
Sepertinya, pada bab sebelumnya belum ada yang memberi jawaban benar, ya. Jadi namanya ngga aku tulis disini.
***
Belum sempat Khanif memakannya, Khanif dibuat heran dengan Rania yang tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya. Khanif lantas mendongkak melihat Rania dengan pandangan heran.
"Kamu kenapa?"
Tanpa menjawab pertanyaan Khanif, tangan Rania terulur dengan begitu gesit, ia lalu menukar makannya dengan makanan instan milik Khanif. Hingga membuat Khanif terlonjak kaget dan tanpa sadar ikut berdiri.
"Hei, makananku."
"Udah ngga usah bawel," ujar Rania menepis tangan Khanif yang hendak mengambil makannya kembali. Rania lalu melihat Khanif dengan tatapan tidak ingin dibantah.
Anehnya, Khanif yang biasanya tidak ingin dibantah, malah mengikuti ucapan Rania. Bahkan Khanif menurut saja saat Rania mengenyahkan tangannya yang tadi sudah memegang cup mi-nya.
Rania lalu tersenyum melihat Khanif seraya mengatakan, "bapak makan saja makanan saya, lebih sehat."
"Bukannya kamu bilang makanan instan seperti ini tidak baik bagi kesehatan. Tapi kenapa kamu malah menukar makanan saya?"
"Kalau sekali-kali ngga papa. Jadi kita tukeran makanan. Bapak makan makanan rumahan saya. Saya memakan makanan siap saji, bapak. Lagi pula, sudah lama saya tidak memakan mi seperti ini," ujar Rania santai sambil kembali mendudukan dirinya di kursi, diikuti dengan Khanif.
"Ini pasti akal-akalan kamu saja kan, biar kamu makan mi saya yang enak ini."
"Sembarang! Ini tuh demi kesehatan bapak," ujar Rania tanpa sengaja malah membuat Khanif menyinggungkan sebuah senyuman akan rasa senang.
"Terima kasih."
Rania melihat Khanif heran. "Untuk apa?"
"Karena telah memperhatikan kesehatan saya."
Rania tiba-tiba saja tersedak tanpa sebab. Khanif yang tidak menduganya, segera membuka tutup botol minuman Rania dan memberikannya.
"Terima kasih," ujar Rania setelah minum.
__ADS_1
"Kenapa kamu bisa tersedak?"
"Tidak tahu." Rania mengangkat bahunya tidak tahu. Tentu saja, ia saja heran mengapa dirinya bisa tersedak. Padahal ia tidak sedang makan ataupun minum. "Sudahlah, bapak makan saja, jangan lagi banyak bertanya."
"Kalau tidak kenapa?" ujar Khanif yang sebenarnya bercanda, namun Rania malah menanggapinya serius.
"Maka saya tidak jadi menukar makanan kita."
"Oh, no ... no ... makanan yang telah kamu beri tidak dapat dikembalikan lagi."
"Makanya makan."
"Baiklah, nona Rania," ujar Khanif membuat Rania tertawa pelan.
Mereka pun mulai menikmati makanan mereka masing-masing. Selama mereka makan, tidak ada yang membuka percakapan diantara mereka. Bahkan mereka terkesan makan sendiri, sepi! Tidak ada yang menemani. Seperti kehidupan romantis mereka.
Ya, tanpa mereka saling ketahui. Sejak Rania ditolak waktu itu, kehidupan romantisnya telah tertutup. Ia seperti tidak ingin jatuh ke dalam lingkaran yang sama. Bukannya Rania menyamakan lelaki lain dengan Khanif yang mungkin juga akan menolaknya. Hanya saja, sungguh tidak ada laki-laki lain lagi yang mampu menarik perhatian maupun hatinya.
Jika mereka yang melihatnya dekat dengan Zaky, sungguh Rania hanya menganggap Zaky hanya sebagai teman saja tidak lebih. Ia bisa dekat dengan Zaky karena lelaki itu sudah berkali-kali menolongnya sejak jaman kuliah dulu.
Hingga suatu hari ia tersadar, kalau ia seharusnya tidak selalu bergantung pada kebaikan orang lain yang selalu menjaganya. Jadi, sejak keputusan itu dibuatnya, Rania pun mulai diet dengan makan teratur ditambah dengan jarangnya ia mengonsumsi makanan seafood agar wajahnya tidak menjadi buruk rupa akibat banyaknya gunung-gunung kecil disekitaran pipi dan jidatnya.
Namun aneh bin ajaibnya, meski Zaky sudah beberapa kali membantunya lolos dari masalah, tidak sedikitpun Rania memandang Zaky dengan sosok lain, seperti sosok lelaki yang sebelumnya pernah menolaknya. Jujur saja, ia menganggap Zaky hanya sebagai sebatas kakak tingkat sekaligus lelaki yang biasa menolongnya.
Ya, ia hanya menganggapnya seperti itu, tidak lebih. Namun satu yang tidak diketahuinya. Ia tidak tahu bagaimana perasaan Zaky padanya. Apakah Zaky hanya menganggap dirinya sebagai adik tingkat yang perlu dibantu setiap mengalami masalah ataupun menganggap dirinya sebagai seorang wanita pada umumnya di mata lelaki.
