
"Oh iya. Ada apa kamu datang kemari?"
"Aku ...," ujar Tasya ragu-ragu untuk mengatakannya pada Khanif karena Tasya takut kalau Khanif tidak akan suka dengan perkataannya itu.
"Katakanlah," ujar Khanif masih menunggu perkataan Tasya yang tak kunjung ia dengar.
"Aku ... aku dengar vila-mu yang ada di kota M akan segera kamu resmikan."
"Lalu," kata Khanif yang kini telah menopang dagunya dengan kedua tangannya.
"Aku ingin ikut dalam peresmian itu."
"Infomasi semacam ini belum banyak orang yang mengetahuinya. Bahkan sebagianya karyawan disini," papar Khanif dengan melihat Tasya dengan pandangan menyelidiki. Pasalnya, Tasya bukanlah salah seorang dari karyawannya atau bisa dikatakan, Tasya adalah orang luar. Namun, Tasya yang notebenenya bukan siapa-siapa disini, malah tahu informasi sepenting ini.
"Siapa yang memberitahumu?" tanya Khanif kemudian. Ia tidak ingin lagi berbasa-basi karena pekerjannya saat ini lebih mendesak ketimbang mencoba mengorek informasi lebih jauh dari Tasya.
"Emm, itu ... itu ... paman Gunawan. Beberapa hari yang lalu, paman bertemu dengan papa aku, lalu paman mengundang kami untuk ikut dalam acara peresmian vila-mu."
"Paman Gunawan ternyata. Kalau kamu mau, kamu bisa ikut, lewat jalur dia tapinya. Karena aku telah mengundang beberapa teman sebelumnya."
"Tak apa," ujar Tasya tersenyum lebar. Ia tidak menyangka Khanif memberinya izin untuk ikut dengannya ke kota M semudah itu meski lewat jalur paman Gunawan. Tak apa yang penting ia bisa selangkah lebih dekat dengan Khanif.
"Baiklah, jika tidak ada lagi yang ingin kamu katakan, aku akan bekerja kembali."
"Iya, kalau begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa," pamit Tasya tersenyum lebar.
Seperginya Tasya dari ruangan Khanif, lagi-lagi Khanif menghela napas panjang nan lelah. Awalnya ia ingin mengatakan pada Tasya kalau Paman Gunawan tidak lagi mempunyai hak di vila-nya itu setelah paman membuat kerugian di proyeknya.
Namun untuk menjaga nama baik pamannya dan nama baik keluarga, Khanif tidak mengatakan hal tersebut. Ia malah dengan santainya mengajak Tasya turut ikut serta dalam peresmian vila-nya.
Baru saja beberapa detik pintu ruangnnya tertutup, kini pintu itu kembali terbuka. Khanif dengan sangat jelas melihat Tasya kembali dan sesosok wanita yang pagi tadi telah membantunya.
Ya, dia adalah Rania. Tasya dan Rania yang tengah membawa sebuah dokumen pun melangkahkan kakinya mendekat ke arah Khanif.
"Ada apa lagi?" tanya Khanif tertuju pada Tasya.
"Aku dengar-dengar salah satu restoranmu tengah mengadakan event."
"Hem, lalu?"
__ADS_1
"Aku ingin ke sana bersamamu, bagaimana?"
"Maaf, aku sibuk. Kamu lihat sendiri kan," ujar Khanif mencoba membuat Tasya mengerti dengan melihat tumpukan dokumen di mejanya. "Lihat, Rania bahkan telah menbawakanku dokumen lagi, padahal dokumen sebelumnya belum selesai aku lihat," beber Khanif sengaja.
"Kita bisa pergi malam, kita makan malam disana saja," bujuknya.
"Kamu kesana karena ingin mendapatkan tiket nontonnya, bukan?"
Tasya menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Khanif.
"Kalau hanya itu, kamu bisa membelinya saat di bioskop nanti," ujar Khanif membuat Rania hampir saja kelepasan tertawa.
"Tapi aku ingin kesana sama kamu. Lagi pula akhir-akhir ini kamu sibuk sekali sampai tidak ada waktu denganku walau sekedar makan malam saja."
"Aku sibuk, Tasya. Aku tidak punya waktu untuk mengurusi hal-hal semacam itu."
Tasya kecewa, ia sebenarnya ingin menunjukkan pada Rania kalau hubungannya dengan Khanif sudah lebih jauh dari sebelumnya. Tapi apa ini? Khanif malah mematahkan rasa percaya dirinya tepat dihadapan Rania. Sungguh, Tasya tidak menyangka hal itu dapat terjadi.
Rania yang dari tadi diam dengan terus mencoba menahan tawanya pun, kini sengaja berdehem agar mereka tahu kalau dirinya sudah dari tadi melihat dan mendengar percakapan mereka yang kemungkinan belum selesai sampai beberapa menit kemudian karena tidak ada seorang pun yang mau mengalah. Apalagi Tasya yang terus saja memaksa kehendaknya sendiri.
