
Ia cukup puas dengan apa yang dimilikinya. Ia juga sudah tidak terlalu menyendiri lagi selama sisa sekolahnya karena banyaknya teman, baik perempuan maupun laki-laki yang kini sudah mau mendekatinya.
Teman lelaki yang mendekatinya bukan tanpa alasan yang jelas mereka begitu dekat. Bahkan saat dirinya menginjak kelas tiga sma, semakin banyak lelaki yang mendekat padanya. Baik itu seangkatannya maupun adik kelasnya.
Tak jarang yang dekat dengannya bukan sebagai teman saja, melainkan sebagai teman lelaki yang dekat dengan seorang wanita remaja. Kata-kata yang diucapkannya para lelaki itu pun cukup manis ditelingannya. Namun Rania selalu menolak dengan mengatakan, "maaf, saya ingin lebih fokus pada masa depan saya."
Begitulah yang Rania katakan tiap kali ada lelaki yang terpesona olehnya. Namun tak jarang pula ada teman wanita yang masih tak mau mendekatinya jika mengingat masa lalunya yang suram - jauh dari kata cantik. Para wanita remaja itu berpendapat, kalau Rania sudah melakukan operasi plastik.
Terutama pada pipi yang tidak terlihat tembem lagi dan tubuh yang proporsional atau biasa mereka katakan tubuh tanpa lemak. Tidak ada yang menduga kalau Rania akan berubah total seperti ini. Bahkan Rania sendiri pun tidak diduganya.
Dalam masa-sama perubahannya, Rania tidak pernah melupakan Khanif. Lelaki remaja yang sudah membuatnya termotivasi untuk merubah dirinya. Ya, sejak Khanif menolaknya kala itu, Rania meyakinkan dalam dirinya kalau ia harus berubah ke arah yang lebih baik agar tidak ada orang yang dapat meremehkannya lagi dan mungkin juga tidak ada lagi lelaki yang dapat menolaknya dengan memandang fisiknya terlebih dahulu.
Meski sempat terbersit dalam benaknya kalau ia akan menjadi lebih populer dan menjadi incaran dari pada lelaki setelah perubahannya, Rania sama sekali tidak menggubrisnya. Walau Rania sadar betul kalau banyak dari lelaki remaja yang mengantri untuk mendapatkan hatinya. Ia tetap terkesan cuek dalam menyikapinya karena sepertinya hatinya telah tertutup pada lelaki lain pada masa remajanya.
Setelah pelulusan, Rania masuk disalah satu universitas swasta terkenal yang ada di kotanya. Ia masuk pada salah satu jurusan yang sangat diimpikannya dan mungkin diimpikan banyak teman sekolahnya, yakni jurusan ekonomi. Tidak jauh berbeda dengan hari-hari terakhirnya di sekolah, di tempat kuliahnya pun Rania telah menjadi wanita populer diantara banyaknya wanita cantik lainnya.
Apalagi saat memasuki semester kedua, hampir seluruh mahasiswa disana mengenal dirinya. Namun bukan itu yang Rania tidak senangi. Melainkan seseorang yang ternyata tidak berkuliah ditempatnya kuliah.
"Rania," panggil Bella teman kuliahnya.
Rania berbalik, ia tersenyum manis pada Bella yang kian mendekat kepadanya. "Iya ada apa, Bel?"
Sesampainya Bella didekat Rania, Bella menarik nafas panjang dulu sebelum mengatakan apa yang barusan diketahuinya dari temannya yang lain.
"Kenapa kamu seperti ini, apa ada hal penting yang ingin kamu katakan?" tanya Rania.
Bella menganggukan kepalanya karena masih sibuk mengatur ritme nafasnya.
"Sini, kita duduk dulu. Dengan begitu, nafasmu cepat menjadi teratur," ajak Rania.
Mereka pun berjalan menuju tempat duduk terdekat yang bisa mereka capai. Setelah duduk, Bella langsung saja memegang tangan Rania dan melihatnya tanpa berkedip.
"Ada apa?" tanya Rania untuk kesekian kalinya.
"Kamu tau kak Khanif yang dari sma nusa, kan?"
Rania mengangguk, tapi ia terkejut juga. "Kenapa dengan kak Khanif?"
__ADS_1
Bella mendesah, ia lalu berkata, "dia ternyata tidak berkuliah disini. Padahal aku mati-matian masuk kesini karena mengira kak Khanif berkuliah disini." Bella menunduk lesu setelah mengetahui usahanya selama ini sia-sia saja. Ia lalu teringat jika Rania pernah satu sekolah dengan lelaki pujaannya. Ia pun menatap Rania penuh harap dan mulai berkata, "oh iya, bukannya kamu adik kelas kak Khanif?"
Rania lagi-lagi terkejut karena pertanyaan tiba-tiba dari Bella. Namun, ia tetap menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan ucapan Bella barusan.
"Kamu dekat sama kak Khanif nggak? Gimana, kak Khanif ramah ngga? Kamu kenal dia kan?" tanya Bella bertubi-tubi hingga membuat Rania bingung mau menjawab yang mana.
"Tunggu ... tunggu. Dari mana kamu kenal kak Khanif?" tanya Rania begitu penasaran.
