
Barulah saat seseorang yang baru tiba itu tidak sengaja bersin, Rania dan Khanif langsung menoleh padanya. Rania seketika terkejut. Ia tiba-tiba hendak menjauh dari Khanif yang duduk dekat dengannya. Khanif melihatnya dengan tatapan sulit diartikan. Ia pun memanggilnya mendekat.
"Maaf, pak. Kalau boleh tahu, ada perlu apa bapak memanggil saya."
Khanif berdiri. Ia pun berjalan ke meja kerjanya. Lalu ia memasukkan kedua tangannya dimasing-masing kantong celananya.
"Bagaimana kerjaan kamu?"
"Baik, pak. Tidak ada yang membuat saya susah."
"Lalu mengapa kamu menyuruh Rania mengantarkan berkas itu keruangan saya. Apa kamu tidak bisa lihat kalau kakinya sedang sakit?"
"Maaf, pak. Saya tidak bermaksud begitu."
"Jadi, bagaimana maksud kamu sebenarnya?"
"Sebenarnya saya sendirilah yang ingin mengantarkan berkas keuangan langsung ke bapak, tapi Lisa menghubungi saya. Dia berkata kalau hanya Rania-lah yang harus mengantarkannya ke ruangan, bapak."
Khanif lalu beralih melihat Lisa yang juga ikut melihatnya.
"Saya tidak mengatakannya pak. Saya hanya berkata, kalau Mbak May sibuk, biar orang lain saja yang mengantarkannya." Lisa lalu beralih melihat May yang juga melihatnya tidak percaya. "Kamu kenapa malah menuduh saya? Kalau ingin menyalahkan, salahkan dirimu sendiri. Jangan ikutan saya dalam masalahmu," tentang Lisa.
"Bukannya kamu yang mengatakannya?"
"Kapan saya mengatakannya? Kamu jangan mengkambing hitamkan saya didepan pak Khanif, ya!" debat Lisa tidak terima.
Khanif menggebrak mejanya. Sontak Lisa dan May maupun Rania yang selalu memperhatikan mereka kaget.
"Dimana kamu berada saat menghubungi, May?"
Lisa tiba-tiba gugup. "Sa ... saya berada di meja kerja saya, pak."
Khanif lalu menekan tombol interkom untuk menghubungi karyawannya yang bertugas memantau cctv. Ia ingin melihat cctv yang merekam Lisa saat berbicara dengan May.
Tidak lama kemudian. Orang yang bertugas dibagian ruangan cctv pun datang membawa sebuah flashdisk berisi rekaman Lisa yang berbicara dengan May tadi.
"Terima kasih. Kamu boleh pergi sekarang," ujar Khanif setelah menerimanya.
"Baik, pak."
Sekeluarnya orang yang bertugas di ruangan khusus itu, Khanif melihat mereka satu persatu.
"Kita akan segera tahu. Siapa yang berbohong."
Baru saja Khanif menyambungkan flashdisk itu ke laptop nya, Lisa sudah berlari disampingnya dan langsung berlutut minta maaf.
"Saya minta maaf, pak. Itu adalah kesalahan saya," ujar Lisa mengakui.
"May, kamu bisa kembali."
May mengangguk. Ia pun pergi meninggalkan mereka bertiga yang masih berada didalam ruangan yang sama. Khanif lalu kembali menekan tombol interkom dan menghubungi Rahayu. Tidak lama setelah panggilannya pada Rahayu, Rahayu telah menampakkan dirinya dihadapan Khanif.
__ADS_1
"Pagi pak," sapa Rahayu. Rahayu sempat melihat Lisa yang berdiri tidak jauh dari meja kerja Khanif.
"Pagi."
Khanif pun menyuruh Rahayu duduk dahulu. Rahayu menganggukkan kepalanya. Ia pun duduk seperti perkataan Khanif.
"Ada yang bapak ingin katakan terkait pencalonan sekretaris bapak?"
"Hem."
"Bapak katakan saja. Saya akan melakukannya."
"Coret nama Lisa dalam pencalonan sekretaris. Sampai kapan pun, dia tidak bisa ikut lagi dalam pencalonan seperti ini," ujar Khanif sambil menoleh sekilas pada Lisa.
"Pak, saya ...," ujar Lisa lirih.
Bukannya sudah Khanif katakan, kalau ia sudah menaruh semua keputusannya pada Rahayu? Jadi, jika harus mendiskualifikasi Lisa, ia juga harus memberitahukan Rahayu.
Meski dirinyalah yang membutuhkan seorang sekretaris, tapi ia tidak boleh bersikap sesuka hati dalam memilihnya karena hal ini menyangkut seluruh masalah perusahaan. Biar bagaimana pun, Rahayu harus membantunya memilih yang terbaik.
Rahayu memandangi Lisa. Ia tahu kalau Lisa pasti telah membuat kesalahan yang tidak dapat di tolerir lagi. Jadi Rahayu pun mengiyakan perkataan Khanif. Lagi pula Khanif bersikap seperti itu karena Khanif telah memberikannya kepercayaan penuh untuk memilih calon sekretaris Khanif. Jadi, ia pun menyetujuinya.
"Baik, pak. Saya akan mendiskualifikasi Lisa."
Lisa tiba-tiba kembali berlutut padanya. "Pak, saya mohon. Beri saya kesempatan lain. Saya janji akan berubah," mohon Lisa.
