Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 57. Pagi yang Heboh


__ADS_3

Keesokan harinya, seisi rumah Rania dibuat heboh sebab Rania pergi pagi entah kemana. Bahkan mama yang biasa bangun lebih awal tidak mendapati Rania pergi keluar. Apalagi Reyhan maupun papa. Mereka tidak mendapati Rania dimana pun.


Bahkan mereka semua telah mengelilingi keseluruhan rumah untuk mencarinya. Namun nihil, mereka masih tetap tidak dapat menemukannya. Aneh, padahal semalam Reyhan masih bercakap-cakap dengannya bersama Zaky setelah kaki Rania diperiksa. Tapi pagi ini telah menghilang.


"Kemana perginya, ponselnya pun tidak aktif!" seru Reyhan.


Sedang dirumah lagi sibuk mencari Rania kesana kemari, Rania disini malah tengah santai mengerjakan tugasnya sebagai seorang staf accounting.


Ya, Rania saat ini sudah berada dikantor mengerjakan tugasnya. Ia tidak tahu kalau kepergiannya pagi ini telah membuat seisi rumah heboh dalam mencarinya.


Ia juga tidak tahu kalau ponsel yang dimainkannya semalam memiliki kekurangan daya saat ia berangkat. Jadi, saat ia baru saja sampai, Rania langsung saja meng-charger ponselnya yang telah kehabisan daya. Sehingga berapa kali pun Reyhan menghubunginya, Rania tidak akan tahu. Ia juga tidak akan tahu kecemasan orang rumahnya saat ini akibat kepergiannya pagi ini.


Ia bahkan dengan santainya mengerjakan tugasnya. Ia terlihat tanpa beban. Namun, hal itu hanya bertahan sampai sejam saja karena seniornya menghampirinya dengan membawa sebuah dokumen yang entah apa isinya.


"Tolong bawakan dokumen ini sama pak Khanif ya. Sekretarisnya bilang."


"Mbak, kaki saya."


"Ngga papa. Kamu kuat kok. Sampai sini aja bisa. Masa untuk sampai ke ruangan pak Khanif ngga bisa. Kamu kan bisa menggunakan lift kaca."


"Baiklah."


Rania menduga pasti ini ulah Lisa, dia ingin membalas dirinya akibat kejadian tempo hari. Dia ingin membalas Rania karena telah membungkam dirinya. Tapi Lisa, salah besar kalau Rania tidak akan meladeni ulah Lisa ini. Dia akan lihat, bagaimana kekuatan jika orang sakit disuruh untuk membawa dokumen ke lantai duapuluh satu.


Biarkan saja dia kena batunya, agar lain kali dia harus memikirkan tindakannya kemudian hari, sebelum memaksa orang sakit membawakannya dokumen. Ia tahu seniornya itu adalah orang yang baik. Tapi, entah perkataan apa yang dikatakan oleh Lisa padanya sehingga bersikap seperti itu.


Rania pun mengambil kruk-nya. Ia berdiri pelan-pelan dengan bertumpu pada kruk dan meja. Setelah berdiri baik, ia pun mengambil berkas itu dan memegangnya ditangannya yang bebas. Saat ia baru saja melangkah, langkahnya terhenti pada seseorang disamping meja kerjanya.


"Rania kamu mau kemana?"


"Saya ingin membawa dokumen ini pada pak Khanif."


"Dengan kaki yang sakit seperti itu?"


Rania mengangguk mengiyakan.


"Tidak, nanti kakimu tambah sakit. Biar aku saja yang membawanya. Sini."


"Tidak usah. Aku masih bisa kok."

__ADS_1


"Jangan menolak. Sini, pasti Lisa mengerti."


"Kamu tahu?"


"Tentu saja. Secara tidak sengaja, saya mendengar pembicaraan mbak May sama Lisa di telepon. Mbak May tadi udah nolak, tapi si Lisa itu tetap aja maksa. Baru aja jadi sekretaris udah songong gitu. Sampe suruh-suruh kamu segala lagi. Emang dia ngga tahu kalau kamu lagi sakit atau emang dia sengaja."


"Hus, jangan bicara sembarang. Disini banyak telinga yang bisa mendengarkan perkataan kamu dan nanti bisa berbalik melukaimu," bisik Rania.


Seketika Dian menutup bibirnya. "Maaf, aku lupa," cicitnya.


"Tak apa. Baiklah aku pergi dulu."


Rania pun berlalu dari hadapan Dian dan pergi menuju ke arah lift kaca. Sesampainya disana, Rania menekan kode yang pernah Khanif beritahukan padanya. Namun nihil, meski telah menekan kode-nya, pintu lift kaca itu tidak juga terbuka. Ia bahkan sudah mencobanya hingga ketiga kalinya. Namun pintu lift itu tidak kunjung terbuka.


