Rachel Love Farel

Rachel Love Farel
Part 142


__ADS_3

Bersama Ayuma, Aqila dan putra kecilnya, Edgar memiliki keluarga baru, keluarga yang tidak dia miliki sejak kecil.


"Kamu bahagia sekarang?."


Ayuma tersenyum. Edgar selalu menanyakan itu hampir setiap hari, Edgar selalu memastikan dia benar-benar bahagia atau tidak.


"Nggak ada alasan untuk Aku nggak bahagia. Di sini bersama kamu dan anak-anak adalah kehidupan yang aku impikan sederhana, kekeluargaan, tenang, damai. Kalaupun ada masalah kita bisa mengatasinya bersama-sama. Kamu adalah rumah ternyaman ku Pa, aku ingin tinggal di sini selamanya bersama kamu dan anak-anak."


"Iya, Aku juga."


Jawabnya singkat seperti biasanya, tapi tetap bisa membuat Ayuma tersenyum bahagia. Dulu Ayuma kesal saat dia bicara panjang lebar tapi Edgar menjawab singkat tapi sekarang Ayuma udah terbiasa dan memahami karakter suaminya.


Ayuma mematikan kran air setelah mencuci sayuran, mengeringkan tangannya dengan kain, lalu berbalik badan dan langsung dihadiahi kecupan di bibir. Ayuma terkejut.


"Maaf kalau aku sedikit kurang ajar mencium kamu tanpa izin," dia menyeringai lalu menarik tubuh Ayuma sehingga bagian tubuh mereka saling menempel dekat, rapat dan hangat.


"Iya, kamu kurang ajar, pagi-pagi udah jadi pencuri. Pencuri ciuman, kamu harus di penjara."


"Aku tidak apa-apa di penjara asalkan bisa terus menikmati ini," Edgar menunduk, memiringkan kepala lalu mendaratkan ciuman lagi di bibir Ayuma. Kali ini bukan hanya sekedar kecupan singkat, tapi ada ******* san gigitan lembut di sana.


Refleks Ayuma melingkarkan tangan di leher Edgar dan meremas rambutnya, Edgar berdesis pelan dan memperdalam ciumannya bukan itu seperti biasa Edgar selalu menciumnya dengan lembut dan penuh kehati-hatian tapi kadang bisa juga bisa liar kasar dan dominan. Terutama saat ciuman di atas ranjang saat sedang bercinta.


Di tengah ciuman mereka membuka mata dan menutup wajah Edgar, betapa tampannya dia saat sedang berhasrat seperti ini.


"Sssttthhh, Sayang, udah dulu," Ayuma mendorong dada Edgar menjauh saat ciuman semakin intens. Jika mereka terus melanjutkan ini, yang ada Ayuma tidak jadi masak dan berakhir saling melepaskan baju satu sama lain.


"Kamu canduku," bisik Edgar dengan suara serak dan dalam di telinga Ayuma sambil menghisap daun telinga.


Ayuma menggigit bibir bawah, benar-benar gemas dengan tingkah suami nakal nya ini.


Ayuma berdehem, "Ya udah sekarang kamu ke depan aja main sama anak-anak, aku mau lanjut masak "


"Aku ingin di sini. Aku tidak akan melakukan apapun hanya diam dan melihatmu," Edgar termundur dan bersandar pada kulkas sambil melipat tangan di depan dada.

__ADS_1


Ayuma menggigit bibir bawah, benar-benar gemas dengan jawaban suami tampannya ini.


"Aku nggak bisa konsentrasi masa kalau kamu lihat ini. Udah sana!."


Ayuma mendorong punggung suaminya menjauh sampai keluar area dapur.


"Qila, ini papa mu di kandang dulu biar nggak ngekorin mama mulu."


Terdengar suara tawa Aqila, "Oke, Ma. Aku sama adek udah siapin kandangnya. Papa, mbekkk..." Aqila menirukan suara kambing.


Edgar pun tak kuasa menahan tawa mendengar candaan istri dan anaknya.


***


Selesai sarapan, Edgar langsung masuk ke ruang kerja. Menyalakan laptop dan mulai meeting dengan tim khusus yang terdiri dari 5 orang untuk menghindar perusahaan selama dia ada di Swiss .


