Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 57


__ADS_3

"FAREL."


Rachel memekik lalu menggeser posisi tidurnya dan terduduk dengan mata memicing ke arah Farel.


Beberapa kali mengerjab mata mungkin saja dia sedang bermimpi. Tapi kenyataannya sosok laki-laki tak di undang ini memang tidur di ranjangnys. Padahal sesampainya di Apartement tadi Rachel tidur sendiri dan memeluk guling.


Tidak mungkin kan gulingnya berubah menjadi manusia? lalu di mana gulingnya sekarang?.


Oh astaga, Rachel terheran-heran melihat gulingnya ada di lantai sisi ranjang samping Farel.


"Farel bangun! kok ada di sini sih?."


Pendengar suara berisik-bwrisik, perlahan Farel membuka mata.


"Hai." Sapa nya dengan santai, Rachel sudah melitot, jengkel, kesal dan tidak karuan.


"Bangun Farel! sumpah lo ngga sopan banget nyelonong gitu aja masuk ke apartement gue dan tidur di ranjang gue."


"Kita sudah sering melakukan nya, Rachel." gumam Farel masih dengan mata terpejam, tidak ada tanda-tanda bangun bahkan menarik selimut hingga menutupi sebatas leher. "Dan kalau penasaran kenapa gue bisa masuk password apartement kita masih sama seperti dulu."


Password? Astaga... Rachel merutuk pada dirinya sendiri karena tidak mengganti password. Tachel pikir Farel tidak akan melakukan ini. Tidak pernah terlintas dalam kepalanya Farel akan nekat masuk ke apartement nya tanpa ijin. Oke, setelah Farel pulang dari sini, Rachel akan langsung mengganti password.


"Kita memang bertukar password dan sering masuk ke apartement masing-masing, tapi itu dulu. Sekarang beda Farel."


"Apa bedanya?." Farel membuka mata dan mata satunya bertemu dengan mata tajam Rachel.


"Berhenti pura-pura tidak tahu dan mari kita menjaga jarak. Lo pikir gimana perasaan Luna. Kalau tiba-tiba dia datang ke sini dan melihat kita tidur seranjang seperti tadi. Lunq pasti sedih dan salah paham."


Farel tidak menjawab apapun, melainkan menatap mata Rachel dengan intens. Kemudian menghela nafas panjang dan memposisikan duduk tepat di depan Rachel, masih berada do atas ranjang.


"Jadi kita harus menjaga jarak?."


Rachel menganguk,


"Jarak yang bagaimana?."


"Ya sekarang contohnya lo ngga boleh nyelonong masuk ke apartement gue gitu aja. Lo ngga boleh melukai, rangkul atau skinship terlalu banyak. Lo juga ngga boleh menggoda gue seperti biasanya. Misalnya memanggil sayang, sweety, bahkan My girl saja jangan. Kita juga ga boleh terlalu sering bertemu, kalaupun misal kita ingin hangout atau iseng jalan kita ngga boleh hanya pergi berduaan, paling kita harus dengan teman-teman yang lain, kita..."

__ADS_1


Tiba-tiba Farek tertawa yang membuat Rachel mencelos. Rachek bisa melihat sorot matanya merebut.


"Bahkan dua orang yang baru bertemu pasti tidak seasing kita sekarang Rachel."


Rachel tidak mengatakan apapun, melainkan menatap wajah Farel yang tampak sendu. jika boleh memilih pub Rachel tidak ingin seperti ini. Namun mau bagaimana lagi, ini juga demi kebaikan mereka. Farel sudah memutuskan pilihannya dan Rachel harus segera move on. Dengan adanya jarak, Rachel berharap bisa melupakan Farel.


"Tapi gue rasa kita ngga perlu menjaga jarak segitunya. Semua orang juga yahu kita berteman. Tidak akan ada orang yang salah paham dengan hubungan kita, kecuali orang-orang yang sinis saja dengan pertemanan kita Luna juga akan mengerti, ah, soal Om Hendrawan yang takut lo jadi pelakor atau orang ketiga hubungan gue dan Luna, gue rasa itu pikiran terkonyol yang pernah gue dengar. Papa lo aja yang terlalu lebay."


