
5 tahun yang lalu Luna terpuruk dan berulang kali mencoba bunuh diri. Luna merasa tidak berharga dan tidak ada yang menginginkan di dunia ini. Luna juga tidak punya siapa-siapa lagi, Mamanya pergi entah ke mana.
Saat itu Brandon menemani dan menguatkannya. Saat itu juga Brandon mengaku dia yang memperkosa Luna. Mereka sama-sama mabuk, Luna tidak peduli lagi dan tetap ingin mengakhiri hidup, dia sudah benar-benar lelah dan ingin mencari ketenangan.
Tapi tiga minggu kemudian, Luna terus muntah-muntah dan merasa perutnya sakit. Luna pikir dia terserang penyakit ternyata di luar dugaan dia hamil. Luna semakin terpuruk. Tapi demi bayinya yang tidak salah apa-apa, Luna bertahan.
Brondon bersedia menikahinya tapi pernikahan mereka diam-diam dan tidak boleh diketahui oleh siapapun. Brandon juga melanjutkan kuliahnya dan tetap masuk Timnas basket sedangkan Luna di rumah mengurus Kevin.
Jika dipikirkan memang sangat berat tapi berkat si kecil Kevin semua terasa ringan, Luna tidak tahu apa yang akan terjadi pada hidupnya tanpa kehadiran Kevin.
"Oke sekarang Kevin makan ya, mama suapi."
"Oke mama."
"Pintarnya anak mama." Luna tersenyum dan mengusap rambut putranya.
__ADS_1
Dengan telaten dan penuh kesabaran Luna menyuapi putranya. Kevin tidak pernah rewel sejak kecil dia selalu menuruti apapun yang Luna katakan Kevin adalah anugerah terindah yang dia miliki.
"Mama makan juga, ini Kevin suapin Mama."
Kevin mengambil sendok di tangan Luna dengan kesusahan dan agak belepotan, Kevin menyendok nasi dan ayam suwir lalu mengarahkan ke mulut Luna.
"Helikopter mau mendaraaatt, aaaa." Kevin memperagakan apa yang biasanya Luna katakan saat menyuapinya.
Luna tertawa lalu membuka mulut dan melihat suapan putranya.
Selesai makan Luna mengajak putranya bermain sebentar di ruang tengah lalu ke kamar. Luna tiduran bersandar 3 bantal sementara Kevin tiduran di lengannya, seperti biasa sebelum tidur Luna membacakan dongeng sambil mengusap rambut putranya.
Dongeng belum selesai tapi Kevin sudah tidur, hati-hati Luna menutup buku dongeng lalu membaringkan putranya di satu bantal.
"Sehat selalu jagoan mama, anak mama yang paling hebat paling keren dan paling berharga. Kamu penguat Mama, Mama sangat menyayangimu," Luna menunduk dan mencium kening putranya.
Lalu samar-samar terdengar suara mobil. Sepertinya itu mobil suaminya. Dengan hati-hati Luna turun dari ranjang membenarkan letak selimut putranya sampai sebatas leher lalu bergegas meninggalkan kamar Luna ingin menyambut kepulangan suaminya.
"Di mana Kevin?." tanya Brandon begitu sampai di rumah. Tanpa rasa bersalah menyelubungi hatinya saat melirik jam dinding ternyata sudah menunjukkan pukul 21.00.
"Dia sudah tidur." Luna mengambil tas kantor dari tangan suaminya.
"Aku benar-benar lupa, aku sibuk banget mengurus proyek baru pertama papa."
Luna tersenyum meskipun dalam hati begitu remuk.
"Aku sudah bilang sama Kevin, kamu masih ada pekerjaan dan nggak bisa pulang cepat."
"Terus Kevin gimana? dia sedih?"
"Sedih sudah pasti, tapi aku sudah menenangkannya."
Lagi-lagi Luna hanya bisa tersenyum. Dia tidak mampu marah dan tidak berhak untuk marah juga.
"Kamu marah aku pulang terlambat?."
"Aku nggak marah, aku mah aku mengerti dengan kesibukan kamu. Aku juga nggak mau menuntut banyak dari kamu. Kamu mau menikahiku dan menjadi Ayah untuk Kevin saja aku sudah sangat berterima kasih. Tapi boleh aku minta satu hal. Tolong jangan berjanji kalau kamu merasa tidak bisa menepati. Aku takut Kevin kehilangan kepercayaan sama kamu."
__ADS_1