Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 153. Ada Yang Berbeda Dengannya


__ADS_3

Setelah mengetuk pintu dan mendengar seruan masuk dari dalam, Rania pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Khanif.


Namun langkah kaki itu sedikit terhenti saat melihat Khanif tidak sendirian didalam ruangannya.


Melainkanbegitu banyak orang didalam ruangan Khanif dan salah satunya adalah Bella.


"Masuklah," ujar Khanif menyadarkan Rania dari keterkejutannya.


"Iya, pak."


Rania pun kembali melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam ruangan Khanif. Saat ia sudah sampai didekat Khanif, Rania kembali berkata, "dokumen ini mau di simpan dimana pak?"


"Simpan saja di meja kerja saya, tapi kamu jangan pergi dulu karena ada yang ingin saya tanyakan," ujar Khanif membuat Rania mengangguk kecil.


"Rapat kecil ini sudah mau selesai juga. Untuk itu, kamu duduk didepan meja kerja saya dulu," katanya menambahkan.


"Iya, pak," ujar Rania belum menyadari kalau Khanif sudah mulai memakai kata panggilan saya, bukan lagi kata panggilan aku.


Rania pun berjalan ke meja kerja Khanif, lalu mendudukkan dirinya seraya menunggu rapat kecil itu selesai.


Sedang Khanif kembali fokus memberikan arahan pada karyawan yang baru direkrut perusahaan ini. Ia begitu fokus, sampai-sampai ia tidak sedikitpun melihat Rania walau sejenak.


Beberapa menit kemudian, rapat kecil yang berisikan dari beberapa divisi itu pun akhirnya selesai juga.


Bella yang menjadi wakil dari admin perusahaan pun tersenyum kecil pada Rania saat ia hendak keluar dari ruangan Khanif.


Jika Rania bisa menduga, pastinya Bella sangat senang berada didalam ruangan Khanif meski hanya menghadiri rapat kecil saja.


Bagaimana tidak, Bella dapat melihat Khanif dalam waktu yang lama dan lumayan dekat.


"Rania!" panggil Khanif membuat Rania tersentak kaget saat ia sudah ada didepannya - tepatnya sudah duduk di meja kerjanya sendiri.


"Iya, pak."


"Dokumennya," ujarnya seraya mengulurkan tangannya untuk mengambil dokumen keuangan yang masih ada pada Rania.


"Ini, pak." Rania lalu memberikan dokumen keuangan tahun lalu itu pun pada Khanif.


"Kenapa bukan May yang mengantarkannya?" tanya Khanif yang mulai membuka-buka dokumen di tangannya.


"Mbak May lagi sakit, pak."


Khanif mengangguk. "Kalau dia sudah tidak tahan akan sakitnya, katakan padanya kalau dia bisa pulang lebih awal."


"Iya, pak."


Khanif pun kembali sibuk dengan dokumen didepannya tanpa mengetahui kalau Rania sudah beberapa kali mencuri pandang padanya.

__ADS_1


"Buat ulang laporan pada bulan juni dan juli dengan lebih terperinci," ujar Khanif setelah memeriksa semua dokumen keuangan itu.


Khanif heran, Rania tidak memberikan respon pada ucapannya barusan. Ia perlahan mengalihkan pandangannya pada Rania yang masih sibuk melihat dirinya.


"Rania," ujar Khanif membuat Rania lagi-lagi tersadar.


"Iya, pak."


"Katakan pada May kalau dia harus membuat ulang laporan pada bulan juni dan juli dengan lebih terperinci," ulang Khanif.


"Iya, pak."


"Kalau begitu kamu bisa keluar," ujar Khanif.


"Pak ada yang ingin saya katakan," ujar Rania hati-hati dengan sebuah senyuman yang terbit diwajahnya.


"Apa?"


"Saya ingin mengajak bapak untuk makan siang bersama besok. Bapak bisa?"


"Tidak," ujar Khanif cepat, tepat dan singkat. "Kalau tidak ada yang ingin kamu katakan lagi, kamu bisa kembali ke ruanganmu saat ini, karena saya ingin kembali mengerjakan tugas saya," ujar Khanif membuat Rania begitu terkejut hingga senyuman yang ada diwajah Rania perlahan-lahan menghilang.


Ya, Rania tentu saja terkejut karena ia tidak pernah menduga kalau Khanif akan berkata seperti itu padanya.


"Bagaimana dengan lusa?" tanya Rania masih mencoba berusaha.


