Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 142. Sehangat Hati Ini


__ADS_3

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu oleh semua orang telah tiba. Hari dimana peresmian vila akan dilaksanakan.


Khanif yang bangun lebih awal pun keluar dari vila untuk mengecek keadaan vila secara keseluruhan. Ia tidak ingin saat peresmian vila nanti, ada suatu keadaan yang tidak diinginkan malah terjadi.


Saat dirinya tengah memeriksa, manik matanya menangkap sesosok wanita yang tengah berada didepan vila - duduk disebuah kursi kayu.


Mengenali sosok wanita itu, Khanif lantas pergi menghampirinya.


"Apa yang kamu lakukan disini, sepagi ini?" tanya Khanif tiba-tiba membuat sosok wanita yang tidak lain adalah Rania jadi terkejut. "Maaf aku membuatmu terkejut," sesal Khanif.


"Tidak apa, pak."


"Apa yang kamu lakukan disini. Ini masih sangat pagi. Apalagi cuaca seperti ini masih sangat dingin."


"Saya ingin melihat matahari terbit," jelas Rania membuat Khanif menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Ingin menemani saya jalan-jalan pagi?" pinta Khanif kemudian. "Saya tau dimana tempat yang cocok untuk melihat matahari terbit," ujar Khanif membuat Rania tertarik.


Rania pun mengangguk. Ia lantas memakai sepatu kets-nya, lalu berjalan menghampiri Khanif.


"Kita mau kemana?"


"Kesuatu tempat yang akan membuatmu takjub."


"Memangnya masih ada satu tempat lagi? Saya rasa, saya sudah mengelilingi vila ini."


"Belum semuanya," kata Khanif. "Satu tempat ini hanya saya yang tau dan Tama."


"Tapi tempatnya masih disekitaran sini?" tanya Rania rada-rada tidak percaya. Pasalnya, ia telah mengelilingi vila ini beberapa kali, namun ia tidak mendapati suatu tempat yang menakjubkan seperti kata Khanif.


"Sudah, jangan bertanya lagi. Ayo!"


"Tunggu, bukannya ini jalan ke kebun stroberi?"


"Hem, kenapa?"


"Tempatnya ada disekitar sana?"


"Iya. Ayo," ajak Khanif ingin mempercepat langkah kaki mereka.


Sesampainya mereka di kebun stroberi, Khanif menghentikan langkah kaki mereka.


"Kenapa berhenti, pak?" tanya Rania tidak mengerti.


"Mulai dari sini, saya ingin kamu menutup mata."


"Hah! Bapak ada-ada saja. Bagimana kalau saya nanti tersandung saat berjalan? Bapak mau tanggung jawab," ujar Rania.


"Kamu bisa memegang lengan saya dan mengikuti instruksi dari saya," ujar Khanif seraya menjulurkan lengannya untuk dijadikan Rania sebagai petunjuk jalan dari Khanif.


Rania pun mengikuti ucapan Khanif. Ia menutup matanya dengan tangan kanannya dan tangan kirinya memegang lengan Khanif.


"Jangan coba mengintip, ya."

__ADS_1


"Iya."


"Sesampainya disana, kamu jangan membuka matamu dulu. Setelah ada instruksi diri saya, kamu baru bisa membukanya."


"Baiklah."


Khanif pun mulai melangkahkan kakinya diikuti oleh Rania dengan mengikuti instruksi dari Khanif. Mereka berjalan pelan sembari Khanif menunggu waktu yang tepat untuk dapat melihat matahari terbit. Rania yang memang sudah sangat penasaran pun akhirnya mengomentari jalan mereka yang terlalu lambat.


"Bapak sengaja ya memperlambat jalan. Bisa-bisa saya tidak bisa melihat matahari terbit kalau begini."


"Saya sudah perkirakan waktunya. Jadi tenang saja dan ikut perkataan saya."


Setelah beberapa menit, akhirnya mereka tiba juga ditempat tujuan. Namun sampainya mereka disana, Khanif tidak lantas menyuruh Rania membuka matanya. Ia sekali lagi menegaskan kalau Rania bisa membuka matanya disaat yang tepat.


Meski matanya kini tertutup, Rania dengan sangat jelas mendengar suara kicauan burung yang saling bersahut-sahutan. Dengan begitu, Rania bisa menduga kalau Khanif pasti membawanya ke tempat yang sangat indah.


"Saya sudah bisa membuka mata, pak?" tanya Rania memastikan. Pasalnya, sudah lewat beberapa menit, namun Khanif masih belum memberikan instruksi untuknya membuka matanya.


"Belum. Tunggu sebentar lagi," respon Khanif.


Selang beberapa waktu, Khanif yang merasa kalau waktu ini adalah waktu yang sudah tepat, Khanif pun mengatakan pada Rania, "kamu bisa membuka matamu sekarang."


