Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 88


__ADS_3

"Sekarang kita tinggal di sini?."


Rachel menganguk lalu mengendarkan pandangan menatap ke sekeliling rumah. Rumah ini sudah lebih dari dua puluh tahun, tapi masih terawat dan bagus. Ayuma mempekerjakan orang untuk membersihkan rumah ini seminggu sekali.


Rachel tidak pernah bertemu dengan kaket dan Nenek nya, mereka meninggal sebelum dia lahir. Untuk mengenang mereka, sesekali datang ke rumah ini atau melihat foto-foto yang Ayuma berikan.


"Kakek dan Nenek kamu punya dua rumah. Rumah di jakarta dan yang satu nya di Surabaya, tempat kelahiran mama. Kalau kamu mau tinggal di Surabaya, kita pindah kita ke sana. Atau kamu punya rekomendasi kompleks perumahan yang kamu sukai, Mama akan membelikan rumah itu."


Rachel mengalihkan pandangan pada Mama nya.


"Aku ikut Mama, kalau Mama mau di sini, aku akan tinggal di sini juga. Kalau Mama mau pindah ke tempat lain aku juga ikut pindah. Aku akan sudah bilang aku akan jadi bodyguard Mama. Jadi kemana pun Mama pergi aku harus ikut biar bisa menjaga Mama."


Ayuma tersenyum dan mengacak rambut putrinya dengan gemas.


"Aduh kalau bodyguard nya cantik gini, penjahat-penjahat yang mau jahatin Mama pasti kecantol duluan."


Rachel tertawa, "Mama bisa aja."


Senyum dan tawa Ibu dan anak itu begitu riang seolah hidup mereka sangat bahagia. Namun siapa yang menyangka senyum dan tawa itu ada luka yang dalam yang coba mereka sembunyikan.


"Ayuma, Rachel."


Anggun masuk ke dalam rumah menenteng dua paperbag makanan sedangkan di belakangnya ada Bastian yang menenteng banyak kantong belanjaan berisi baju, kebutuhan mandi dan lain-lain untuk Rachel dan Ayuma.


Di tengah perjalanan tadi menuju ke rumah ini, Anggun dan Bastian melipir untuk membeli baju dan makanan untuk Rachel dan Ayuma. Barang-barang mereka yang di bakar Hendrawan masih ada yang bisa di selamatkan tapi kondisinya sudah tak layak pakai apalagi aroma bensin yang sudah menyerap ke dalam pakaian.


"Ya ampun, jadi merepotkan." Ayuma segera mengambil paperbag di tangan Anggun.


"Ga papa aku seneng bisa membantu kamu. Pokoknya kalau ada apa-apa bilang sama aku yah." Anggun tersenyum dan mengusap lengan Ayuma.


Ayuma menganguk, "Terima kasih."


Bastian meletakkan sekitar 10 kantong belanjaan di meja.


"Tadi aku yang membelikan baju untuk Ayuma dan Bastian yang membelikan baju untuk kamu." ucap Anggun pada Rachel.


"Iya, terima kasih Tante."


"Sama-sama."


"Nih udah gue taruh baju, celana, ****** sama bh jadi satu kantong belanjaan pada Rachel."


Seketika Rachel melototkan mata lebar. "Ya nggak usah beli pakaian dalam juga. Di Apart gue masih ada."


"Sekalian biar lengkap." Bastian meringis, "Sekalian juga kalau lo mau mandi gue mandiin."


"BASTIAN."


"Hahaha."


Rachel menghadiahi Bastian pukulan penuh kasih sayang dan juga penuh kekuatan di punggungnya.


"Rachel udah woy, dulu juga kita sering mandi bareng." teriak Bastian sambil menghindari pukulan maut Rachel.


"Itu dulu waktu kita kecil, sekarang kita sudah besar. Nggak ada mandi bareng."


Bastian terus berlari sambil tertawa, sementara Rachel terus mengejarnya. Hingga tiba-tiba Bastian berhenti lari, lalu meraih lengan Rachel, membalik tubuh nya dan memeluknya dari belakang.


"AARGG MAMA TOLONG!."


Anggun dan Ayuma yang sedang mengeluarkan makanan dari paper bag hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka. Ya begitulah mereka jika sudah bertemu.


"Adik gue sudah besar huh, tapi tetap saja tidak bisa menghindari gue hahaha." Bastian dengan jail menggigit lengan Rachel.