"Farel."


"Gue laper di apart li ada mie kan?."


"Gue mau pergi ke rumah Opa."


"Gue lagi pengen makan mie kuah. Lo mau gue buatan juga? lo mau rasa apa? soto apa kari?."


"Farel."


"Oh soto. Oke gue buatin! lo mandi aja dulu."


Farel menyingkap selimut dan keluar dari kamar. Sementara Rachel masih terdiam di posisi nya dengan pandangan mata tak lepas menatap pintu keluar.


Rachel menghela nafas kasar dan segera mandi.


Kardigan putih dan celana jeans biru menjadi pilihannya. Cocok untuk membuat tubuhnya lebih hangat karena di luar sedang gerimis.


Begitu keluar dari kamar indera penciuman Rachel di sambut dengan aroma segar kuah nie soto. Rachel yang sejak tadi siang memang belum makan, tambah lapar mencium aroma ini.


Rachel sepatu berencana ingin membeli makanan drive thru saja dalam perjalanan ke rumah Opa nanti. Tapi siapa yang menyangka ada laki-laki nakal yang datang ke apartement nya dan mebuatkannya mie.


"Mie sudah jadi, kita makan mie di balkon saja sambil melihat gerimis."


Farel membawa dua mangkok mie menuju ke balkon. Rachel mengikuti Farel .


"Sini." Farel yang duduk di sofa menepuk ruang kosong di sampingnya.


Apartement ini cukup mewah dan balkonnya pun terlihat sangat nyaman Cukup luas dengan dinding pembatas yang terbuat dari kaca sehingga jangkauan mata memandang lebih jauh.

__ADS_1


Mungkin dulunya pemilik apartemt inu seorang pecinta tanaman buktinya di sini ada beberapa tanaman hias. Terlihat sangat indah dan terawat, Rachel berencana melanjutkan merawat tanaman hias ini.


Di balkon ini hanya sebuah meja dan satu bangku panjang.


Mau tidak mau Rachel duduk di samping Farel. Tidak mungkin juga dia makan berdiri atau jongkok. Lesehan juga bisa tapi lantainta agak kotor.


"Mie kuah campur sosial kesukaan lo. Ngga perlu bilang terima kasih gue membuatkan ini dengan sepenuh hati."


Rachel berdecih, "Lo yang harus bilang terima kasih karena lo juga makan mie gue."


Farel terkekeh dan mulai makan, begitu juga Rachel yang mencicipi mie buatan Farel. Gerimis-gerimis seperti ini memang cocok di temani dengan makan mie.


"Oh minuman nya ketinggalan, gue ambil bentar."


Farel meletakkan mangkok di meja lalu bergegas masuk ke dalam lagi. Tak lama dia membawa botol air mineral.


"Stok makanan di kulkas lo tinggal dikit, mau beli kapan? sekalian gue mau ngetok juga." Farel duduk di kursi dan lanjut makan.


"Kapan yah? mungkin hari minggu nanti. Lo gaya-gayaan nyetok doang tapi ujung-ujung nya ngambil di kulkas gue."


Farel terkekeh, "Ngga tahu kenapa makanan dan minuman punya lo rasanya lebih enak daripada punya gue."


"Karena gratis. Karena apapun yang gratis rasanya lebih enak."


Mereka sama-sama tersenyum mengingat kerokonyolan mereka.


Namun perlahan senyuman mereka memudar, mereka tidak tinggal di gedung apartement yang sama. Tidak bisa menyetok makanan bareng-bareng lagi. Farel juga tidak bisa mencuri makanan di kulkas Rachel lagi, begitu juga Rachel tidak bisa menyetok makanan di kulkas Farel dengan makanan sehat.


Lalu hening lama.


Tidak ada kata yang terucap hanya ada suara gerimis yang perlahan menjadi hujan lebat. Untung saja balkon apartement ini di desain dengan sedemikian rupa hingga air hujan tidak menciprat masuk ke arah lantai balkon.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2