Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 87


__ADS_3

"Aku ingin bercerai dengan Ayuma dan menikah dengan Dilara. Aku ingin Papa menerima Dilara sebagai menantu Papa dan Luna sebagai cucu kandung Papa. Aku mau Papa menyanyangi mereka seperti Papa menyanyangi Ayuma dan Ra hel."


Sampai kapanpun menantu Papa hanya Anggun dan Ayuma. Cucu kandung Papa hanya Bastian dan Rachel.


Hendrawan menatap geram Papa nya.


"Kenapa sih? kenapa Papa tidak bisa menerim Dilara? meskipun Dilara bukan anak orang kaya dia perempuan baik, Pa."


"Baik hati dari Hongkong." sinis Sebastian.


"Diem lo. Gue nggak ngomong sama lo."


Sebastian menahan diri mati-matian untuk tidak berdiri dan melayangkan pukulan lagi pada adiknya yang sangat kurang ajar ini. Sejak dulu HendrawN memang kurang ajar, suka membangkang dan keras kepala tapi semakin ke sini sifat-sifat buruk nya semakin parah. Sebastian nyaris tidak mengenali adiknya lagi.


"Papa belum mengenal Dilara. Cobalah Papa membuka hati Papa dan mengenal Dilara lebih jauh, aku yakin Papa akan menyanyangi Dilara seperti Ayuma. Papa juga akan sadar betapa baik dan tulusnya Dilara."


"Tanpa Papa mengenal jauh pun Papa sudah tahu bagaimana sifat asli Dilara. Perempuan baik-baik tidak akan mau berselingkuh dengan laki-laki yang sudah beristri. Dan yang paling penting, bagaimana bisa Papa menyanyangi seseorang yang sudah memfitnah Papa melakukan sesuatu yang tidak Papa lakukan dan menghancurkan hubungan Papa dengan anak kandung Papa sendiri. Soal kebohongankamu itu, waktu yang akan menjawab semuanya."


Hendrawan mengusap wajah dengan kasar, benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Papa nya. Hendrawan yakin seratus persen semua yang Dilara katakan adalah benar. Justru sekarang Papa nya yang berusaha memanipulasi dan berusaha menggoyahkan hati nya agar tidak memilih Dilara. Tidak Hendrawan tidak akan pernah goyah.


"Terserah Papa mau bilang apa, dengan atau restu Papa aku akan tetap menikah dengan Dilara. Papa tidak punya hak lagi untuk melarangku."


Wisnu menghilangkan nafas berat untuk yang kesekian kali.


"Ya sudah kalau itu yang kamu inginkan. Bercerai lah dan menikahlah dengan perempuan yang kamu cintai. Begitu kamu dan Dilara resmi menikah, saat itu juga kamu bukan bagian dari keluarga Tanoepramudya lagi. Hapus nama belakang itu dari nama kamu secepatnya. Jika kamu menggunakannya Papa akan menuntut kamu di pengadilan."


"Dan satu lagi, jangan panggil saya lagi dengan panggilan Papa. Anggap saja saya orang asing yang kebetulan Tuhan kirimkan untuk merawat kamu sampai kamu dewasa. Jangan juga panggil mediang mama kamu dengan panggilan mama karena kami bukan lagi orang tua kamu."

__ADS_1


Hendrawan mencelos. Beberapa detik Hendrawan tidak memikirkan apapun saking terkejutnya. Kalimat demi kalimat Papa nya terus terngiang-ngiang di kepala, meresap ke dalam hatinya yang tidak di pungkiri membuat hati Hendrawan sangat sakit.


Semua kenangan masa lalu satu persatu muncul dalam kepala Hendrawan. Kenangan masa kecilnya yang tidak akan pernah terulang lagu sangat manis untuk di kenang. Dan untuk ke depannya Hendrawan juga tidak bisa mengukir kenangan lagi bersama Papa nya karena Papa nya tidak mau mengakuinya sebagai anak lagi.


