Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 131


__ADS_3

Brandon menjambak rambutnya semakin kuat. Kata demi kata papa nya membuat segalanya semakin pusing di tambah lagi efek alkohol semalam masih terasa.


Brandon masih belum mengingat apa yang terjadi semalam, tapi ada satu hal yang dia rasakan. Alat vital nya luar biasa sakit, Brandon pikir karena tendangan Farel tadi, tapi ternyata karena berhubungan intim dengan Luna. Pantas saja tadi pagi Brandon sempat bingung, Farel seperti menentang perut nya tapi kenapa alat vital nya yang sakit.


"Nggak usah terlalu banyak mikir. Ikuti saja arahan dari papa, hidup kamu pasti bahagia."


Brandon mengangkat kepala dan menatap papa nya tepat di bola mata.


"Ngga ada yang namanya kebahagiaan dengan cara kelicikan."


Brandon berdiri begitu juga Amora yang ikut berdiri.


"Kamu mau kemana? kamu juga masih pusing kan? Ayo Mama antar ke kamar, nanti mama buatkan sop hangat."


Ardito mengangukkan kepala.


"Benar kata mama, kamu juga ada seleksi timnas Basket besok kan? lebih baik kamu masuk kamar dan istirahat, biar besok lebih fresh. Papa nggak mau kamu hari ini keluar rumah dan membuat kekacauan. Tolong kali ini dengarkan papa. Papa melakukan ini demi kebaikan kamu juga, kamu pikir kalau kejadian ini terdengar oleh pihak timnas, mereka masih mau menerima kamu sebagai atlet mereka? jelas tidak!."


Brandon kembali dilema. Kesalahan ini bukan hanya membuat nya putus dengan Rachel, tapi juga akan memengaruhi karir nya di dunia basket. Seniornya iri dengan pencapaian nya karena takut posisi nya terancam dan si gantikan oleh Brandon dan dia sebagai pemain cadangan.


"Brando, Nak." Amora mengusap lembut putranya.


Brandon menghela nafas panjang dan berat sekali.


"Kalau begitu kembalikan ponselku, Pa."


"Papa akan memberikanmu besok, setelah kamu masuk kamar saja dan renungi kesalahanmu. Jadikan apa yang terjadi sekarang sebagai pelajaran dan jangan ulangi lagi di masa depan. Kalau kamu mabuk-mabukan dan ingin one night stand kamu bisa menyewa private room."


"Aku ingin memberi kabar Rachel pa, seharian ini aku ngilang dia pasti khawatir. Selain itu aku juga ingin tau keadaan Luna sekarang."


"Terus kalau bukan aku yang bertanggung jawab pada Luna, siapa yang akan bertanggung jawab pada Luna pa?."


"Itu bukan urusanmu, nanti papa yang atur dia. Sudahlah kamu masuk kamar sana! Amora bawa dia ke kamar."


"Iya Mas, ayo antar ke kamar."


Brandon terdiam, dengan pikiran berkecamuk, hingga tiba-tiba Pak Satpam mendekat.


"Maaf tuan saya mengganggu, ijin menyampaikan, teman Brandon yang bernama Farel sedang menunggu Tuan Brandon di ruang tamu. Katanya dia ingin menyampaikan sesuatu yang penting pada tuan, pacar tuan yang bernama Rachel kecelakaan."

__ADS_1


Seketika Brandon membelalakan mata.


"Apa? kecelakaan? bagaimana bisa?."


Brandon menangkis tangan Amora dan berlari keluar. Seketika Ardito melototkan mata marah dan bergegas mengejar putranya. Jangan sampai Brandon bertemu dengan Farel dan cerita yang tidak-tidak.


"Farel."


Mendengar panggilan itu seketika Farel berdiri.


"Ayo cabut!." ucap Brandon sambil berjalan duluan ke luar dari rumah.


Farel yang masih tampak kebingungan hanya mengikuti langkah Brandon dari belakang, lalu dari arah belakang dia mendengar teriakan seseorang.


"Mau kemana kamu Brandon? kembali ke sini! papa tidak mengizinkan kamu pergi ke mana-mana."


Dari kalimat itu lah Farel tahu, pemilik suara itu adalah Papa nya Brandon. Entah masalah apa yang terjadi antara mereka, tapi seperti nya situasi sedang tidak baik.