"Sama saja. Kalau kamu mau, kamu bisa mengajak temanmu yang lain."


"Kalau begitu saya permisi dulu, pak," ujar Rania langsung saja pergi tanpa mendengarkan perkataan Khanif lagi.


Seperginya Rania dari ruangnnya, Khanif menghembuskan nafas panjang nan berat. Ia sebenarnya sangat ingin menerima ajakan Rania untuk makan siang bersama. Namun jika kembali mengingat perkataan Rania beberapa jam yang lalu, membuat Khanif malah menolak ajakan yang tidak pernah terjadi itu.


Menyesal? Tentu saja. Namun ia akan tambah menyesal jika membuat Rania merasa tidak nyaman saat berada didekatnya. Apalagi jika sampai menyusahkan Rania dengan berjalan sembunyi-sembunyi hanya untuk makan siang dengannya.


"Maaf," katanya pelan.


Tidak jauh beda dengan Khanif, Rania terus-terusan saja bermuka cemberut setelah ia dari ruangan Khanif.


Bahkan Farah yang melihat ekspresi wajah Rania yang begitu terlihat lesu setelah keluar dari ruangan Khanif pun terlihat tersenyum penuh kemenangan.


Ia menduga kalau Rania pasti telah kena marah dari Khanif karena masuk saat rapat kecil masih terus berjalan didalam sana.


"Rania ... Rania," kata Farah dalam hati yang terdengar begitu licik.


Rania yang baru sampai diruangannya pun lantas pergi menemui May. Ia ingin mengatakan perkataan yang Khanif katakan tadi.


Setelah dari sana, lagi-lagi Rania berjalan cepat, tapi kali ini, Rania berjalan cepat agar bisa segera sampai di meja kerjanya sendiri, agar ia bisa mengistirahatkan diri, tubuh dan pikirannya walau sejenak.

__ADS_1


 


"Ra!"


Namun semua impian Rania untuk beristirahat sejenak seketika buyar saat Dian memanggilnya - seperti ingin mengetahui apa yang terjadi didalam ruangan Khanif.


"Hem, kenapa?"


"Bagaimana, kamu berhasil ngajakin pak Khanif untuk makan siang bersama tidak?"


Rania menggelengkan kepalanya tanda kalau ajakan makan siangnya sudah ditolak oleh Khanif.


"Loh! Kok bisa?"


"Pak Khanif sedang banyak kerjaan, jadi pak Khanif menolaknya."


"Kenapa kamu ngga giat lagi untuk membujuknya?"


"Aku udah berusaha, namun semua tetap saja ditolak."


"Kalau gitu ajakin aja besoknya lagi."


"Hua ...." Tiba-tiba saja Rania merengek seperti anak kecil hingga membuat Dian refleks menutup bibir Rania dengan salah satu tangannya.


"Ra, nyadar dong. Kita ini lagi diruangan yang banyak teman lainnya," ujar Dian seraya melepaskan tangannya dari menutup bibir Rania.


"Aku juga udah ngajakin pak Khanif untuk makan siang pada keesokan harinya lagi, tapi tetap saja pak Khanif masih di tolak ajakanku. Salahku dimana coba?" ujar Rania seperti tak terima.


"Mungkin kamu ngga tulus kali untuk mengajak pak Khanif makan siang bersama," canda Dian membuat Rania sedikit menjauh.


"Aku bercanda, Ra," ujar Dian kemudian sambil terkikik geli.


"Aku udah hampir menyerah dan kamu masih sibuk mempermainkan aku?"


"Ya, biar kamu ngga tegang-tegang gitu, Ra."


"Sudahlah, aku mau lanjut kerja lagi. Soal makan siang dengan pak Khanif, aku udah nyerah."


"Ya, baru sekali doang. Lah aku! Dulunya ya, aku beberapa kali di tolak sama David tetapi aku tetap ngajak juga. Lihat sekarang, perjuangan aku yang dulu, kini telah membuahkan hasil yang baik saat ini," ujar Dian bangga.


Bagaimana tidak, ia sudah pernah mengalami keadaan yang Rania alami seperti sekarang ini, namun ia tidak pernah menyerah, hingga akhirnya, David menerima ajakannya juga dan berakhir menjadi sepasang kekasih.


"Tapi kenapa pak Khanif terlihat berbeda ya?" ujar Rania teringat akan perilaku Khanif tadi.


"Berbeda apanya?" tanya Dian tak mengerti.


...To be continued...

__ADS_1


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲


...By Siska C...


__ADS_2