
Anthony melotot marah, dan mengejar putranya nakalnya. Sementara Farel menulikan telinga.
Farel tetap menggendong Sarah sambil mencuri kecupan di pipi Mamahnya.
"ANAK TERKUTUK KAU."
Mendengar itu tawa Farel semakin kencang.
Sesampainya di kolam renang, keluarga cemara itu berenang bersama sambil bercanda riang.
***
Tin...tin...
"Haha, Om bisa saja," Luna tertawa mendengar candaan Hendrawan.
Begitu juga Dilara yang ikut tertawa. Tak lama setelah Farel pulang tadi. Hendrawan datang ke rumah Dilara. Padahal Dilara sudah melarang Hendrawan datang untuk sementara waktu. Tapi Hendrawan masih keras kepala.
Dilara juga sempat menyuruh Hendrawan pulang terus membujuk dan akhirnya Dilara luluh juga. Selain itu Luna juga sedang sakit dan membutuhkan perhatian dari sosok Ayah.
Tin...tin...
"Eh sebentar sebentar itu kayaknya bel rumah berbunyi." ucap Hendrawan.
Dilara dan Luna sama-sama diam dan menanamkan indra pendengaran mereka.
"Oh iya, Mas. Sepertinya ada tamu. Aku cek dulu yah.:
Dilara mengusap rambut Luna dan melempar senyum pada Hendrawan sekilas lalu bergegas meninggalkan halaman belakang rumah. Dilara mempekerjakan pembantu. Tapi jam kerja nya hanya pukul 08.00-16.00. Itupun kalau pekerjaan sudah selesai, Dilara mengizinkan pembantu nya pulang.
Tin...tin...
"Iya sebentar."
Dilara mempercepat langkahnya menuju ke ruang depan. Dengan senyuman manis Dilara membuka pintu.
"Iya, ada apa?."
Namun begitu melihat siapa yang datang, saat itu juga senyum Dilara luntur.
"A-ayuma?."
__ADS_1
Ayuma tersenyum. "Dilara."
"Kok kamu tiba-tiba datang? Biasanya sebelum datang kamu mengabari ku dulu?." Dilara mencengkram sisi dressnya dengan gugup.
"Oh aku belum bilang ya? Ya ampun aku juga lupa. Soalnya tadi aku baru pulang dari kantor, terus ingat kalau Luna pulang dari rumah sakit. Aku baru menjenguk Luna sekali di RS waktu itu. Ya udah di perjalanan tadi aku membelikan buah-buahan sama bubur kacang ijo kesukaan Luna."
Ayuma tersenyum dan mengangkat parcel buah dan dua paperbag berisi martabak dan bubur kacang hijau.
"Rasanya sangat tidak tahu diri kalau aku hanya menjenguk Luna sekali, padahal Luna sudah mengorbankan nyawanya demi putriku. Entah apa yang akan terjadi pada Rachel jika saat itu Luna yang baik hati tidak menyelamatkan Rachel."
"Ya ampun, Ayuma. Kamu sangat berlebihan. Luna menolong Rachel juga tulus dan tanpa pamit sedikitpun. Tapi terima kasih sudah membawakan ini untuk putriku." Dilara tersenyum dan mencoba terlihat biasa saja, meskipun dalam hati begitu gugup dan takut.
"Oh yah kedatanganku tidak mengganggu kamu kan?. soalnya dari pakaian dan rasanya kamu seperti nya kamu sedang ingin keluar?."
"Eh i-itu aku.." Dilara memperhatikan penampilannya sendiri. "Oh ini... Tadi kan aku baru dari rumah sakit menjemput Luna, ya biar enak di pandang saja aku memakai baju dan sedikit riasan. Aku belum sempat ganti baju dan menghapus make up."
Ayuma menganguk-angguk, "Aku suka stule kamu. Kamu terlihat sangat cantik dan muda seperti biasanya. Aku pikir kamu juga sedang ada tamu soalnya itu ada mobil di halaman rumah kamu atau mungkin itu mobil baru kamu?."
Ayuma melempar pandangan ke sebuah mobil porsche putih. Dengan jantung berdebar, was-wasdan panik Dilara mengikuti pandangan Ayuma.
Oh Syukurlah... seperti biasa, setiap datang ke rumah HendrawN pasti memakai mobil lain yang tidak pernah di tunjukkan pada Ayuma. Mobil ini dia sembunyi di bassment bawah tanah apartement miliknya. Begitu cerita Hendrawan saat Dilara khawatir mobil Hendrawan di pergoki Ayuma.
