
Minggu baru untuk vote dimulai lagi, beri dukungan pada cerita ini dengan vote kalian ya😉
Selamat Membaca 🤗
...***...
"Lalu berita baik satunya apa?"
Dian melihat Rania dengan pandangan tersenyum nan penuh misterius.
"Udah, jangan sok misterius gitu," ujar Rania membuat Dian memanyunkan bibirnya.
"Kamu tau, ternyata pak Khanif sengaja menjadikan Farah sebagai sekretarisnya untuk menjebaknya atau lebih tepatnya menangkap basah Farah dalam membantu pacarnya untuk mendapatkan proposal bisnis pak Khanif. Kamu pasti tau bagaimana pentingnya sebuah proposal yang akan dipersentasekan di depan sebuah pemilik perusahaan. Nah, begitu pula juga pentingnya proposal itu untuk perusahaan teh hujo," jelas Dian.
"Kamu tau semuanya dari Dilla?" tanya Rania.
"Ya, ngga juga sih. Aku tidak sengaja mendengarnya dari teman-teman yang lain."
"Berarti ucapanmu barusan belum pasti."
"Gimana kalau udah pasti."
Rania diam. Bagaimana kalau ucapan Dian barusan benar? Apa Khanif akan melakukan pemilihan sekretaris ulang atau Khanif sudah memiliki pilihannya sendiri?
Ah, Rania tidak tau. Hal itu membuatnya kian pusing saja.
"Semoga kamu yang jadi sekretaris pilihan pak Khanif."
"Kamu ada-ada saja."
"Eh, kamu ngga boleh pesimis gitu dong."
"Ya, ya. Baiklah. Aku mau lanjut kerja dulu."
Rania lantas berdiri, lalu sedetik kemudian ia melangkahkan kaki menuju ruangan keuangan.
"Eh, tunggu dong. Aku harus diberi apresiasi loh, karena udah beri kamu berita baik ini."
Rania menoleh. "Kamu mau makan apa?"
Dian lantas mempercepat langkah kakinya menyusul Rania.
"Aku mau makan banyak."
Mereka pun sama-sama terkekeh pelan.
...***...
Akhirnya lokakarya yang divisi keuangan tunggu-tunggu kini sudah didepan mata.
Rania yang memang ikut di mobil David kini sudah tidak khawatir lagi dengan pakaian yang ingin dibawanya karena sudah jauh hari Rania telah menyiapkan semuanya lebih awal. Agar saat David dan Dian datang menjemputnya nanti, ia tinggal memasukkan kopernya saja di bagasi mobil tanpa menyuruh mereka menunggu lama lagi.
Setelah ia sendiri telah siap, ia pun membawa kopernya keluar kamar untuk dibawanya ke ruang tamu, seraya menunggu kedatangan David dan Dian.
Lama menunggu, akhirnya pasangan sejoli itu menujukkan batang hidung mereka.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ujar Dian didepan pintu rumah Rania.
"Wa'alaikumsalam. Di. Masuk dulu gih, aku mau minta izin sama mama dulu."
Dian mengangguk. Ia dan David pun masuk ke dalam rumah Rania, lalu mendudukkan diri mereka di sofa.
Sedang Rania pergi ke kamar sang mama untuk meminta izin.
"Ma, Rania udah mau berangkat, ma," ujar Rania.
Mama yang sedang duduk santai tempat tidurnya langsung saja menghampiri putri semata wayangnya seraya berkata, "kamu hati-hati dijalan, ya sayang."
"Iya, ma."
"Sini biar mama antar kamu kedepan."
Anak dan mama itu pun berlalu pergi keruangan tamu, dimana David dan Dian sudah duduk santai disana.
"Assalamualaikum, tan," salam Dian seraya menghampiri mama, lalu mengambil tangan mama untuk disalaminya.
"Wa'alaikumsalam, nak."
David yang baru pertama kali bertemu dengan mama Rania secara langsung pun ikut memberi salam pada mama dan menyalami tangan mama seperti yang Dian lakukan barusan.
"Kalian semua hati-hati ya."
"Iya, tan," ujar Dian dan David hampir bersamaan.
"Kalau begitu Rania pamit, ma. Assalamualaikum."
Rania pun mulai menarik kopernya untuk keluar rumah diikuti oleh Dian dan David di belakangnya. Namun belum juga beberapa langkah ia berjalan, sudah lebih dahulu David mengambil koper dari tangan Rania.
"Biar aku saja," ujar David.
"Eh, ngga usah, Dav. Koperku ringan kok."
"Udah, Ra. Biarin aja," ujar Dian.
"Terima kasih," ujar Rania agak canggung pada David
"Sama-sama. Kamu ngga perlu sungkan sama aku. Karena kamu adalah sahabatnya Dian, maka aku juga sahabat kamu."
Rania dan Dian pun sama-sama tersenyum mendengar perkataan David barusan.
