
Mama baru saja selesai memasak saat mama ke kamar Davina. Tanpa mengetuk pintu, mama memutar knop pintu kamar Davina dan masuk kedalam. Disana, dapat dengan jelas mama melihat Davina termenung seorang diri didepan jendela kamarnya. Bahkan Davina tersentak kaget saat mama memegang lengannya.
Perlahan Davina menoleh dan memberikan mama sebuah senyum simpul.
"Mama," ujarnya pelan.
"Kenapa ngga tutup jendelanya sayang, hari sudah hampir malam dan dingin. Nanti kamu jadi sakit."
"Ngga papa ma. Davina ingin sedikit saja menghirup udara sore."
"Gih tutup jendelanya. Hari udah malam."
Davina mengangguk patuh. Mereka pun beralih duduk di tempat tidur Davina.
"Kata Khanif, kamu ngga usah masuk kerja besok."
"Tapi ma."
"Ngga ada tapi-tapian. Hari-hari yang lalu pun kamu telah bekerja giat, bahkan tidak ada hari kamu menemani mama bersantai. Jadi, karena besok kamu libur, mama mau kamu temani mama berbelanja."
"Baiklah."
Mama pun mengelus kepala Davina sayang. Mama masih ingat betul bertahun-tahun yang lalu saat mama mengambil Davina sebagai anak angkat.
Saat itu mama mendapat kabar duka yang begitu memilukan. Ia mendapat kabar kalau saudari beda ibu yang tidak lain adalah mama Davina meninggal dalam kecelakaan. Begitupula dengan papa Davina yang pada saat itu ikut bersama keluarga kecilnya.
Dalam kecelakaan yang menewaskan suami istri itu, menyisakan seorang bayi perempuan yang masih berumur empat bulan terus saja menangis tanpa tahu apa yang diinginkan. Mama Khanif yang saat itu masih menyusui Khanif yang masih berusia satu setengah tahun pun tahu apa yang diinginkan bayi malang ini. Mama lantas mengambil Davina dari sang nenek untuk memberinya asi.
__ADS_1
Sontak saja permintaan awalnya itu tidak disetujui karena anak mama adalah laki-laki yang tidak lain adalah Khanif, sedangkan yang hendak mama berikan asi adalah anak perempuan. Meski telah ditolak oleh nenek Davina, mama tetap kekuh untuk memberikan Davina asi.
Pada akhirnya, mama pun disetujui untuk memberikan Davina asi karena melihat Davina yang tidak ingin meminum susu formula. Meski semua jenis kemasan susu sudah pernah dicobakan untuk bayi mungil itu.
Merasa tidak ada jalan lain lagi, akhirnya nenek memberikan Davina kecil pada mama untuk diberikan asi. Davina kecil begitu lahap saat menyusu pada mama disebuah kamar yang sepi. Bahkan Davina kecil tertidur pulas sesaat setelah menyusu karena kekenyangan. Mulai saat itulah, mama mengangkat Davina sebagai anak angkanya.
Davina dibawa pulang oleh mama kerumah. Disana, Davina mulai dirawat oleh mama seperti anak kandung sendiri. Bahkan nenek yang awalnya menolak keras permintaan mama itu kini sadar kalau keputusannya sudah tepat memberikan sang cucu pada anak tirinya - mama Khanif.
Hampir tiap hari pun nenek datang mengunjungi Davina disana. Ia melihat pertumbuhan sang cucu yang begitu baik dan terawat dibawah asuhan mama Khanif. Ia begitu senang melihat sang cucu tumbuh begitu gemuk nan menggemaskan.
Namun sayang semua tidak berlangsung lama. Saat Davina menginjak usia lima tahun, sang nenek juga ikut dipanggil oleh sang maha pencipta. Davina yang dididik oleh mama menjadi anak yang baik dan tegar pun tidak berlarut-larut dalam kesedihannya.
Bayangkan saja. Saat bayi, Davina sudah tinggalkan oleh kedua orang tuanya. Bahkan Davina tidak sempat merekam jelas diingatkannya tentang sosok mama dan papanya. Saat berusia lima tahun, lagi-lagi orang yang disayanginya pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Bagaimana bisa anak semuda itu bisa kuat dalam mengahadapi cobaan jika saja Davina tidak dibekali dengan pengetahuan tenang ajaran agama.
Davina sungguh beruntung hidup dalam pengasuhan mama Khanif. Mama selalu memperhatikan dan menuruti kemauannya. Meski mama mempunyai anak, mama tidak pernah sekali pun membedakan mereka.
Jika Khanif mendapatkan baju baru, maka Davina juga harus mendapatkannya. Jika ulang tahun Khanif dirayakan, maka ulang tahun Davina pun pastinya akan dirayakan juga. Sungguh, tidak sedikit pun mama membedakan mereka. Untuk itulah, keluarga Davina dari papanya, tidak pernah menuntut hak asuh Davina pada mama maupun mengambil paksa Davina dari mama.
