
Setelah Khanif dan Rania bersiap, mereka pun berlalu keluar dari hotel. Jihan yang ada di antara mereka hanya dapat menjadi obat nyamuk saja karena melihat perhatian yang Khanif tujukan pada Rania.
Ingin menjahili mereka lagi, Jihan sudah tidak dapat lagi melakukannya karena Khanif mengancam dirinya untuk tidak memberikan uang lagi.
Aish! Jika ia melakukannya, itu sama saja dengan bunu* diri. Mana bisa ia hidup satu hari tanpa belanja jika ada di negara ini.
Setelah hampir lima belas menit berkendara, akhirnya mobil yang membawa mereka telah tiba di rumah Khanif.
"Assalamu'alaikum," salam Khanif saat ia baru saja memasuki rumah yang diikuti oleh Rania dan Jihan.
"Wa'alaikumsalam. Silakan masuk, sayang," ujar mama Adelin yang menyambut kedua pengantin baru itu. Untuk Jihan, ia langsung sama masuk ke dalam rumah.
"Kalian udah sarapan?" tanya mama kemudian.
"Udah, ma."
"Baiklah. Kalau gitu kalian istirahat aja gih."
"Iya, ma."
Khanif pun mengajak Rania masuk ke dalam kamarnya.
Sesaat Rania memasuki kamar tidur Khanif, ia langsung saja merasa hangat. Ia tidak menyangka kamar Khanif akan seindah ini. Padahal kamar ini adalah kamar lelaki.
"Siapa yang mendesain kamar kakak?" tanya Rania setelah meneliti semua kamar Khanif yang terkesan rapi dan nyaman.
"Aku," jawab Khanif seraya menaruh barangnya diatas tempat tidur.
"Yakin?"
"He'em. Selain pintar berbisnis, aku juga pandai mendesain. Emm aku juga pandai mendapatkanmu," ujar Khanif membuat Rania tertawa karena kata-kata barusan.
"Itu karena aku takut kakak menyerah. Jadi aku terima deh," canda Rania.
"Heem. Benarkah!" katanya sambil menolehkan tubuhnya pada Rania dan berkecak pinggang.
Melihat gelagat aneh dari Khanif, Rania pun menganggukkan kepalanya pelan nan takut.
See, sedetik kemudian, Khanif sudah berjalan cepat ke arahnya dan menggelitik tubuhnya.
"Geli kak," seru Rania tidak tahan lagi.
"Ngga akan. Rasakan saja."
Khanif masih terus menggelitik Rania, hingga mereka berdua akhirnya hilang keseimbangan dan jatuh diatas tempat tidur.
Aksi saling tetap menatap pun terjadi diantara mereka.
Satu detik, dua detik, tiga detik hingga sepuluh detik kemudian, tidak ada tanda-tanda kalau pandangan mereka akan terputus.
Lalu tanpa disangka, pintu kamar mereka terbuka menampilkan sosok Jihan yang terkejut dengan mereka berdua yang masih saling bertatapan.
"Maaf, Jihan ngga sengaja," ujar Jihan cepet. Ia lantas segera menutup kembali pintu kamar Khanif dan bergegas pergi dari sana.
Khanif yang lebih dahulu sadar pun segera bangun dari tidurnya.
"Maaf, aku tidak sengaja," katanya canggung.
__ADS_1
"Aku juga kak."
"Aku keluar dulu," ujar Khanif hendak menyusul Jihan.
Khanif segera berlalu dari kamar untuk menanyakan keperluan Jihan. Sesampainya ia didepan kamar Jihan, Khanif lantas mengetuk pintu kamarnya.
Tidak lama kemudian, terlihat pintu kamar itu terbuka - menampilkan sosok wanita dengan wajah penuh bersalahnya.
"Maaf, kak. Jihan ngga bermaksud menganggu kebersamaan kakak dan kak Rania. Beneran deh!"
"Kakak dan kak Rania pun ngga melakukan apa-apa kok. Tapi lain kali, kamu harus ketuk pintu dulu karena saat ini kakak sudah mempunyai istri."
"Iya, kak. Jihan kelupaan."
"Jadi, kenapa kamu datang mencari kakak."
"Jihan mau pergi ketemuan sama teman Jihan. Jadi ...." Jihan lantas menyodorkan tangannya pada Khanif hendak meminta kartu atm yang beberapa hari ini terus ia pakai.
Khanif lantas mengambil dompet di saku celanaya, lalu memberikan kartu atm-nya untuk Jihan.
"Jangan terlalu boros dalam berbelanja. Ingat orang boros itu temannya ..."
"Iya, iya. Jihan tau kak. Baiklah, terima kasih kak." Setelah mengatakannya, Jihan lantas menutup pintu kamarnya.
"Anak itu," gerutu Khanif seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ia lalu kembali lagi ke kamarnya.
