Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 79


__ADS_3

"Dan berdasarkan cerita yang lo katakan tadi. Lo bilang lo buah cinta dari Papa dan Mama lo? Buah cinta hasil perselingkuhan maksudnya? Lo tau Lun, hal yang paling menjijikan di dunia ini adalah perselingkuhan. Kalau gue jadi lo gue nggak akan cerita semua ini di depan semua orang. Alih-alih menjatuhkan gue dan mendapatkan simpati, lo justru membongkar aib lo sendiri."


Luna mengepalkan tangan sembari mengendarkan pandangan ke sekeliling. Menatap satu persatu orang yang ada di sini. Sejak tadi mereka hanya diam, tidak membela dirinya atau Rachel. Tapi dari sorot mata mereka Luna merasa di hakimi.


"Seandainya lo mau membicarakan masalah ini baik-baik. Gue akan jadi orang pertama yang membela lo. Gue akan selalu membela lo sebagaimana seorang sahabat dan saudara kandung. Tapi mengatakan itu semua di depan semua orang dan menghina Ibu gue yang sangat gue sayangi, itu sangat keterlaluan. Mulai sekarang gue bukan temen lo lagi atau sahabat lo lagi."


Luna memicingkan mata.


"Oke, aku juga nggak mau punya sahabat macam lo Rachel. Kamu sadar nggak sih, lo itu sahabat yang paling keras kepala, si yang paling ingin terlihat wow daripada sahabat nya sendiri, tidak mau kalah saing dan suka memutar balikan fakta lalu merangkai kata seolah aku terlihat jahat. Padahal aku hanya menyampaikan fakta tapi begitulah manusia tidak suka mendengar hal-hal jelek tentang dirinya dan lebih suka di puji-puji."


"Lun, buka mata lo. Semua yang lo katakan tadi semua ada pada diri lo sendiri!."


"Kan... kamu suka sekali play victim, Rachel. Kamu pasti mencari alasan dan pembahasan agar kamu tidak perlu di salahkan karena kamu sudah berbuat kasar sama aku.


Kamu sudah menamparku Rachel. Bahkan pipi ku masih terasa panas sampai sekarang. Aku bisa saja membalas menampar kamu, tapi tidak aku lakukan. Aku tidak bisa menyakiti sahabatku sendiri. Ah lebih tepatnya mantan sahabat seperti yang kamu katakan tadi. Meski begitu aku sangat menyayangimu, Rachel. Apalagi sekarang kita saudara kandung."


"Terserah! terserah lo mau bilang apa. Gue nggak peduli. Capek gue ngomong sama lo."


Rachel berbalik badan hendak pergi, namun langkahnya tertahan saat tak jauh di depan nya ada Ayuma.


Entah sejak kapan Mama nya ada di sana, entah baru datang atau sejak tadi berada di sini dan mendengar semua pembicaraan mereka. Rachel berharap Ayuma tidak mendengar dan tidak perlu sakit hati.


"Mama." lirih Rachel.


Ayuma mendekat dan berdiri di depan Rachel.


"Maaf, Mama telat jemput kamu. Ayo kita pulang."

__ADS_1


Ayuma menggenggam tangan Rachel, menatap sekilas Anthony, Sarah dan juga teman-teman Rachel sembari melempar senyum ramah. Lalu berbalik badan tanpa menatap Luna atau menjelaskan apapun.


"Tante." panggil Luna.


Ayuma berbalik badan dan menatap Luna.


"Ngga usah di ladeni, Mah. Kita pulang sekarang!." Ajak Rachel pergi sebelum Luna mengulang kalimat yang menusuk tadi di depan Mama nya.


"Mama mendengar semua pembicaraan tadi dan terima kasih atas kepercayaan kamu."


Ayuma mengalihkan pandangan pada Luna dan tersenyum ramah.


Senyum yang membuat Luna begitu terkejut. Jika Ayuma sudah mendengar semua nya, otomatis Ayuma mendengar Luna mengatainya pelakor. Seharusnya Ayuma marah seperti apa yang di lakukan Rachel tadi.