Tidak lepas tangan, sesekali keluarga dari pihak papa itu mengunjungi Davina. Bahkan biasanya mereka mengajak Davina pulang bersama mereka untuk beberapa hari. Davina yang memang anak yang penurut pun lebih dahulu meminta izin pada mama. Setelah diberi izin, barulah Davina pergi kerumah keluarga papa, menginap disana.
Saat usia Davina menginjak usia 10 tahun, Davina sudah sering pergi menginap di rumah keluarga papanya. Mama pun tidak bisa melarang meski hatinya merasa sedikit tidak tenang ditinggalkan oleh anak yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri. Tapi mau bagaimana lagi, ia tidak bisa melarang Davina karena Davina juga adalah keluarga mereka.
Semua berjalan baik hingga Davina beranjak remaja. Mama pun kian memperhatikan Davina. Mulai dari pola belajarnya hingga pola tertemannya disekolah maupun dirumah. Bahkan tiap saat mama begitu memperhatikan Davina karena kini Davina sudah mulai tumbuh bagai sosok yang cantik yang disukai banyak orang.
Ia tidak ingin anak angkanya itu jatuh dalam pergaulan yang tidak baik. Untuk itulah, Davina selalu bersekolah disekolah yang sama dengan Khanif. Meski mereka berbeda satu tingkat. Tapi saat sma, Davina mempunyai sekolah favorit sendiri. Awalnya mama menolak keras permintaan Davina itu karena mulai dari tk, sd sampai smp, Davina dan Khanif selalu bersekolah ditempat yang sama.
Davina yang sudah banyak tahu tentang yang mana baik dan buruk pun memelas sama mama agar diizinkan untuk bersekolah disekolah sma yang diinginkannya. Akhirnya, setelah lama membujuk dan berjanji akan tetap baik-baik saja, mama pun mengizinkan Davina dengan syarat kalau pergi dan pulang sekolah, Davina harus dijemput oleh supir rumah. Semua masih berjalan baik hingga terakhir masa sma.
__ADS_1
Kini Davina sudah mulai kuliah. Awalnya mama menyarankan Davina untuk mengambil jurusan kuliah kesehatan saja. Namun lagi-lagi Davina tidak terlalu minat dalam bidang itu. Jadi, Davina pun kuliah di tempat yang sama dengan Khanif. Bermula dari sanalah banyak orang yang beranggapan kalau Davina da Khanif mempunyai suatu hubungan.
Hingga dugaan itu terus berlanjut saat Davina masuk bekerja di perusahaan Khanif tanpa seorang pun yang tahu hubungan kekeluargaan mereka. Mereka hanya tahu, kalau Davina sengaja dekat-dekat dengan Khanif agar bisa menjadi seorang nyonya besar di perushaan.
Sejak bekerja, Davina sudah pernah mendengar desah-desus itu. Namun Davina tidak mengambil pusing hal itu karena menurutnya untuk apa ia marah kalau ternyata apa yang ia dengar tidaklah benar. Jadi, ia selalu mengesampingkan pembicaraan tentang dirinya dan lebih fokus saja dalam bekerja.
Puncaknya, Davina sudah tidak tahan lagi mendengar semua ocehan mereka yang tidak suka padanya. Ia pun terlihat bersedih. Apalagi saat terang-terangan mereka menghina dirinya. Davina tahu, cepat atau lambat, ia akan memberitahu mereka semua agar tidak ada lagi yang berani menghinanya lagi. Davina menghela nafas panjang. Ia tidak boleh lagi larut dalam kesedihan seperti ini.
...***...
Davina lagi-lagi tersentak kaget saat mama menyadarkannya dari lamunanya tadi. Davina pun menoleh pada mama. Ia tersenyum lembut menenangkan. Ia pun mengatakan, "Davina udah baik-baik aja, ma."
"Mama percaya. Baiklah, mama tinggal dulu. Kalau butuh bantuan, panggil mama aja ya. Oh, iya. Kita makan malam bersama semua nanti malam. Mama tunggu disana."
"Iya, ma. Pasti."
Mama pun berlalu dari kamar Davina. Saat mama baru saja keluar kamar, Mama melihat Khanif yang tengah duduk didepan tv sedang menonton berita. Mama pun lantas pergi menghampiri Khanif dan duduk didekatnya.
"Sayang," panggil mama.
Khanif menoleh. Ia kemudian menjawab, "iya, ma."
"Besok siang, izinkan nak Rania juga ya."
"Mama mau apa sama Rania?"
...To be continued...
__ADS_1
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
...By Siska C ...