Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 89. Sarapan Bersama


__ADS_3

"Sekarang coba jelaskan, mengapa kamu bisa ada dikantor ini pagi-pagi sekali. Bahkan sampai berada di rooftop kantor?"


Tiba-tiba saja Rania menjadi gugup melihat ekspresi dan nada bicara Khanif yang terdengar serius.


"Sa ... saya ...."


"Kenapa kamu gugup?" tanya Khanif semakin memicingkan matanya dan ikut mendekati Rania.


"Karena bapak bertanya seperti seseorang yang bertanya pada maling yang tertangkap." Rania lalu beralih melihat sebuah kotak makanan yang dibawa oleh Khanif. "Emm, sepertinya bapak datang di waktu yang tepat."


"Maksud kamu?" tanya Khanif pura-pura tidak tahu. Padahal ia tahu betul Rania bermaksud seperti apa.


"Saya belum sarapan dan bapak sepertinya membawa sarapan dari rumah karena buru-buru ke kantor untuk menikmati pagi hari di rooftop kantor ini, saya benarkan?" 


"Meski saya membawa sarapan dari rumah, saya tidak ingin membagi sarapan saya dengan kamu."


"Tentu saja harus, tante Adelia tadi menelepon saya sebelumya. Kalau sarapan untuk saya, dititipkan sama bapak."


"Ini pasti alasan mama membuatkan aku banyak sarapan," ujar Khanif dalam hati.


Rania melihat Khanif dengan pandangan aneh. Pasalnya, Khanif tidak memberikan ia respon apapun setelah mengatakan yang sebenarnya. Memang jauh sebelumnya, saat Rania dalam perjalanan ke kantor, ia mendapat telepon dari mama Khanif. Beliau mengatakan kalau ia dibuatkan sarapan olehnya. Meski hanya beberapa lembar roti saja.


Mengetahui hal itu, membuat Rania sangat senang karena ia memang tidak sarapan dirumah sebelumnya. Tentu saja hal itu ia anggap anugerah. Apalagi perutnya yang kosong pagi ini sebab ia ingin sekali melihat matahari terbit di rooftop kantor. Meski keadaan kantor yang masih terbilang sepi, tapi Rania tidak takut sedikit pun. Ia merasa seperti telah terbiasa dengan kantor ini hingga ketakutan pun menjauh darinya.


"Baiklah, saya sudah sangat lapar. Kita duduk ditempat kemarin," ajak Khanif.


Rania mengikuti langkah Khanif ke tempat mereka makan kemarin siang. Sampainya disana, Rania lalu mengambil kotak sarapan dari tangan Khanif dan mulai membukanya.


"Sepertinya tante tahu kesukaan saya," ujarnya saat melihat menu sarapan pagi ini untuk mereka.

__ADS_1


Khanif tersenyum. Padahal, roti dengan selai kacang adalah kesukaan Khanif. Bahkan tiap sarapan, Khanif tidak pernah ketinggalan untuk memakan makan kesukaannya itu. Rania yang tidak sengaja melihat Khanif, jadi merasa heran saat melihat ke arahnya sambil tersenyum.


"Kenapa bapak tersenyum."


"Memangnya saya tidak boleh tersenyum?" tanya Khanif datar. Rania diam. Sepertinya Khanif akan kembali ke mode asalnya, yakni membuat Rania kesal.


"Lupakan hal yang tadi. Lebih baik kita segera memakan sarapan ini," ujar Rania sambil menatap roti yang terlihat begitu menggugah selera.


"Hem."


Mereka pun sama-sama menikmati sarapan mereka dengan tenang. Hingga tiba-tiba Rania teringat kalau susu dan air mineral yang sempat dibelinya tadi saat ke kantor masih berada ditempatnya berdiri tadi. Rania pun beranjak dari tempat duduknya lalu pergi mengambil minuman untuk mereka. Setelah mengambilnya, Rania kembali duduk. Ia lalu memberikan Khanif air mineral, sedang untuk dirinya sebuah kotak susu full cream.


"Ini untuk bapak. Saya tidak tahu bapak suka minuman apa, jadi saya belikan saja air mineral."


"Terima kasih."


