
"Karena saya butuh uang banyak untuk bisnis saya yang diam-diam saya jalankan di belakang anda."
Wisnu meraup wajah nya dengan kasar. Matanya memejam sesaat untuk meredam emosi yang tiba-tiba tersulut, Wisnu mengira jika Dilara berbohong tapi ternyata perempuan itu berkata jujur.
"Saya benar-benar minta maaf, saya benar-benar membutuhkan uang. Saya sudah menghitung jumlah nya sekitar 800 juta. Jika anda meminta saya untuk menggantinya saya akan menggantinya. Saya tidak bermaksud untuk mengkhianati anda. Saat itu ambisi saya untuk membangun perusahaan sangat menggebu sampai saya tidak bisa memikirkan apapun selain keinginan saya terwujud."
Wisnu menggeleng.
"Tidak, kamu tidak perlu menggantinya. Saya mengucapkan banyak terima kasih karena mau berkata jujur. Tapi tidak bisa di pungkiri saya kecewa, kenapa kamu tidak jujur saja dan langsung meminta uang pada saya. Saya tidak keberatan memberikan kamu 800 juta secara cuma-cuma asalkan kamu punya tujuan jelas bukan untuk berfoya-foya."
"Saya sudah terlalu banyak menyusahkan anda, saya terlalu malu terus menerus meminta bantuan anda. Anda bersedia mempekerjakan saya sebagai sekretaris anda saja sudah membuat saya bersyukur. Sekali lagi saya minta maaf, saya sungguh menyesal saat itu saya mengambil uang anda yang seharusnya di berikan kepada Arumi."
Wisnu menghela nafas berat dan hanya menganguk.
"Tapi kalau boleh tahu kenapa tiba-tiba anda membahas hal ini? Apa Arumi datang menemui Hendrawan?."
"Bukan datang menemui tapi tidak sengaja bertemu. Sekarang Arumi mengganti namanya dengan nama Dilara. Hendrawan yang mengejar-ngejar Dilara. Terakhir kali saya bertemu mereka, mereka berencana menikah. Untuk sekarang saya tidak tahu bagaimana hubungan mereka selanjutnya."
"Jadi Hendrawan sudah bercerai dengan Ayuma?."
Wisnu menganguk.
"Iya Ayuma berencana menggugat cerai Hendrawan. Sekarang Ayuma dan Rachel pergi dan sekarang Hendrawan tinggal bersama Dilara dan Luna putri kandungnya juga."
William terdiam sembari memainkan jari-jarinya tampak gelisah.
"Ada apa?." Tanya Wisnu penasaran dengan perubahan ekspresi William. Mengenal William kurang lebih 10 tahun saat menjabat sekretaris, Wisnu tahu perubahan-perubahan ekspresi wajah William.
"Apa anda yakin Luna adalah putri kandung Hendrawan soalnya waktu itu di Klub anda pernah melakukan itu dengan ..."
"Maaf, saya menyela." Ucap Sebastian membuat kalimat William terhenti.
Sebastian melempar senyum begitu juga William yang membalas senyum itu dengan senyum ramah.
"Maaf Pak William, Papa baru saja pulang dari jepang, jadi papa harus istirahat."
__ADS_1
William menganguk,
"Belakangan ini kesehatan saya menurun dan saya harus banyak istirahat. Maaf sudah merepotkan kamu untuk datang ke sini."
"Tidak Pak, sama sekali tidak merepotkan. Saya justru senang dan bisa bersilahturahmi dengan anda lagi. Semoga anda selalu sehat dan panjang umur."
"Terima kasih."
William pamit pulang dan Sebastian pun mengantar papa nya menuju kamar.
"Papa ingin tahu bagaimana kondisi Hendrawan sekarang. Setelah Ayuma dan Rachel pergi,apa dia merasa sedih atau justru malah senang?." tanya Wisnu setelah berbaring di ranjang kamarnya, sementara Sebastian duduk di kursi samping ranjang.
"Tentu saja dia senang, Pa. Inilah yang Hendrawan inginkan sejak dulu, sekarang Hendrawan bebas melakukan apapun bersama Dilara dan Luna. Sudahlah, Pa. Papa nggak usah mikirin anak bandel itu lagi. Hendrawan sudah memilih apa yang dia inginkan, sekarang hidupnya bukan urusan kita lagi."
