
Rachel : Mah, aku hari ini pulang telat. Mungkin sekitar pukul 19.00, aku pulang. Ini aku di rumah sakit menemani Farel yang di rawat karena kecelakaan.
Ayuma : Ya ampun, sekarang kondisi Farel bagaimana?.
Rachel : Sudah membaik, Ma.
Ayuma : Ya udah sampaikan salam Mama untuk Sarah dan Anthony, yah!.
Rachel : Oke Mah. Love you.
Ayuma : Love you too***.
Ayuma tersenyum usai chatinggan dengan putrinya. Di dunia ini, Ayuma tidak punya siapa-siapa lagi, selain Rachel. Ayuma akan melakukan apapun untuk kebahagiaan Rachel.
Karena itu Ayuma bertahan dalam pernikahan ini untuk kebahagiaan Rachel. Namun kebahagiaan yang Ayuma harapkan untuk Rachel justru menjadi penderitaan karena Ayah yang di sayangi tidak pernah memperdulikannya.
Syukur saja hari ini Rachel pulang terlambat karena ia ingin berbicara empat mata dengan Hendrawan. Setelah mendapat jalan tengah, baru Ayuma berbicara dengan Rachel. Itupun jika Hendrawan bisa di ajak bicara baik-baik.
"Aku ingin ini segera berakhir." Ayuma meletakkan tangan di sisi kepala dan mencengkram rambut sembari memejamkan mata dan menenangkan diri.
Terdengar suara mobil dari luar. Lalu tak lama Hendrawan muncul, melirik sekilas pada Ayuma yang duduk di sofa dengan ekspresi malas lalu berjalan lagi ke kamar.
"Aku ingin bicara."
Suara Ayuma menahan langkah kaki Hendrawan.
"Aku sedang tidak mood bicara dengan mu."
Hendrawan melangkah lagi.
"Aku ingin cerai."
Kembali langkah Hendrawan terhenti. Kepala nya menoleh dengan mata menyipit. Dalam benak, Hendrawan bertanya-tanya kenapa tiba-tiba Ayuma ingin cerai, padahal apapun masalah nya Ayuma tidak pernah mengatakan kalimat fatal itu.
Hendrawan menerka mungkin saja Farel sudah memberitahu Ayuma soal perselingkuhnnya dengan Dilara. Sialan! anak itu benar-benar kurang ajar.
__ADS_1
Tapi terserahlah! toh semuanya sudah terjadi. Kalau mau cerai ya sudah cerai saja. Hendrawan tidak ingin repot-repot membela diri. Terlalu malas berbicara dengan Ayuma.
"Ya udah cerai." ucap Hendrawan dengan entengnya dengan seringai remeh.
Ayuma terdiam dengan tatapan tertuju dengan tepat pada mata Hendrawan.
"Kenapa menatapku begitu? terkejut dengan jawabanku? jadi kamu berharap aku memohon-mohon agar aku menarik ucapan mu?." Hendrawan tertawa.
"Mimpi kamu Ayuma, sejak dulu aku tidak pernah mencintai mu. Satu-satu nya aku bertahan dalam pernikahan ini karena ancaman Papa. Papa mengancam akan mencoret dari daftar waris kalau aku sampai menceraikan kamu."
"Aku bertahan sambil terus mengumpulkan uang dan aset agar aku bisa membangun perusahaan sendiri. Sekarang aku sudah independen. Perusahaan ku sudah besar tanpa bantuan dari Papa lagi."
Hendrawan berjalan mendekat dan berdiri di sebrang meja tepat di depan Ayuma.
"Aku tidak mengerti kenapa kamu begitu mencintaiku dan tergila-gila padaku padahal aku selalu mengabaikan dan menolak kamu." Hendrawan tertawa remeh. Sementara Ayuma mengepalkan tangan kuat sampai kuku-kukunya memutih.
"Sekarang di otak kamu itu, pasti bertanya kenapa aku tidak bisa mencintai kamu. Satu, kamu terlalu menjijikan, Ayuma. Sejak kejadian itu aku sangat jijik sama kamu. Kejadian saat kamu memberikan ku obat perangsang dan akhirnya kamu hamil. Kamu juga pasti bertanya-tanya, kenapa aku mau bercinta dengan kamu meskipun aku tidak mencintai kamu, simple aku menjadikan kamu pelacur pribadi ku. Aku tidak perlu membuang uang untuk menyewa ******."
