
Teringat dengan Zaky, Rania kembali teringat awal pertama mereka bertemu. Saat itu, Rania telah semester empat. Ia menjalani hari-harinya di kampus begitu damai, meski tau ternyata Khanif tidak berkuliah dengannya di tempat yang sama.
Ya, semua karena Bella, entah dari mana ia mendapatkan informasi tentang Khanif sebanyak mungkin. Bahkan dengan lucunya, Rania pernah menduga kalau Bella adalah cenayang.
Cenayang yang tau apa yang orang-orang tidak ketahui, seperti ia. Meski begitu, ia kembali memikirkannya. Ia seperti korban dari drama-drama yang telah di tontonnya. Apalagi saat menghayati alur cerita dari drama yang ia nonton. Ia pasti mengira dugaannya pada Bella pasti benar. Namun, Rania segera membuang jauh-jauh pemikiran aneh itu karena tentu saja, Bella bukalah seorang cenayang. Ia hanya terlalu hanyut dalam pemikiran anehnya.
Rania menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum lucu. Ia pun berlalu dari taman, terus menuju keruangannya. Belum juga ia sampai diruangannya, ia dihadang oleh sekelompok wanita yang tidak dikenalnya.
Ia tentu saja heran. Setaunya, semenjak ia kuliah disini, ia tidak mempunyai masalah apapun. Bahkan ia menjalani hari-harinya begitu bahagia. Karena Rania tidak merasa mempunyai masalah dengan siapapun, Rania pun memberanikan dirinya bertanya, "maaf, kenapa kalian menghalangi jalan saya."
Seseorang dari belakang ketiga wanita itu, berseru, "beri jalan."
Serentak ketiga wanita itu menyingkir dan memperlihatkan seorang wanita yang sangat dikenalnya. Dia adalah Tasya, kakak kelasnya sewaktu di sma.
"Kak Tasya," ujar Rania.
"Oh hai, Rania. Teman-temanku tidak tau kalau yang dihadangnya ternyata kamu." Tasya lantas menoleh pada ketiga temannya dan berkata, "lain kali, jika kalian melihat Rania, jangan sekali-kali menghalangi jalannya."
Ketiga wanita itu mengangguk.
"Kamu jangan salah paham. Kami disini untuk memeriksa satu persatu adek tingkat kami. Namun melihat kamu, aku rasa tidak perlu memeriksamu lagi. Kami percaya."
"Kalau gitu Rania pamit kak. Rania ada mata kuliah yang mau masuk."
"Tentu saja," ujarnya pada Rania.
Rania pun berjalan melewati Tasya. Saat ia berjalan diantara ketiga wanita itu, entah siapa yang memajukan kakinya hingga membuat Rania tersandung. Hampir saja Rania mendarat sempurna di bumi, saat ada sebuah lengan yang menahannya jatuh.
Perlahan Rania mendonggakkan kepalanya melihat siapa yang telah menolongnya diwaktu yang tepat. Ia begitu terkejut, saat tau siapa dia. Rania lalu melepaskan diri darinya, lalu berujar, "terima kasih."
Rania tidak mendapat umpan balik. Sebaliknya, ia begitu kaget saat pemilik lengan yang telah menolongnya itu menggertak Tasya.
"Tasya," gertak pemilik lengan itu.
Seketika Tasya berbalik, begitu pula ke tiga temannya. Tasya tiba-tiba berseru dan mendekati pemilik lengan itu.
__ADS_1
"Zaky."
"Kamu apa-apaan sih. Mau buat ulah lagi dengan ke tiga temanmu?"
"Oh, no ... no ... no, Zaky. Mengapa kamu salah sangka terus kepada kami. Apakah salah kalau kami mengenal adik tingkat kami untuk menambah teman? Kami juga sudah dari tadi berada disini saat dia melewati jalan ini. Sungguh kami tidak membuat ulah lagi. Iyakan, gaes?" dusta Tasya.
Serempak ketiga wanita itu menganggukan kepalanya tanda mengiyakan ucapan Tasya.
"Lalu, mengapa dia hampir jatuh?"
Tasya menaikkan bahunya tanda tidak tau apa-apa atas yang tadi terjadi pada Rania. Tasya lalu berbalik melihat ketiga temannya.
"Kalian berbuat sesuatu padanya?"