Farel bergegas masuk ke dalam mobil, setelah Brandon masuk juga, Farel langsung melajukan mobil meninggalkan rumah.


"BRANDON! Dasar anak sial*n."


Farel tidak berkata apa-apa, hanya diam dan sesekali melirik sekilas melihat kondisi Brandon. Dan kondisi nya cukup baik secara fisik tapi hatinya, melihat dari ekspresi seperti nya dia sangat kacau.


"Gimana keadaan Rachel ? kenapa dia bisa kecelakaan?."


Mengulang cerita yang sama artinya mengulang kepedihan yang sama. Selalu berat bagi Farel untuk menceritakan yang terjadi, yang menimpa Rachel dan Luna dalam waktu bersamaan.


"Luna mabuk, sepertinya ada seseorang yang menjebaknya. Luna pasti merasa dunianya hancur dan akhirnya memutuskan bunuh diri. Sekarang dia ada di rumah sakit, kondisinya kritis. Dan yang paling parah, gue dapat info dari Tante Dilara, organ intim Luna robek."


Brandon tersedak salivanya sendiri sampai terbatuk-batuk.


Farel mengenyitkan alis heran.


"Robek? bagaimana bisa?." Brandon mengepalkan tangan kuat sambil menatap Farel penuh tanda tanya. Brandon sudah menduga Luna pasti kesakitan seperti yang dia rasakan di are intim tapi Brandon tidak menyangka sampah separah itu.


"Gue nggak tahu, mungkin ukuran burung si cowoknya terlalu besar atau dia lakuin nya terlalu brutal."


"Farel gue serius!."

__ADS_1


"Emang muka gue kelihatan bercanda?."


Brandon berdecak dan memalingkan wajah menatap jendela.


Hening beberapa saat, kemudian Farel melanjutkan ceritanya.


"Sebagai seorang ibu melihat kondisi putrinya seperti itu sangat wajar Tante Dilara marah. Dengan sepotong informasi yang dia dapat dari Om Hendrawan kalau gue ada di Club yang sama dengan Luna, Tante Dilara datang ke apartement gue dan meminta pertanggungjawaban gue. Tapi sayangnya Tante Dilara malah bertemu Rachel."


"Rachel syok mendengar kabar itu lalu pergi begitu saja, menyetir sendirian menuju ke rumah sakit Luna. Tapi karena tidak konsentrasi menyetir Rachel kecelakaan, sekarang kondisi nya kritis. Gue baru dapat info dari Bastian ada luka di bagian kepalanya yang membuat dokter belum bisa memprediksi kapan Rachel akan sadar."


Brandon kembali memejamkan mata, kali inu dengan dada yang luar biasa sesak.


"Rachel," gumam Brandon dengan segala kefrustasian dan ketakutan.


Brandon tidak mengerti kenapa semua jadi serumit ini.


Rachel, cinta, harapan dan masa depan sekarang terlihat abu-abu. Padahal beberapa hari yang lalu Brandon membayangkan masa depan yang cerah bersama Rachel perempuan yang sangat dia cintai.


Dengan situasi yang sekarang, apa masih ada kesempatan untuknya bersama dengan Rachel? Apa cinta mereka masih bisa bertahan?.


Namun ada pertanyaan yang sangat mengganjal di pikiran Brandon.


Seandainya dia mengetahui lebih awal dirinya adalah pelaku yang memperkosa Luna dan memberitahu Rachel. Apa mungkin Rachel akan syok sama seperti mendengar saat pelaku itu adalah Farel.


Brandon menoleh pada Farel, menatap lama sembari mencari jawaban.


"Kenapa?." Farel heran sejak tadi Brandon menatap nya dengan begitu intens. "Kenapa lo menatap gue gitu? Sumpah gue ngeri. Lihat nih bulu tangan gue sampai berdiri. Lo lagi berpikir yang iya iya kan?."


Brandon terkekeh dan menatap ke depan lagi. Candaan Farel sedikir mencairkan suasana hatinya.


"Lo tenang aja, meskipun orang lain nuduh lo. Gue percaya kok lo bukan pelakunya. Gue akan dukung lo. Kita cari sama-sama pelakunya. Kita cari juga keadilan untuk Luna. Luna memang pernah melakukan kesalahan nya tapi dua sudah menyesalinya dan meminta maaf."


"Lo percaya sama gue?."


.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2