Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 185. Hari Pernikahan Mereka


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu oleh keluarga Khanif dan Rania akhirnya tiba juga. Hari dimana kedua keluarga akan menjalin hubungan kekerabatan karena sebuah pernikahan.


Ya, tepat hari ini adalah hari pernikahan Khanif dan Rania akan dilangsungkan.


Acara akad nikah yang akan diadakan rumah Rania pun kini mulai berdatangan para keluarga dan teman dekat yang ingin menyaksikan prosesi akad itu.


Para keluarga dan teman-teman yang hadir turut berbahagia dengan pernikahan mereka. Hal itu dapat terlihat jelas dengan senyuman yang terbit diwajah mereka.


Berbeda dengan calon pengantin yang masih berada didalam kamarnya - menunggu sosok lelaki bermobil putih yang akan mempersunting dirinya.


Dian dan Bella yang ada disana pun hanya dapat tersenyum lucu melihat teman mereka yang kaku seperti ini.


Hingga Bella yang benar-benar iseng pun kembali menjahili Rania.


"Ehem. Seperitnya keputusanku waktu itu tidak memperjuangkan kak Khanif salah besar deh," ujar Bella membuat Dian maupun Rania menolehkan wajahnya kearahanya.


"Kenapa kamu bilang begitu?" tanya Dian.


"Lihat saja wajah calon pengantin wanita ini, dia terlihat kaku sekali. Ngga mau senyum-senyum sama kita lagi. Padahal kan cuma kita berdua yang ada disini."


"Ah, iya aku baru sadar. Ra, senyum sesekali dong. Jangan tegang-tegang gini. Ntar pak Khanif lari lagi kalau kamu ngga senyumin dia nantinya," canda Dian.


"Aku takut."


"Apa yang kamu takutkan. Disini kan ada kita," ujar Bella.


"Beda tau."


"Kamu takut pak Khanif melihatmu seperti ini?"


Rania lantas mengangguk ragu. Apakah ia ragu akan dilihat berbeda oleh Khanif atau ia ragu dengan status yang akan di sandangnya sebentar lagi, yakni istri dari Muh. Khanifan sya'ban atau biasa ia panggil dengan panggilan Khanif.


Ah, kedua hal itu membuat Rania menjadi takut saja.


"Ra," panggil Dian pelan membuat Rania mengalihkan pandangannya pada Dian.


"Keputusanmu untuk merubah diri udah bulat kah, Ra?" tanya Dian.


"Insya Allah, aku udah siap lahir batin," jawabnya mantap.


"Semoga aja aku bisa mengikuti jejakmu suatu hari nanti," ujar Bella sambil tersenyum.


"Aku juga," balas Dian kemudian.


"Tapi, Ra. Kamu udah mikirin konsekuensinya kan? Banyak loh orang diluaran sana memutuskan untuk berubah, tapi apa. Ujung-ujungnya hanya bisa bertahan seumur jagung saja. Bahkan setelah itu, mereka yang merubah diri lalu kembali ke dirinya semula, akan mendapat banyak cibiran nantinya.


Seperti, 'belum siap toh ternyata, tapi udah sok-soan mau merubah diri'.


'Kalau ngga bisa ya, jangan dipaksa atuh, kan begini jadinya.' dan masih banyak lagi cibiran yang akan diterima oleh orang tadi," Bella.

__ADS_1


"Iya, benar."


"Aku tau kekhawatiran kalian, tapi sungguh. Ini adalah kesadaranku sendiri."


"Baiklah. Aku akan mendukung keputusanmu ini," ujar Dian.


"Aku juga."


Ketiga wanita itu pun sama-sama tersenyum hangat setelahnya.


***


Berbeda dari keadaan ketiga wanita itu, kini Khanif dan keluarganya telah bersiap untuk pergi ke rumah Rania.


Setelah semua anggota keluarga keluarga Khanif masuk ke dalam mobil, secara serentak ke sepuluh mobil itu pun berlalu menuju rumah Rania.


Rumah yang akan menjadi saksi bisu terjalinnya hubungan kekeluargaan antara dua keluarga yang berbeda. Ya, keluarga Khanif dan Rania.


Selama dalam perjalanan itu, jantung Khanif tidak hentinya merasa deg-degan.


