
"FAREL."
Rachel langsung menarik selimut sampai menutupi kepalanya
"Kenapa sih nggak ganti baju di kamar mandi aja!."
Farel terkekeh, "Kan baju nya di sini, Tuh di lemari."
"Yah di bawa dong ke kamar mandi."
"Ngga mau nanti basah. Btw lo belum mandi kan?, mumpung gue belum ganti baju, sini gue mandiin."
"Mandiin Mbahmu." Rachel mengambil bantal dan melempar pada Farel. Namun karena posisi Rachel masih dalam selimut lemparan itu jelas melesat jauh.
Farel terkekeh sementara Rachel berdecak kesal. Kadang Farel tercipta untuk menguji kesabarannya.
"Ya sudah sekarang ambil baju terus masuk kamar mandi dan ganti baju." gemas Rachel.
"Ngatur-ngatur gue, kamar-kamar gue dong terserah gue mau ngapain."
"Yah terserah lo. Tapi masalahnya gue ada di sini."
"Terus kenapa? Perasaan lo udah sering liat gue kayak gini. Lagian gue ngga telanjang, gue masih pake handuk."
Benar juga. Kenapa Rachel jadi segugup ini?, tapi entahlah, atmosfer nya terasa berbeda. Rachel merasa sangat mali dan gugup.
"Ck. Pokoknya lo ganti aja di kamar mandi atau gue keluar dari kamar lo duluan. Terus lo ganti baju di sini."
Rachel turun dari kaelsur sambil menyelimuti selimut menutupi tubuhnya. Rachel berjalan menunduk melihat lantai.
"Kena lo."
"Arrgg."
Bug.
Karena tiba-tiba Farel memeluknya dari belakang. Rachel langsung mengikuti perutnya dan lari keluar kamar.
"Rachel, tega banget lo." Farel memegang perutnya yang agak sakit.".
"Sorry. Lo sih jailin gue mulu.".
Farel mendengus namun tak lama senyumnya mengembang juga. Selalu berpikir Tuhan menghadirkan Rachel dalam hidupnya untuk menjadi moodbooster. Dan Farel sangat berterima kasih dari sekian banyak manusia di dunia ini Tuhan memilihnya menjadi sahabat dekat Rachel.
Selesai berganti baju, Farel keluar dari kamar.
"Ya ampun anak perawan ini." gemas Farel saat melihat Rachel tiduran di sofa dengan posisi kaki berada di punggung sofa sementara kepalanya di tepian sofa dengan rambut panjangnya yang terjulur ke lantai. Tangan kiri nya memegang ponsel dan tangan kanan nya merogoh snack dan memasukkannya ke dalam mulut.
"Laper Rel."
Rachel berganti posisi duduk dengan normal. "Perjalanan ke rumah sakit nanti kita beli makanan drivethru aja. Makan di mobil."
"Iyah, sana mandi. Mau di mandiin?."
"Makan nih biar otak lo nggak mesum terus."
__ADS_1
Rachel mengambil snack dan memasukkan ke mulut Farel. Farel dengan jail menggigit jari nya.
"FAREL."
Rachel melotot, maunya sih ngomel-ngomel tapi semakin dia membalas, Farel akan semakin menjadi-jadi menjahilinya. Daripada meladeni Farel dan telat ke rumah sakit lebih baik Rachel tahan saja kekesalannya dan segera mandi.
"Serah deh lo Rel, gue mau mandi."
"IKUUUTTT."
"FAREL."
Rachel mendorong kuat Farel hingga terjatuh di sofa. Lalu segera berlari ke kamar Farel dan menguncinya.
Farel tertawa, "PADAHAL SERU LOH MANDI BARENG. GUE BANTU GOSOK-GOSOK."
"DIAM KAU."
Farel tertawa semakin kencang. Hari ini menyenangkan sekali. Ah pokonya apapun itu saat bersama Rachel pasti sangat menyenangkan.
Sampai detik ini Farel belum menyerah. Bagaimanapun caranya Farel akan terus membujuk Rachel untuk pindah ke apartement depan apartement nya lagi.
Sekian menit, Rachel selesai mandi.
"FAREL GUE PINJEM BAJU LO."
"OKE TAPI GUE PAKEIN."
"Lama-lam gue aduin sama Mamah Sarah kalau lo sering mesumin gue."
