Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 145. Keseriusan Khanif


__ADS_3

"Kenapa kamu pergi tidak bilang-bilang?" tanya Khanif membuat Rania terkejut.


Rania yang memang sedang membelakangi Khanif sontak saja berdiri terpaku di tempatnya.


"Aduh!" Ia menggerutu dalam hati.


Lalu secara perlahan-lahan Rania pun membalikkan badannya.


"Pak Khanif," ujarnya tersenyum tanpa dosa dengan memperlihatkan gigi seri-nya yang bagus.


"Kenapa kamu pergi tidak bilang-bilang?" ulang Khanif.


"Oh itu ... saya tadi ingin memberitahu bapak, tapi melihat bapak terlalu sibuk. Jadinya, saya pergi saja. Lagi pula saya sedang ada keperluan mendadak tadi. Untuk itu, saya meminta tolong pada Lisa untuk menggantikan saya, pak."


"Alasan yang masuk akal," ujar Khanif seraya mengangguk-anggukkan kepalanya pelan hingga membuat Rania cemberut. "Baiklah. Sekarang bantu saya untuk memberikan buah ini pada juru masak di vila." Khanif lalu mengulurkan tangannya hendak memberikan Rania keranjang buah stroberi.


"Iya, pak." Rania mengambil keranjang buah itu, lalu bergegas pergi dari hadapan Khanif.


Dalam perjalanan, Rania menggerutuki kecerobohannya yang berada di luar vila. Jika saja ia sedikit lebih lama didalam kamar, bukan tidak mungkin ia tidak akan bertemu dengan Khanif dan tidak akan berakhir dengan bibir yang mengerucut.


Heem, sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur.


Setelah memberikan sekeranjang buah stroberi pada koki vila, Rania lantas pergi kembali ke taman depan vila untuk bergabung dengan semua orang yang sedang bercakap-cakap santai disana.


Sesampainya Rania di sana, ia tidak mendapati kursi yang masih kosong, kecuali kursi di samping kiri Khanif.


Ingin mundur dan menghindar, sepertinya ia tidak akan sempat lagi. Melihat jika hampir semua orang melihat dirinya dan melambai-lambaikan tangan padanya seperti memanggil dirinya untuk segera bergabung dengan mereka semua.


Mau tidak mau ia tetap melangkahkan kakinya mendekati keluarga dan teman-teman kerja yang belum pulang itu.


"Boleh saya duduk disini, pak?" tanya Rania membuat Khanif menolehkan kepalanya.


"Hem. Duduk saja," jawabnya singkat.


"Kenapa kamu lama sekali?" tanya Khanif sedikit berisik setelah Rania duduk disampingnya.


"Bukannya bapak menyuruh saya membawa buah itu pada koki didapur?"


"Tapi tidak selama ini juga atau kamu sengaja menghindari saya, ya?" ujar Khanif lagi-lagi berbicara pelan.


Mama Adelin yang melihat hal itu sontak saja berkata, "apa yang sedang kalian bicarakan sampai berbisik-bisik seperti itu?"


Rania dan Khanif sontak melihat mama Adelin.


"Pak Khanif menanyakan kabar buah yang habis dipetiknya, tan," kata Rania memberikan Alasan. Mana bisa ia berkata kalau Khanif sedang menunggunya! Bisa-bisa semua orang disini menatapnya dengan pandangan horor dan bukan tidak mungkin akan menuntut jawaban.


"Emm, gitu," respon mama cepat. "Anak ini ada-ada saja. Mana ada buah yang baru di bawa ke dapur, lalu baru beberapa detik sudah jadi cemilan dan minuman?" ujar mama membuat Rania terkekeh pelan.


Khanif yang salah tingkah pun tidak dapat berkata apa-apa.

__ADS_1


Hingga ada seseorang yang tiba-tiba berceletuk mencairkan suasana kembali.


"Tidak terasa ya, besok kita udah pulang."


"Iya, kamu benar. Padahal baru kemarin kita datang ke sini. Eh, besok harus balik lagi," jawab salah seorang temannya lagi.


"Kalau kalian mau, kalian bisa tinggal, tapi ...," canda Khanif sengaja menggantung perkataannya.


Tau apa ingin dikatakan oleh Khanif, cepat-cepat salah seorang dari karyawannya berkata, "meski disini enak, tapi lebih enak lagi kalau kami bekerja."


Semua yang ada disana pun sontak tertawa geli. Tidak ketinggalan Rania ikut terkekeh mendengar perkataan salah seorang teman kerjanya.


Mereka semua pun lanjut bercakap-cakap. Hingga beberapa menit kemudian, hasil petikan mereka telah jadi.


Cemilan dan jus yang terbuat dari buah stroberi kini telah berada didepan mereka. Satu persatu dari mereka pun mengambil cemilan dan jus untuk dicicipinya segera.


