
"Ya kalau begitu. Ngapain kamu ke sini, sana pulang!."
"Saya ke sini bukan untuk berselingkuh dengan Rachel, Om. Saya ingin berbicara sesuatu sebagai seorang sahabat."
"Tidak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan."
"Ada saya dan Rachel."
Hendrawan menetap geram pemuda super menyebalkan ini.
"Apa kamu yakin Rachel tidak memiliki perasaan sama kamu?. Apa kamu bisa menjamin Rachel tidak akan jadi pelakor hubungan kamu dengan Luna?."
Farel menajamkan mata nya geram. "Om bertanya seperti itu seolah Om meragukan kebaikan hari putri Om sendiri. Rachel bukan orang seperti itu, Rachel tidak akan menyakiti sahabat-sahabatnya."
"Karena itu menjauhi Rachel karena kita tidak tahu isi hari seseorang. Kalau kamu terus mendekati Rachel tidak menutup kemungkinan Rachel bisa jadi pelakor."
"Cukup, Om. Bisa Om tidak mengatai Rachel begitu. Om keterlaluan sekali."
"Kamu yang membuat saya keterlaluan seperti ini. Sekarang kamu pulang dan lebih baik kamu ke rumah Luna. Luna baru pulang dari rumah sakit dan membutuhkan kamu."
Hendrawan menatap tajam Farel lalu berbalik badan dan bergegas masuk ke dalam rumah. Membanting pintu dengan keras seolah menunjukan pada Farel bahwa kehadirannya di sini tidak di inginkan. Hendrawan berharap sikap galaknya ini, Garel jera menemui Rachel dan lebih fokus pada Luna.
Hendrawan mengendyrkan darinya yang tiba-tiba terasa mencekik setelah bertemu dengan Farel tadi. Seandainya Luna tidak mencintai Farel, Hendrawan lebih setuju dengan laki-laki lain. Namun latar belakang Farel yang membuat Hendrawan menerima Farel menjadi pacar Luna. Farel berasal dari keluarga baik-baik dan terhormat.
"Papa..."
Langkah Hendrawan tertahan mendengar panggilan itu. Rachel tersenyum dan mendekat ke arahnya.
"Pa, Mama bilang malam ini pulang telat karena masih di rumah sakit menemani temannya yang kecelakaan. Jadi Mama ga bisa masak buat Papa."
Rachel senang sekali malam ini Papa nya lebih awal. Sehingga Rachel bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama Papa nya malam ini.
Meskipun Rachel tidak bisa bersama Farel, setidaknya Rachel masih memiliki Papa nya. Papa nya adalah cinta pertamanya, kata orang cinta Ayah adalah anak perempuannya, Rachel berharap Papa nya bisa mencintai nya dengan tulus.
__ADS_1
Belakangan ini hubungan mereka memburuk. Mungkin benar yang Papa nya katakan selama ini sikapnya kekanakan. Umur nya dewasa tapi selalu minta perhatian.
Rachel bertekad untuk menjadi lebih dewasa agar Papa nya lebih menyanyanginya.
"Aku membuat nasi goreng untuk Papa, Papa belum makan kan? Ayo kita makan bersama!."tawar Rachel dengan riang dan penuh harap, namun respon dari Papa nya justru...
"Kamu bisa ngga sehari ngga buat Papa emosi?."
"Emosi apa Pa?, aku melakukan apa?."
"Kamu sudah tahu kan kalau Farel dan Luna jadian?, terus kenapa menyuruh Farel ke sini malam-malam begini?."
Rachel mencelos, "Farel ke sini? Aku ngga menyuruh Farel ke sini."
"Halah? ngga usah bohong kami. Kamu pasti merasa kesal karena Farel jadian sama Luna kan? terus perhatian Farel teralih pada Luna. Jangan begitu Rachel, pemikiran seperti itu tidak baik. Kamu bilang kamu sahabat Luna tapi kok mau nusuk dari belakang sih. Belajar dewasa ya, belajar juga jangan jadi egois."
Rachel begitu terkejut dengan rentetan tuduhan Papa nya sampai speechlees.
"Aku ngga mau di jodohkan."
