
Rania berdecih tak suka, bukannya menjawab sopan, Rania malah menjawab Khanif dengan suara kesal yang telah memuncak. "Bapak sengaja, ya!" tuduhnya.
"Sengaja apa maksud kamu?"
"Ya, bapak sengaja tidak menyuruh Farah membawakan dokumen keuangan yang kemarin saya berikan ke bapak karena bapak berharap saya yang datang untuk mengambilnya atas suruhan mbak May, kan!"
Khanif tertawa kecil. Kenapa bisa tebakan Rania benar sekali? Bahkan Rania begitu paham akan alur rencana Khanif. Tapi melihat reaksi tak terduga dari Rania, membuat Khanif ingin meredakan amarah Rania yang tidak terellakkan itu. Jadi, mau tidak mau Khanif harus mengatakan perkataan yang dapat menenangkannya.
"Saya memang sengaja, tapi saya mempunyai alasan."
"Baiklah, saya terima. Tapi apa alasan bapak bersikap demikian?"
"Saya hanya ingin bertemu kamu," ujar Khanif membuat Rania heran.
"Apa?"
"Jangan salah paham," ralat Khanif cepat. "Maksud saya, saya sengaja membuat kamu datang ke sini karena saya ingin memberikan undangan reuni sekolah sma kita."
Khanif pun membuka laci mejanya. Ia lalu mengeluarkan sebuah undangan berwarna putih biru dan memberikannya pada Rania. Rania lantas mengambilnya.
"Acaranya akan diadakan tiga minggu lagi. Saya harap, kamu bisa datang."
"Bapak sengaja membuat saya datang kesini hanya karena ingin memberi undangan reuni ini?" tanya Rania tidak percaya.
Khanif menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan Rania.
"Bapak benar-benar sesuatu," kata Rania sambil menggelengkan kepalanya pelan. Rania menghela napas berat. "Sepertinya tidak ada hal lagi yang ingin bapak katakan. Kalau begitu, saya pamit. Terima kasih atas informasinya."
Rania berbalik. Ia mendenggus kesal akan kelakuan Khanif. Bisa sajakan, Khanif memberikan dokumen keuangan pada Farah, lalu sekalian menitipkan undangan reuni sekolah untuk diberikan padanya. Hanya karena ini, pekerjannya jadi tersendat.
Sesampainya Rania di meja kerjanya, Rania kembali mengerjakan laporan keuangan perusahaan yang baru pagi tadi May berikan. Namun meski begitu, ia harus menyelesaikannya karena rapat pemegang saham akan diadakan sebentar lagi.
Lalu, laporan keuangan yang ditugaskan untuknya belum juga selesai akibat Khanif yang memanggilnya ke ruangannya yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Ah, semoga saja May tidak memarahinya nanti.
Tapi tunggu, May tidak bisa memarahinya karena terlambat mengerjakan laporan keuangan itu, karena baru pagi tadi May memberikannya. Jadi, jika May mencoba memarahinya, setidaknya ia mempunyai sedikit pembelaan diri.
Dengan jari lentik yang tidak memiliki satu pun cincin pengikat di jari manis maupun di jari yang lainnya, Rania begitu cekatan menggerakkan jari-jarinya di atas keyboard yang telah lama menemaninya selama ini dalam mengerjakan berbagai laporan keuangan. Ia begitu lihai dalam mengetik laporannya.
Dengan kecekatannya dalam mengerjakan laporannya, laporan yang sebentar lagi akan dibutuhkan akhirnya telah selesai juga ia kerjakan. Ia begitu lega karena ia tidak perlu lagi mendapat marah sama May yang nyatanya itu adalah kelalaian May sendiri.
Sebenarnya, May adalah atasan yang baik. Namun, sifatnya sering berubah-ubah setiap waktu. Apalagi jika ia kedatangan tamu khusus tiap bulannya. Sikapnya pada waktu tertentu itu, tidak bisa Rania tebak. Terkadang May bersikap baik, tapi terkadang juga May bisa marah-marah tidak jelas hingga membuat Rania bingung apa yang diinginkan oleh atasannya itu.
Tidak ingin terlalu memikirkan apa yang terjadi dengannya nanti, Rania lebih memilih untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. Hingga akhirnya ia berseru senang, "akhinya selesai juga!" Ia pun merenggangkan tangannya dan sedikit merilekskan tubuhnya dengan bersandar pada sandaran kursi kerjanya.
Setelah sedikit beristirahat, Rania mulai mencetak laporan keuangan. Baru kemudian ia menyalinnya dalam beberapa rangkap. Setelahnya, ia pun pergi ke meja kerja May untuk memberikan dokumen keuangan itu.
__ADS_1
"Mbak, ini laporan keuangan yang mbak minta," ujar Rania.
"Taruh saja di meja."
Rania pun menaruh dokumen laporan keuangan itu diatas meja kerja May.
"Terima kasih," ujar May tetap fokus ke depan komputernya.