"Kamu ngga ada kelupaan barang lagi kan?" tanya David membuat Rania menggelengkan kepalanya pelan sesaat
"Baiklah. Kalau begitu kita berangkat sekarang."
"Hem. Ayo."
Setelah memasukkan koper Rania dalam bagasi, Rania, Dian dan David pun masuk ke dalam mobil. Sesaat semuanya siap, David pun melajukan mobilnya menuju kantor - tempat mereka akan berkumpul sebelum berangkat ke kota B untuk memulai lokakarya.
Perjalanan yang tidak membosankan karena percakapan mereka membuat mereka tidak merasa lama selama perjalanan menuju kantor.
Bahkan Rania dan Dian hanya fokus bercakap tidak sadar kalau mobil yang dibawa oleh David sudah memasuki area kantor.
__ADS_1
Sesampainya mereka semua di pelantaran kantor, mereka lantas keluar dari mobil. Bergabung dengan teman se divisi untuk menunggu teman-teman mereka yang belum juga tiba.
"Pagi mbak May," sapa Rania. Begitu pula dengan Dian dan David.
"Pagi. Kalian mau naik mobil pribadi ke lokasi lokakarya?" tanya May saat ia tidak sengaja melihat ketiga anggota divisi-nya keluar dari mobil yang sama.
"Iya, mbak," jawab Dian.
"Kenapa ngga naik bis aja bareng kami. Seru loh kalau bareng-bareng," ujar May yang sebenarnya bermaksud untuk membujuk mereka bertiga untuk naik bis bersama anggota divisi lainnya. "Kalau mau, kamu bisa meninggalkan mobil kamu disini, David."
"Gimana ya, mbak," katanya seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sedikit pun.
Dian yang memang ingin merasakan naik mobil pribadi pun secepat mungkin menjawab perkataan May.
"Kami telah mempunyai rencana, mbak. Makanya kami lebih memilih naik mobil David."
"Kalian ini para perempuan sukanya punya rencana sendiri. Heran mbak dibuatnya," ujar May yang sebenarnya hanya bercanda.
Dian tersenyum. "Kalau mbak mau, mbak bisa ikut sama kita."
"Tidak terima kasih. Mbak ngga mau gangguin kalian. Nanti mbak malah dikacangin lagi," ujar May lagi-lagi bercanda hingga membuat Rania dan David yang tadinya tegang kini mulai tersenyum.
"Mbak ada-ada saja," ujar Dian.
Tidak lama setelah percakapan singkat itu, anggota divisi keuangan yang tadinya masih di tunggu pun kini akhirnya telah lengkap semua.
"Kita telah hadir semua kecuali yang telah izin. Jadi kita akan berangkat sekarang. Yang masih merasa ada barangnya kelupaan, kalian ingat-ingat dulu sebelum bis ini jalan," ujar May.
"Udah ngga ada lagi, mbak," ujar salah seorang wanita yang sudah duduk manis di dalam bis.
"Baiklah. Kita berangkat sekarang."
"Jalan!" seru semua karyawan di divisi keuangan dengan suara yang terdengar bersemangat dan riang.
Baik bis maupun mobil David, kini telah berjalan menuju lokasi lokakarya yang telah di tentukan di kota B. Kota yang terkenal dengan pandangannya di pegunungan yang indah dan suasana yang asri.
Dalam perjalanan itu, karyawan yang ada didalam bis mulai bernyanyi riang sambil bertepuk tangan. Berbeda dengan David, Dian dan Rania yang hanya bercakap santai selama perjalanan itu.
Perjalanan yang memang hanya memakan waktu kurang lebih empat jam membuat mereka semua tidak merasa lelah selama perjalanan.
Bahkan sangking bersemangatnya, panitia lokakarya yang sudah lebih dahulu hadir sehari sebelumnya, mengusulkan untuk mengadakan perlombaan pencarian bendera kecil yang sudah di ikatan ke ranting-ranting pohon.
Dalam perlombaan pencarian bendera kecil yang akan dilangsungkan pada sore harinya, anggota divisi keuangan yang terdiri dari 10 orang lebih membuat kelompok menjadi 3 orang dalam satu kelompok.
Rania, Dian dan David berada didalam kelompok yang sama. Mereka tentu saja senang dan berharap bisa memenangkan perlombaan ini agar mereka bisa mendapat hadiah yang telah dipersiapkan sebelumnya.
"Baiklah. Kalian istirahat saja dulu untuk melepas penat kalian, karena sore nanti, kita akan mengadakan perlombaan dalam pencarian bendera kecil yang sebelumnya panitia lokakarya telah menempatkannya diranting-ranting pohon."
"Siap, mbak," ujar hampir semua karyawan divisi keuangan.
Satu persatu dari mereka pun mulai bubar. Ada yang masuk ke dalam vila, ada bersantai dibawah pohon yang rindang depan vila dan ada juga yang mulai merencanakan rencana yang telah disusunnya sejak lama.
...To be continued ...
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
__ADS_1
...By Siska C ...