__ADS_1


"MAMA AKU DI GIGIT ZOMBI."


Ayuma tak peduli banyak dan fokus makan saja, membiarkan Bastian menjahili putrinya. Setidaknya dengan kejahatan Bastian, Rachel akan melupakan masalahnya.


Tok... tok... tok.


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka semua.


Ayuma pun berdiri dan membuka pintu.


"Iya, tunggu sebentar!."


Begitu pintu terbuka, Ayuma begitu terkejut dengan kedatangan Sarah.


"Ayuma." lirih Sarah.


Dibelakang Sarah ada Farel yang sedang melongokkan kepala ke dalam rumah mencari Rachel. Begitu mata mereka bertemu, senyum Farel mengembang lega melihat Rachel berada di sini.


Namun tiba-tiba....


"Aarghh, Tian."


Rachel terkejut saat tiba-tiba Bastian menggendongnya seperti menggendong karung di pundak. Bastian menatap sinis Farel dan membawa Rachel menaiki tangga.


"Gue akan menyelamatkan lo dari Zombierel, tukang php."


"TIAN TURUNIN GUE. MAMA."


"Tian udah dong jahil nya! turunin Rachel!." tegur Anggun gemas dengan tingkah putranya.


"Ngga bisa, Ma. Aku harus menyelamatkan Rachel."


Bastian tetap membawa Rachel menaiki tangga menuju ke lantai dua. Kesal saja dngan kedatangan Farel tiba-tiba padahal Tian sudah memperingatkan Farel agar tidak dekat-dekat dengan Rachel. Paling tidak Farel harus putus dulu dengan Luna baru boleh dekat dengan Rachel itupun harus jarak beberapa bulan agar tidak ada gosip Rachel pelakor.


Luna baik, tapi entah sadar atau tidak Luna seperti tidak suka melihat temannya lebih baik dari dia. Bastian sudah memperhatikan itu sejak dulu, bahkan sejak kecil Luna sangat baik dan perhatian pada Rachel tapi Luna juga tidak suka Rachel lebih banyak di sukai atau unggul dari pada dirinya.


"Ya ampun gara-gara sibuk memperhatikan kelakuan Tian sama Rachel sampai lupa menyuruh kalian masuk. Ayo silahkan masuk."


Ayuma mempersilahkan Sarah dan Farel masuk ke dalam rumah.


"Tante saya izin naik ke lantai 2 yah."


"Iya tapi awas ya jangan gelut sama Tian."


Farel tersenyum dan bergegas menaiki tangga, tak sabar ingin segera bertemu Rachel, meskipun nanti harus berdebat dengan Bastian yang terus menghalanginya untuk bertemu Rachel, Farel akan meladeninya asalkan dia bisa bertemu dengan Rachel.


***


"Sarah," Anggun merentangkan tangan saat Sarah mendekat ke arah sofa.


Sarah tersenyum, duduk di samping Anggun dan memeluk teman se-gengnya.


"Kangen banget sama si mungil ini," Anggun menggerakkan tubuhnya ke kanan ke kiri sambil mengeratkan pelukan.


"Aku juga kangen. Udah lama kita ngga ketemu. Kapan terakhir kali kita bertemu?." tanya Sarah setelah melepas pelukan.


"Beberapa minggu yang lalu saat kita arisan, setelah itu kita nggak pernah ketemu lagi."


"Sebenarnya kita bisa saja ketemuan di luar acara arisan, beberapa hari yang lalu aku ketemu Sarah, tapi kamu nya aja yang sibuk. Setiap di tanya dimana, pasti jawabnya diluar kota lah, di luar negeri lah, nggak sekalian aja gitu di luar planet."


Anggun tertawa, begitu juga Sarah yang ikut mendengar candaan Ayuma.


"Aku nggak ada acara penting ke luar kota atau ke luar negeri. Berhubung Mas Sebastian itu bucin banget yah begitulah kemanapun dia pergi aku harus ikut. Tapi seru juga sih busa keliling negara sambil pacaran.

__ADS_1


Sarah menganguk mengalihkan pandangan pada Ayuma.


"Ini aku bawakan makanan untuk kamu," Sarah meletakkan kantong makanan berisi tupperware.


"Teirma kasih, jadi merepotkan."


"Nggak kok nggak merepotkan sana sekali," Sarah tersenyum dengan sorot mata yang menyendu menatap Ayuma.


