Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 85


__ADS_3

"Sekarang Dilara dan Luna ada di bawah perlindunganku. Papa tidak akan bisa menyakiti mereka lagi. Dan kalau Papa berani menyakiti mereka Papa akan berhadapan denganku."


"Papa juga jangan menyalahkanku atas apa yang aku lakukan sekarang pada Ayuma dan Rachel. Sejak awal aku tidak mencintai Ayuma dan aku tidak pernah menginginkan Rachel hadir di dunia ini. Rachel adalah kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan. Jika aku bisa mengulang waktu aku tidak akan pernah ingin Rachel lahir ke dunia ini."


Hendrawan menarik nafas dalam-dalam setelah menyelesaikan rentetan kalimatnya. Matanya bergantian menatap Ayuma dan Rachel. Kedua perempuan itu juga menatap ke arahnya dengan sorot mata tak tergambarkan tapi Hendrawan yakin mereka pasti sakit hati dan mengumpat dalam hati.


Biarkan saja, Hendrawan juga sakit hati dengan pernikahan nya dengan Ayuma yang atas dasar perjodohan.


"Oh satu lagi, Pa. Aku hampir lupa padahal ini yang paling penting. Selama ini Ayuma berselingkuh dengan Samuel."


"Itu tidak benar," Ayuma akhirnya bersuara setelah diam saja. Fitnah suaminya kali ini sangat keterlaluan.


"Nggak usah ngeles kamu. Saya tahu selama ini diam-diam kamu berselingkuh dengan Samuel di belakang saya."


Ayuma menggeleng dan menatap Wisnu yang duduk di sampingnya, "Tidak, Pa. Aku tidak bohong, aku-."


Tiba-tiba Wisnu berdiri membuat ayuma mencelos.


"Pa, tolong percaya padaku. Aku tidak bohong. Aku-."


Ayuma terkejut saat tiba-tiba Wisnu berlutut di depannya.


"Pa." dengan segera Ayuma memegang lengan Papa mertuanya ingin membantu berdiri tapi beliau menahan posisinya tetap berlutut.


"Opa." Rachel langsung turun dari sofa dan berjongkok di samping Wisnu. "Opa jangan gini."


Sebastian, Bastian dan Anggun terkejut, begitu juga dengan Hedrawan, Dilara dan Luna yang sama terlejutnya. Hendrawan sama sekali tidak menyangka Papa nya yang begitu arogan, penuh kekuasaan dan keras kepala berlutut pada seseorang. Ini pertama kali nya Hendrawan melihat Papa nya berlutut.


"Papa, tolong berdiri." Ayuma masih terus meminta Wisnu berdiri tapi Wisnu menolak.


"Maafkan Papa," Wisnu mendongak dan menatap Ayuma yang masih duduk di sofa dan meraih kedua tangan menantunya dan menggenggam erat.


"Maaf Papa begitu egois. Papa terus meminta kamu bertahan di sisi Hendrawan meskipun Papa tahu kamu tersiksa. Papa terus mengatakan Hendrawan akan berubah dan menjadi sosok yang baik untuk kamu. Tapi kenyataan nya tidak seperti yang Papa harapkan. papa begitu menyanyangi Hendrawan dan begitu takut anak bandel itu jatuh ke tangan yang tidak tepat sampai Papa mengorbankan perasaan kamu. Bersama kamu Hendrawabn akan bahagia dan aman, kamu setia, tulus dan selalu mendampingi nya dalam keadaan apapun. Tapi keputusan Papa ini justru membuat kamu tersiksa."


Ayuma tak kuasa menahan tangis.


"Tidak, Pa. Papa tidak perlu minta maaf. Sudah cukup, Pa. Ayo berdiri!."

__ADS_1


Berulang kembali Ayuma mencoba membangunkan Wisnu tapi Wisnu tetap berlutut di depannya dan kini Wisnu mengalihkan pandangannya pada Rachel yang berjongkok di sampingnya.


"Rachel." Wisnu mengalihkan pandangan pada Rachel dan mengusap pipi nya, "Kamu akan selalu menjadi cucu kesayangan Opa. Sampai kapanpun kamu dan Bastian akan selalu menjadi cucu Opa selamanya."


Diam-diam Luna mengepalkan tangan. Siapa yang tidak sakit hati mendengar kakek kandungnya tidak mau mengakuinya, padahal Luna juga cucu kandungnya. Luna benar-benar sakit hati.


