
Dua hari kemudian...
"Pagi Paman Johny."
"Selamat pagi," Johny tersenyum pada Luna, "Oh yah Kevin mama?."
"Kevin ikut sama Oma dan Opa nya jalan-jaan, Paman."
"Kamu nggak ikut? biasanya anak kecil nggak mau jauh dari ibu nya."
Seketika wajah Luna menyendu. Luna juga ingin ikut kemanapun putranya pergi, tapi kali ini Amora dan Ardito melarang Luna ikut. Mereka bilang ingin menghabiskan waktu bersama Kevin, tanpa Luna. Agar Kevin terbiasa bersama mereka. Belakangan ini Kevin sering membantah perintah mereka. Bahkan terakhir kali, Kevin mengusir Amora dari rumah.
Luna tetap menolak. Tidak masalah jika dia hanya mengawasi Kevin dari jauh, asalkan dia masih bisa melihat Kevin. Tapi tetap saja Amora dan Ardito tidak mengizinkan. Brandon juga tidak membela Luna, Brandon menyetujui keinginan Amora dan Ardito.
Ya sudah, dari pada Luna galau, Luna ke rumah Hendrawan saja. Meskipun Hendrawan membenci Luna, tapi Hendrawan menyanyangi Nana, nama samaran Luna.
"Aku nggak ikut, Paman. Sudah ada Opa sama Omanya."
"Ya sudH kalau begitu, Paman pergi ke kantor dulu yah. Masuk aja Hendrawan ada di dalam."
"Iya, Paman."
Johny menganguk.
Setelah mobil Johny meninggalkan gerbang, baru Luna masuk ke dalam rumah. Tujuan pertama Luna langsung ke kamar Hendrawan, tapi ternyata kosong.
Luna pun mencari Hendrawan di beberapa tempat di rumah ternyata Hendrawan ada di halaman belakang, sedang berjemur. Beliau memakai sweater berwarna coklat tua dengan tongkat di tangan kanannya. Kedua matanya tampak terpejam ke arah datangnya sinar matahari pagi.
"Selamat pagi, Pak Hendrawan."
Hendrawan membuka mata dan menoleh, kemudian tersenyum. Senyum yang tidak akan pernah Luna dapatkan jika tidak menyamar sebagai Nana.
"Saya senang melihat Pak Hendrawan berjemur sendiri tanpa harus saya bujuk lagi."
Hendrawan menatap Luna dengan wajah berseri-seri.
"Saya ingin panjang umur. Masih ada banyak hal yang ingin saya lakukan. Saya ingin merebut kembali hati Ayuma. Daya juga ingin membahagiakan putri saya, Rachel. Saya juga ingin membangun lagi perusahaan saya, sehingga saya bisa mapan dan kaya seperti dulu lagi."
"Aamiin, semoga semua keinginan Pak Hendrawan terwujud. Saya akan selalu berdoa yang terbaik untuk Pak Hendrawan. Pak Hendrawan ingin lanjut berjemur lagi? kalau begitu saya masuk ke dalam rumah dan menyiapkan sarapan untuk Pak Hendrawan."
Hendrawan menggeleng, "Sudah cukup. Saya juga ingin masuk ke dalam rumah. Oh yah, Kevin mana? Dia tidak ikut ke sini?."
__ADS_1
"Tidak Pak. Kevin ikut sama Oma dan Opa nya liburan."
Hendrawan mengangguk-angguk, "Sayang sekali. Saya sudah menanti kedatangan Kevin. Anak kamu itu lucu sekali."
"Iya, Pak."
Hendrawan dan Luna pun berjalan beriringan masuk ke dalam rumah sambil mengobrol ringan. Luna menanyakan pola makan Hendrawan dan istirahatnya. Hendrawan menjelaskan pola hidupnya sekarang sangat sehat. Luna senang mendengarnya.
Saat mereka sedang fokus berjalan, tiba-tiba Luna kesandung...
Bruk.
Tubuhnya tertelungkup di halaman. Hendrawan ingin membantu, tapi belum sempat Hendrawan menahan tangan Luna, Luna sudah jatuh.
"Ya ampun," Luna meringis merasakan siku nya agak sakit. Untung saja halaman ini terbuat dari rumput sehingga lututnya tidak terluka.
"Kamu..."
Luna menoleh ke samping. "Maaf Pak, tadi saya tidak berhati-hati." Luna segera bangkit dan menepuk-nepuk bajunya yang agak kotor terkena reruntuhan.
Sreet.
