Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Selalu ada di samping mu


__ADS_3

Rachel berjalan duluan tapi Farel menarik ranselnya.


"Farel, apaan sih".


"Lo kehabisan jeans panjang sampai lo pakai yang pendek gini?"


Rachel menunduk dan menatap celana jeans pendeknya. Tidak yang pendek persis di bawah pantat, pendek nya masih wajar, beberapa senti di atas lutut.


"Ya ada sih, tapi hoodie ini cocok banget di kombinasikan sama jeans pendek. Bagus kok",


Rachel memutar tubuhnya sendiri, Hoodie oversize berwarna peach dipadukan dengan celana jeans putih pendek sangat cocok di tubuhnya. Rambut panjang yang di kucir kuda dan rasanya flawless nya menambah kesan kekinian dan anak muda sekali. Di tambah lagi sepatu kets putih dan tas ransel hitam membuat penampilan keseluruhan Rachel tampak cantik sekali.


"Ganti".


"Ngga mau".


"Ganti, Rachel".


"Ngga mau Farel. Udah bagus kok. Ayo ah berangkat sekarang".


"Ganti sendiri atau gue yang gantiin?".


Rachel menyipitkan matanya kesal lalu menghentakkan kaki masuk ke dalam apartement nya lagi.


"Gue benci sama lo."


Blam


Pintu tertutup sementara Farel tersenyum simpul. Bukan tanpa alasan Farel melarang menggunakan jeans pendek. Di pertandingan basket pasti penonton nya kebanyakan laki-laki. Karena pertandingan kampus, otomatis yang datang anak-anak seusia mereka. Sebagai sesama anak muda Farel tahu bagaimana pikiran liar mereka. Farel tidak ingin Rachel objek imajinasi oleh mereka.


"°Udah nih, gue ganti yang panjang." jutek Rachel begitu keluar dari apartementnya.


"Nah kan gini Lo lebih cantik"


"Terima kasih pujian nya , papa." sarkas Rachel dengan wajah datar.


Farel tertawa, "Gue bukan papa Lo."


"Tapi lo berkali-kali lebih protektif dari pada Papa."


Farel tertawa lagi, "Ayo."


Farel memegang pundak Rachel dari belakang, membalikkan tubuh gadis itu dan mendorong nya menuju ke lift.


"Lo kuat gendong gue ngga."


Rachel membulatkan mata saat Farel benar-benar melingkarkan tangannya di leher dan menumpukkan badan nya pada badan Rachel. Rachel meleyot. Mana kuat.

__ADS_1


"Rel, sadar diri kenapa sih. Badan lo tuh berat."


Farel terkekeh


Sesampainya di lift, Farel langsung menekan tombol lantai 1. Seperti biasa Farel selalu menjahili gadis galak bahkan sampai ke mobil.


"Capek banget, gue punya temen kayak lo."


Farel tertawa, "Tapi gue bahagia punya temen kayak lo."


Farel pun melanjutkan mobilnya meninggalkan basement parkiran bawah tanah apartement.


"Oh yah Luna beneran gak ikut?" tanya Rachel.


"Hhmmm sia lagi proses reading serius terbarunya. Katanya sampai sore tapi ga tahu juga atau sampai malem baru selesai."


"Ya udah selesai pertandingan nanti kita samperin Luna yah. Sekalian kita beri dukungan Luna. Tapi tuk sekarang lo fokus dulu ke pertandingan."


"Iya" Jawab Farel singkat. lalu menoleh dan menatap Rachel dari samping, " Yang lain pada sibuk, tapi lo selalu ada buat gue. Thanks Rachel."


Meskipun mereka berteman bukan berarti mereka selalu bersama 24 jam. Mereka punya kesibukan masing-masing dan memiliki impian yang berbeda-beda yang harus mereka wujudkan. Tidak hadir bukan berarti tidak mendukung. Semalam mereka sudah memberikan dukungan lewat Wa.


Dulu saat SD, SMP, dan SMA mereka selalu bersama, tapi saat kuliah ini mereka mencar. Rendy, Rachel dan Farel yang satu kampus pun itu berbeda-beda jurusan. Sedangkan Dipta dan Bastian satu kampus. Sementara Luna beda sendiri, Luna masuk sekolah seni karena bakat Luna memang di seni.


Mereka punya kampus impian masing-masing, jadi tidak bisa terus bersama. Meskipun begitu mereka, komunikasi mereka begitu berjalan lancar di grup Wa.


Bohong, sepertinya pagi ini Rachel ada jadwal kuliah, tapi Rachel rela bolos demi menemani Farel. Kasian juga Farel tidak ada yang menemani.


"Hm gue tahu."