Tahu kalau Rania sudah dari tadi memperhatikan mereka, Khanif lalu beralih melihatnya dan kemudian mengatakan, "simpan saja di meja. Kalau tidak ada keperluan lagi, kamu bisa pergi."
"Tidak ada lagi, pak." Rania pun mengikuti ucapan Khanif. Ia berjalan mendekati Khanif. Setelah sampai didekatnya, Rania menaruh dokumen itu di meja kerjanya.
"Hem."
Rania pun berbalik, ia melihat Tasya tengah melihatnya juga. Ia lantas tersenyum padanya. Begitu pula dengan Tasya yang membalas senyuman Rania.
Namun, senyuman yang Tasya berikan, bukanlah sebuah senyuman senang. Tapi malah sebaliknya. Ia seakan sengaja membalas senyuman Rania dengan sebuah senyuman singkat.
Rania pun kembali melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Khanif. Belum juga Rania sampai ke depan pintu, Tasya yang sudah kesal pun sengaja mengatakan kata-kata yang membuat Rania tanpa sadar menghentikan langkah kakinya.
"Tapi tante Dahlia sudah memesankan kita tempat makan disana," dustanya.
Khanif melirik Rania sekilas, sebelum ia melihat Tasya yang terus saja mencoba membujuknya. "Kamu batalkan saja."
Rania menoleh sekilas. Ia tersenyum lucu saat mendengarnya. Entahlah mengapa ia merasa senang Khanif menolak ajakan Tasya, padahal tadi Tasya sudah mengatakan kalau tante Dahlia, yakni mama Khanif telah memesankan mereka tempat makan di restoran yang telah mereka datangi tadi.
"Rania!" panggil Khanif membuat Rania refleks membalikkan badannya.
__ADS_1
Mata tajam nan terarah padanya itu, kini melihatnya dengan pandangan meminta arti Rania yang masih terus saja di ruangnnya
"Sa ... saya baru mau keluar pak," kata Rania canggung.
Rania pun berlalu dari sana secepat mungkin. Ia tidak ingin membuat Khanif beranggapan yang tidak baik padanya, sebab ia tak kunjung berlalu dari ruangannya.
"Huft." Rania menghela napas panjang seraya mengelus-elus dadanya yang bergemuruh hebat. "Akhirnya aku terbebas dari ruangan dingin itu!" katanya yang ia maksud pada pembicaraan Khanif dan Tasya yang terkesan tidak sejalan.
Tidak mau mengambil pusing lagi, Rania segera bergegas kembali ke ruangannya. Rania yang kini sudah bisa bernafas lega berbanding terbalik dengan keadaan Khanif yang sudah mencoba beberapa menolak ajakan Tasya.
Bahkan sangat inginnya Tasya mengajak Khanif, ia bahkan mengambil tindakan yang tidak di duga oleh Khanif dengan menelepon mama Dahlia tepat dihadapannya agar Khanif menerima ajakan dirinya.
"Assalamualaikum, tan." ujar Tasya saat mama Dahlia sudah menerima telponnya.
"Wa'alaikumussalam, nak Tasya. Ada apa?"
"Emm ini tan. Kemungkinan Khanif akan pulang telat karena Tasya berniat mau makan malam di luar bersama Khanif."
Mendengarnya, Khanif tidak menyangka Tasya akan seserius itu dalam mengajaknya keluar.
"Silakan saja, nak Tasya, tapi kalau anak tante ngga sibuk, ya. Tau sendirikan Khanif gimana," kata mama Dahlia diseberang sana.
"Emm ... iya, tan. Kalau gitu Tasya tutup telponnya ya."
"Ya. Kalian jangan pulang kemalaman," pesan mama.
"Siap, tan. Assalamualaikum," salam Tasya.
"Wa'alaikumussalam."
"Tuh'kan. Mama kamu aja izinkan kita pergi," ujar Tasya tersenyum seraya memasukkan ponselnya didalam tas selempangnya.
"Apa yang kamu lakukan," tegur Khanif setelah Tasya selesai menelepon mama Dahlia. "Apa kamu tidak punya rasa malu?" seru Khanif. "Kamu itu seorang perempuan. Harusnya kamu bisa menjaga dirimu dari hal seperti ini!"
"Aku melakukannya karena aku percaya padamu, apakah itu salah?" tantangan Tasya. "O ... atau jangan-jangan kamu sudah terpikat pada wanita sok baik itu?" cemooh Tasya.
"Tasya! Jaga ucapanmu!" seru Khanif tanpa sadar berdiri dengan tangan yang ia gertakkan ke meja.
...To be continued....
__ADS_1
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
...By Siska C...