
Rachel tidak tahu harus mengatakan apa aku hanya menatap Farel, menyelami bola mata teduhnya dan entah bagaimana Rachel merasa mereka seperti membuat dimensi sendiri. Di sekeliling ini seolah menjadi sama-sama dan tidak ada apa-apa. Hanya ada dia dan Farel.
"Meskipun sekarang ingatan aku belum kembali, seperti yang sering kamu tanyakan padaku, misal sekarang apa yang kamu rasakan? Yah yang kurasakan, tak tergambarkan. Aku senang, tapi juga gugup. Aku takut, tapi juga bahagia. Aku gelisah, deg-degan, jantungku berdebar kencang, sampai kadang dadaku sakit sekali pokoknya campur aduk."
Farel tersenyum. Hatinya berbunga-bunga mendengar kejujuran Rachel.
"Aku juga merasakan itu. Ayo masuk."
Farel memasukkan sandi apartement untuk mengakses unit apartemen.
"Sandi apartement kita sama. Tanggal di mana pertama kali kita bertemu saat kita berusia 7 tahun."
"Kamu masih ingat?."
"Tentu saja semua kenangan yang kita lewati aku selalu mengingatnya. Kamu juga, ingatan kamu jauh lebih kuat. Saat aku melakukan kesalahan, kamu pasti akan mengungkit-ngungkit kesalahan yang lalu dan membuatku sangat jengkel.
Rachel tertawa, "Oh yah?."
"Hm, kamu sering sekali mengomel."
"Papa Edgar juga bilang aku cerewet."
"Tapi aku suka. Saat kamu mengomel dan marah-marah. Kamu terlihat lucu dan imut."
"Terus jangan bilang karena aku kelihatan lucu dan imut, kamu sering menjahiliku?."
"Betul sekali," Farel tertawa.
Setelah memasukkan sandi, Farel menarik Rachel masuk ke dalam apartemen Rachel lebih dulu. Sembari mengendarkan pandangan, Rachel tak menyangka kondisi kamarnya masih rapi bersih dan harum.
"Dulu kita pernah bertengkar hebat. Karena kesalahan yang aku buat, kamu marah dan pindah ke apartemen lain. Setelah kamu pergi aku memindahkan barang-barang kamu ke apartemen ini lagi. Aku menata ulang seperti kamar kamu yang dulu."
"Kesalahan apa?." Rachel berhenti mengendarkan pandangan dan menatap pada Farel.
"Saat itu aku masih mencintaimu Luna. Aku selalu mencoba memprioritaskan dia. Waktu itu aku ada pertandingan basket. Kamu menemaniku. Kamu menyorakkan namaku dengan begitu lantang sampai tenggorokan kamu sakit. Tapi saat Luna datang, aku justru memeluk Luna di depan semua orang. Pertandingan selesai. Aku bersama tim ku mengajak Luna makan."
"Sedangkan aku..."
"Aku melupakan kamu."
__ADS_1
Seketika wajah Rachel menyendu.
"I'm sorry, aku tahu itu kesalahan terfatal yang pernah aku lakukan. Aku sudah melakukan berbagai cara untuk meminta maaf. Saat itu kamu bilang memaafkan aku, tapi tetap kamu menjaga jarak dan akhirnya kamu dekat dengan Brandon."
Rachel tak bisa mengingat hari itu, tapi entah kenapa rasanya sakit. Sepertinya memang benar, selama ini dia sangat mencintai Farel. Cintanya begitu dalam sampai hanya mendengar cerita sedih saja, hati Rachel begitu terluka.
"Rachel..."
Farel menyesal sudah menceritakan itu. Farel takut Rachel marah dan menjauhinya.
"Aku benar-benar minta maaf. Jangan marah, ah tidak, tidak wajar saja kamu sangat marah. Marah saja. Kamu bisa melakukan apapun padaku. Pukul aku, tampar, atau apapun itu tapi jangan pergi. Katakan saja apa yang aku harus lakukan agar kamu memaafkan aku."
"Apa kamu setakut itu aku pergi?."
"Iya, aku takut sekali," Farel meraih kedua tangan Rachel dan menggenggam erat.
"Kamu bucin sekali," Rachel menjijit sedikit mengacak rambut Farel, "Aku nggak marah kok. Udah masa lalu juga. Dulu aku pasti sudah menghukum kamu."