"Iya papa tahu, tapi papa tidak bisa untuk tidak khawatir."
Sebastian menghela nafas panjang, "Ya udah biar nanti aku datang ke rumahnya dan mengecek kondisinya. Sekarang papa tenang kan pikiran papa dan istirahat yah."
***
Entah dari mana datangnya Rana nemplok di belakang punggung nya melingkarkan tangannya di leher nya.
Farel buru-buru menghapus air mata dan gerakan tangannya di lihat oleh Rana.
"Abang kenapa? Abang nangis? Mama bilang Tante Ayuma sama Kak Rachel pergi. Abang nangis kakak Rachel? Abang kangen sama Kakak Rachel?." Tanya Rana bertubi-tubu.
Farel meletakkan ponsel di meja lalu menarik lengan adik nya sehingga posisi Ranu duduk di pangkuan nya dengan posisi miring. Rani terkekeh dan menarik hidung mancung Farel.
"Iya Abang sedih abang kangen banget sama kakak Rachel. Abang berharap kakak Rachel secepatnya pulang.
Farel menundyk dan mencium pipi Rana.
"Emangnya sekarang Kak Rachel ke mana? Apa perginya jauh banget sampai abang nangis Abang bisa nangis juga ternyata Hehehe Ini pertama kalinya aku lihat abang manis
Abang cuma nangisin orang-orang yang Abang cintai
__ADS_1
Cinta cinta itu seperti apa Abang aku sering dengar Ayah bila cinta sama mama terus aku juga denger abang Tian bila cinta sama Rani kemarin ada teman sekelas aku yang bilang cinta sama aku
Seketika mata Farel melotot lebar
Siapa-siapa yang bilang cinta sama kamu sebut nama?."
Rana mengerjab bingung melihat abang nya yang tiba-tiba terlihat marah.
Adalah pokoknya termasuk kelasku bandel banget katanya kalau aku juga bilang cinta sama dia Jadi pacaran nanti kan sama Bang Tian Aku mau pacaran juga sama teman sekelasku
Mendadak Ferel jadi emosi jiwa dan raga ditambah lagi Rana mengatakan itu dengan wajah yang sangat-sangat polos Demi Tuhan rasanya Farel ingin mencari anak bandel itu dan menggantungnya di pohon kelapa.
"Denger yah, cinta itu khusus untuk orang dewasa di atas 20 tahun. Anak kecil seperti kamu nggak boleh mikir yang namanya cinta-cintaan. Kamu harus fokus belajar. Berteman boleh tapi nggak usah pakai cinta. Cinta di bawah 20 tahun itu ilegal, nanti di penjara. Kalau ada yang bilang cinta sama kamu, berarti orang itu penjahat, kamu harus jauhin orang itu."
Rana mengerjab beberapa kali, tampak bingung melihat abangnya yang tiba-tiba terlihat marah.
"Ada lah pokoknya teman sekelasku, anaknya bandel banget. Terus katanya kalau aku juga bilang cinta sama dia, kita jadi pacaran. Nanti kan Bang Tian pacaran sama Rani, aku juga mau pacaran sama teman sekelasku."
Mendadak Farel jadi emosi jiwa dan raga. Di tambah lagi Rana mengatakan itu dengan wajah yang sangat polos. Demi Tuhan Farel rasanya ingin mencari anak bandel itu dan mengantungnya di pohon kelapa.
"Dengar yah cinta itu untuk khusus orang dewasa di atas 20 tahun. Anak kecil seperti kamu nggak boleh mikir yang namanya cinta-cintaan. Kamu harus fokus belajar, berteman boleh tapi nggak usah pakai cinta. Cinta di bawah 20 tahun itu ilegal, nanti di penjara. Kalau ada yang bilang cinta sama kamu berarti itu orang jahat, kamu harus jauhi dia."
Rana mengerjab beberapa kali tampak bingung.
"Sudah lebih baik kita bergabung saja dengan yang lain, jangan dulu mikir cinta-cintaan lebih baik kamu fokus belajar yah, Dek." Nasehat Farel.
Rana menganguk dan tersenyum kepada Abangnya, Farel.
Farel menggenggam tangan Rana dan membawa nya untuk bergabung dengan yang lain.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...