Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 166


__ADS_3

"Masih mau dengar cerita tentang kita di masa lalu?."


"Masih dong, ceritakan. Aku ingin mendengar semuanya."


Sambil fokus menyetir dengan tangan kanan dan tangan kiri mengusap betis dan tulang kering Rachel, Farel kembali membuka memori masa lalu. Menceritakan semua hal yang mereka lakukan bersama mulai dari kelas 7 tahun sampai umur 20 tahun. Jelas, waktu tidak cukup. Dab tak terasa mereka sudah sampai di rumah Bastian.


"Besok aku akan cerita kan lagi."


"Hm, aku tunggu."


Farel turun dari mobil bersamaan dengan Rachel. Tak mau jauh-jauh Farel langsung menggenggam tangan Rachel.


"Kami nggak telat kan?." tanya Rachel.


"Hampir telat."


Bastian melempar senyum pada Rachel, gitu menatap Farel matanya menyipit.


"Lo pakai dukun apa sampai adik gue lebih memilih tinggal sama lo daripada keluarga gue?."


"Keluarga gue, keluarga Rachel juga. Sebentar lagi Rachel jadi calon istri gue."


Bastian berdecih. Dari dulu Bastian sudah menebak saat Rachel kembali, Farel pasti akan menempeli Rachel terus. Dan benar-benar kejadian sekarang. Memang benar ya, hati tidak akan bisa berbohong, hati Rachek tetap nyaman bersama Farel meskipun tidak mengingatnya.


"Ya udah ayo masuk, tunggu apa lagi."


Bastian mengajak Farel dan Rachel masuk ke dalam rumah begitu sampai di ruang makan mereka memelankan langkah kaki. Rachel memperhatikan 3 orang yang sedang duduk di meja makan, berdasarkan dari foto yang Farel berikan Kakek yang memakai kaos rajut itu pasti Oppa Wisnu, sedangkan laki-laki yang duduk di samping kanan Oppa Wisnu pasti Sebastian sedangkan perempuan yang duduk di samping Sebastian pasti Anggun.


"Kami sudah sampai." Bastian menarik Rachel di belakang tubuhnya. Tampak depan, tubuh Rachel yang kecil tidak terlihat.


"Coba tebak aku mengajak siapa?." tanya Bastian membuat semua orang mengalihkan pandangan pada nya. Mereka sama-sama mengerutkan dahinya melihat sosok perempuan di balik tubuh Bastian.


"Rani?." tebak Sebastian memgingat Farel ada di samping Bastian.


"Salah."


"Rana?." tebak Anggun.


"Salah juga."


"Terus siapa? kamu punya pacar lain? kamu bilang kamu mau menunggu Rani?." tanya Wisnu.


"Tentu saja Oppa. Aku pasti setia sama Rani. Tapi gadis yang aku bawa ini adalah seseorang yang kalian tunggu-tunggu kedatangannya selama ini."


Mereka bertiga menatap lekat Bastian sambil bertanya-tanya. Kemudian saat Bastian menyentuh lengan gadis di belakangnya dan menarik nya berdiri di sampingnya, mereka seketika ternganga, syok.

__ADS_1


"RACHEL?." Mereka memekik bersamaan.


"Ya Tuhan," Anggun dan Sebastian menghampiri Rachel dan memeluknya, sementara Wisnu masih diam di tempat dengan keterkejutan menghiasi wajahnya.


"Kamu benar-benar Rachel?." Anggun menyentuh pipi Rachel dan mengusap lembut.


"Iya, Tante. Aku Rachel. Tapi maaf saya hilang ingatan. Saya belum tahu banyak tentang Tante Anggun, Om Sebastian dan Oppa Wisnu."


"Hilang ingatan?." Sebastian mengalihkan pandangan pada Bastian meminta penjelasan lebih lanjut.


"Ceritanya panjang, Pa. Sekarang Rachel bicara dulu sama Oppa," Bastian menyentuh pundak Rachel dan mendorongnya pelan menghampiri Wisnu yang masih duduk di kursi makan.


"Oppa, lihat ini. Cucu kesayangan Oppa sudah pulang."


Rachel berdiri tepat di samping Wisnu, Rachel sama sekali tidak mengingat mereka, tapi perasaannya tidak bisa berbohong. Ada kenyamanan di hatinya saat bersama mereka. Melihat Kakek ini.... rasanya dia ingin sekali menangis. Menangis karena bahagia.


