
Hendrawan mondar-mandir di balkon kamar sambil berulang kali membaca pesan Luna.
**Luna : Om Hendrawan, hari ini aku pulang dari rumah sakit.
Kemarin Om Hendrawan bilang ingin mengantarkan pulang dan aku mengiyakan. Tapi maaf aku berubah pikiran. Bukannya aku tidak tahu diri atau tidak tahu terima kasih, tapi bisakah hari ini Om Hendrawan tidak datang ke RS.
Aku ingin di temani Mama, Rachel dan Farel saja. Sekali lagi terima kasih Om Hendrawan sudah membawakan ke rumah sakit**.
Hendrawan langsung menelpon Luna, tapi terhitung 5 kali panggilan nya di tolak.
Akhirnya Hendrawan menelpon Dilara. Tak lama panggilannya langsung di angkat.
"Halo Dilara."
"Iyah Mas Hendrawan."
"Kenapa tiba-tiba Luna berubah?."
"Berubah gimana?."
"Luna melarangku datang ke rumah sakit dan mengantarnya pulang. Aku merasa kalau Luna mencoba menjauhiku. Apa yang kamu katakan sampai Luba menjauhiku?."
Hendrawan mondar-mandir sambil menggigit kuku nta.
"Aku juga tidak menyuruh Luna menjauhi kamu, Mas.Justru aku senang Luna dekat dengan kamu. Dan soal Luna melarang kamu ke rumah sakit, mungkin Luna merasa tidak enak dengan Rachel. Untuk sekarang kamu harus menjaga jarak dulu dengan Luna. Jangan sampai Rachel curiga kalau kamu Ayah kandung Luna. Aku takut Rachel membenci Luna."
Hendrawan berdecak,
"Ck. ternyata gara-gara Rachel. Aku tidak mengerti kenapa Rachel kekanak-kanakan sekali. Padahal sejak kecil aku merawatnya, bermain dengan nya saat dia memintaku, aku juga membelikannya banyak mainan, memberikan uang, memberikan tempat tinggal, menyekolahkan di sekolah bagus dan mahal, tapi kenapa Rachel masih merasa kekurangan kasih sayang. Kenapa Rachel tidak bisa dewasa seperti Luna."
"Mas jangan bilang begitu. Setiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda. Menurutnya Rachel juga sudah cukup dewasa kok. Ngga mudah membagi kasih sayang Ayahnya pada orang lain. Cuma mungkin belakangan ini kamu terlalu perhatian dengan Luna karena itu Rachel merasa iri."
"Jadi aku mohon. Untuk sementara waktu jauhi Luna dan lebih perhatian pada Rachel. Aku tidak ingin persahabatan Luna dan Rachel renggang gara-gara masalah ini."
Hendrawan menghela nafas berat.
"Hati kamu mulia sekali Dilara. Tidak salah aku memilihmu menjadi wanita yang paling aku cintai."
Brak.
Hendrawan tersentak mendengar suara benda jatuh. hendrawan segera mengakhiri panggilan dah mengecek ke dalam kamar. Namun tidak ada siapa-siapa.
"Ya ampun, Bi. Hati-hati dong!."
Mendengar suara ribut dari luar kamar Hendrawan segera mendekat. Ternyata Ayuma bersama Bi Siwi salah satu pembantunya. Di dekat kaki Ayuma, Hendrawan melihat kepingan-kepingan vas bunga pecah.
"Ada apa?."
"Ini Mas tadi Bi Siwi nggak sengaja pecahan vas bungaku."
"Oh kira ada apa. Nggak usah marah, nanti beli lagi."
__ADS_1
"Iyah Mas."
Hendrawan masuk lagi ke dalam kamar. Ayuma melongokan kepala dan melihat suaminya berjalan lagi ke arah balkon. Apalagi kalau bukan lanjut mengobrol dengan selingkuhannya.
Benar, suara benda jatuh yang mengejutkan Hendrawan tadi bukan vas bunga melainkan ponsel Ayuma yang jatuh. Diam-diam Ayums menguping dan merekam percakapan Hendrawan dan Dilara.
Tangan Syuma gemetar dan ponselnya jatuh saat Hendrawan mengatakan Dilara adalah satu-satu nya perempuan yang paling dia cintai di dunia ini. Kalimat itu sudah menjawab keragu-raguan Ayuma selama ini. Sekarang terbukti bahwa Hendrawan benar-benar berselingkuh dengan Dilara.
"Bu Ayuma."
Ayuma mengerjab dan mengalihkan pandangan pada Bu Siwi. Demi agar tidak ketahuan oleh suaminya Ayuma harus mengkambing hitamkan Bu Siwi.
"Maaf Bu. Saya tidak bermaksud memfitnah Bi Siwi di depan suami saya. Tadi saya...itu saya..."
"Bu Ayuma saya tidak tahu Bu Ayuma kenapa melakukan ini, tapi jika itu bisa membantu Bu Ayuma lakukan saja. Gunakan saya sebagai alasan sesuka Bu Ayuma. Untuk ke depannya jika Bu Ayuma membutuhkan bantuan saya, saya dengan senang hati akan membantu."