"Beneran nggak marah? jangan-jangan kamu bilang nggak marah, tahu-tahu besok menghilang."
Rachel tertawa, "Tapi sepertinya kemanapun aku menghilang, kamu pasti akan menemukan aku."
"Benar, aku pasti akan mencari kamu kemanapun itu. Tapi melelahkan. Sekarang kita sudah bertemu, aku nggak mau kucing-kucingan lagi. Sekarang sudah waktunya kita fokus menyusun masa depan kita."
"Mau lihat-lihat lagi."
Rachel menganguk.
Farel pun membiarkan Rachel melihat-lihat sekeliling apartemen. Sementara dia duduk di tepi ranjang memperhatikan setiap langkah Rachel. Farel berharap Setelah datang ke sini ingatan lahir sedikit demi sedikit mulai pulih, tapi jika tidak pernah kembali pun, Farel tak masalah. Farel akan membuat Rachel jatuh cinta lagi padanya.
Rachel berhenti di depan jendela balkon, berdiri cukup lama di sana. Membelakangi Farel dan memeluk lengannya sendiri.
Farel mendekat dan berdiri di belakangnya.
Rachel berdesir saat merasakan sebuah tangan kekar melingkar di perutnya. Punggung nya menghangat saat Farel merapatkan dada pada punggungnya.
"Apa yang kamu pikirkan?."
Rachel tersenyum dan menyandarkan belakang kepala di dada bidang Farel yang terasa begitu nyaman. Agak memiringkan kepala, Rachel mendongak. Tepat mata mereka saling bertemu saat Farel menundukkan kepala.
__ADS_1
"Kita...Aku memikirkan apa saja yang mungkin kita lakukan." Tatapan mata mereka semakin dekat, dengan detak jantung kian menguat. Pandangan mata Farel menurun menatap bibir Rachel, kemudian menatap matanya lagi, berganti-gantian. Sementara Rachel terus menatap lekat mata Farel. Rachel suka sekali mata itu, begitu menawan dan indah.
"Tidak perlu memikirkan apa-apa dan tutup mata kamu." Farel menunduk dan menempelkan bibirnya pada bibir lembut Rachel.
Farel memintanya menutup mata, tapi Rachel justru membulatkan mata saking terkejutnya dengan ciuman tiba-tiba ini. Sesaat tubuhnya menegang, jantungnya berdebar semakin kencang, canggung, kikuk dan gugup. Rachel tidak berekspetasi Farel akan menciumnya. selama 5 tahun hilang ingatan, ini pertama kali Rachel ciuman. Jika tidak di beritahu Rachel punya masa lalu dengan Farel, Rachel pasti akan menganggap ini sebagai first kiss nya.
Lagi, Farel jadi ciuman pertamanya.
Hanya kecupan singkat dan menempel saja, lalu Farel menarik bibirnya dari bibir Rachel.
"Apa kamu mengingat sesuatu?."
Rachel menggeleng, "Aku tidak ingat apapun, tapi...." Rachel mendorong Farel. "Kamu kurang ajar sekali menciumku tanpa ijin."
Farel menyeringai dan mengusap belakang lehernya, iya dia tahu apa yang di lakukan tadi cukup kurang ajar. Tapi semua terjadi begitu saja. Seperti...situasi dan kondisi sangat mendukung. Meskipun kurang ajar Farel tidak bermaksud apa-apa. Tapi berpikir ingin memanfaatkan keadaan Rachel yang hilang ingatan. Tubuhnya seolah bergerak sendirian. Tau-tau bibir mereka sudah menempel. Bahkan saat berciuman tadi pikiran Farel blank. Farel tidak bisa memikirkan apapun selain menikmati bibir kenyal dan lembut itu.
"Maaf,"
Rachel berdecih, tapi diam-diam tersenyum geli melihat respon Farel.
"Jaga jarak. Berdiri 10 meter dari aku."
"Nggak bisa. Mau nya deket."
Larangan seolah menjadi perintah, Farel selangkah mendekat pada Rachel.
"Farel! mundur."
"No."
"Mundur, Farel."
"Nggak bisa. Kena kamu."
"ARGGG," Rachel memekik saat Farel tiba-tiba memeluknya. Rachel langsung memberontak dan berlari menghindari Farel. Berlarian ke sana ke mari di ruang Apartement yang cukup luas ini menghindari kejaran Farel. Farel terus mengejar Rachel sembari tertawa.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...