Papa yang merasakan kalau Khanif merasa aneh pun, lantas mengatakan beberapa kata-kata yang mungkin bisa membuat Khanif merasa tenang.


"Kamu deg-degan?" tanya papa.


Khanif dengan tersenyum menjawabnya, "iya, pa."


"Jadi cara papa ngatasinnya gimana?"


"Papa memberi sugesti pada diri papa kalau semua akan berjalan lancar dan sesuai rencana. Meski deg-degan semacam itu tidak bisa lepas begitu saja, tapi papa yakin rasa itu perlahan-lahan akan terasa biasa saja."


"Khanif akan mencobanya, pa."


"Hem."


Khanif pun mencoba metode papa dalam memberikan sugesti diri. Ia mensugesti dirinya kalau apa yang akan terjadi dengannya nanti akan berjalan lancar tanpa hambatan.


Ia juga beberapa kali menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan-lahan.


Mama yang tepat ada disamping Khanif pun hanya dapat menganggam tangan sang anak yang masih terasa dingin.


Tentu saja mama terkekeh di buatnya. Ia lalu menepuk-nepuk pelan punggung tangan sang anak.


Setelah lama berkendara, mobil yang membawa rombongan Khanif serta keluarga dan teman-temannya pun akhirnya telah tiba di kediaman calon mempelai wanita.


Semua orang yang ada disana pun tersenyum melihat kedatangan sang calon mempelai laki-laki.


Tidak terkecuali Bella yang kini ikutan heboh karena mengintip dari cela jendela kamar Rania.


"Ra, Ra benar, Ra. Kak Khanif udah datang beserta keluarganya yang lain."

__ADS_1


"Mana, mana," seru Dian penasaran.


"Itu, itu," ujar Bella seraya menunjukkannya pada Dian. "Udah lihat belum?"


"Iya, udah. Pak Khanif gagah banget ya. Sungguh!"


"Ra, kamu mau ikutan lihat juga ngga?"


Rania lantas menggelengkan kepalanya pelan. Ia terlalu malu untuk melihat Khanif saat ini.


"Kenapa kalian malah melihat dari jendela, aja? Bukannya kalian bisa melihatnya dari luar?" ujar Rania membuat dua orang yang asik mengintip itu jadi tersadar.


"Ah, iya. Kenapa juga kita mengintip begini. Yang nikah siapa, yang gintip siapa!" kata Bella sambil menepuk jidatnya.


Sedang Dian hanya tersenyum cengengesan karena tingkah konyol mereka.


"Baiklah, Ra. Kami mau keluar dulu melihat ketampanan kak Khanif yang tiada duanya," katanya sengaja membuat Rania pipi memerah.


"Udah, udah. Kalian cepatlah keluar. Nanti kalau ada informasi penting atau apalah, jangan lupa untuk memberitaukan aku juga."


"Ok, siap bu Khanif," ujar Dian membuat Bella terkikik geli, tidak terkecuali Rania juga.


"Baiklah. Kami pergi dulu. Kalau urusan kami udah selesai, kami akan datang lagi," ujar Bella.


"Iya, iya. Kalian pergilah."


Setelahnya, Dian dan Bella benar-benar keluar dari kamar pengantin - kamar Rania.


Mereka lantas menuju tempat ijab kabul akan diadakan.


Disana, semua terlihat jelas saat Khanif baru saja duduk didepan papa Rania yang akan menikahkan mereka berdua nantinya.


Sungguh, dilihat dari dekat begitu, pesona Khanif kian terlihat saja.


"Jika saja Rania bisa keluar sejenak, pasti Rania tidak akan berkedip melihatnya," pikir Bella dalam hati sambil terkikik geli menyadari pemikiran lucunya.


Khanif yang sudah duduk didepan papa Rania dan dua orang saksi pun hanya mampu tersenyum kecil untuk menetralkan detakan jantungnya.


Biar bagaimana pun, ia tidak ingin ada kesalahan saat ia mengucap kata ijab kabul-nya yang ia praktikkan beberapa kali saat dirumah.


"Baiklah, bisa kita mulai," ujar papa Rudy pada Khanif.


"Bisa," jawabnya mantap tanpa keraguan sedikitpun.


...To be continued...


Semoga yang berikan like, vote dan komen diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah dari Allah, aamiin


...By Siska C...

__ADS_1


__ADS_2