Perlahan-lahan Rania membuka matanya. Pertama kali ia silau melihanya, namun lama-lama ia sudah terbiasa. Matahari pagi memang begitu indah, seindah saat ia ingin terbenam juga.


Rania bahkan dibuat takjub olehnya. Ia seakan terhipnotis untuk selalu melihanya. Melihat ciptaan sang maha kuasa yang begitu memukau diri.


"Masya Allah, ini indah sekali," respon Rania.


"Tapi kenapa bapak tidak membangunkan vila disini?" tanya Rania sambil menoleh pada Khanif yang masih terpaku melihat matahari yang mulai menghangat didepan mereka.


"Saya sengaja."


"Sengaja? Untuk apa?"


Khanif menoleh pada Rania yang masih saja melihatnya.


"Saya ingin menghadiahkan tempat ini pada seseorang."


"Siapa?"


Khanif hanya tersenyum sebagai jawabannya.


Setelahnya, mereka terdiam satu sama lain. Menikmati keindahan pagi hari yang baru pertama kali Rania lihat selama berada di kota M. Sungguh, Khanif membawanya ke tempat yang sangat indah.


"Terima kasih telah membawa saya kesini," kata Rania kemudian.


"Terima kasih kembali karena telah menemani saya berjalan-jalan."


Mereka sama-sama tersenyum.


"Sepertinya semua orang telah bangun. Ada baiknya kalau kita segera kembali," ujar Khanif.


"Iya, pak."

__ADS_1


Mereka pun kembali ke vila. Disana, sudah ada beberapa tamu yang berada dihalaman vila sekadar untuk berjemur dibawa matahari pagi yang cerah.


Mama yang juga ada disana pun mengernyit heran saat ia melihat anaknya berjalan bersama Rania. Mama lantas pergi menghampiri mereka.


"Kalian dari mana?" tegur mama.


Rania hendak menjawab, namun kalah cepat dengan Khanif.


"Kami habis dari kebun stroberi, ma."


"Jadi mana buah stroberi buat mama?"


"Khanif tidak mengambilnya. Kami hanya melihat-lihat sekitaran saja."


Mama memanyunkan bibirnya.


"Bilang saja kamu tidak mengingat mama," kata mama membuat Khanif terkekeh.


"Kalau mama mau, Khanif bisa ambilkan sekarang."


"Tidak perlu, mama hanya bercanda," ujar mama. "Kalau begitu kita kesana saja. Disana sudah ada banyak tamu undangan yang sedang melihat-lihat vila."


"Mama dan Rania saja. Khanif masih ingin lanjut melihat-lihat."


"Baiklah."


Mama dan Rania pun pergi ke tempat yang mama katakan tadi dengan mama yang menggandeng lengan Rania.


***


Beberapa jam setelahnya, peresmian vila akan segera di mulai. Khanif yang sudah rapi dengan setelan jas-nya pun telah bersiap-siap sedari tadi. Tidak ketinggalan pula, ketiga kandidat calon sekertaris Khanif juga sudah berada disana. Mama Adelin serta Davina dan para tamu undangan.


Mereka yang hadir pun tidak sabar menunggu peresmian vila ini dan tentunya yang paling ditunggu juga adalah siapa yang menjadi sekretaris Khanif kedepannya.


Setelah beberapa saat, Khanif pun naik keatas panggung yang telah disiapkan. Ia mengatakan kata-kata sambutan pada para tamu undangan yang hadir dan para karyawan yang ia undang juga.


Tidak lama setelah itu, mc yang bertugas memandu acara ini pun satu persatu memanggil para pemegang saham untuk pergi ke tempat yang telah disediakan untuk pemotongan pita.


Khanif, Mama, paman Gunawan dan beberapa orang lainnya yang memiliki saham yang banyak di perusahaan pun perlahan pergi ke tempat pemotongan pita. Lalu secara serentak, para pemegang saham itu pun memotong pita secara bersama.


Semua berjalan lancar sampai pada acara pemotongan pita selesai. Hingga kemudian acara kembali dilanjutkan dengan acara pemilihan sekretaris Khanif.


Lisa dan Farah terlihat antusias dan deg-degan menunggu keputusan Khanif. Sedang Rania bersikap biasa saja. Jika dirinya terpilih menjadi sekretaris Khanif, maka ia akan senang. Jika tidak, ia akan lebih banyak belajar lagi kedepannya. Biarlah ketidak terpilihnya ia saat ini menjadi pelajaran berharga untuknya dimasa yang akan datang.


Namun sepertinya sikap biasa Rania tidak dapat ia bendungan lagi saat sang mc menyebut nama sekretaris terpilih untuk Khanif, setelah tadi Rahayu memberikan sebuah amplop berisi nama calon sekretaris Khanif.


...To be continued ...


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲


Jangan lupa follow aku ya.


...By Siska C...

__ADS_1


__ADS_2