Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 176


__ADS_3

Rs. Pelita.


"Ck, kamu gimana sih, Luna. Apa yang kamu lakukan sampai Kevin masuk ke rumah sakit? kerjaan kamu di rumah doang dan menjaga Kevin kan, kok bisa-bisanya Kevin sampai sakit begini." Amora menatap sinis Luna.


Sekarang mereka ada di depan ruang rawat VIP Kevin. Kevin sedang tidur di temani Brandon. Sementara Luna sedang berbicara dengan Amora dan Ardito di depan ruangan. Sekitar 15 menit yang lalu mertuanya tiba di sini. Dan selama itu juga mereka mengomeli Luna. Ini bukan pertama kalinya. Setiap Kevin sakit mereka pasti selalu menyalahkannya.


"Aku sudah berusaha menjaga Kevin sebaik mungkin, Ma. Aku selalu ada untuk Kevin. Aku juga memperhatikan makanan dan kebersihannya. Tapi entah bagaimana Kevin bisa demam."


"Ya kalau kamu becus mengurus Kevin, tidak mungkin Kevin demam saat masuk rumah sakit!." Ardito ikut bersuara dan menyudutkan Luna.


Amora menganguk, setuju dengan suaminya, "Kamu juga, di bilangin bukannya mendengar, malah menyahut terus."


Luna lelah menjelaskan dan membela diri. Percuma, semakin dia membela diri, mereka akan semakin jadi menyalahkannya. Lebih baik Luna memilih diam dan mendengarkan semua hinaan mereka.


"Tahun lalu Kevin juga masuk rumah sakit kan. Harusnya kamu belajar dari kesalahan tahun lalu, bagaimana mengurus Kevin, mengatur makanannya, menjaga kebersihan rumah. Sehingga Kevin terhindar dari penyakit, atau kamu sengaja ya membuat Kevin sakit biar Brandon di rumah terus menjaga Kevin? terus kamu bisa deket-deket sama Brandon?."


"Ma," Speechlees, Luna nyaris tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mendengar tuduhan mama mertua nya yang sangat jahat itu. "Aku seorang Ibu, Ma. Mana mungkin aku tega melakukan itu. Apalagi sengaja membuat Kevin sakit, Mama sangat keterlaluan. Jika mama memiliki seorang anak kandung, mama tidak akan mengatakan itu."


Plak...


Dengan kemarahan membara Amora melayangkan tamparan pada Luna. Tamparan itu begitu kuat sampai wajah Luna tertoleh ke samping.


"Kurang ajar sekali kamu, Luna!." Dada Amora naik turun menahan amarah. Ardito yang melihat istrinya berkaca-kaca langsung menatap tajam pada Luna dan mencengkram lengannya. Luna meringis kesakitan. Cengkraman Ardito tidak main-main, di tambah lengan Luna juga kecil.


"Berani sekali kamu mengatakan itu pada istri saya! Benar-benar menantu tidak tau diri."


Luna berkaca-kaca sembari menatap Amora, "Mama merasa sakit hati? Saya baru mengatakan itu sekali dan Mama sudah merasa tersakiti. Lalu bagaimana dengan saya, setiap hari mama caci maki, mama hina dan rendahkan. Menantu tidak tau diri, latar belakang keluarga tidak jelas, tidak berpendidikan, tidak becus mengurus anak, dan masih banyak lagi. Semua itu... Mama mengatakan setiap hari. Saya diam meskipun saya merasa sakit hati. Tapi sekarang saat saya melawan sekali saja... Mama menampar saya? Seharusnya mama menampar diri mama sendiri."

__ADS_1


"CUKUP LUNA!." Ardito berteriak marah sambil menguatkan cengkramannya pada lengan Luna. Air mata Luna tak tertahan lagi.


Memiliki seorang mertua, Luna berharap bisa menjadikan mereka sebagai sosok Ibu dan Ayahnya. Tapi ternyata mereka justru menambah luka hati, Luna. Luna sudah melakukan berbagai cara untuk meluluhkan hati mereka, tapi hati mereka terlampau keras.


"Hatiku sakit sekali, Mas. Hiks," Amora menangis semakin histeris, "Selama ini, kita sudah berusaha program bayi tapi selalu gagal. Hatiku sakit sekali mendengar hinaan dari Luna."