Saat Rania hendak mengambil segelas jus yang ada di depan Khanif, Khanif sudah lebih dahulu mengambilkannya untuk Rania.


"Ini," ujar Khanif seraya memberikannya pada Rania yang terlihat canggung.


Bagaimana tidak canggung, saat hampir semua mata yang ada disana tertuju padanya.


"Terima kasih, pak."


"Sama-sama. Kamu mau apalagi? Biar saya ambilkan."


Rania dengan tersenyum simpul menggelengkan kepalanya pelan. Sepertinya ia harus menjauh dari Khanif sebelum mereka semua salah paham.


Namun tindakan Rania yang sengaja menjauh malah menjadi bumerang baginya saat ini.


Bagaimana tidak, Khanif malah ikut-ikutan berdiri dan mengikuti langkah kaki Rania yang mulai menjauh.


"Kamu mau kemana?" tanya Khanif membuat Rania terkejut.


"Sa ... saya mau mengambil cemilan lagi."


Khanif mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu kemudian berkata, "kalau begitu, saya temani."


"Eh, tidak usah pak. Saya bisa sendiri."


"Tak apa, ayo!"


Rania kian menggerutuki tindakannya. Jika saja ia hanya duduk diam menikmati sajian didepannya, pastinya ia tidak akan berjalan berduaan dengan Khanif saat ini. Dan ... pastinya juga, ia tidak akan mendapat tatapan jail dan tidak suka dari sebagian teman kerjanya.


***


Keanehan Khanif masih berlanjut pada keesokan harinya. Bahkan ini terlihat lebih parah.


Bagaimana tidak, Rania dengan jelas melihat tiket pesawat Davina yang memperlihatkan kalau mereka akan berdekatan duduk saat di pesawat nanti.

__ADS_1


Tapi ....


Tapi kenyataannya malah berbeda. Terlihat dari Khanif lah yang duduk disampingnya saat ini.


"Kenapa malah bapak yang duduk disini?"


"Oh, itu. Saya sengaja tukaran duduk dengan Davina karena saya tidak suka duduk jika tidak didekat jendela."


"Alasan macam apa itu?" tanya Rania tidak percaya.


"Pertanyaan macam apa itu?" tanya Khanif balik dengan senyuman jahil tercetak jelas diwajahnya.


Rania menghela napas panjang. Ia tidak habis pikir dengan alasan Khanif. Bisa saja kan Khanif bertukaran tempat dengan salah satu karyawannya yang duduk didekat jendela juga. Kenapa harus duduk disampingnya!


"Saya harap, selama perjalanan ini, bapak mau bersahabat," ujar Rania bermaksud pada Khanif yang tidak akan jahil padanya.


"Emm, tergantung sih!"


Rania melihat Khanif tajam nan pandangan kesal.


"Ya ... ya ... baiklah," ujar Khanif.


Khanif pun mulai menutup matanya. Pergi ke alam mimpi yang mampu membuat dirinya merasa tenang dan damai.


***


Entah sudah berapa lama Khanif tertidur saat ia merasakan pengangan kuat di lengannya. Khanif kira pegangan itu akan melembut seiring berlalunya waktu, namun perkiraan Khanif salah.


Ia Lalu dengan sayup-sayup mulai membuka matanya dengan perlahan. Saat ia melihat ke arah kanannya, ia mengernyit heran saat melihat tangan Rania sedang memegang lengannya.


Ah, tidak. Rania tidak memegang lengannya, melainkan mencengkramnya dengan erat, hingga ia merasa sedikit kesakitan.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Khanif heran membuat Rania menolehkan wajahnya.


Ia pun perlahan-lahan menarik tangannya kembali dari pegangannya di lengan Khanif. Namun baru saja terlepas, guncangan kecil di pesawat kembali membuat Rania mengeratkan pegangannya. Khanif lalu menoleh ke arah jendela - hendak melihat keadaan diluar. Kini ia tau sebab pesawat ini sedikit mengalami guncangan.


"Tak apa. Kamu tenang saja, ini hanya guncangan yang disebabkan oleh hujan yang terjadi diluar sana. Sesaat lagi pasti akan baik-baik saja."


Perkataan Khanif barusan membuat Rania sedikit merasa tenang. Wajah yang sempat memucat pun perlahan-lahan berubah menjadi warna sawo matang. Ia lantas meganggukkan kepalanya pelan.


Sungguh, baru kali ini Rania menaiki pesawat yang mengalami hal seperti ini. Untung saja Khanif berada didekatnya. Kalau tidak, entahlah apa yang akan ia lakukan.


Tapi ....


Jika mengingat beberapa jam sebelumnya, ia merasa bersalah pada Khanif.


...To be continued ...


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲

__ADS_1


...By Siska C ...


__ADS_2