"Oh itu ... aku mengenalnya saat kak Khanif mengunjungi sekolahku. Kak Khanif datang ke sana untuk mempererat hubungan osis antar sekolah. Kebetulan aku juga anggota osis jadi selalu bertemu kak Khanif kalau datang berkunjung. Walau waktu itu kak Khanif tidak terlalu memperhatikan aku, tapi tak masalah bagiku. Rasa kagumku pada kak Khanif tak tertutupi begitu saja." Bella kembali mendesah, "aku kira kak Khanif berkuliah disini. Padahal aku sudah berusaha keras untuk berkuliah disini."
"Udah ngga papa. Ada juga syukurnya kamu berkuliah disini karena dengan begitu, kamu dapat bertemu denganku," ujar Rania cengegesan di kata-kata terakhirnya. Bella pun ikut tersenyum.
...***...
Pada hari-hari berikutnya, Rania kembali tau dari Bella kalau ternyata Khanif berkuliah di luar negeri. Negara yang terkenal dengan julukan negeri kanguru. Rania pun sama kecewanya dengan Bella. Namun Rania bisa menyembunyikan kekecewaannya itu dari dalam lubuk hatinya dengan tersenyum menanggapi ucapan Bella.
Setelah beberapa menit kemudian, Rania tersadar akan kegalauan hatinya. Rania pun cepat menggelengkan kepalanya - mencoba menepis rasa kecewanya itu.
"Kamu kenapa?" tanya Bella.
"Oh itu, aku kayaknya salah tidur, jadi leherku agar sedikit sakit," dusta Rania.
Melihat Bella menjauh, Rania menatapnya dengan penuh penyesalan. Jujur, ia tidak ingin berbohong. Tapi apalah daya, Rania tidak ingin Bella mengetahui perasaannya juga. Apalagi mereka adalah teman dekat didunia perkuliahan. Rania tidak ingin hanya gara-gara lelaki yang tidak pernah ada diantara mereka, pertemanan mereka akan merenggang dan mungkin bisa berakhir buruk.
Memikirkan segala kemungkinannya, Rania kembali menggelengkan kepalanya, mencoba menepis jauh-jauh pikiran buruknya itu. Rania mendesah, ia pun pergi meninggalkan tempatnya biasa bersantai dengan Bella.
Saat dalam perjalanan pulang, Rania yang sedang mengendarai motor, langsung saja menepikan motornya saat ia mendapat telpon dari sang mama.
"Assalamualaikum, ma."
"Waalaikumsalam sayang. Kamu udah pulang kan?"
"Iya ma, udah. Ini Rania dalam perjalanan pulang kerumah."
"Bisa ngga kamu terus ke pasar, mama kehabisan bawang merah nih. Mama mau segera memakainya."
"Iya ma, bisa. Kalau gitu Rania tutup telponnya ya."
__ADS_1
"Iya, hati-hati dijalan."
Rania pun kembali menyimpan ponselnya di tas sampingnya dan mulai melajukan motornya pergi ke pasar tradisional. Belum juga Rania memarkirkan motor matic-nya, Rania melihat ada seorang wanita paruh baya yang berteriak minta tolong.
Rania lantas memarkirkan motornya dan langsung menuju ke ibu yang berteriak minta tolong itu.
"Ibu kenapa?"
"Tolong ibu, ibu kecopetan."
Rania pun berlari mengejar pencopet yang masih Rania lihat. Rania yang memang jago seni bela diri, sangat mudah mengalahkan pencopet itu. Bahkan, pencopet itu meminta ampun pada Rania saat Rania tidak juga melepaskan cekalan tangan pencopet itu di belakang tubuhnya sendiri.
"Saya akan melepaskan tanganmu kalau kamu berjanji tidak akan berani mencopet lagi," ancam Rania.
"Ampun ... ampun ... ampun, saya janji tidak akan mencopet lagi. Saya janji."
Setelah beberapa lama, Rania melepaskan cekalan tangannya. Baru saja tangannya terlepas, pencopet yang masih dibawah umur itu pun lari meninggalkan Rania yang tersenyum puas akan keberhasilannya.
Rania lalu kembali pada ibu yang habis dicopet tadi. Sesampainya Rania disana, Rania memberikan tas yang sudah didapatnya dari tangan pencopet.
"Ini tas, ibu."
"Alhamdulilah, terima kasih banyak nak," ujar ibu berjilbab biru sambil mengusap dadanya lega. Ibu itu pun memeriksa isi tasnya. "Alhamdulilah tidak ada yang kurang. Ibu tidak tau apa yang terjadi kalau tidak ada kamu, nak. Terima kasih nak."
"Sama-sama, bu. Kalau begitu, Rania pamit dulu bu."
"Iya nak. Ibu juga."
Dua wanita berbeda usia itu pun berpisah disana.
...To be continued...
Masih ingat dimana mama Adelin, mama Khanif mengenal Rania. Kisah diatas, awal mula perkenalan mereka ya.
Oh, iya. pagi ini baru 3 orang yang berikan vote ya, jadi sisa 12 orang lagi yang aku cari untuk berikan vote agar besok insya Allah, aku bisa up 3 bab. Jadi, jika kalian tertarik dengan penawaran aku, kuy bari vote-lah dengan cerita ini.
Semoga yang like atau komen diberikan rezeki yang melimpah, aamiin 🤲
__ADS_1
...By Siska C...