
"Cukup kamu bilang, Mas!. Bagaimana bisa kamu menyuruhku berhenti sedangkan putri kita terbaring lemah di sana. Dia bahkan tidak ingin melanjutkan hidupnya lagi, setelah mengalami hal yang mengerikan seperti semalam. Sebagai seorang Ayah seharusnya kamu mencari keadilan untuk putri kamu. Tapi kenapa kamu menyuruhku berhenti?."
Air mata Dilara mengalir lagi dan menatap Hendrawan dengan air mata merah sebab tangisnya tak berhenti sejak tadi. Dilara merasa benar-benar sendiri sekarang, Hendrawan yang dia harapkan ada di pihaknya justru sekarang seolah menyerangnya.
Di tengah-tengah tatapan semua orang, tak ada satupun yang menatap nya dengan iba dan kasihan. Mereka hanya egois dengan kepentingan mereka sendiri. Tanpa memikirkan di sana ada seorang anak perempuan yang membutuhkan pertolongan mereka.
"Tolong, Mas. Jangan seperti ini, aku membutuhkan dukungan mu untuk mencari keadilan untuk putri kita."
"Tentu saja aku akan mencari keadilan untuk putri ku kalau dia benar-benar putri kandungku?."
Dilara tertegun, begitu juga dengan semua orang.
"Apa maksud kamu ngomong gitu, Mas?. Luna putri kandung kamu." Dilara menjambak rambutnya semakin kuat, rasanya semakin frustasi.
"Di saat seperti ini, kenapa kamu justru membahas hal yang sudah pasti sih, Mas. Luna memang putri kandung kamu. Kenapa kamu tiba-tiba jadi meragukan itu. Oh apa gara-gara golongan darah itu. Golongan darah ku memang AB, tapi karena kondisi ku yang lemah aku tidak bisa mendonorkan darah untuk putri kita. Pihak rumah sakit sedang mencari darah dari PMI."
Dilara meraih tangan Hendrawan dan menggenggam nya.
"Tolong jangan fokus ke hal-hal tidak penting seperti ini, Mas. Kita harus fokus pada putri kita dan mencari keadilan, Farel ada di sini. Kita hanya perlu membawa Farel ke Luna. Aku yakin dengan kedatangan Farel rasa sakit Luna akan berkurang."
"Sebentar Dilara, sebenarnya keadilan apa yang kamu maksud? kenapa kamu meminta Farel untuk bertanggung jawab? memangnya apa yang putra saya lakukan?." tanya Sarah mewakili pertanyaan Anthony.
Dilara mengalihkan perhatian pada Sarah.
"Semalam Luna pergi ke Klub. Ada seseorang yang memanfaatkan ketidakberdayaan putri saya dan memperkosanya. Luna merasa hidupnya hancur dan tidak berharga lagi sampai dia memutuskan untuk bunuh diri. Sekarang kondisi nya sedang tidak stabil. Setiap dia sadar dia pasti mencoba untuk bunuh diri lagi. Malam itu Farel juga ada di Klub yang sama dengan Luna dan firasat nya sebagai seorang Ibu mengatakan Farel yang melakukan itu pada Luna."
"Jangan asal menuduh kau, Dilara. Farel tidak akan melakukan itu."
Dilara menajamkan mata pada Sarah.
"Benar, mungkin Farel tidak akan melakukan itu saat Farel sadar, tapi malam itu Farel mabuk. Bisa jadi mereka melakukan itu saat sama-sama tidak sadar."
Dada Dilara naik turun menahan emosi begitu juga Sarah. Sarah tak kalah tajam dan dia benar-benar tidak rela putranya dituduh seperti itu.
Tak ingin mamanya terus berdebat dan ada mulut dengan Dilara. Farel pun menggenggam tangan Sarah dan menariknya ke samping, Anthony langsung mengerti dan merangkul pundak istrinya.
Antoni menatap Dilara.
"Saya tidak mengerti kenapa kamu begitu yakin kalau putra saya adalah pelakunya, Saya tidak akan menutup mata jika Farel bersalah. Saya akan meminta Farel bertanggung jawab dan menikahi Luna. Tapi jika dia terbukti tidak bersalah saya akan menuntut kamu atas pencemaran nama baik." ucap Anthony dengan tegas.
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban dari Dilara dan Hendrawan, Anthony merangkul pundak Sarah dan membawa pergi dari sana.
Dilara mengepalkan tangan sembari menatap kepergian mereka.
Sarah menghela nafas panjang melihat tatapan Dilara sekarang.
