Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 116. Siapa Yang Kamu Maksud


__ADS_3

Saat Khanif baru saja berdiri, tiba-tiba terdengar seruan mama dari dalam rumah, "tunggu!"


Sontak panggilan mama itu membuat Khanif dan Rania berbalik.


"Ada apa, ma?" kata Rania kemudian.


"Kalian sarapan dulu baru berangkat," ujar mama melihat mereka satu persatu, lalu kemudian kembali mengatakan, "tanpa bantahan!"


Setelah mengatakannya, mama lebih dahulu masuk ke dalam rumah. Rania yang memang sudah merasa tidak enak dengan Khanif karena telah membuat Khanif menunggu lama pun, menoleh kearahanya.


"Tak apa, tidak baik menolak ajakan mama kamu."


"Baiklah."


Mereka pun kembali masuk kedalam rumah. Sesampainya mereka di meja makan, mama langsung saja membukakan piring makan didepan Khanif. Khanif yang tidak terbiasa pun hanya mampu tersenyum canggung. Sungguh, hal ini adalah pertama kali baginya.


"Makan yang banyak ya, nak Khanif. Ngga perlu sungkan sama tante."


Sekali lagi Khanif tersenyum seraya menganggukkan kepalanya menanggapi perkataan mama barusan.


Ya, Khanif tahu kalau mamanya dengan papa Rania adalah teman semasa sma, namun ia tidak menduga kalau perhatian mama Rania padanya berlebihan sampai seperti ini.


Bahkan, hampir semua masakan mama Rania ditawarkan padanya. Reyhan dan Rania yang melihat itu bahkan hanya dapat tersenyum sambil terus menikmati sarapan pagi mereka.


"Alhamdulillah, terima kasih, tan," kata Khanif setelah sarapan.


"Nanti datang kesini lagi ya."


Khanif menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu kami pamit, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Ma, Rania pergi dulu."


"Iya, sayang. Hati-hati."


Mereka pun berlalu menuju mobil Khanif. Mama masih berada didepan pintu menunggu mereka masuk ke dalam mobil. Saat Rania hendak masuk, Rania lalu melambaikan tangannya pada mama.


Mama memang melambaikan tangannya juga, namun mama melambaikan tangannya karena membalas lambaian tangan khanif. Rania yang melihatnya pun hanya dapat tersenyum lalu kembali melanjutkan masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Bapak adalah orang cepat akrab dengan orang lain ya?"


"Orang lain siapa?"


"Mamaku."


"Mamamu bukan orang lain bagiku," kata khanif menoleh sebentar pada Rania. Lalu kemudian khanif melanjutkan perkataannya hingga membuat Rania menoleh kepadanya dengan mata yang meloto tak menyangka, "Emm, dia seperti orang tua bagiku."


"Mana bisa begitu!" katanya sewot.


"Tentu saja bisa."


"Sudahlah, tiap kali begini pasti saya selalu saja harus mengalah!"


"Emm... kamu salah besar, karena disini, kamu lah yang salah lebih dulu."


"Huh, sudahlah. Kalau saya terus ngeladenin bapak, lama-lama saya cepat tua."


Rania pun menolehkan wajahnya ke arah kanan dengan tangan yang terulur membuka kaca mobil. Ia lebih baik melihat ke arah luar dari pada terus meladeni Khanif berbicara. Pasalnya, tiap kali berbicara santai dengan Khanif, pasti ada saja ketidakcocokan antara mereka yang terjadi kemudian.


Ia juga tidak tahu apa penyebab ketidakcocokan mereka. Apa karena Khanif sengaja ingin membuatnya kesal atau karena dirinya yang terlalu menanggapi perkataan Khanif. Tapi, atas dasar apa Khanif ingin membuatnya kesal? Tidak adakan. Sepertinya dirinyalah yang terlalu terbawa perasaan, hingga apa yang Khanif katakan hampir selalu membuatnya kesal.


"Tidak apa," jawabnya singkat.


"Kalau kamu merasa tidak enak badan, katakan saja."


"Tidak, tidak apa. Sungguh!" katanya meyakinkan.


Khanif menganggukkan kepalanya. Ia lalu menambah laju kendaraannya agar mereka bisa segera sampai ditempat tujuan. Khanif yang begitu fokus mengendarai mobilnya, tiba-tiba saja dibuat terkejut oleh pekikan tiba-tiba dari Rania, "berhenti!"