***


Sepanjang pertandingan, Rachel tak henti nya menyemangati nama Farel. Rachel juga sengaja memilih duduk di bangku paling depan dengan resiko terkena lemparan bola, demi bisa memberi dukungan dan semangat lebih dekat untuk Farel.


"FAREL. SEMANGAT."


Rachel nyaris kehabisan suara, tapi demi sahabat dan laki-laki yang dia sayangi, Rachel terus berteriak.


Farel menoleh ke arah Rachel dan melempar senyum flying kiss.


"Cih bocah bandel itu." Rachel tetap berdecih tapi tetap memberi flying kiss juga. Meskipun Farel memberikan flying kiss pada Rachel. Cewek-cewek di belakang Rachel suporter tim basket kampus ikut senyum-senyum juga dan ikut melempar flying kiss.


Farel tertawa melihat betapa menggemaskannya Rachel melempar flying kiss padanya. Farel kembali fokus mendrible bola, dengan gesit menghindari lawan yang ingin berusaha merebut bola lalu melempar bola ke dalam ring.


"YEEEEEEE." Rachel bersorak senang.


Pertandingan berjalan dengan sangat alot. Saling kejar-kejaran skor, saling menunjukan skill demi skill berbasket untuk mencetak poin. Dalam setiap gerakan dribble bola, lalu melempar ke dalam ring, ada harapan bisa menambah poin sehingga unggul dari lawan dan memenangkan pertandingan ini untuk maju ke semifinal.

__ADS_1


Tim Farel yang menyebut diri mereka Eagle Team sempat tertinggal beberapa poin.


FAREL SEMANGAT


Sambil mendribble bola, Farel melirik pada Rachel yang sejak awal-awal sampai menit terakhir ini tak henti-hentinya memberi semangat. Farel bertekad tidak ingin mengecewakan Rachel. Bagaimanapun caranya dan tentunya dengan cara sportif, Farel harus bisa membawa timnya kepada kemenangan.


Farel melempar bola pada temannya, berlari ke sisi kiri lapangan. Saat temannya melempar bola, Farel loncat dan menangkap bola itu lalu melempar ke ring. Satu poin untuk Eagle Team.


Farel bertos dengan teman-temannya dan saling memberi semangat satu sama lain antar anggota, lalu fokus ke pertandingan lagi.


Dua puluh menit terakhir, tim Farel terus mengejar ketinggalan poin mereka. Di lima menit terakhir skor mereka sama. Kedua tim mulai was-was. Lalu....


"Farel" salah satu teman Farel melempar bola pada Farel. Dari nada suara nya begitu berharap agar Farel bisa memasukkan bola ke dalam ring.


Dan


Hap ..


"YES" Semua teman-teman Farel bersorak dan berlari ke arah Farel.


Suporter dari kampus Farel pun ikut berteriak senang dengan kemenangan kampus mereka. Rachel juga ikut senang begitu terharu sampai matanya berkaca-kaca. Bangga, Rachel bangga dengan sahabatnya itu.


Farel bersuka cita bersama teman-temannya. Saat tertinggal poin tadi mereka sempat pesimis tapi berkat kesolidan dan kerja sama tim, akhirnya mereka bisa menang.


"FAREEEEELLL"


Farel menoleh ke sumber suara itu, begitu melihat sosok perempuan yang begitu nanti kedatangannya. Senyum Farel mengembang. Dengan cepat Farel berlari ke sisi lapangan basket melewati teman-temannya yang bersorak untuk menghampiri perempuan dengan dress biru langit selutut itu.


"Farel" Luna yang melihat Farel berlari ke arahnya langsung merentangkan tangannya dan..


Grep.


Farel pun menghamburkan diri memeluk nya.


"Kamu hebat sekali."


Farel begitu senang mendengar ucapan itu, lalu mengangkat tubuh Luna dan memutar-mutarnya. Luna terkejut dan juga bahagia. Apalagi semua pasang mata tertuju padanya sambil memberikan sorakan. Luna pun menumpukkan siku di pundak Farel lalu menunduk dan menatap Farel dengan mesra di depan semua orang.


"Cieeee"


Semua orang bersorak senang melihat artis terkenal dan pemain basket handal itu.


Namun di antara riuh riang semua orang ada seorang yang bungkam. Rachel, gadis itu membeku di tempat dengan pandangan mata mulai mengabur sebab air mata menggenang di pelupuk mata.


"Gapapa Rachel ga papa."


Rachel menepuk-nepuk dadanya sendiri untuk meredam rasa cemburu. Kemudian memejamkan mata agar hati nya lebih tenang. Jangan sampai rasa cemburu nya ini hilang kendali dan berubah menjadi membenci Farel dan Luna.

__ADS_1


__ADS_2