"Saya benar-benar tidak melakukannya Tante, kalau Tante tidak percaya Tante bisa tanya sendiri pada Brandon. Saya mengakui saya memang berada di klub dan mabuk tapi saya tidur bersama dengan Brandon sampai pagi tadi." Farel menoleh pada Brandon.
Brandon mengangguk.
"Iya Tante semalaman saya tidur dong Farel, Saya yakin 100% bukan Farel pelakunya." jawab Brandon sembari mengepalkan tangan kuat untuk menyalurkan rasa gugup dan gelisah sekarang.
Brandon jarang berbohong dia tidak pandai berbohong, memang kalimatnya tadi tidak berbohong tapi juga tidak sepenuhnya jujur dan dan masih dilema ingin mengaku atau tidak.
"Terus siapa pelakunya?." Dilara menjambak rambutnya dengan kuat. Kepalanya sangat-sangat pusing sekarang.
"Aku harus menemukan penjahat itu, aku harus mencari keadilan untuk putriku."
Dilara memukul-mukul kepalanya sendiri lalu perlahan tubuhnya melemas dan ambruk dalam pelukan Hendrawan.
Hendrawan meminta bantuan Brandon dan Farel untuk mengangkat Dilara menuju ke ruang rawat.
"Don gue harus balik sekarang gue mau lanjut cari Rachel. Sekarang gue belum ada info di mana keberadaan Rachel dan Tante Ayuma, lo mau ikut gua atau kita mencar?."
"Kita mencar aja."
"Oke," Farel. "Lo nggak usah khawatir, gue akan bantu lo cari bukti. Kita sama-sama nggak bersalah sekaligus mencari pelaku yang sebenarnya dan mencari keadilan juga untuk Luna."
Farel melangkah pergi dan meninggalkan Brandon yang masih terdiam di depan ruang rawat Dilara, sementara Hendrawan ada di dalam ruang menemani Dilara yang sedang diperiksa dokter.
Dengan langkah gontai beranda berjalan menuju resepsionis rumah sakit, berdiri di sana cukup lama sampai membuat petugas resepsionis kebingungan.
"Ada yang bisa saya bantu Mas?."
Menghela pas berat lalu mendekat pada meja resepsionis.
"Di mana kamar rawat Luna dengan wali Dilara dan Hendrawan, saya teman kuliahnya."
Resepsionis pun memberikan nomor ruang rawat Luna, namun Brandon masih tak kunjung beranjak masih berdiam diri di posisinya.
__ADS_1
"Mas, tolong permisi di belakang masih ada yang ingin mengantri."
"Oh iya." Brandon mengusap belakang kepalanya lalu menggeser posisinya berdiri lagi-lagi hanya diam matanya bergerak ke kanan ke kiri tampak gelisah jari-jarinya dimainkan sembari menggoyang-goyangkan kaki pelan.
"Gue harus apa?."
Brandon dilema pikirannya berkecamuk di satu sisi dia tidak tega dengan Luna tapi di sisi lain dia juga takut mengaku, dan akan kehilangan Rachel dan karirnya.
Pada akhirnya setelah mengerang keras dan menjambak rambutnya Brandon melangkahkan kakinya menuju ke ruang rawat Luna.
Sekarang dia sudah sampai di depan ruang rawat Luna.
Dengan ragu-ragu Brandon mengeluarkan tangan dan membukakan pintu perlahan kehadirannya langsung disambut tatapan seorang perawat.
"Saya Brandon teman Luna."
Perawat itu menganguk dan mempersilakan Brandon masuk. Brandon mendekat pada Luna, sementara itu perawat itu menunggu di sofa
"Maaf saya tidak bisa pergi karena saya harus memantau kondisi pasien."
"Iya saya mengerti saya juga tidak akan lama kok."
Setelah ini Brandon juga ingin bergabung dengan Farel dan teman-temannya mencari keberadaan Rachel dan Ayuma.
Hati Brandon bagai keiris melihat kedua kaki Luna diikat di sisi.
"Bagaimana keadaan Luna?." tanya Brandon sambil menoleh pada perawat
"Kondisi isi pasien naik turun setelah kondisinya membaik dan sadar pasien akan historis dan akhirnya pingsan lagi dan kondisinya melemah berapa menit sebelum kedatangan anda pasien juga sempat histeris."
Perasaan Brandon kian menyendu mendengar itu, Brandon tidak mengenal banyak Luna hanya sekilas tahu Luna seorang artis dan saudara Rachel entah masa sulit apa yang mengenal lewati sampai dia tidak ingin melanjutkan hidup lagi apapun masalahnya. Brandon juga itu penyumbang perimbak beritanya sampai dia seperti ini
'Aku harus apa Luna aku harus gimana,.-?'
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...