Para karyawan yang lain pun mulai berdatangan. Basement kantor kini hampir dipenuhi oleh kendaraan roda empat dan dua dari para karyawan. Namun ada pula karyawan yang memilih menaiki bus agar sedikit terhindar dari kemacetan saat jam kantor akan mulai.


Para karyawan lainnya pun sudah siap-siap di meja kerja masing-masing. Namun ada pula yang ke pantry untuk membuat kopi atau pun teh untuk menemani pagi mereka. Diantara itu, ada juga karyawan yang membawa sarapan mereka ke kantor. Mungkin mereka membawanya agar tidak terlambat ke kantor akibat mendapat kemacetan ataupun karena lebih senang membawa sarapan ke kantor. 


Meski begitu, jam kantor sebenarnya masih ada lima belas menit lagi. Tapi sebagai karyawan yang teladan, mereka lebih baik datang lebih awal dari pada nanti telat datang ke kantor yang pada akhirnya akan berimbas pada karir mereka.


Jauh dari mereka, Rania dan Khanif masih saja duduk-duduk sejenak agar sarapan yang baru saja mereka habiskan bisa dicerna dengan baik oleh sistem pencernaan mereka. Terlebih itu, tanpa saling mengetahui, sebenarnya mereka tidak ingin suasana seperti cepat berlalu. Sungguh, keadaan seperti ini sangat disukai oleh Rania. Apalagi Khanif yang ingin lebih mengenal Rania untuk membuktikan sesuatu yang ingin diketahuinya.


Namun sepertinya waktu berlalu dengan cepat. Khanif tidak mungkin hanya terus saja duduk dan membuktikan sesuatu kalau ternyata ia adalah seorang atasan dikantornya yang bertanggung jawab atas seluruh karyawan dikantornya.


Tangan Khanif terulur untuk mengambil kotak sarapan yang telah kosong. Rania yang melihatnya pun tahu kalau mereka harus kembali ke kesibukan mereka masing-masing.


"Terima kasih atas sarapan paginya," ujar Rania tampak tersenyum. Ia kemudian melanjutkan. " Oh, iya. Tolong sampaikan terima kasih ku pada tante karena sarapannya pagi ini."

__ADS_1


"Telepon saja langsung."


"Tapi kalau bapak yang sampaikan, saya rasa itu lebih sopan."


Khanif berdiri. "Baiklah. Nanti saya sampaikan kalau tidak lupa." Khanif pun beranjak dari sana meninggalkan Rania yang tercengang dengan perkataannya.


"Pak Khanif," teriak Rania karena Khanif yang mulai menjauh. Khanif berhenti. Lalu Rania mendatanginya. "Bukannya perkataan saya adalah hal yang mudah? Kalau bapak tidak mau menolong saya dalam menyampaikan rasa terima kasih saya, kenapa bapak tidak menolaknya saja. Jadi bapak tidak usah bilang begitu." Rania mendenggus dan mengerucutkan bibirnya kemudian.


"Saya mengatakannya karena ada kemungkinan saya tidak terus ke rumah melainkan ke apartemen saya."


Rania tercengang mendengar penuturan Khanif. Ia merasa telah menuduh Khanif yang tidak-tidak. Ia pun kemudian mengatakan rasa penyesalannya. "Maaf, saya kira bapak tidak mau saja menyampaikan rasa terima kasih saya."


"Tak apa. Baiklah kalau tidak ada lagi yang ingin kamu katakan, saya pergi."


"Eh, tunggu," ujar Rania tanpa sadar memegang lengan Khanif.


Khanif menoleh, namun pandangannya tidak tertuju pada wajah Rania yang tengah melihatnya dengan pandangan serius, melainkan Khanif tertuju pada tangan Rania dengan jari-jarinya yang lentik tengah memegang lengannya.


Rania mengikuti arah pandang Khanif. Ia kemudian sadar kalau lagi-lagi tangannya memegang lengan Khanif tanpa sadar.


"Maaf, saya spontan saja," ujarnya seraya melepaskan tangannya dari Khanif.


"Tak apa. Apa yang ingin kamu katakan?"


...To be continued ...


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲


...By Siska C ...

__ADS_1


__ADS_2