
Khanif sudah bisa menunggangi kudanya sendiri karena Rania memaksanya ingin memakai jasa pengendali kuda yang tadi disewanya. Bukan karena Rania tidak lagi menyukai cara Khanif dalam mengendalikan kuda tunggangannya.
Hanya saja, Rania ingin Khanif menikmati keindahan alam disini dengan cara menunggangi kuda sendiri seperti Davina yang sudah kelihatan jauh dari mereka.
Seperti tadi, Khanif pun naik ke pelana kudanya. Rania kembali terpesona akan keahlian Khanif ini. Ia melihat Khanif seperti pangeran dalam negeri dongeng dengan kuda putih yang gagah. Dengan tali kekang kuda yang dipegang erat oleh tangan Khanif yang kokoh.
"Kenapa?" tanya Khanif keheranan melihat Rania yang bengong melihatnya.
"Bapak seperti pangeran dalam negeri dongeng dengan kuda putih yang gagah," ungkap Rania tanpa sadar dengan mata yang berbinar kagum dan pipi yang memerah seperti tomat matang.
"Hus, jangan mendongeng diwaktu seperti ini!" putus Khanif pada khalayan Rania yang begitu tidak mungkin terjadi padanya.
Rania sadar. Ia begitu malu pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa disaat seperti ini ia bisa membuat dongeng menjadi nyata baginya.
Rania lantas menggelengkan kepalanya. Sepertinya ia harus menjauh dulu dari Khanif dan lebih baik ia menyusul Davina yang hampir tidak kelihatan lagi dari pandangannya.
"Pak Khanif, saya mau menyusul mbak Davina."
"Pergilah, nanti saya menyusul."
Rania pun pergi meninggalkan Khanif yang entah urusan apa lagi Khanif berbalik arah dengannya. Tidak ingin bertanya, Rania pun menyuruh bapak pengendali kudanya segera menyusul Davina.
Meski kudanya tidak berlari, tapi Rania tetap bisa melihat Davina didepannya dengan jarak kurang lebih limapuluh meter. Namun entah mengapa tiba-tiba kuda yang ditunggangi Rania berjalan lambat - saat kuda Rania semakin dekat dengan kuda yang ditunggangi oleh Davina. Rania sempat heran dibuatnya karena sebelumnya kuda itu berjalan cepat untuk menyusul Davina yang telah jauh dimata.
"Pak, kenapa kuda ini kembali berjalan lambat?"
"Oh itu, mungkin kuda ini lelah dan ingin berjalan pelan."
Mendengarnya, Rania perlahan paham. Namun tak urung rasa heran itu lenyap dari dalam hatinya. Bahkan rasa itu bertambah dengan rasa yang membuatnya merasa cemas. Rania lantas menoleh kebelakang, ia menoleh mencari keberadaan Khanif. Tapi sayang, batang hidung Khanif belum juga terlihat oleh iris mata coklat Rania.
"Pak Khanif kemana? Kenapa belum terlihat juga?" tanya Rania dalam hati.
Jika tahu begini, ia lebih baik tidak memaksa Khanif untuk meninggalnya. Sudahlah, sekarang nasi telah menjadi bubur. Meski masih bisa ditelan, tapi rasanya telah berbeda.
"Huft, berandai pun tidak akan mengembalikan waktu lagi," gumam Rania.
Sungguh ia benar-benar bosan saat ini. Apalagi dengan jalan kuda yang pelan, ditambah dengan orang-orang berkuda yang kian sedikit dilihat oleh pandangan matanya.
"Anda kenapa?" tanya bapak pengendali kudanya.
"Oh!" Rania terperanjat. Ia lupa dengan bapak yang bertopi ini disamping kudanya.
"Tidak apa-apa pak. Tapi, apakah tidak bisa kalau kuda ini dipercepat langkah kakinya sedikit?" tutur Rania.
"Aduh, sudah tidak bisa lagi karena kuda bapak ini sudah tua. Kasian kalau dipaksa berjalan cepat."
Ah, lagi-lagi Rania menyesali keputusnnya. Jika saja ia meminta tolong saja pada Khanif untuk memilihkannya sebuah kuda, pasti ia tidak akan berada dikeadaan seperti ini. Lagi-lagi ia hanya bisa mengatakan dalam hati, "nasi sudah menjadi bubur."
Rania jadi teringat awal mereka datang kemari. Ia memang sempat merasakan kalau saat ini ia merasa seperti terlalu menyenangkan baginya. Ia juga sempat takut kalau sesuatu akan terjadi pada dirinya karena rasa senang yang entah datangnya dari mana. Ia merasa aneh saja.
__ADS_1
Rania tersentak, tiba-tiba kudanya memekik hebat. Rania pun menoleh mencari bapak yang menjadi pengendali kudanya. Namun seberapa kuat ia mencari, bapak itu tidak terlihat lagi.
Rania lantas berteriak memanggil bapak yang tadi. "Pak, Bapak kemana?"
Merasa tidak ada jawaban, Rania lantas hendak turun dari kudanya. Namun belum juga ia bergerak selangkah, bapak yang tadi kembali lagi. Rania merasa heran melihat bapak yang tadi dari kejauhan. Ia merasa seperti mengenali sosok bapak itu. Tapi mirip seperti siapa? Rania bertanya-tanya dalam hati.
Hingga ia teringat sesuatu hal yang telah ia lupakan baru-baru ini. "Alex!"
"Akhirnya kamu sadar juga."
"Ke ... kenapa kamu ada disini?"
"Menurutmu kenapa aku ada disini?" tanya balik Alex.
"Jangan berani macam-macam ya. Disini banyak orang yang dapat melihatmu," terang Rania.