Khanif diam sejenak. Ia lalu menoleh pada Rania. "Jika Rania memberikanmu kesempatan, maka permintaanmu bukanlah masalah lagi."
Lisa lalu melihat Rania. Ia berlari kearahanya dan berlutut sekali lagi. "Aku minta maaf. Tolong saya, saya janji tidak akan melakukan hal itu lagi padamu."
Lisa menganggukkan kepalanya. Sedangkan Rania telah puas. Akhirnya Lisa sudah mendapatkan batunya. Apa yang dia taman, itulah yang dia tuai.
Sesuai yang telah kamu buat, baik itu perbuatan yang baik maupun perbuatan yang buruk, maka kamu akan mendapatkan balasan yang setimpal sesuai perbuatan kamu.
Sekarang Lisa telah mendapatkannya dan telah berjanji untuk tidak melakukan hal yang sama lain pada dirinya dan orang lain. Kini Rania tidak punya alasan lain untuk tidak memaafkan Lisa. Biar bagaimana pun, setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua.
Jika pada kesempatan kedua dia sudah mau berubah dan menepati janjinya, hal itu adalah hal yang bagus. Jika sudah diberi kesempatan kedua, namun masih memiliki sifat seperti pada kesempatan pertama, maka berilah lagi kesempatan ke tiga. Namun jika masih tetap saja berulah. Sepertinya dia tidak lagi dapat beri kesempatan melainkan diberi pengarahan agar dia mau berubah. Itulah jalan satu-satunya dan Rania percaya kalau Lisa akan berubah kesempatan kedua itu.
Rania pun menganggukan kepalanya tanda agar Khanif harus memberikannya kesempatan itu. Khanif lalu beralih pada Lisa.
"Satu kesempatan lagi. Setelahnya jangan harap ada kesempatan lainnya," tegas Khanif.
Lisa pun berucap terima kasih pada Khanif beberapa kali. Ia pun mengucapkan hal yang sama pada Rania karena telah mau memaafkan dirinya. Ia sangat senang mengatahui kalau khanif masih memberikannya kesempatan kedua.
"Saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang bapak berikan."
"Pak, kalau begitu saya pamit," ujar Rahayu undur diri.
"Saya juga pamit undur diri, pak," ujar Rania seraya bersiap untuk begitu.
"Siapa yang menyuruhmu pergi? Kamu tetap tinggal disini. Tanpa bantahan!" tegas Khanif.
__ADS_1
"Ka ... kalau begitu saya pamit, pak." ujar Lisa kemudian.
Kini tinggallah Khanif dan Rania disana. Rania tiba-tiba merasa canggung berada didalam ruangan hanya berdua dengan Khanif. Sedangkan Khanif yang dapat mengetahui kalau Rania sedang canggung kepadanya, akhirnya pergi kearah pintu keluar untuk membuka sedikit pintu ruangannya.
Khanif lalu kembali lagi ke meja kerjanya. Disana ia kembali menekan tombol interkom-nya untuk menghubungi Lisa agar membawakan mereka teh.
"Tidak usah, pak. Saya mau kembali bekerja," tolak Rania.
"Saya ingin minum teh. Kebetulan kamu disini, jadi tinggalah disini sebentar untuk menemani saya menikmatinya."
Rania mengangguk. Kalau tidak lupa, ini adalah permintaan Khanif yang pertama berbicara dengan tulus padanya. Rania tersentuh. Namun tiba-tiba saja ia menggelengkan kepalanya mencoba menepis rasa terpesonanya itu.
"Kamu kenapa?" tanya Khanif.
"Tidak, saya tidak apa-apa."
Tidak lama kemudian, Lisa membawakan pesanan Khanif. Ia masih kesal atas kejadian tadi, namun ia harus menutupi rasa kesalnya itu karena ia tidak ingin hanya karena masalah tadi, masa depan yang ia impikan malah hancur.
"Ini pesanan, bapak."
"Terima kasih."
Setelah kepergian Lisa, intercom Khanif berbunyi. Ia lantas berdiri untuk mengangkatnya.
"Ada apa?"
"Ada seorang pria yang ingin bertemu bapak," ujar si resepsionis
"Siapa?"
Saat resepsionis itu kembali menoleh pada orang yang sedang mencari Khanif, dia sudah tidak ada lagi
"Maaf, pak. Sepertinya pria itu sudah pergi."
"Tak apa."
Khanif pun memutus sambungannya. Ia lalu kembali ke dekat Rania.
"Siapa?"
Khanif mengangkat bahunya tidak tahu.
Baru saja seteguk Khanif meminum teh-nya, tiba-tiba pintu kantornya terbuka menampilkan sosok pria yang marah akan Khanif. Sedangkan Lisa tertunduk karena tidak bisa menghalau pria yang tiba-tiba menerobos masuk ini.
"Maaf pak, saya tidak bisa ...."
"Tak apa. Kamu boleh pergi."
Baru saja Khanif hendak berbicara, lelaki itu dengan gerakan yang cepat sudah mencengkeram kemeja Khanif. Rania yang melihatnya pun merasa khawatir.
...To be continued ...
__ADS_1
Semoga saja yang like, vote dan komen diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki, Aamiin 🤲
...By Siska C...