Selain mengurus perusahaannya Edgar juga menghindar perusahaan Ayuma. Ayuma merasa lebih tenang perusahaannya di bawah tanggung jawab Edward dengan dibantu Samuel tidak perlu di ragu kan lagi kemampuan bisnis Edgard. Selama 5 tahun Perusahaan Ayuma berkembang pesat sejalan dengan perusahaan Edgar yang juga sama-sama berkembang.


Sedangkan Ayuma tidak pernah ke Indonesia. Bukannya tidak cinta tanah kelahiran hanya saja di sana ada banyak pengalaman buruk, Ayuma tidak ingin mengingat itu lagi.


"Mah tadi papa bilang dua atau tiga hari lagi Papa mau ke Indonesia. Aku pengen deh ikut Papa ke sana?."


"Nggak usah Papa di sana bekerja bukan liburan, kalau kamu mau liburan, liburan aja di negara yang masih ada di Eropa. Mama nggak mau jauh-jauh dari kamu nanti saja setelah kamu menikah kamu bebas pergi kemanapun bersama suami kamu setidaknya Mama akan merasa lebih tenang ada seseorang yang menjagamu."


5 tahun yang lalu saat terbangun di rumah sakit Rachel tidak ingat apa-apa. Ayuma begitu syok dan ketakutan, takut akan terjadi sesuatu lebih parah jika mereka tetap tinggal di Indonesia. Akhirnya Ayuma memutuskan untuk pergi ke luar negeri dengan bantuan Edgar.


Selama ini Ayuma tidak pernah menceritakan apa-apa tentang masa lalu pada Rachel, Ayuma hanya mengatakan papa nya kabur dengan perempuan lain lalu bercerai dan Ayuma pindah ke Swiss.


Selama di sini Rachel selalu di panggil dengan nama tengah nya Aqila, tentu Edgar juga setuju. Ayuma hanya ingin ketenangan bersama keluarga kecilnya yang baru.


Awalnya Ayuma sedih Rachel amnesia, tapi dengan hilang ingatan ini, setidaknya Rachel bisa hidup tenang tanpa banyang-banyang mimpi buruk masa lalu.


"Maaf, Mama tidak bermaksud mengekang. Mama cuma khawatir terjadi sesuatu sama kamu."

__ADS_1


"Iya, Ma. ga papa aku ngerti kok. Sekarang miliki harus menemukan jodohku dan mengajaknya keliling dunia."


Ayuma menganguk dan mengusap rambut putrinya. Si kecil Rafa yang duduk di pangkuan Ayuma ikut mengulurkan tangan dan mengusap rambut Aqila.


"Uuf Rafa mau usap-usap rambut kakak ya."


Bocah kecil berusia satu setengah tahun itu bersorak.


Aqila memindahkan Rafa ke pangkuannya dan menciumnya, "Kalau aku lagi jalan berdua sama Rafa, orang-orang itu mengira Rafa itu anakku tau, Ma."


"Oh ya? Berarti kamu sudah cocok jadi seorang Ibu. Mama doakan semoga kamu segera bertemu dengan jodoh kamu."


"Aamiin, tapi doanya yang lengkap bertemu dengan jodoh yang baik."


Ayuma tertawa, "Iya, ya. Duh putri mama yang udah nggak sabar pengen nikah," Ayuma mencubit pipi Aqila dengan gemas. Rafa juga ikut mencubit pipi kakaknya.


"Uh apa nih, cubit-cubit. Ngak boleh," Aqila berpura-pura menggigit jari-jari Rafa tapi bocah kecil itu justru tertawa. Lalu sengaja memasukkan tangannya ke dalam mulut Aqila kemudian tertawa lagi saat Rafa pura-pura menggigit nya.


***


Jam 10 pagi, Aqila pamit ingin menghabiskan sabtu wekeend ini bersama Ariana, temannya. Kebetulan Ariana ini orang Indonesia juga, lebih tepatnya blasteran, Ibu Asia dan Ayah Eropa.


Mereka bertemu di tempat kerja, di hotel Artos masih berada di Matten Bei interlaken, desa tempat Aqila dan keluarga nya tinggal. Di sana, Aqila bekerja sebagai petugas reservasi hotel dan mengkoordinasi permintaan tamu. Sedangkan Ariana sebagai resepsionis.


"Ariana," Sapa Aqila begitu tiba di danau Thun, tempat janjian mereka.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2