Mendengar tangisan istrinya, kemarahan Ardito semakin meluap-luap.


"Saya ingin kamu dan Brandon cepat bercerai. Saya tidak sudi punya menantu seperti kamu. Semakin ke sini bukannya berubah baik, kamu justru semakin tidak tahu diri, Luna."


Luna sekuat tenaga melepas cengkraman Ardito dari lengannya. Tapi karena tenaganya tidak sekuat tenaga Ardito, Luna tidak mampu melepaskan diri. Demi Tuhan rasanya Luna sudah lelah sekali. Rasanya ingin pergi, sejauh mungkin dari semua orang-orang toxic ini. Tapi Luna juga tidak ingin jauh dari Kevin.


Mendengar suara berisik dari luar, Brandon keluar dari kamar rawat putranya. Tadi saat menjaga Kevin, Brandon sempat tertidur. Lalu terbangun karena suara di luar. Ternyata mama dan papa nya sudah tiba.


Namun bukan kehadirannya mereka yang membuat Brandon terkejut, melainkan papa nya yang mencengkram lengan Luna.


"Pa, lepas. Apa-apaan papa ini."


Tapi karena Ardito terlihat keras kepala Brandon langsung menangkis tangan papa nya.


"Berani sekali kamu mendorong, Papa!." Ardito menatap tak percaya kepada putra nya. Brandon memang sering membangkang perintahnya, tapi ini pertama kalinya Brandon menggunakan fisik. Memicingkan mata pada Luna, kemarahan Ardito semakin membara. Siapa lagi kalau bukan karena Luna. Luna yang membuat putranya menjadi pemarah.


"Maaf, Pa. Aku tidak bermaksud tidak sopan. Tapi kenapa papa mencengkram lengan Luna." Brandon melirik pada Luna yang sesegukan, terlihat seperti sedang menahan tangis. Luna juga berulang kali mengusap air matanya, tapi air mata itu terus mengalir.


"Luna baru saja menghina mama mu. Secara tidak langsung dia bilang mama kamu mandul. Padahal selama ini kami sudah berjuang mati-mati untuk mendapatkan adik untuk kamu."


"Luna mengatakan itu?." Brandon mengenyitkan alis lalu mengalihkan perhatian pada Luna dengan sorot mata penuh tanda tanya. "Kamu nggak setega itu mengatakan itu pada Mama kan?."

__ADS_1


Tidak, Luna tidak akan setega itu, kata-kata nya pun tidak semenyakitkan yang papa nya katakan, tapi...Apa jika Luna menjelaskan Brandon akan percaya?.


"Aku, tadi..."


"Luna," Amora memotong kalimat Luna, "Mama tidak mengerti kenapa kamu bisa sejahat itu sama mama. Mama cuma menegur kamu agar lebih berhati-hati mengurus Kevin. Mama tahu gimana susahnya memiliki seorang anak, karena itu mama ingin kamu menjaga Kevin dengan baik. Tapi kamu menyalahartikan kebaikan mama, kamu justru menuduh mama menjelek-jelekkan kamu. Bahkan kamu menghina mama seperti tadi. Kamu sungguh keterlaluan Luna."


Amora menutup mulut dengan dramatis dengan berlari sembari terisak-isak.


"Ck, semua ini gara-gara kamu!." Ardito mendorong bahu Luna cukup keras sampai punggung Luna membentur tembok.


"Amora, tunggu." Tanpa menunggu lama Ardito langsung mengejar istrinya.


Setelah Ardito dan Amora tak terlihat lagi, Brandon mengalihkan perhatian pada Luna.


"Seharusnya kamu tidak mengatakan itu pada Mama. Wajar mama dan papa sangat marah sama kamu. Mereka sudah lama menunggu kehadiran seorang anak."


Luna bahkan belum menjelaskan apapun tapi Brandon langsung menjudge seperti ini.


"Lebih baik kamu ke kamar mandi dulu. Cuci muka. Jangan sampai Kevin melihat kamu menangis seperti ini. Nanti Kevin jadi ikutan sedih. Kamu harus bisa menjaga perasaan Kevin. Aku perhatikan kamu sering menunjukkan kesedihan kamu di depan Kevin Mungkin Kevin jadi kepikiran kamu sedih terus, terus dia jadi sakit seperti ini."


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2