Ayuma terharu mendengar jawaban Bu Siwi. Beliau sudah bekerja di sini selama 15 tahun. Bi Siwi juga yang membantu nya mengurus Rachel.
"Terima kasih Bi. Ya udah Ayo kita bersihkan!."
"Tidak perlu, Bu. Biar saya saja."
"Tidak apa-apa. Saya yang memecahkan, sudah seharusnya saya yang membersihkan."
Bi Siwi dan Ayuma pun membersihkan pecahan vas bunga itu.
Tapi bukti ini belum cukup, Hendrawan bisa saja menyangkal bahwa kalimat itu hanya candaan semata. ayuma masih harus bersabar dalam pernikahan ini. Ayuma akan membongkar di depan Wisnu dan menunjukkan betapa jahatnya Hendrawan padanya dan Rachel.
Dan Dilara...
***
"Ma, aku berangkat dulu ya. Sebelum ke kampus aku ingin ke rumah sakit dulu mengantar Luna pulang."
"Kenapa kamu mengantar Luna?."
"Iya dong, Ma. Aku yang menyebabkan Luna kecelakaan jadi aku yang harus bertanggung jawab. Sampai sekarang aku masih merasa bersalah dan berharap aku saja yang terserempet motor."
"Jangan bicara begitu, Sayang." Ayuma mengusap lembut pipi putrinya. "Mama perhatikan jika terjadi sesuatu kamu sering menyalakan diri kamu sendiri. Jangan sering melakukan itu, itu tidak baik. Itu bisa membuat kamu tidak percaya diri dan insecure. Contohnya kasih sayang Papa mu."
"Papa kamu tidak bisa menyanyangi kamu bukan berarti ada yang salah dalam diri kamu, kamu anak baik, manis, penyanyang, lembut dan sopan. Tapi memang pada dasarnya hari Papa kamu yang keras sehingga Papa tidak bisa melihat betapa hebat nya putri kandungnya."
Rachel tersenyum dan menganguk. Ayuma selalu bisa membangkitkan semangat nya lagi.
"Dan satu lagi jangan mudah percaya dengan orang lain. Orang yang berpotensi menjadi musuh dan menusuk kita dari belakang adalah orang terdekat kita. Dimanapun kamu berada berhati-hatilah."
Orang terdekat? Rachel kembali mengulang itu dari kepalanya.
Saat ini orang terdekatnya hanya Farel, Bastian, Rendy dan Dypta dan juga Luna. Mereka adalah orang-orang yang Rachel sangat percayai dan tidak pernah terlintas dalam kepalanya bahwa mereka akan berkhianat. Dan berharap tidak akan pernah terjadi. Rachel ingin persahabatan mereka langgeng sampai kapanpun.
"Iya Mah, aku akan selalu berhati-hati."
__ADS_1
"Sini peluk dulu."
Ayuma tersenyum dan menarik putrinya dalam pelukan.
"Mama menyanyangi mu."
"Rachel juga menyanyangi Mamah."
Tak lama setelah itu, mobil Farel tiba. Farel berpamitan dengan Ayuma, seperti biasa Ayuma menitipkan Rachel dan meminta Farel untuk menjaganya. Farel juga ingin berpamitan dengan Hendrawan, tapi Ayuma bilang kalau Hendrawan sedang sibuk di kamar.
Kemudian Rachel dan Farel masuk ke dalam mobil dan Farel melajukan mobil dan meninggalkan halaman rumah Rachel.
"Gue kan udah bilang ngga usah jemput. Kok masih jemput juga?."
"Ya biar sekalian aja. Lumayan kan perjalanan dari rumah lo ke rumah sakit agak jauh. Jadi kita bisa mengobrol banyak-banyak."
"Tapi gue lagi nggak mood buat ngomong, gue lagi ngga mau ngomong apa-apa."
Rachel melipat tangan di depan dada dan melempar pandangan ke luar jendela. Pipinya mengembung dan bibir nga mengerucut ke depan seperti bebek.
Farel mengulum senyum, baru bertemu sebentar tapi Rachel bisa membuatnya tersenyum. Gadis ajaib dengan segala kerandoman nya yang selalu Farel rindukan.
"Rachel."
Hening.
"Mau es krim nggak?."
"Mau!." seru Rachel Refleks menoleh ke arah Farel yang sontak membuat Farel tertawa.
"Nyebelin banget sih, lo ngomong gitu buat mancing gue ngomong kan?."
"Nething mulu. Padahal mau nawarin beneran."
Rachel menyipitkan mata nya, "Terus mana es krim nya?."
Farel mengambil plastik di kursi belakang.
"Beneran? Makasih." Rachel ingin mengambil kantung plastik itu tapi Farel menyembunyikan ke sisinya.
Farel sudah menebak, chatingan tadi pagi pasti membuat Rachel bad mood. Saat bad mood, obat terbaik untuk Rachel adalah makanan. Apapun masalahnya makan adalah solusinya.
"Katanya di kasih tapi kok nggak boleh di ambil?."
"Cium dulu dong di bibir!."
Cup.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....