"Maaf kalau kedatangan ku ke sini mengganggu kamu. Setelah kejadian di rumah tadi aku benar-benad khawatir dengan kamu dan Rachel. Beberapa kali aku telepon dan mengirim pesan tapi ngga ada satu pun chat yang kamu balas dan kamu juga nggak mengangkat panggilan-ku. Aku semakin gelisah dan khawatir, akhirnya aku mengirim pesan pada Rachel. Syukurlah Racgel membalas pesannya dan mengatakan untuk sementara kamu tinggal di sini. Sekali lagi aku minta maaf kalau aku mengganggu kamu."


Ayuma menggeleng, "Aku ngga sempat membuka HP karena fokus menyetir perjalanan ke sini. Tapi terima kasih banyak, terima kasih atas perhatian kamu, senang ada yang mengkhawatirkanku."


Anggun langsung menggenggam tangan Ayuma.


"Aku juga selalu mengkhawatirkan kamu, jangan pernah berpikir kamu sendiri. Apapun yang terjadi aku akan selalu ada di pihak kamu. Dilara tidak akan bisa menggantikan posisi kamu. Kamu akan tetap menjadi adik ipar ku yang terbaik."


Ayuma tersenyum, "Terima kasih."


Sarah menatap sendu Ayuma, tak menyangka akan ada kisah menyedihkan seperti ini di balik hubungan Ayuma dan Dilara. Entah bagaimana cerita yang sebenarnya, entah semua yang di katakan Luna benar atau tidak, Sarah tidak tahu.


Tapi firasatnya mengatakan Ayuma tidak mungkin sejahat itu menjadi seorang pelakor dan memberikan obat perangsang hanya demi bisa menikah dengan Hendrawan. Ayuma terlalu berkelas untuk melakukan hal-hal rendahan seperti itu.


Sarah juga penasaran bagaimana cerita yang sebenarnya, ingin menanyakan itu pada Ayuma tapi seperti nya tidak sekarang. Atau mungkin Sarah tidak akan pernah bertanya sampai Ayuma sendiri yang memberitahu. Ini masalah pribadi, wajar saja Ayuma tidak ingin menceritakan pada siapapun. Namun yang jelas Sarah akan selalu memberikan dukungan pada Ayuma.


Dan untuk Dilara


Dilara juga temannya bahkan Sarah lebih dulu mengenal Dilara daripada Ayuma tapi dalam situasi ini Sarah lebih memihak pada Ayuma.


"Jadi kamu akan benar-benar bercerai dengan Hendrawan?." tanya Anggun.


Ayuma menganguk, Tapi aku bingung bagaimana memproses semuanya. Mas Hendrawan membakar KTP, KK dan surat-surat lainnya."


Seketika Anggun lesu mendengar itu.


"Aku punya kenalan. Namanya Edgar. Salah satu pegawai terbaik Papa. Sekarang dia memegang perusahaan Papa yang bergerak di bidang pelayanan jasa. Selama ini kalau aku butuh urusan surat menyurat aku meminta bantuan Edgar. Dia punya banyak kenalan dan relasi. Mungkin dengan bantuan Rdgar urusan kamu cepat selesai. Kalau butuh pengacara aku juga punya Abang yang bekerja sebagai pengacara perceraian. Namanya Bang Victor."


Ayuma tersenyum. "Keluarga kamu hebat-hebat semua."


"Iya mereka memang hebat." Sarah tersenyum.


"Sarah juga hebat, nuhun udah lebih dari 30 tahun, masih kayak gadis dua puluhan." goda Anggun.


Sarah tertawa. "Mau tau apa kuncinya?."


"Apa?." tanya Anggun dan Ayuma penasaran.


"Jadi keturunan keluarga Barack, hahahaa."


Ayuma dan Anggun menipiskan bibir.


"Eh tapi kalau Bastian jadi menikah dengan Rana terus mereka punya anak, pasti cucu-cucuku imut-imut kayak kamu juga dong. Wah jadi nggak sabar Rana cepet gede terus nikah sama Tian." Anggun tersenyum lebar.


"Boleh kan, nanti kita besaran. Kita kan udah klop gini." Anggun melingkarkan tangan di lengan Sarah.


Sarah tertawa, "Aku sih terserah Rana."


Ibu-ibu pun lanjut mengobrol sembari makan, sedangkan di lantai, Farel dan Bastian menunggu di depan kamar Rachel.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2