Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 110. Jangan Buat Aku Panik, Ok


__ADS_3

"Selamat pagi, pak," ucap Farah yang mulai bertugas pagi ini.


"Pagi. Apa jadwal saya hari ini?"


"Pagi ini bapak ada meeting dari perushaan Agung jaya pada pukul sembilan."


Khanif mengangguk.


"Siangnya, bapak free dan sore bapak ada jadwal pemeriksaan keuangan perusahaan."


"Baiklah. Siapkan berkas yang saya butuhkan untuk meeting nanti. Kamu bisa mendapatkannya pada Davina."


"Baik, pak."


"Kamu boleh pergi."


Farah pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Khanif. Sedangkan Khanif mulai menyiapkan berkas lainnya untuk meeting jam sembilan nanti. Sangking sibuknya, ia bahkan lupa kalau ia belum sarapan pagi ini.


Benar kata mama, sepertinya Khanif harus segera mencari pasangan agar Khanif ada yang memperhatikan dan pastinya Khanif harus menuruti perkataannya.


Saat Khanif baru saja hendak beranjak menuju ruangan meeting, pintu ruangannya diketuk oleh seseorang. Khanif lantas membuka sendiri pintu ruangannya.


"Rania! Ada apa?"


"Kayaknya ponsel saya ketinggalan di dalam mobil bapak."


"Kamu ambil sendiri saja ya, saya mau meeting." Khanif pun kembali ke meja kerjanya. Lalu mengambilkan Rania kunci mobilnya. "Ini," ujar Khanif seraya memberikan kunci mobilnya. "Kuncinya kamu pegang saja, nanti saya akan mengambilnya diruanganmu."


"Tidak perlu pak, saya yang akan memberikannya sama bapak setelah saya mengambilnya."


"Saya mau meeting dan tidak bisa diganggu. Jadi pegang saja dulu."


"Baiklah, pak."


Khanif lalu memberikan Rania kunci mobilnya.


"Tunggu!" ujar Khanif saat Rania buru-buru pergi setelah mengambil kunci.


Rania lantas berbalik. "Ada apa, pak?"


"Tidak. Tidak, apa-apa. Kamu boleh pergi."


Rania melihat Khanif tak percaya. Pasalnya, mana ada orang yang dipanggil kalau tidak mempunyai kepentingan. Kecuali, jika orang yang memanggil hendak mengatakan sesuatu, namun diurungkannya. Tahu Rania menatapnya curiga, Khanif malah pergi meninggalkan Rania lebih dahulu.


"Aneh," gumam Rania. Ia pun berlalu pergi mengambil ponselnya di dalam mobil Khanif yang tertinggal.

__ADS_1


***


Tidak terasa waktu berlalu cepat. Rania yang sedang menyantap makannya di meja kerja jadi tersentak kaget saat ia menoleh dan mendapati Khanif sudah berdiri didekatnya. Ia tersedak, namun secepatnya Khanif memberikan Rania botol minuman yang ada didekatnya.


"Terima kasih, pak."


"Kamu melihat saya sebagai apa tadi, sampai kamu bisa tersedak sebegitu?" tanya Khanif.


Rania melongo, ia tidak menyangka Khanif bisa berkata sesantai itu di ruangan keuangan. Rania menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin!" batinnya. Rania pun melihat keadaan sekitar dan ia tidak mendapati seseorang pun disini kecuali mereka berdua. "Pantas saja," batinnya lagi seraya menghela nafas lega. Pasalnya, ia tidak tahu apa yang akan terjadi, jika saja teman sesama ruangannya melihat cara bicara Khanif padanya.


"Kenapa?"


Aduh! Rania lupa, Khanif pasti telah melihat gerak-geriknya tadi. Rania lantas cengegesan. "Tidak apa. Oh, iya. Bapak mau apa kesini?"


"Kunci mobil saya."


Rania menepuk jidatnya. "Maaf, pak. Saya lupa." Rania pun mengambilkan kunci mobil Khanif dari laci mejanya. "Terima kasih, pak."


"Sama-sama. Lain kali, jangan buru-buru pergi agar kamu tidak kelupaan lagi."


"Iya, tahu pak. Makanya, bapak jangan buat saya panik."


"Loh, kok jadi saya yang disalahkan."


"Bukan disalahkan, pak. Cuma memberitahu saja. Kalau lain kali saya numpang di mobil bapak, bapak jangan teriak-teriak, gitu."


Rania diam. "Tidak. Maksud saya, bapak jangan sengaja manggil-manggil saya hanya untuk membuat semua orang tahu kalau saya habis numpang di mobil, bapak."