Ayuma menggeratakkan gigi nya kuat sampai rahangnya sakit namun tidak mengalahkan sakit hati nya sekarang. Laki-laki ini, Ayuma sungguh ingin memukul kepala nya dengan balok. Tapi Ayuma tidak ingin menunjukkan kemarahannya di depan Hendrawan. Prinsip laki-laki egois seperti Hendrawan, jika melihat lawan bicaranya tersulut api kemarahannya, maka dia merasa menang.
"Aku sedang bicara dengan kamu, Ayuma. Kamu tidak mendengarkan? Kamu menjijikan!."
Ayuma berdecih lali berdiri sambil tertawa.
"Oh, aku menjijikan di mata kamu. Ketahuilah, kamu bahkan berkali-kali lipat menjijikan daripada sampah. Kamu mengatakan seolah aku begitu mencintai kamu dan takut kehilangan kamu. Hei, pecundang dengarkan ini!."
"Alasanku bertahan dengan kamu karena aku ingin memberikan keluarga utuh untuk Rachel. Aku juga ingin menepati janjian pada orang tua ku dan pada Mama kamu sebelum meninggal beliau memintaku untuk tidak meninggalkan kamu. Jadi kamu salah besar berpikir kamu sepenting itu dalam hidupku, kamu salah besar Hendrawan, aku bisa melakukan apapun tanpa kamu."
"Dan satu lagi. Obat perangsang itu? kamu pikir aku akan melakukan hal sekonyol itu hanya agar kamu menyentuh ku? Mama kamu. Mama bilang mama melakukan itu tapi Mama memintaku untuk tidak memberitahu kamu. Bahkan jika dalam pernikahan kita tidak ada hubungan intim, aku juga tidak peduli. Kamu yang lebih membutuhkan ku soal urusan ranjang."
"Terus tadi kamu bilang aku pelacur? Aku baru tahu seorang laki-laki berhubungan intim dengan seorang pelacur tapi mau menjilati intimnya. Bagaimana rasanya nikmat bukan?." giliran Ayuma yang tertawa.
Hendrawan mengepaplkan tangan. Semua kata-kata pedasnya dibalikkan Ayuma berkali-kali lipat pedasnya.
"Oke, silahkan saja ajukan gugatan cerai. Kamu akan menyesal bercerai denganku. Kamu yang akan menderita dan aku akan bahagia bersama Dilara."
__ADS_1
Ayuma berdecih dan menyeringai, "Nah gitu dong, akui kekasihmu itu. Harusnya sejak dulu mengakui Dilara di depanku sehingga aku tidak perlu membuang-buqng waktu bersama kamu Mas Hendrawan."
"Benar, seharusnya sejak awal aku mengakui Dilara dan meninggalkan perempuan murahan seperti kamu. Kamu nggak ada apa-apa nya di bandingkan dengan Dilara. Dilara berkali-kali lipat lebih baik daripada kamu."
"Oh jelas, aku tidak bisa seperti Dilara yang diam-diam menggatal dengan suami orang. Aku juga tidak bisa seperti Dilara yang sangat baik di depan sahabatnya tapi diam-diam menusuk dari belakang. Aku juga tidak bisa seperti Dilara yang selingkuh dengan Ayah dari anak sahabatnya sendiri."
"Tutup mulut kamu!, aku dan Dilara tidak selingkuh."
"Oh tidak selingkuh? Terus apa namanya yang cocok untuk hubungan kalian. Terima saja kenyataan kalau kalian emang selingkuh dan Dilara pelakor."
"KAMU YANG PELAKOR."
Ayuma mundur selangkah saat Hendrawan membentak keras sambil melototkan mata marah.
"Kamu orang ketiga hubunganku dengan Dilara. Jangan berani-beraninya kamu menyebut Dilara pelakor."
"Dilara memang pelakor dan kamu pengecut."
Hendrawan menganyunkan tangan ingin menampar Ayuma.
"HENTIKAN."
Gerakan tangan Hendrawan tertahan di udara lalu mengalihkan pandangan ke sumber suara itu. Samuel berjalan mendekat ke arah mereka.
"Berhenti sekarang atau saya akan melaporkan anda pada polisi atas kasus KDRT."
Hendrawan tertawa, "Wah lihat ini Ayuma, pahlawan kamu sudah datang. Pahlawan yang juga jadi selingkuhan kamu."
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1