Rania tersenyum. "Sama-sama, mbak."
May mengangguk, Rania pun pergi ke meja kerjanya. Sesampainya disana, Dian yang sebenarnya sudah dari tadi menunggu Rania selesai membuat laporan, langsung saja mendekatkan kursinya ke arah Rania.
"Ra," panggilnya.
Rania menolehkan wajahnya. "Hem, ada apa?"
"Ada hal seserius apa sampai pak Khanif memanggilmu ke ruangnnya?" tanya Dian penasaran.
"Kamu mulai kepo, ya ...."
"Ngga juga sih, tapi aku penasaran saja. Kenapa pak Khanif sampai memanggilmu, kenapa ngga aku aja," kekeh Dian
"Oh itu, pak Khanif memberikan undangan reuni sekolah," katanya sambil memperlihatkan undangan reuni sekolahnya. "Kamu mau juga?" tanya Rania bercanda.
"Eh, nggalah," tolak Dian. "Aku kan bukan dari sekolah kalian. Mana bisa aku pergi."
"No ... no .... no, Rania. Ini bukan main-main, ya."
Dian lalu menjauhkan dirinya. Ia bergidik ngeri mendengar perkataan Rania. Apalagi saat Rania mengatakan, kalau ia bisa memintakan undangan reuni pada Khanif. Mana mau Dian terlibat dalam hubungan aneh mereka.
Hubungan aneh? Ya, begitulah kira-kira yang bisa Dian utarakan jika melihat tingkah laku Khanif dan Rania saat sedang bertemu. Seperti pagi ini di lobi kantor. Disaat itu, Dian melihat dengan jelas bagaimana Rania berusaha menghindari Khanif. Mulai dengan bersikap cuek maupun berjalan cepat menghindari Khanif menuju lift. Namun, seberapa keras Rania berusaha menghindar dari Khanif, ujung-ujungnya Khanif masih bisa mengejar Rania.
Dian yang melihat tingkah mereka pagi tadi pun hanya mampu tersenyum lucu. Dian melihat mereka seperti anak kecil saja. Ah, mengingat aksi mereka tadi pagi, membuat Dian tanpa sadar terkekeh geli. Hingga membuat Rania merasa aneh melihatnya.
"Dian, kamu kenapa?" tegur Rania.
"Aku? Oh, aku tidak apa-apa kok. Kamu tenang saja," katanya menenangkan karena Rania begitu serius melihatnya.
"Syukurlah. Aku kira kamu ...."
"Hus, jangan diteruskan," potong Dian pada ucapan Rania karena Dian tau apa yang ingin dikatakan oleh Rania selanjutannya.
"Baiklah-baiklah, yang penting kamu masih Dian. Teman aku," kekeh Rania.
"Kamu mau makan siang dimana, Ra?" tanya Dian.
__ADS_1
"Ngga tau, aku kayak ngga punya nafsu makan. Malas aja gitu."
"Gimana kalau kita makan di restoran yang terakhir kali kamu datangi sama pak Khanif."
Mendengar nama Khanif disebut oleh Dian yang cukup keras membuat Rania refleks mendekati Dian, lalu menutup bibirnya.
"Sstt, kamu bicaranya pelan-pelan dong. Ntar kalau kedengaran yang lain gimana!"
"Ya kalau kedengaran, kan ngga ada urusannya dengan mereka."
"Itu untuk kamu, tapi untuk aku beda lagi. Kamu tau kan kalau wanita lajang disini banyak yang menggemari pak Khanif."
"Termaksud kamu juga kan."
"Aku?" tunjuk Rania pada dirinya sendiri. "Ngga mungkin lah, kamu ada-ada aja."
"Lah, terus kenapa kamu malah tidak mau berbicara santai. Pasti kamu takut ketahuan, kan."
"Hus, ngaco. Udah ah, kayaknya kamu bukan Dian yang ku kenal."
"Yah, Ra. Aku kan bercanda aja. Aku Dian kok, nih coba cubit aku, pasti sakit."
Tiba-tiba Rania tertawa begitu saja.
"Iya, iya kamu Dian. Tapi kalau ngga jail aja!" kekehnya lagi.
"Jadi gimana, kita makan disana aja ya. Siapa tau tiketnya masih ada."
"Hem, nanti aku lihat."
"Ra, jangan gitu dong."
"Aku curiga, entah siapa yang ingin kamu berikan tiket satunya nanti kalau kita beneran datang ke sana."
"Ada deh. Itu rahasia. Tapi tenang aja, makanan penutupnya biar aku yang bayar."
"Tentu saja harus kamu."
"Ya, ya, ya. Hem, baiklah aku mau lanjut selesaikan pekerjaan aku dulu, biar bisa tepat waktu istirahatnya."
"Nah gitu dong."
Dian tersenyum lebar, ia pun membawa kursinya ke tempatnya kerjanya kembali.
...To be continued ...
__ADS_1
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
...By Siska C...