Luna terkejut saat tiba-tiba Hendrawan mengambil kaca matanya.
Untuk yang kedua kalinya Luna terkejut mendengar Hendrawan memanggilnya dengan nama asli. Saking terkejutnya Luna sampai tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi. Luna bertanya-tanya bagaimana bisa Hendrawan mengenalinya. Dia sudah memakai wig, kacamata dan tompel untuk menyembunyikan identitasnya. Tapi....
"Eh," Luna terkejut untuk yang ketiga kalinya saat melihat wignya ada di rumput. Ternyata saat tersungkur tadi wignya terlepas dari kepala.
Sementara Hemdrawan yang sudah curiga langsung menarik kaca mata Luna. Wajah Nana mengingatkan Hendrawan pada seseorang satu tidak memakai wig. Dan benar saja begitu kacamata terlepas, Hendrawan yakin perawatnya yang mengaku bernama Nana ini adalah Luna.
"Kamu Luna kan?."
"Pa-Pak Hendrawan. Saya bisa jelaskan... Saya..."
"Jadi selama ini kamu menyamar dan pura-pura jadi perawat saya!." Hendrawan menatap Luna dengan mata menajam dan suara menegas.
"I-iya Pak. Selama inj saya menyamar menjadi Nana. Tapi saya tidak punya maksud apa-apa. Saya tulus ingin merawat Pak Hendrawan. Dulu Pak Hendrawan sangat baik pada saya. Pak Hendrawan banyak membantu saya dan Mama Dilara, karena itu saya ingin membalas budi kebaikan Pak Hendrawan. Saya belajar tentang medis dan menjadi perawat Pak Hendrawan."
"Bohong, saya tidak percaya kamu pasti punya niat terselubung, katakan! dengan jujur apa niat kamu yang sebenarnya! Oh saya tau kami pasti ingin membalas dendam kan pada saya karena saya mengirim mama kamu ke luar negeri kan?."
"Om Hendrawan mengirim Mama ke luar negeri?."
__ADS_1
Luna terhenyak. Dia tidak tahu soal ini. Luna pikir selama ini mamanya pergi karena keinginan hatinya. tapi ternyata Hendrawan mengirim mama nya pergi ke luar negeri."
"Keman? kemana Om Hendrswan mengirim mama?."
Hendrawan sudah terlanjur kesal dan muak dengan Luna.
"SAYA BILANG PERGI. PERGI DARI RUMAH SAYA!."
"Iya Om, saya pasti akan pergi. Tapi tolong katakan dulu di negara mana Om mengirim mama. Saya ingin mencari mama."
Hendrawan tak menjawab, justru mencengkram lengan Luna dan menyeret keluar dari rumah. Jika sejak awal Hendrawan tahu Luna yang menjadi perawatnya, Hendrawan tidak akan sudi.
"Om jawab saya dulu. Saya mohon saya ingin sekali bertemu mama."
"Perpisahan kamu dengan Dilara adalah hukuman terberat untuk Dilara. Saya puas sudah memisahkan kamu dengan mama kamu. Kalian pantas mendapatkan itu setelah kalian menghancurkan hidup saya. Sekarang saya terpisah dengan Ayuma dan Rachel. Bahkan setelah mereka kembali, mereka tidak bisa menjadi milik saya lagi."
Hendrawan terus menyeret Luna sampai ke halaman rumah.
Bruk.
Dengan kasar dan arogan Hendrawan mendorong Luna ke paving halaman.
"PERGI DAN JANGAN PERNAH KEMBALI!. Saya sangat membenci kamu dan mama kamu, Luna."
Air mata Luna mengalir begitu saja, Luna merangkak dan memegang kaki Hendrawan. Hendrawan mengangkat dagu tidak sudi menatap pada Luna.
"Tolong, beritahu saya keberadaan mama, Om. Saya mohon. Tolong, saya sudah lama terpisah dengan mama. Saya ingin tahu bagaimana kondisi mama."
Luna terus memohon pada Hendrawan dengan lelehan air mata membasahi pipi.
Di tengah pembicaraan mereka, sebuah mobil masuk ke halaman rumah Hendrawan. Hendrawan mengenyitkan alis, menebak-nebak siapa yang datang karena kaca mobil gelap.
Begitu mesin mobil berhenti dan pemilik keluar mobil keluar, Hendrawan terkejut. Ternyata itu Rachel. Rachel tidak sendiri, bersama Farel yang menyetirkan mobil.
"Rachel, putriku." Hendrawan tersenyum melihat putrinya bersedia datang ke rumah nya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...