"Rachel cucuku," Oppa Wisnu berdiri, tangannya terulur dengan mata berkaca-kaca dan menyentuh pipi Rachel. Tangan Rachel seolah tergerak sendiri untuk menyentuh punggung tangan Wisnu.


"Dari mana saja kamu selama ini? Oppa dan kita semua mencari kamu."


"Aku ada di Swiss, tinggal bersama mama dan papa."


"Papa?."


Rachel menganguk, "Mama menikah lagi dengan papa Edgar."


Wisnu senang Ayuma menikah lagi. Tapi tidak di pungkiri Wisnu juga berharap Ayuma bersedia rujuk lagi dengan Hendrawan.


"Oke, sekarang kita makan dulu sambil ngobrol. Muka Rachel kelaparan banget nih," Goda Bastian pada Rachel.


"Enggak, aku belum laper. Kamu tuh yang udah kelaparan."


Bastian terkekeh. Mereka pun duduk mengelilingi meja makan. wisnu duduk di meja ujung, sementara di sisi kanan ada Sebastian dan Anggun. Sedangkan di sisi kiri ga ada Rachel, Farel, dan Bastian. Sambil menikmati hidangan, mereka mengobrol sedikit tentang kehidupan Rachel di Swiss. Lalu setelah makan mereka pindah ke ruang tengah agar lebih luas mengobrol.


***


"Papa, papa mau kemana?." tanya Kevin begitu masuk ke dalam kamar melihat mama nya sedang mengacingkan kemeja papa nya.


"Papa mau menghadiri acara pesta perusahaan."


Seketika mata Kevin berbinar, kaki kecilnya berlari riang mendekati papa nya dan menabrakan diri di paha papa nya.


Brandon tersenyum dan mengusap rambut Kevin.


"Kevin ikut ya, Papa."

__ADS_1


"Maaf, Sayang. Nggak bisa. Acara ini khusus untuk orang dewasa."


Sesaat wajah si kecil Kevin berubah sendu, tapi tak lama senyumnya mengembang lagi.


"Khusus orang dewasa berarti papa pergi sama mama?."


Brandon menggeleng, "Papa pergi sendiri. Acara ini khusus untuk laki-laki."


"Oh gitu yah," wajah Kevin menyendu.


Namun Brandon tidak tahu harus mengatakan apa selain berbohong. Sementara Luna, tetap mengulas senyum dan menampakkan wajah seceria mungkin, meskipun hatinya sedih sekali.


Selama lima tahun ini Brandon tidak pernah mengajaknya pergi ke acara perusahaan, pesat pernikahan teman-temannya, atau acara penting lainnya. Biasanya jika Kevin merengek dan menangis ingin Liburan, Brandon menyewa pulau pribadi untuk liburan.


Tidak seharusnya Luna bersedih, sudah menjadi konsekuensi menikah sembunyi-sembunyi dengan Brandon. Tapi tetap saja hatinya sedih sekali. Sesekali saja, Luna berharap Brandon mau memperkenalkan nya pada dunia dan bangga memiliki istri sepertinya.


"Papa, kenapa sih kira nggak pernah makan malam di luar sekeluarga?." tanya Kevin.


Brandon menggendong Kevin setelah Luna selesai mengancingkan kemejanya.


"Maaf ya, papa agak sibuk. Kapan-kapan kita dinner di luar bersama."


"Janji papa?."


"Janji."


Luna menggeleng.


Please, jangan berjanji jika kamu tidak mampu menepati, batin Luna sendu.


"Yeeeeahhh," Kevin bersorak senang dan mencium pipi papa nya. Brandon juga mencium pipi putranya.


Brandon pun menurunkan Kevin dan lanjut berpakaian lengkap. Kemudian memakai jas, jam tangan, kaos kaki dan sepatu kulit hitam senada warna celalanya.


"Kevin tunggu di kamar ya, mama anterin papa ke halaman depan."


"Iya, Mama."


Setelah Kevin masuk ke dalam kamarnya. Luna mengikuti Brandon menuju ke halaman depan. Mereka baru saja tiba di sana, tiba-tiba sebuah mobil BMW masuk ke halaman depan rumah. Luna mengenyit, penasaran dengan pemilik mobil itu dan ternyata...


"Agnes," lirih Luna begitu melihat seorang perempuan cantik berpostur tubuh ideal bergaun merah turun dari mobil.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2