"Tidak, Tasya. Untuk apa kami berbuat sesuatu padanya yang ujung-ujungnya akan membuat kita mengalami masalah," ujar salah seorang teman Tasya.
Tasya lalu berbalik lagi melihat Zaky.
"Dengar, kami tidak melakukan apa-apa. Mungkin saja dia tersandung sesuatu."
Rania tau, ia tidak tersandung sesuatu, namun sengaja dibuat tersandung. Seberapa kuat pun lelaki bernama Zaky ini menanyai Tasya dan teman-temannya, mereka pasti tidak akan mengaku. Mana ada maling mau mengaku?
Zaky mengangguk, pada pandangan mata itu, ia mulai terpesona.
"Kalau begitu saya pamit pergi," lanjut Rania. Rania pun berlalu dari hadapan mereka semua.
Sejak hari itu, Rania selalu bertemu Zaky walau tanpa sengaja. Baik itu di kantin kampus, maupun di lorong-lorong kampus. Rania juga baru tau, kalau Zaky ternyata adalah kakak tingkatnya, namun berbeda jurusan. Zaky dari jurusan kesehatan. Sedangkan ia dari jurusan ekonomi.
Jangan tanya dari mana ia mendapatkan informasi ini, kalau ia lagi-lagi mengetahuinya dari Bella. Si pendapat berita yang cepat. Sungguh, Rania biasa heran saat Bella seperti mengetahui informasi yang ingin diketahuinya. Dengan begitu, ia seperti menduga kalau Bella ternyata memang seorang cenayang. Memikirkannya, membuat Rania terkekeh lucu.
Dari informasi itu, Ia juga baru tau, kalau Zaky ternyata baru pulang dari kerja kuliah nyatanya di desa terpencil selama sebulan lebih. Pantas saja ia tidak begitu mengetahui keberadaan Zaky. Apalagi saat Zaky ternyata sedang sibuk-sibuknya mengurus skripsinya disisa-sisa kuliah terakhirnya di kampus ini.
Namun hal itu bukanlah hambatan bagi dirinya dan Zaky untuk berteman. Karena mereka sudah mulai terlihat akrab sejak kejadian tempo hari dan intensitas pertemuan tidak sengaja mereka di kantin kampus, membuat mereka memutuskan untuk berteman.
"Kamu mau makan apa, Ra?" tanya Zaky di kantin kampus.
__ADS_1
"Aku bakso aja deh. Di cuaca hujan seperti ini tuh, enaknya makan yang panas-panas. Seperti bakso. Kalau minumnya, air mineral aja."
Zaky mengangguk membenarkan. Ia lalu pergi memesan pesanan Rania dan pesannya. Setelah itu, ia kembali lagi dengan dua botol mineral.
"Terima kasih," ujar Rania seraya menerima botol air dari Zaky.
"Sama-sama."
"Habis ini, kamu masih ada kuliah?"
"Sudah tidak ada. Kenapa?"
"Aku berniat untuk mengantarmu pulang."
"Terima kasih sebelumnya, tapi maaf kamu tidak bisa mengantarku pulang."
"Rey, akan menjemputmu lagi?"
Rania mengangguk membenarkan.
"Baiklah, semoga lain kali aku bisa mengantarmu pulang."
Rania hanya menanggapinya dengan senyuman. Rania sangat bersyukur bertemu dengan lelaki sebaik Zaky. Namun sayang, ia hanya menganggap Zaky sebagai teman saja, tidak lebih.
Pernah sekali Zaky mengungkapkan perasaannya pada Rania, namun dengan halus Rania menolaknya.
"Maaf Zaky, aku tidak bisa membalas perasaanmu. Aku hanya ingin fokus di kuliahku saja. Tidak ada yang lain. Maaf."
"Tidak apa, aku akan terus berusaha sampai kamu mau menerima hatiku."
Rania hanya mampu tersenyum. Ia tidak menyangka Zaky menyimpan rasa padanya. Sungguh, Rania hanya ingin fokus kuliah dulu. Lagi pula, ia tidak ingin mengulangi kesalahannya yang sama.
Mengingat bagaimana pertemanan mereka yang sempat dibumbui perasaan cinta, Rania hanya mampu tersenyum.
...To be continued...
__ADS_1
semoga yang like/vote/komentar diberikan kelancaran rezeki dan kesehatan, aamiin
...By Siska C...