Khanif menganggukkan kepalanya. "Perkataanmu yang sebelumnya lebih masuk akal."


Rania menatap Khanif tidak mengerti.


"Baiklah, saya pergi dulu. Jangan lupa saat pulang saya menunggumu di parkiran."


Khanif pun pergi, tapi Rania baru menyadari perkataan Khanif yang mengatakan kalau perkataannya sebelumya lebih masuk akal. Jadi, Khanif menganggap kalau dirinya pasti akan menumpang lagi di mobil Khanif?


Rania memanyunkan bibirnya. "Semoga saja ini yang terakhir," rapalnya dalam hati dengan tangan terkatup dan mata yang terpejam.


Saat Rania membuka mata, ia terkejut melihat Dian tepat didepannya. Kenapa juga hari ini ia selalu saja terkejut. Sepertinya Rania harus lebih hati-hati lagi.


"Kamu mengagetkan saja."


"Heem ...." Dian menaikkan satu alisnya. "Kenapa kamu menutup mata?"


"Aku?" menunjuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Iya, Rania. Siapa lagi disini selain kamu."


"Aku ... aku hanya ingin saja. Sepertinya cahaya komputer ku terlalu terang."


Dian lalu melihat komputer Rania yang tidak hidup. Ia tersenyum lucu. "Yakin karena pencahayaan komputermu terlalu terang?"


Rania menganggukkan kepalanya ragu.


"Makan siangmu terlihat enak. Tapi aku sudah kenyang, jadi ngga muat lagi di perut. Oh iya, saat aku masuk pintu, aku lihat pak Khanif baru saja masuk ke dalam liftnya. Sepertinya pak Khanif habis dari sini deh! Hem, sudahlah. Aku mau lanjut kerja dulu." Dian pun berlalu dari hadapan Rania.


Rania lantas berbalik ke meja kerjanya kembali. Ia melihat kalau kotak makan siangnya masih belum habis. "Aduh!" Rania lagi-lagi menepuk jidatnya. "Pasti Dian tahu kalau aku cuma buat alasan saja tadi." Rania menghela nafas. "Basah ya, basah saja."


Setelahnya, Rania kembali melanjutkan makan siangnya hingga habis tak tersisa. Sedang disisi lain, Khanif masih saja memeriksa laporan pemasaran. Sangking sibuknya, ia bahkan telah melewatkan waktu makan siangnya. Oh tidak, ia juga bahkan telah melewatkan sarapan paginya. Tapi sepertinya, Khanif masih juga belum merasakan kalau tubuhnya butuh asupan makanan saat dirinya sibuk seperti ini.


Farah yang telah mengerjakan hasil laporan meeting tadi lantas beranjak dari meja kerjanya menuju ruangan Khanif. Sesampainya didepan pintu, Farah mengetuknya.


"Masuk," kata Khanif.


Farah terlihat memutar knop pintu lalu melangkahkan kakinya ke dalam dengan sebuah dokumen laporan ditangannya.


"Ini dokumen hasil meeting tadi pak."


"Taruh saja disana."


"Pak, saya melihat bapak belum makan apapun sejak rapat berakhir. Apalagi ini sudah siang. Apa tidak sebaiknya ...."


Khanif mendongkak melihat Farah. "Tidak. Kamu bisa istirahat sekarang."


Farah mengangguk dengan kecewa. Pasalnya, ia ingin mengajak Khanif untuk makan siang bersama. Meski posisinya saat ini hanya sebagai sekertaris sementara buat Khanif, tapi dalam benaknya, ada baiknya kalau dirinya bisa lebih dekat dengan Khanif. 


"Kalau begitu, saya permisi."


"Hem."


Khanif kembali fokus pada dokumen yang tengah dibacanya setelah Farah pergi. Ia bahkan sudah tidak mengingat lagi kalau ia benar-benar belum makan dari pagi.


Ia terlalu sibuk sampai harus melupakannya. Bahkan, saat hari telah beranjak sore, Khanif hanya pergi untuk melaksanakan kewajibannya saja. Baru setelahnya, ia kembali lagi menyibukkan diri pada setumpuk dokumen yang belum juga disentuhnya.


Ia benar-benar sibuk hari ini! Namun sekali lagi fokusnya buyar saat ia kembali mendengar suara ketukan pintu. Khanif kemudian menutup berkas yang tengah diperiksanya lalu berseru, "masuk!"


Entah mengapa tiba-tiba saja Khanif merasa penasaran dengan seseorang yang telah mengetuk pintu ruangannya. Ia bahkan telah menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi dengan tatapan yang tidak lepas dari pintu masuk.


...To be continued ...


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲

__ADS_1


...By Siska C...


__ADS_2