Luna lebih suka Ayuma menampar nya daripada tersenyum seperti ini. Jika seperti ini semua orang pasti akan bersimpati kepada Rachel dan Ayuma, padahal jelas-jelas mereka yang bersalah.


"Luna, Tante hanya ingin mengucapkan selamat karena kamu sudah bertemu dengan Ayah kandungmu. Semoga kamu bahagia bersama keluarga yang selama ini kamu impikan. Dan soal yang kamu katakan tadi, kalau kamu memang pintar kamu mencari dulu lebih dalam dan mendengarkan dari berbagai pihak sebelum akhirnya menyimpulkan. Tapi jika itu yang kamu percanyai, maka terserah kamu."


Luna mencelos, jawaban Ayuma di luar dugaan Luna. Tidak, seharusnya tidak seperti ini. Harusnya Ayuma marah-marah, murka, menjambak rambut Luna dan menamparnya atau melakukan apapun asal tidak mendiamkan nya seperti ini.


Justru Luna sekarang merasa tersudutkan. Dengan perlahan Luna mengalihkan pandangan pada Sarah, Anthony dan teman-temannya.


"Om, Tante."


Anthony merangkul lengan Sarah, pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun, bahkan tidak melirik sedikitpun pada Luna. Untuk yang kedua kali nya Luna mencelos.


Bastian mendekat dan berdiri di depan Luna.

__ADS_1


"Luna, Luna." Bastian terkekeh. "Ternyata begini muka asli lo. Gue udah nebak sih. Cuma nunggu waktu aja."


"Apa maksud kamu Tian?."


Bastian berdecih, "Gini yah Luna, gue nggak tahu yang lo omongin benar atau tidak. Seandainya pun benar Tante Ayuma pelakor dan Rachel adalah anak pelakor. Gue akan tetap di sisi Rachel. Tapi gue yakin omongan lo itu bohong."


"Om Hendrawan sendiri yang mengatakan padaku jadi menurut kamu Om Hendrawan berbohong?."


"Semua orang juga tahu betapa bangsat nya Hendrawan, Luna. Seseorang yang mengaku Ayah tapi menyakiti putri nya sendiri demi membuat putri yang lain bahagia. Lo masih mau mempercanyai orang seperti itu? Semua yang keluar dari mulut Hendrawan itu sampah dan orang yang mempercanyau ucapan itu juga sampah."


"TIAN KAMU KETERLALUAN, JANGAN MENGHINA PAPA KU SEPERTI ITU."


Bastian berdecih, "Pantas saja Hendrawan sangat menyanyangi lo daripada Rachel. Kalian memang benar-benar mirip. Mungkin hanya sedikit DNA Hendrawan untuk Racheln kebanyakan DNA Ayuma karena itu Rachel nggak egois berbeda dengan lo gue yakin seluruh DNA Hendrawan menurun ke lo, Makannya lo jadi cewek bangsat kayak Papa lo."


Luna mengepalkan tangan sangat kuat dengan mata berkaca-kaca. Sudah sekuat tenaga ia menahan air mata, tapi tanpa bisa di cegah air mata mengalir begitu saja.


"Nangis! nangis yang kencang terus ngadu sama Papa lo. Bilang juga Rachel yang buat lo nangis. Sekalian aja jelek-jelekin Rachel di depan Hendrawan biar kasih sayang dan simpati Papa lo tercurah seluruh nya buat lo. Lo pikir Rachel bakal nangis setelah Hendrawan lebih memilih lo dari pada dirinya. Nggak! justru sekarang Rachel bebas. Dia juga nggak akan nyalahin diri nya sendiri lagi atas sikap jahat Papa nya itu."


"TIAN KAMU SUNGGUH KETERLALUAN, MULUT KAMU JAHAT, KAMU SANGAT JAHAT, JAHAT."


Air mata Luna tumpah, menutup mulut dan berlari meninggalkan halaman belakang rumah Farel. Sebelum pergi, Luna sempat bertatapan dengan Farel.


Luna berharap Farel membelanya sedikit saja atau paling tidak mencegahnya pergi. Tapi Farel hanya diam saja. Bahkan saat Rachel menamparnya Farel tidak memarahi Rachel. Keterlaluan semua orang keterlaluan.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2