
Tiga hari telah berlalu. Rania juga sudah merasa baikan. Untuk itu, ia pun mulai masuk kantor hari ini dengan diantar oleh Reyhan.
Awalnya mama, papa maupun Reyhan tidak mengizinkan Rania untuk bekerja lagi, namun karena bujuk rayu Rania yang baik, ia akhirnya dapat meluluhkan hati ketiga orang yang sangat di sayanginya itu.
Meski Rania harus diberi persyaratan untuk bisa terus bekerja, hal itu tidak menjadi masalah lagi bagi Rania. Karena yang terpenting saat ini, ia ingin segera bertemu dengan Khanif.
Namun lagi-lagi ia harus menelan pil pahit saat ia tau kalau Khanif belum masuk kantor hari ini.
Ah, ia ingin segera bertemu dengan Khanif dan memastikan dengan mata kepalanya sendiri kalau Khanif sudah tidak apa-apa.
Sesaat Dian yang melihat ekspresi murung Rania pun menjadi merasa sangat bersalah. Jika sebelumnya ia tau kalau David adalah orang yang tidak baik, ia pastinya tidak akan mendekati David dan pastinya juga, keadaan mereka tidak akan berakhir seperti ini.
"Maaf, Rania," ujarnya pelan seraya melihat Rania dari kejauhan.
Dian pun masuk ke dalam ruangan May untuk memberikan surat pengunduran dirinya.
Walau bagaimana pun, ia seperti tidak mempunyai wajah lagi jika berhadapan dengan Rania. Ia begitu malu untuk bertemu dengannya walau hanya berpapasan saja.
Sedang Rania merasa seperti ada yang menyebut namanya, ia pun lantas mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan mencari sosok yang ia yakini telah menyebut namanya.
Sesaat ia melihat Dian yang baru masuk ke dalam ruangan May. Ia pun lantas berdiri dan bergegas menyusul Dian.
Sesampainya ia didepan ruangan May, Rania lantas mengetuk pintu ruangan itu, lalu setelah mendengar suara May yang mengatakan masuk, Rania lantas melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
Sesampainya didekat meja kerja May, Rania melihat sebuah amplop putih yang entah berisikan apa. Rania tentu saja penasaran dengan isi amplop putih yang barusan diberikan Dian untuk May.
Apa itu surat pengunduran diri Dian? Tapi mengapa? Rania bahkan tidak menyalahkan Dian atas kejadian yang telah menimpa dirinya dan Khanif.
"Mbak May, kalau begitu saja pamit undur diri?" ujar Dian memecah banyak pertanyaan dibenak Rania.
Seperginya Dian, Rania juga ikut pamit keluar. Hal itu pun sukses membuat May mengernyit heran, namun ia tidak ingin bertanya lebih lanjut akan hal itu karena ia tidak ingin membuat Rania merasa tidak enak dengannya.
Sesaat Rania keluar dari ruangan May, sekali lagi ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Dian. Setelah melihat Dian yang hendak keluar lewat tangga darurat, Rania pun segera menyusul kesana.
"Dian," panggil Rania yang hanya menggema di seluruh ruangan tanpa didengar oleh Dian.
Rania pun mempercepat langkah kakinya menyusul Dian yang sudah hilang dibalik pintu darurat itu.
__ADS_1
"Dian," panggil Rania membuat Dian menghentikan langkah kakinya, lalu berbalik melihat Rania.
"Kenapa kamu seperti menghindari aku?" tanya seraya mendekat.
"Maaf, Ra."
"Kenapa kamu malah minta maaf, kamu ngga ada salah apa-apa sama aku."
Dian menggelengkan kepalanya.
"Jika yang kamu sesalkan adalah kejadian beberapa hari yang lalu, kamu tidak perlu minta maaf karena semua itu bukanlah salah kamu, Di. Bukannya masalah ini sudah kita bahas sewaktu aku masih di rumah sakit?"
"Tapi karena aku yang kekuh untuk mendekatinya, kekuh memilih bersamanya dan kekuh mengajak kamu untuk bergaul dengannya juga, membuat kejadian yang tidak kita inginkan itu malah terjadi."
"Kamu salah besar, Di," ujar Rania membuat Dian mendongkak wajahnya yang dari tadi hanya tertunduk karena malu pada Rania.