"Selain itu, Papa akan tetap memberikan warisan kamu. Dan itu akan menjadi bantuan terakhir Papa untuk kamu. Papa sengaja memberikan warisan itu agar di masa depan nanti saat kamu terpuruk dan hancur kamu tidak menyalahkan Papa karena Papa tidak memberikan warisan untuk kamu. Lalu berujung kamu merecoki kehidupan Sebastian. Papa juga tidak mau ada fitnah lagi dari Dilara yang intinya menyalahkan Papa, Sebastian, Anggun dan Bastian.


"Untuk Rachel dan Ayuma tanpa warisan atau uang dari Papa pun mereka sudah kaya raya dari lahir. Jadi kamu Dilara, jika suatu hari nanti hidup kamu terpuruk jangan pernah menyalahkan Ayuma dan memfitnah Ayuma hidup bergelimangan harta atas pemberian saya."


Dilara menggeleng, "Nggak, Pa. Saya nggak mungkin melakukan itu. Mana mungkin saya setega itu pada Ayuma. Dan soal kejadian di masa lalu itu saya juga tidak berbohong dan memfitnah Papa. Semua yang saya katakan tadi benar. Saya-."


Wisnu mengangkat tangan dan seketika Dilara berhenti berbicara.


"Saya tidak ingin mendengar apa-apa dan saya juga tidak peduli dengan kalian. Ingat Hendrawan kita bukan siapa-siapa lagi dan jangan panggil saya Papa."


Wisnu mengarahkan pandangan tepat pada Hendrawan dengan sorot mata yang tak bisa Hendrawan deskripsikan tapi yang jelas Hendrawan melihat kekecewaan yang teramat dalam di sana. Seumur hidup untuk pertama kali nya Papa nya menatapnya seperti ini.


Wisnu meninggalkan ruang tengah itu, sementara Sebastian masih berada di sana.


"Gue nggak bisa membaca masa depan seperti apa tapi satu hal yang gue yakini, karna tidak pernah salah alamat," Sebastian menyeringai.


"Jadi mulai sekarang kalau ada apa-apa, kalau ada terjadi sesuatu dengan perusahaan lo, jangan cari gue, anggap saja Abang lo yang bernama Sebastian Tanoepramudya itu sudah mati. Terakhir gue, selamat akhirnya lo bisa bersama dengan perempuan yang lo cintai dan putri yang palinblo sayangi. Semoga hidup lo bahagia seperti yang lo harapkan. Tapi satu hal yang harus lo ingat. Beda istri beda rezeki."


Sebastian terkekeh, "Good bye adikku tersayang."


Sebastian berbalik badan dan bergegas pergi, meninggalkan Hendrawan yang mengepalkan tangan kuat sembari menatap punggungnya.


Sebenarnya Hendrawan sudah menebak ini yang akan terjadi seandainya dia memilih Dilara dan Luna tapi Hendrawam tidak pernah membanyangkan situasi akan sekacau ini bahkan keluarganya sampai memutuskan hubungan.

__ADS_1


"Ma, Pa."


Panggilan Luna membuat Hendrawan mengerjabkan mata.


Hendrawan duduk di samping kiri Luna sementara Dilara duduk di samping kanan Luna.


"Sebenarnya mana cerita yang benar? kenala Opa bilang Papa dan Tante Ayuma di jodohkan? Papa bilang Tante Ayuma menuntut pertanggungjawaban Papa gara-gara Papa menghampiri Tante Ayuma karena obat perangsang itu? Papa bohongin aku? Jadi selama ini aku anak anak di luar nikah dan Rachel anak sah?."


"Maafkan, Papa." Hendrawan ingin menarik Luna dalam pelukan tapi Luna memberontak dan tiba-tiba berdiri.


Sorot mata gadis itu menajam.


"Di depan semua orang aku dengan percaya diri dan lantang mengatakan bahwa aku dan Rachel sama-sama anak di luar nikah tapi ternyata .. Ternyata aku yang anak di luar nikah. Aku malu, Pa. Dan sekarang teman-temanku membenciku, semua ini gara-gara kebohongan Papa dan Mama! Aku membenci kalian."


Luna mengusap air matanya yang menetes dan berlari meninggalkan rumah.


"Luna tunggu!."


Hendrawan dan Dilara segera mengejar Luna.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2