"Begitu ya," Ayuma menganguk-angguk seolah percaya padahal yang sebenarnya Ayuma sudah menebak mobil itu milik suaminya.
Mungkin sekarang suaminya ada di dalam rumah Dilara dan sedang bersama Luna. Ayuma juga menebak Dilara pasti sengaja berdandan untuk Hendrawan. Meskipun mulutnya menyangkal mempercantik hanya untuk diri sendiri, hatinya tidak akan bisa berbohong. Dilara ingin di puji dan tampil cantik di depan Hendrawan.
Setegar dan sekuat apapun, Ayuma tetaplah perempuan yang bisa merasa sedih dan bisa sakit hati saat melihat laki-laki yang masih bersatu suaminya dan sangat di cintai bermain di belakang dengan perempuan yang tak lain adalah teman dekat nya sendiri.
"Oh ya Kuna sedang tidur dan terlihat sangat lelah. Aku ngga tega kalau harus membangunkan Luna. Nanti aku sampaikan kamu datang menjenguk. Luna pasti sangat senang mendapatkan buah-buahan dan makanan ini dari kamu. Jadi mungkin sebaiknya kamu pulang. Maaf sebelum nya aku ngga bermaksud mengusir kamu, tapi mau bagaimana lagi Luna sedang tidur."
Sungguh Ayuma ingin sekali menampar Dilara. Benar-benar tidak tahu diri. Bermuka dua dan licik. Dilara sengaja mengusirnyaa agar dia bisa berduaan dengan Hendrawan.
Ya Tuhan. Bagaimana biaa Dilara melakukan ini padanya. Bagaimana bisa Dilara menusuknya dari belakang? begitu juga dengan Hendrawan. Kenapa dari sekian banyak perempuan Hendrawan berselingkuh dengan Dilara yang statusnya teman Ayuma dan sahabat dari anak kandungnya sendiri.
Ayuam ingin sekali mendobrak pintu dan memergoku suaminya berada di rumah ini bersama Luna.
Tapi Ayuma tidak bisa melakukan itu. Hendrawan pasti punya seribu satu cara untuk menyangkalnya.
Ayuma harus bersabar dan mencari bukti yang akurat perselingkuhan mereka.
"Oh Luna sedang tidur. Sayang sekali aku tidak bisa bertemu dengan nya langsung. Tapi bolehkah aku duduk sebentar di ruang tamu. Aku lelah sekali menyetir, Dilara."
__ADS_1
Dilara ingin menolak tapi...
"Tolong Dilara aku lelah sekali. Aku hanya duduk sebentar di ruang tamu, aku tidak akan kemana-mana."
"Oh i-iya. Silahkan masuk."
Dengan berat hati Dilara mempersilahkan Ayuma masuk. Semoga saja Ayuma menepati ucapannya untuk tidak kemana-mana selain duduk di ruang tamu. Semoga juga Hendrawan tidak tertawa seperti tadi.
"Oh yah. Silahkan duduk aku buatkan minuman dulu."
"Tidak perlu repot-repot."
"Tidak kok, tidak repot sama sekali, tunggu sebentar ya."
Dilara bergegas meninggalkan ruang tamu, meletakkan parcel buah dan paper bag di ruang tengah lalu berlari menuju ke halaman belakang.
"Mas Hendrawan."
"Ada apa? kenapa terlihat panik begitu?." Henndrawan bingung dengan kepanikan Dilara, begitu juga Luna yang heran.
"Di luar ada Ayuma."
"Oh ada Tante Ayuma, ada Rachel juga ngga, Ma?" tanya Luna riang.
"Engga, Sayang. Tante Ayuma datang sendiri. Dia ingin menjenguk kamu tapi Mama bilang kamu sedang tidur."
"Kenapa begitu?."
"Karena di sini ada Om Hendrawan. Kamu tahu sendiri kan Rachel iri dengan kedekatan kamu dan Om Hendrawan. Kalau sampai Ayuma tahu Om Hendrawan ada di sini, Mama khawatir Ayuma mengatakan itu pada Rachel dan Rachel semakin iri sama kamu. Karena itu Mama merahasiakan kedatangan Om Hendrawan ke rumah kita."
"Oh gitu ya," lirih Luna sendu. "Kenapa Rachel iri sama aku, padahal aku nggak pernah iri sama dia. Aku juga ngga ada maksud merebut Om Hendrawan darinya."
Dilara mencelos, "Bukan begitu, Sayang, tapi..."
.
.
.
Bersambung
__ADS_1