Entahlah, sampai saat ini Rania tidak tahu, karena sejak berkenalan dan dekat dengan Zaky, Zaky tidak pernah sekalipun menyinggung-menyinggung soal kedekatan mereka yang tidak jelas atau lebih tepatnya tidak terlalu dekat bak seorang kekasih, tidak juga terlalu jauh bagi seorang teman.
Zaky juga tidak pernah mengungkapkan sebuah kata-kata yang dapat membuat hati seorang wanita menjadi berbunga-bunga. Tidak sekali pun. Bahkan tiap bertemu ataupun jika Zaky mengajaknya keluar, Zaky hanya berkata-kata dengan santai padanya. Seperti tidak menyembunyikan sesuatu termaksud perasaannya.
Sementara itu, tidak berbeda jauh dengan Rania. Sejak khanif menolak Rania di taman belakang sekolah, Khanif tidak pernah sedikitpun dekat dengan seorang wanita lagi kecuali orang terdekatnya. Meskipun banyak wanita yang terang-terangan menujukkan ketertarikan padanya, Khanif malah bersikap seperti biasa saja, bahkan terkesan cuek nan dingin. Namun tidak selamanya Khanif akan bersikap seperti itu.
Jika ada wanita yang benar-benar hanya ingin berteman dengannya, maka Khanif akan menyambut mereka dengan senyuman hangatnya. Namun jika pada wanita itu ingin memiliki hubungan lebih dari pertemanan, maka Khanif akan mundur secara teratur agar tidak ada yang mencurigai kalau dirinya telah berubah pada wanita-wanita itu. Ia bahkan akan segera memagari dirinya dengan sikap cuek nan dinginnya itu saat para wanita itu telah menyadarinya.
Sungguh, ia hanya bersikap cuek nan dingin pada wanita-wanita yang menganggap kalau mereka menginginkan hubungan lebih dari sekedar teman. Tapi jika tidak, ia akan selalu tersenyum dan membantu mereka yang membutuhkan bantuannya.
__ADS_1
Bukannya ia pilih-pilih teman, hanya saja ia tidak ingin kembali menyakiti hati seorang wanita setelah Rania. Sungguh, perasaan seperti itu selalu saja menghantuinya. Apalagi jika tanpa sengaja ia membuat seorang wanita menitihkan air mata karena penolakannya.
Ia bahkan telah berjanji dalam hatinya, kalau Rania-lah wanita terakhir yang ia buat menangis karena penolakan dirinya. Karena Khanif tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi pada wanita lain. Untuk itulah ia selalu membentengi dirinya dengan bersikap seperti itu. Ia bahkan selalu menolak halus wanita yang selalu mama perkenalkan padanya. Ia menolaknya agar pada wanita itu tidak lagi berharap lebih pada dirinya.
Tapi entah mengapa Tasya, teman sma-nya dan salah satu wanita yang pernah mama kenalkan padanya tidak mengerti kalau dirinya hanya menganggap Tasya dari dulu sebagai teman. Khanif bahkan sudah menujukkan penolakannya saat malam pertama mereka bertemu di restoran miliknya. Namun sepertinya Tasya tidak menyerah juga.
***
Khanif tersentak kaget, saat Rania melambaikan-lambaikan tangannya didepan wajahnya.
"Bapak kenapa?"
"Tidak apa-apa. Kamu sudah selesai juga rupanya."
"Hem, rasanya saya kekenyangan hingga sepertinya saya harus duduk-duduk dulu disini walau sebentar." Rania lalu melanjutkannya dengan candaan, "semoga bapak tidak memotong gajiku."
Khanif terkekeh menanggapi candaan Rania. "Jika kamu tidak duduk disini selama sejam, semua akan aman terkendali."
"Baiklah, saya akan duduk disini 59 menit lewat 59 detik, saja."
Mereka pun tertawa bersama-sama. Sungguh, mereka terlihat tidak seperti atasan dan bawahan. Melainkan terlihat seperti ... seperti ... ah, sudahlah, sampai kapan pun hubungan itu sepertinya tidak akan tercapai.
"Baiklah, sepertinya saya harus pergi sekarang. Terima kasih atas makan siangnya."
"Terima kasih kembali."
Khanif pun berdiri dari tempat duduknya. Ia lalu mulai berjalan meninggalkan Rania seorang diri. Saat Khanif mulai mencapai pintu masuk kantor, seseorang lebih dahulu membuka pintu itu.
Melihat Khanif berdiri didepannya, dia langsung saja memeluk Khanif. Rania yang melihat kejadian yang tiba-tiba itu hanya mampu memalingkan wajahnya ke arah lain.
...To be continued...
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
Hayo, ada yang bisa nebak siapa yang memeluk Khanif? kalau ada yang jawab benar, aku up lagi deh hari ini. Semangat menjawab ya.
__ADS_1
...By Siska C...