Wisnu mengalihkan pandangan lagi pada Ayuma.


"Sekarang lakukan apapun yang akan kamu lakukan, putriku. Papa tidak akan menahan lamu lagi. Jika kamu ingin bercerai, bercerai lah. Bukan kamu yang kehilangan Hendrawan, tapi Hendrawan yang kehilangan istri dan anak yang baik seperti kalian."


Hendrawan berdecih mendengar kalimat Papa nya terdengar menggelikan di telinganya.


Papa nya bilang dirinya akan kehilangan Ayuam? oh jelas tidak Hendrawan merasa tidak kehilangan Ayuma sama sekali. Justru sekarang Hendrawan merasa bebas karena sekarang dia bisa menikah dengan Dilara dan hidup bahagia dengan perempuan yang dia cintai dan anak yang dia sayangi.


"Papa sudah selesai drama Papa? sekarang silahkan Papa pulang dengan menantu kesanyangan Papa itu. Karena sekarang aku, Dilara dan Luna ingin istirahat. Papa jangan marah, aku tidak bermaksud untuk mengusir Papa, sebagai pemilik rumah aku hanya ingin beristirahat dengan tenang tanpa ada gangguan."


Rumah ini dulu pemberian Wisnu untuk pernikahan Hendrawan dan Ayuma. Bukan hanya rumah ini, tapi banyak aset-aset lainnya.


Dulu masih atas nama Wisnu, tapi karena Hendrawan bersungguh-sungguh menjadi suami yang baik dan Ayah yang baik untuk Ayuma dan Rachel. Wisnu setuju saja saat Hendrawan ingin membalik nama seluruh aset itu menjadi namanya.


"Oh yah aku juga ingin Papa minta maaf kepada Dilara dan Luna


karena gara-gara hidup mereka terlantar. Dilara bahkan harus menitipkan Luna di Panti asuhan karena takut tiba-tiba Papa menemukan Luna dan membunuhnya."


Wisnu berdiri sambil menumpukkan tangan di lutut.


"Pelan-pelan Pa," dengan bantuan Ayuma, beliau bisa berdiri tegak.


"Anggun, Tian bawa Rachel dan Ayuma pulang ke rumah. Papa dan Sebastian ingin berbicara dengan anak sialan ini."


Anggun dan Bastian menganguk bersamaan dengan mengajak Ayuma dan Rachel pergi. Namun Ayuma menggeleng, khawatir terjadi sesuatu dengan Wisnu jika dia pergi begitu saja.


"Papa akan baik-baik saja." ucap Wisnu.


Ayuma menganguk dan mereka segera pergi.


"Kenapa Papa menyuruh mereka pergi? Aku minta pa-."

__ADS_1


"DIAM KAMU!." Bentak Wisnu seketika membuat Hendrawan, Dilara dan Luna tersentak. Sementara Sebastian terkekeh melihat mereka terkejut.


"Papa ingin sekali memukul kamu, tapi kamu bukan anak kecil lagi yang bisa nurut dengan pukulan. Satu kata Papa benar-benar kecewa denganmu Hendrawan."


Hendrawan berdecak, "Dilara, Luna kalian juga masuk kamar. Biar aku yang berbicara dengan Papa dan Sebastian." ucap Hendrawan.


"Iya, Mas."


"Iya, Pa."


Luna dan Dilara hendak pergi namun kalimat lanjutan Wisnu menahan langkah mereka.


"Duduk! aku juga ingin berbicara dengan kalian." tegas Wisnu.


Dilara ingin mengajak Luna pergi, tapi Dilara juga penasaran apa yang ingin Wisnu katakan. Mungkin saja berubah pikiran dan tiba-tiba merestui mereka.


"Ayo Sayang kita duduk lagi." akhirnya Dilara mengajak Luna duduk lagi.


Wisnu duduk di sofa dengan pandangan mata tajam tertuju pada Dilara.


"Benar kamu Arumi?."


"Iya, Pa. Benar saya Arumi."


"Saya hanya ingin tanya satu hal, kapan saya mengancam dan akan membunuh kamu?."


Dilara tersentak mendengar pertanyaan itu. Perlahan wajah Dilara memucat. Hendrawan yang melihat wajah pucat kekasihnya itu menatap geram pada Papa nya.


"Papa jangan mengintimidasi Dilara seperti itu!, Papa salah dan cukup minta maaf!."


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2