Ia lalu teringat, "mungkin pak Khanif telah mengganti kode-nya. Lagi pula untuk apa aku menggunakan lift kaca ini, toh, aku bukan sekretarisnya lagi. Rania ... Rania, kamu ada-ada saja."


Rania lalu menertawai dirinya sendiri karena baru menyadari kalau posisinya yang tidak lagi menjadi sekretaris Khanif.


Ia pun beralih pada lift yang ada di ujung ruangan. Dengan berjalan pelan, akhirnya Rania tiba di depan lift umum itu. Ia menekan tombol. Tidak lama kemudian, pintu lift terbuka menampilkan beberapa orang yang berada disana. Rania melangkah masuk. Ia pun menekan angka lantai yang ingin ditujunya dan kemudian Ia pun mengambil tempat disudut kiri belakang. 


Satu persatu karyawan telah sampai ditempat tujuannya. Ia pun juga telah sampai dilantai tujuannya setelah beberapa saat. Rania melangkahkan kakinya menuju meja sekretaris Khanif untuk memberikannya dokumen yang diminta. Namun sesampainya disana, Rania tidak mendapatinya. Mau tidak mau, Rania langsung menuju ke arah pintu ruangan Khanif.


"Jangan sampai dia masuk!" rapalnya dalam hati.


Namun semua terlambat saat Khanif mengatakan masuk untuk Rania yang masih berada diluar ruangannya.


"Masuk."


Rania perlahan memutar knop pintu serta dengan senang hati melenggang masuk ke dalam ruangan Khanif. Ia dapat melihat mata terkejut Khanif. Khanif sontak berdiri membuat Lisa yang berada didepannya ikut takut.


"Apa yang kamu lakukan disini?"


"Saya membawakan berkas yang bapak minta."


"Bukan jawaban itu yang saya minta!"


Rania tiba-tiba tergugup. "Sa ... saya ingin bekerja lagi, pak."


Khanif lalu menghampiri Rania, sesampainya Khanif didekat Rania, ia mengambil berkas bermap hitam itu seraya berkata, "bukannya saya sudah memberikanmu izin. Mengapa kamu masuk kantor. Sampai membawakan saya berkas ini pula!"

__ADS_1


"Saya bosan dirumah. Lagi pula, bukannya bapak yang meminta saya untuk membawakan berkas dari divisi keuangan?"


"Kamu kira saya atasan macam apa? Sampai menyuruh orang sakit datang ke lantai ini!"


"Kalau begitu." Rania menoleh pada orang lain yang juga ada diruangan Khanif. "Pasti orang lain yang memaksa saya untuk membawakannya kepada bapak."


Khanif memijit pelipisnya. "Kamu duduk di sofa dulu."


Rania pun melangkah menuju sofa sesuai perkataan Khanif. Sedangkan Khanif  berjalan cepat ke meja kerjanya dan langsung mengambil telpon kantor untuk menghubungi seseorang. Tidak lama kemudian, Khanif telah selesai menghubungi seseorang ditelpon. Ia pun pergi menghampiri Rania.


"Apa yang akan dikatakan oleh papa dan kakakmu kalau kamu ada disini?"


Rania tidak menjawab.


"Atau kamu pergi secara diam-diam dari rumah?"


Rania tersenyum simpul lalu tertawa kecil kemudian.


"Sudah kuduga. Kamu gadis yang sesuka hati sendiri tanpa memikirkan orang lain. Tahukah kamu, kalau kepergianmu tanpa sepengetahuan keluargamu, pasti membuat mereka cemas. Kamu ... kamu seperti anak kecil." Khanif meceramahi Rania tanpa memikirkan kalau mereka tidak berdua saja didalam ruangan ini, melainkan ada Lisa juga yang terus saja memperhatikan mereka.


"Saya tahu, tapi kalau tidak begini. Saya tidak akan diizinkan untuk berangkat kerja."


"Sudahlah, semua sudah terjadi. Saya akan mengantarkan kamu pulang." Khanif berdiri.


"Tidak mau." Rania menolak. "Saya bosan tinggal dirumah, makanya saya pergi kerja."


"Tidak bisa!" tegas Khanif.


"Tidak mau."


Mereka terus saja membujuk dan menolak satu sama lain hingga mereka tidak menyadari kalau sudah ada dua orang yang terus saja memperhatikan mereka.


Barulah saat seseorang yang baru tiba itu tidak sengaja bersin, Rania dan Khanif langsung menoleh padanya. Rania seketika terkejut. Ia tiba-tiba hendak menjauh dari Khanif yang duduk dekat dengannya.


...To be continued ...


Semoga saja yang like, vote dan komen diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki, Aamiin 🤲


...By Siska C...

__ADS_1


__ADS_2