"Untuk apa aku memikirkan hal itu kalau sekarang hidupku telah hancur gara-gara kamu!" herdik Alex membuat Rania terkejut.
Rania tiba-tiba melihat sekelilingnya. "Kenapa tidak ada orang yang terlihat disekitar sini!" ujar Rania dalam hati saat tidak mendapati satu orang pun yang dapat ia minta tolong.
"Jangankan mencari orang yang dapat membantu, teriak pun tidak ada orang yang akan mendengarkanmu."
"Apa maksudmu, hah!"
Alex tertawa seperti orang yang sudah tidak waras. Ia seperti telah kerasukan.
"Maksudku, kamu tidak akan bisa ditolong lagi." Kali ini tawa Alex terdengar kian menggelegar. Membuat nyali Rania seketika menciut.
"Kamu mau apa?"
"Aku, tentu saja membalas dendam padamu karena telah menghancurkan masa depanku dengan kekasihku yang cerah."
"Itu salahmu sendiri, kenapa masih mendekati wanita lain kalau kamu sudah memiliki kekasih!"
Aduh! Rania sadar. Ia telah membuat Alex makin marah. Harusnya ia mengulur waktu, bukannya malah sebaliknya. Ingin mundur, sepertinya sudah tidak bisa lagi karena Alex sudah mendorongnya sampai ke tepi jurang yang terjal. Tapi kalau tidak melawan, Rania pasti akan dianggap sangat lemah.
"Salahku? Kamu bilang salahku? Jika kamu tidak ikut campur, semua ini tidak akan terjadi, kau tahu!"
"Ya, aku tahu, aku salah."
Lebih baik Rania memilih salah dari pada ia harus mendapatkan sesuatu yang tidak diinginkannya.
"Tidak, kamu tidak salah. Tidak salah! Tapi ... Tapi kamu datang diwaktu yang salah, kau tahu. sekarang semuanya telah terjadi."
"Ok ... ok ..., aku minta maaf padamu."
"Aku dengan senang hati memaafkanmu, tapi kamu juga harus merasakan apa yang telah ku rasakan ini."
"Apa maksudmu!"
__ADS_1
Rania kian ketakutan melihat senyum sinis Alex padanya. Namun, ia tidak ingin menunjukkannya.
"Sudahlah, aku sudah lelah berdebat denganmu. Kini saatnya kamu harus merasakan akibatnya."
"Alex ... Alex ... ku mohon, jangan melakukan hal yang macam-macam. Disini banyak orang yang pasti akan mengetahui kelakuanmu."
"Kenapa kalau mereka tahu? Aku sudah tidak peduli. Jika harus hancur bersama dengamu, maka aku baru akan puas."
"Jangan bodoh. Masa depanmu masih jauh didepan. Jangan merusaknya hanya gara-gara masalah ini."
"Sudah ku katakan, aku tidak peduli."
Sudah, Rania sudah lelah membuat Alex sadar akan tindakannya. Ia juga sudah lelah mengulur waktu, tapi tetap saja tidak ada orang yang terlihat berjalan di jalan yang ia lewati. Tunggu, Rania teringat. Sebelum sampai ke daerah sini, Alex yang masih menyamar menjadi bapak paruh baya itu, membuat kudanya berbelok ke jalan yang lebih kecil.
"Pak, kok belok sini sih?"
"Oh itu, jalanan didepan lagi ada perbaikan. Jadi bapak membawamu jalan lewat jalan ini agar cepat menyusul temanmu yang tadi ada didepan."
Rania tersentak kaget dari ingatannya dari beberapa menit yang lalu, gara-gara ucapan Alex selanjutnya, "kamu sekarang sudah sadar. Baguslah, jadi aku tidak perlu lagi mengingatkannya padamu."
***
Sedangkan disisi lain, Davina dan Khanif telah bersatu. Saat ini mereka tengah mencari keberadaan Rania.
"Kemana dia? Apa dia tersesat!" ujar Davina khawatir.
"Sepertinya tidak, pengendali kuda itu pasti hafal setiap jalan disini. Bagaimana mungkin bisa tersesat."
"Jadi Rania kemana?"
"Begini saja, kamu pergi memanggil petugas dan mengatakan kalau kamu butuh bantuan. Sedangkan aku akan pergi mencari Rania sekarang."
Davina mengangguk cepat. Secepat ia mengangguk, secepat itu pula ia pergi menemui petugas wisata hutan pinus ini. Sedang Davina menemui petugas, Khanif mulai mencari keberadaan Rania.
Ia pun memanggil-manggil nama Rania. Tidak sia-sia, ia mendengar suara Rania. Tapi ... suara Rania terdengar seperti suara minta tolong. Khanif lalu memacu kudanya menuju ke sumber suara.
Rania yang masih mencoba menenangkan Alex, kini sudah kehabisan akal. Alex pun sepertinya sudah sangat ingin membalas demam.
Mengetahui kalau sebentar lagi aksinya akan ketahuan, Alex tidak mau membuang waktu lagi. Alex lalu memukul punggung kuda Rania keras-keras hingga membuat kuda Rania memekik keras sebelum membawa Rania lari.
Khanif yang baru tiba, jadi terkejut melihat kuda Rania berlari sangat cepat dengan masih membawa Rania.
Khanif berteriaki nama Rania sekuat tenaga, "Rania!"
...To be continued ...
Sebentar lagi kita masuk pada bagian militer ya, ada yang suka ngga?
Semoga yang berikan like, vote, komen diberikan kesehatan dan kelancaran rezeki oleh Allah, Aamiin 🤲
__ADS_1
...By Siska C ...