***
Sore harinya, mereka kembali bersiap untuk pergi ke rumah Rania. Dengan sebuah koper besar ditangan, Khanif mau pun Rania, pamit pada mama, papa, Davina dan Jihan.
"Untuk apa membawa koper sebesar itu?" tanya Rania tidak mengerti saat mereka sudah berada di perjalanan.
Pasalnya, sebelum pernikahan, Khanif telah mengatakan jika mereka telah menikah nanti, mereka akan tinggal di rumah Khanif.
"Oh itu karena besok kita akan pergi ke luar kota."
"Dalam rangka apa?" tanya Rania begitu antusias. "Apakah mereka akan berbulan madu?" tanyanya dalam hati kemudian.
Namun ucapan Khanif berikutnya, membuat semangat Rania tiba-tiba menghilang.
"Kita akan pergi memeriksa keadaan vila dan resortku yang ada di kota lain," ujar Khanif. Ia lalu melihat Rania. "Ada apa?"
"Tidak. Sepertinya kita harus bekerja lagi setelah menikah," ujar Rania membuat Khanif tersenyum diam-diam.
"Baiklah. Nyonya Khanif. Anda harus bersiap untuk itu," katanya sambil tersenyum.
Ia pun lalu menambah laju mobilnya.
Beberapa menit berkendara, akhirnya mereka telah sampai di rumah Rania.
Sama seperti tadi, kini mereka disambut oleh mama Dahlia. Bahkan saat Rania baru saja masuk ke dalam rumah, ia sudah disambut oleh pelukan hangat dari mama.
"Gimana hari kamu, sayang?" tanya mama Dahlia.
"Baik ma. Ma, kalau gitu Rania ke kamar dulu. Mau bersih-bersih diri."
__ADS_1
"Iya, sana gih."
Rania pun berlalu dari sana menuju kamarnya. Sedang Khanif, ia mengikuti langkah kaki mama ke ruangan tengah setelah tadi ia menaruh kopernya di kamar Rania.
"Ma, pa," panggil Khanif memulai percakapan pada mama dan papa Rania.
"Iya, nak. Kenapa?"
"Khanif mau minta izin sama mama dan papa untuk membawa Rania selama dua minggu di resort dan vila milik Khanif."
"Nak, tidak minta izin pun mama dan papa mengizinkan kamu. Lagi pula, kamu sudah menjadi suami anak mama dan sudah sepatutnya kini urusan Rania tidak perlu meminta izin dari kami lagi," ujar mama.
"Mana bisa begitu," sewot papa hingga membuat mama maupun Khanif melihat padanya. "Emm, maksud papa. Rania adalah putri tersayang papa satu-satunya. Kalau ada apa-apa dengannya, papa harus bagaimana."
Khanif dan mama sontak tersenyum.
"Papa ada-ada saja. Putri tersayang papa itu sudah menjadi tanggung jawab nak Khanif."
"Tapi, dia tetap anak tersayang papa."
"Papa ini!" gerutu mama pelan. Pasalnya, mama tidak menyangka kalau sang suami belum bisa melepaskan putri semata wayang mereka. "Mama tau anak kita itu putri tersayang papa, tapi suaminya mama, putri kita itu sudah dimiliki oleh nak Khanif. Jadi Papa jangan seperti anak kecil lagi."
Papa sontak saja melihat mama. "Istrinya papa, papa hanya takut kalau terjadi sesuatu sama anak kita. Apa papa tidak boleh cemas."
Khanif yang merasa harus mencairkan suasana pun akhirnya berbicara juga. "Papa tidak usah khawatir. Kemana pun nanti kami perginya, Khanif akan memberitaukan pada papa."
"Papa setuju."
"Papa ini!"
"Loh, nak Khanif kan udah bilang."
Lalu ketiga orang itu pun sama-sama tertawa kecil karena perdebatan kecil ini.
"Tunggu-tunggu. Papa lupa sesuatu," ujar papa tiba-tiba.
"Papa mau tanya apa?" tanya Khanif.
"Kalian ke sana selama itu dalam rangka apa? Hanya kerja?"
"Sebenarnya Khanif membawa Rania untuk berlibur, tapi Khanif belum memberitau Rania. Dia mengira kepergian kami ini dalam rangka kerja."
"Kenapa tidak memberitaunya saja?"
"Khanif ingin memberikan kejutan buatnya, ma, pa."
"Baiklah. Papa mendukungmu dalam hal itu."
"Terima kasih, pa."
"Ini papa lakukan untuk anak papa," ujar papa membuat Khanif tertawa pelan tanpa sadar.
Sedang mama, langsung saja mengomentari papa lagi.
...To be continued...
Semoga yang berikan like, vote dan komen diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah dari Allah, aamiin
__ADS_1
...By Siska C ...