Tentu saja hal itu membuat khanif mengerem mendadak mobilnya. Untung saja mereka memasang sealbelt kalau tidak, mungkin saja saat ini kepala mereka telah terbentuk dengan kaca mobil.


Baru saja mobil berhenti, Rania dengan terburu-baru melepas sealbelt-nya, lalu berlari keluar dari mobil. Hal itu tentu saja membuat khanif lagi-lagi terkejut. Mau tak mau khanif ikut bergegas keluar dari mobil. Ia takut kalau terjadi apa-apa dengan Rania.


Khanif menghela napas lega saat melihat Rania tengah berjongkok tidak jauh didepan mobilnya dengan seekor kucing dipangkuannya. Khanif lalu menghampirinya.


"Huft, kamu hampir membuatku jantungan!" kata Khanif sambil mengelus-ngelus dadanya. "Ku mohon, lain kali jangan terburu-baru seperti ini. Jangan buat aku khawatir. Apalagi ini dijalan raya, untung saja saat ini kendaraan masih sepi. Kalau tidak, aku tidak tahu harus menjelaskan apa pada kakakmu, kalau sampai terjadi sesuatu."


Tanpa menanggapi perkataan Khanif, Rania malah mengajak kucing putih orens itu berbicara, "kucing kecil, untung aku melihatmu, kamu tidak apa-apa kan?"

__ADS_1


Seakan menjawab pertanyaan Rania, kucing kecil itu pun mengelus bulunya pada Rania. Hal itu pun sukses membuat Rania tersenyum senang karena Rania tahu kucing dipangkuannya itu tidak apa-apa.


Rania pun berdiri dengan kucing yang masih bersamanya. Melihat Khanif terus saja memperhatikannya, membuat Rania sadar kalau dirinya telah membuat lelaki yang bersamanya ini jadi khawatir.


"Maaf, saya tidak bermaksud begitu," katanya menyesal.


"Sudahlah, lain kali bilang dulu kalau ada sesuatu."


Rania menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Khanif pun berlalu dari hadapan Rania dengan masuk ke dalam mobil begitu pula dengan Rania. Ia ikut masuk ke dalam mobil dengan masih membawa kucing kecil itu.


Didalam mobil yang kembali telah melaju, mereka sama-sama terdiam. Hingga beberapa detik kemudian, Rania teringat akan perkataan Khanif tadi. Rania pun menolehkan wajahnya pada Khanif, lalu dengan lancarnya, sebuah pertanyaan keluar dari bibirnya.


"Kenapa saya buat bapak khawatir?"


"Apa?"


"Tadi saya dengar bapak mengatakan 'jangan buat saya khawatir', atas dasar apa bapak bisa mengatakan hal seperti itu?"


"Itu karena kakakmu telah menitipkan keselamatanmu padaku. Coba kamu pikirkan, apa tanggapan Reyhan padaku kalau terjadi sesuatu padamu? Sudahlah, kamu urus saja kucing itu," ujar Khanif kembali fokus mengendarai mobilnya.


Rania pun tidak memperpanjang pertanyaannya lagi. Ia kini telah beralih melihat kucing yang telah diselamatkannya dari jalan raya.


"Kucing kecil, kenapa kamu begitu lucu," kata Rania sambil tertawa kecil melihat kucing itu begitu menggemaskan. Rania pun mengelus-ngelus kucing kecil itu sambil terus memainkannya.


Beberapa detik berikutnya, muncul ide jahil dikepalanya. Rania dengan sengaja mendekatkan kucing kecil itu pada Khanif. Ia mengangkat kucing kecil itu, lalu kemudian berujar, "kucing kecil kamu begitu lucu dan menggemaskan. Tidak seperti seseorang disampingmu itu."


"Siapa yang kamu maksud?" kata Khanif tiba-tiba namun dengan suaranya yang pelan.


"Siapa yang bertanya, berarti dialah orangnya."


Saat Khanif hendak menjawab perkataan Rania, tiba-tiba ia merasa aneh pada dirinya. Khanif pun memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Merasa ada yang tidak beres pada Khanif, membuat Rania khawatir.


"Bapak kenapa?" tanya Rania dengan wajah yang terlihat panik.


"Saya ... saya ...."


...To be continued ...


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲

__ADS_1


...By Siska C...


__ADS_2