"Kenapa tidak mau? Apa benar kamu selama ini mencintai Farel?. Dan ingin menjadi pelakor?."
"Apa di mata Papa aku serendah itu?."
"Bukan begitu Rachel, kenapa sih kamu baperan sekali? Papa hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Papa hanya tidak ingin kamu di cap pelakor, karena menjadi orang ke tiga dalam hubungan Farel dan Luna."
"Aku nggak akan melakukan itu. Kenapa Papa dari kemarin terus mengatai ku pelakor, pelakor, pelakor sih. Aku sakit Pah mendengar kata itu. Aku bukan pelakor. Tolong jangan mengatai ku begitu!." Air mata Rachel membanyang di pelupuk mara. Dia benar-benar kecewa dengan Papa nya. Papa yang seharusnya menjadi pelindung justru menghancurkan metalnya.
"Kalau begitu terima perjodohan dengan laki-laki yang Papa pilihankan."
"RACHEL BERHAK MEMILIH PASANGAN NYA SENDIRI."
Hendrawan dan Rachel sama-sama menoleh ke sumber suara itu.
__ADS_1
"Opa?." Rachel segera menghapus air matanya.
Wisnu mendekat dan menatap tajam putranya.
"Berani sekali kamu menyuruh dan memaksa cucu kesanyanganku menerima perjodohan yang ngga penting itu. Dan siapa itu Luna? kenapa kamu sebegitu membela nya! Yang anak kandung kamu itu Rachel apa Luna?."
"Kenapa diam saja? jawab Papa! Yang anak kamu itu Rachel apa Luna?."
Hendrawan membeku di tempat mendengar kalimat demi kalimat Papa nya yang tepat sasaran, jangan sampai Papa nya tahu kalau Luna adalah anak kandungnya. Atau sampai tahu kalau Arumi berganti nama menjadi Dilara dan masih hidup. Semuanya bisa jadi runyam.
Kemungkinan besar Wisnu akan menyuruh Dilara untuk pergi seperti dulu. Meskipun sekarang Hendrawan tidak bisa memiliki Dilara seutuhnya tapi dia masih dekat dengan Dilara.
"Papa hanya mendengar sebagian saja pembicaraan ku dengan Rachel. Tujuanku baik Pa. Aku tidak ingin Rachel menjadi orang ke tiga dalam hubungan Farel dan Luna. Aku melakukan ini juga demi kebaikan Rachel."
"Demi kebaikan Rachel itu artinya jika Rachel bahagia. Rachel saja menolak bagaimana kamu mengatakan ini demi kebaikan Rachel. Dan kenapa kamu terlihat sangat ketakutan jika ada yang merusak hubungan Farel dan Luna dan menuduh putri mu sendiri sebagai pelakor. Apa kamu begitu menyanyangi Luna sampai kamu tega menyakiti hati putri kandung mu sendiri seperti ini. Papa tidak setuju kamu menjodohkan Rachel!."
"Kenapa Papa tidak setuju? Dulu saja Papa memaksaku untuk menikah dengan Ayuma. Kenapa aku tidak boleh memaksa Rachel? Rachel putriku, terserah aku melakukan apapun pada Rachel. Sama seperti alasan Papa aku melakukan ini demi kebaikan Rachel. Lihat kan! aku sama seperti Papa, kalau perlu Rachel kuliah saja di Luar negeri, ya itu ide bagus."
Benar juga jika Rachel dan Ayuma menghilang maka dia akan bebas.
Hendrawan ingin cepat-cepat pergi dari kehidupan Rachel dan Ayuma. Namun Hendrawan masih menunggu keputusan Dilara, jika Dilara bersedia menikah dengan nya maka Hendrawan akan meninggalkan semua hartanya dan pergi bersama Dilara dan Luna.
Persetan dengan harta, Hendrawan sudah muak di atur oleh Papa nya. Dari kecil bahkan sampai menikah.
Gara-gara ancaman Papa nya akan menghapus nya dari daftar waris, Hendrawan melepaskan wanita yang dia cintai. Saat itu Hendrawan masih muda dan ketakutan, tapi sekarang sudah dewasa dan bisa memilih jalan hidupnya sendiri.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1