"Kamu salah," lanjutnya lagi. "Jika kamu berpikiran seperti itu, kamu telah salah besar karena jika kamu tidak berusaha mendekatkan diri pada David, David pastinya akan tetap mempunyai cara lain untuk memuluskan aksi balas dendamnya padaku. Jadi kamu ngga perlu merasa bersalah seperti ini bahkan sampai menjauhi aku."
"Tidak, Ra. Aku bahkan begitu malu bertemu denganmu saat ini. Bagaimana bisa aku begitu buta dalam melihat sifat lelaki itu. Bagaimana bisa aku begitu tidak curiga akan sikapnya selama ini. Bagaimana bisa ..."
"Ssttt, lupakan hal itu karena semua itu telah berlalu dan bukan kamu saja yang terkecoh karena sikapnya baiknya itu. Aku pun ikut terkecoh dengannya. Namun semua itu tidak boleh kita sesali. Biar bagaimana pun, kita bisa menjadikan hal itu sebagai pelajaran buat kita kedepannya. Jadi, kamu tolong ambil kembali surat pengunduran dirimu sama mbak May."
"Hem. Tentu saja, kita kan sehati," ujar Rania membuat Dian dapat tersenyum kembali.
"Terima kasih karena telah menanggapku sebagai saudaramu sendiri."
"Udah, jangan berterima kasih. Timbal balik dengan kamu menganggapku sebagai saudaramu juga itu sudah cukup berharga."
Dian lagi-lagi tersenyum haru. Ia begitu bahagia dapat bertemu dengan Rania, menjadikan Rania seperti saudaranya sendiri. Dian pun lantas maju untuk memeluk Rania.
"Jadi bisa kita pergi ke ruangan mbak May untuk mengambil surat pengunduran dirimu?" tanya Rania dengan harapan yang besar setelah pelukannya terlepas dari Dian.
"Hem. Ayo."
Rania tersenyum begitu pula dengan Dian. Mereka pun bersama-sama kembali ke ruangan May untuk segera mengambil surat pengunduran Dian sebelum surat itu sampai ke tangan Rahayu.
Masalah mereka telah selesai. Mereka menyelesaikannya dengan sangat baik.
__ADS_1
Setelah mengambil kembali surat pengunduran Dian itu, mereka pun kembali bekerja dengan hati yang ceria.
"Di," panggil Rania membuat Dian menolehkan wajahnya.
"Iya, kenapa?"
"Pulang kantor nanti temani aku pergi ke rumah pak Khanif, ya. Aku mau lihat keadaannya."
"Hem. Itu sudah pasti."
"Baiklah. Sebaiknya kita segera menyelesaikan pekerjaan kita agar kita bisa pulang cepat nantinya."
"Ya, kamu benar. Seratus poin untuk regu A," ujar Dian membuat Rania terkekeh pelan.
"Baiklah-baiklah. Selamat bekerja."
Kedua wanita berbeda karakter itu pun mulai mengerjakan tugas mereka masing-masing. Hingga pada sore harinya, saat waktu telah menujukkan waktu pulang kantor, mereka telah menyelesaikan semua tugas mereka.
Seperti perkiraan mereka, mereka dapat menyelesaikan tugas yang di berikan oleh May dengan sangat baik dan tepat waktu.
Untuk itulah, saat ini mereka telah membereskan meja kerja mereka yang terhambur saat mengerjakan laporan keuangan barusan dan juga mereka membereskan lebih dahulu agar saat waktu tepat menujukkan pulang kantor, mereka tinggal pulang saja tanpa ada yang mau di rapikan lagi di atas meja.
Setelah semua siap, mereka pun berlalu dari kantor menuju rumah Khanif untuk melihat keadaannya.
Jalanan yang tidak terlalu macet membuat kedua wanita itu sampai dengan cepat di rumah Khanif. Sesaat setelah Dian memarkirkan motornya, ia dan Rania pun sama-sama melangkahkan kaki mereka ke rumah megah nan terlihat kokoh didepan mereka.
"Assalamualaikum," salam Rania saat mereka telah sampai didepan pintu seraya mengetuk-ngetuk pintu bercat warna kayu itu.
"Wa'alaikumsalam," balas seseorang seraya membuka pintu rumah.
"Pak Khanif-nya, bi?" tanya Rania.
"Den Khanif ..."
...To be continued ...
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
__ADS_1
...By Siska C...
... ...