Tak ada lagi sahutan lagi dan tak lama Rachel keluar. Rachel memakai kaos putih lengan pendek dan celana cargo army pendek. Kaos dan celana itu jelas kebesaran untuk Rachel. Tapi karena pada dasarnya Rachel tinggi dan proporsi tubuhnya bagus, kaos dan celana terlihat sangat cocok di tubuh nya. Bahkan terlihat sangat keren.
Tanpa sadar Farel tak mengedipkan mata.
Satu yang ada di pikiran Farel sekarang, Farel sangat sekali memeluk tubuh gadis itu. tapi rasanya aneh memeluk tanpa alasan.
"Ayo berangkat sekarang, tapi kita makan dulu."
Tapi Farel hanya diam.
"Farel Ayoo"
Rachel heran melihat Farel yang terlihat malas-malasan padahal mereka ingin ke rumah sakit dan menjenguk Luna perempuan yang dia cintai.
"Iya."
Farel berdiri, mendekati Rachel dan merangkul pundaknya tapi Farel justru menopangkan seluruh berat badannya pada bahu Rachel otomatis membuat Rachel tidak kuat menahan tubuhnya.
"Farel, udah ih."
Farel tertawa, gemas sekali.
Arrggh...
Rachel memekik saat Farel menggigit tangannya dan langsung kabur begitu saja.
__ADS_1
"Gila tuh orang, di kira nggak sakit apa?." Rachel mengusap-ngusap lengannya.
Sesampainya di parkiran Farel memutuskan mengendarai mobil. Tujuan nya sudah jelas agar Farel bisa leluasa mengobrol dan memandangi wajah Rachel. Sementara di motor, saat mengobrol suara mereka tidak jelas dan obrolan jadi tidak nyambung.
Tak lupa Farel membeli makanan di drivethru. Rachel memesan meatball dan matca latte sedangkan Farel hamburger dan air mineral.
"Rachel meatball lo enak ngga?."
"Ngga enak."
"Takut banget gue minta. Nih makan sayur biar sehat."
Farel mengambil tomat di hamburgernya dan memasukkannya ke dalam mulut Rachel. Sontak saja Rachel melotot dan mencubit lengannya.
"Kok lo marah, harusnya lo bilang terima kasih karena gue udah ngasih lo makanan sayuran biar lo sehat.
"Gue lagi ngga mau makan sayur. Udah deh lo fokus aja nyetir aja."
"Lo lupa kalau mobil ini autopilot, tanpa gue setir pun mobil otomatis jalan sendiri. Jadi kalau kita mau ciuman di mobil pun bisa-bisa."
"Sana ciuman aja sama kaca mobil lo."
Farel tertawa. "Ngga enak dong kaca kan keras. bibir lo kan lembut."
Farel langsung panik saat Rachel meregangkan jari-jari nya seolah melayangkan pukulan padanya.
"Canda Rachel canda."
Farel menatap ke depan sambil melanjutkan makan hamburger, sementara Rachel mendengus kesal. Kesal dengan kejahatan Farel yang membuatnya kadang jadi baper. Bukan Rachel yang kebaperan tapi Farel yang keterlaluan. Sikapnya, cadan nya, perhatian dan caranya memperlakukannya seolah Rachel adalah perempuan yang spesial tapi kenyataan nya ada pertemuan lain di hatinya.
"Hei, kenapa melamun?."
Rachel mengerjab , "Eh eng-enggak kok ini meatball nya enak banget, saking enaknya sampai rasanya seperti melayang ke awan-awan dan gue sampai lupa daratan."
"Random banget sih."
***
Sesampainya di rumah sakit Rachel dan Farel langsung menuju ke ruang rawat Luna. Tak lupa tadi di perjalanan mereka membeli buah-buahan dan buttersweet kesukaan Luna. Sebelum mereka, Dypta, Bastian dan Rendy sudah menjenguk Luna lebih dulu. Tapi mereka sepertinya sudah pulang.
"Ayo masuk!." Ajak Farel saat mereka sampai di ruang rawat Luna, tapi Rachel justru diam saja.
"Kenapa?."
"Ngga papa kok." Rachel menggeleng dan tersenyum untuk menyembunyikan rasa takut nya. Rachel takut di marahin Papa nya karena pergi begitu saja dan jam segini baru sampai rumah sakit.
"Kalau ngga papa, kenapa diam saja?. Ayo!."
Farel menggenggam tangan Rachel lalu masuk ke dalam ruang rawat Luna.
Deg
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...