Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 26. Kekhawatiran Khanif


__ADS_3

"Boleh. Rania sayang kakak, karena kakak mengerti keinginan Rania tanpa Rania bilang terlebih dahulu." ujar Rania dengan senyuman merekah. Entah sudah berapa kali Rania tersenyum seperti itu. Ia sendiri pun tidak tau.


"Kakak juga sayang, Rania. Tapi, bo'ong," balas Reyhan terkekeh sambil mengacak-acak rambut Rania.


"Kakak lihat, rambut Rania jadi teracak gara-gara tangan nakal kakak, kan."


"Itu bukan nakal, tapi gemes. Siapa suruh terlalu menggemaskan."


Rania merenggut, tetapi sesaat kemudian ia cengegesan. Ia ingat betul, sudah banyak waktu berlalu saat Rey membuat rambutnya berantakan. Ia tau, ia memang menggemaskan tapi, tidak perlu juga merusak tatanan rambutnya kan! Ia lalu membalas Reyhan dengan kata-kata lembut, "tapi kakak suka kan?"


"Tentu saja suka. Kalau tidak begitu, mana kakak bisa suka. Apalagi sampai sayang." Sekali lagi Rey membuat Rania kesal dengan mencubit pipi gemas.


Rania pun memukul lengan Rey pelan, lalu berkomentar, "ih! Kakak jahat, sakit tau. Tidak rambut, pipi Rania pun jadi korbannya juga."


"Tapi sayang kan?"


"Ngga. Malah Rania nyesel ikut sama kakak." Rania merenggut dengan mengerucutkan bibirnya.


Seketika Reyhan tertawa lepas mendengar suara manja dan mimik wajah Rania. Sungguh, ia suka membuat Rania kesal. Apalagi ia sudah lama tidak melakukannya.


"Baiklah, baiklah. Kakak minta maaf. Kakak dimaafkan kan?"


"Tergantung."


Sekali lagi Rey terkekeh. Ia mengerti betul maksud Rania mengatakan kata 'tergantung'.


"Baiklah, malam ini biar kakak yang traktir. Kamu pilih makanan apa aja. Terserah."


Rania melihat Reyhan dengan mata berbinar. Inilah sedari tadi yang ia tunggu. Lalu tanpa sungkan, ia pun memanggil pelayan yang tadi habis mengantarkan mereka buku menu, baru kemudian menyebutkan makanan yang hendak di pesannya.


Reyhan yang mendengarnya jadi melongo, ia heran. Apa benar Rania memang lagi berniat makan banyak atau memang lagi kelaparan? Jika benar Rania sedang kelaparan, Rey akan mengomentari lelaki yang mengaku sebagai atasan Rania saat ia mengantar Rania pulang nanti.


Bisa-bisanya dia membuat Rania menjadi kelapan begini. Ia sendiri pun tidak pernah membuat Rania menjadi seperti ini. Bahkan sebelum Rania meminta, ia yang lebih dahulu menawarinya.


Rania yang paham akan perubahan mimik wajah Reyhan, lantas memegang tangannya untuk menenangkannya. Sekaligus ingin menjelaskannya kenapa dirinya memesan begitu banyak makanan.


"Kakak jangan salah paham dulu, pak Khanif tidak membuat Rania kelapan. Bahkan selama Rania disini, makanan Rania terjamin. Lihat, pak Khanif tadi mengajak kami makan bersama."


"Tapi dia salah tempat," koreksi Reyhan saat Khanif membawa Rania untuk makan malam di rumah makan khusus seafood.

__ADS_1


"Rania tau. Tapi pak Khanif tidak tau kalau Rania memiliki pantangan kalau memakan seafood berlebihan. Tapi, bukannya kakak harus gembira karena bertemu Rania disana?"


"Ya, itu salah satunya yang membuat kakak diam. Sudahlah, kamu selalu berhasil membuat kakak mengalah."


Rania terkekeh. Ia bersyukur kakaknya begitu perhatian. "Jadi, kita bisa diam menikmati makanan saja?" bujuk Rania.


"Tentu saja." Reyhan balas tersenyum.


Mereka pun menikmati makanan yang baru saja diantar oleh pelayan tadi. Sementara Rania dan Reyhan baru saja menyantap makanan, Khanif dan Davina sudah hampir selesai memakan makanan mereka.


Sedari awal saat mulai menyantap makanannya, Khanif tidak begitu terlalu menikmati makananya karena kini pikirannya tidak tertuju pada makanan yang sangat menggugah selera ini, melainkan pikirannya tertuju pada Rania yang dibawa pergi oleh lelaki yang dikenal Rania namun tidak dikenalnya.


Pikirannya melayang entah kemana. Apalagi saat mereka sudah pulang ke penginapan, namun Rania masih belum tiba juga. Khanif terus saja mondar-mandir di dalam kamarnya. Ia begitu cemas menanti kedatangan Rania.


"Kemana Rania pergi? Kenapa jam segini belum pulang juga. Kami saja tidak makan malam sampai selama ini," komentar Khanif dalam hati. Sungguh, jika ia mengetahui keberadaan Rania, detik ini pun ia akan segera menjemputnya pulang.


Sudah beberapa menit berlalu sejak ia mondar-mandir tanpa memikirkan kalau ia bisa saja pusing. Kecemasannya pun meningkat tatkala saat ia menghubungi ponsel Rania, namun tidak mendapatkan jawaban karena ternyata ponsel Rania sedang tidak aktif. Sungguh hati dan pikiran Khanif saat ini bertambah kalut.


Ia ingin keluar mencari, namun ia tidak tau persis Rania berada dimana. Jika seperti itu, maka sama saja kalau mencari cincin didalam ruangan yang luas tanpa penerangan apapun. Tentu saja semuanya akan sia-sia. Khanif lantas menghela nafas berat nan panjang. Otaknya hampir meledak memikirkan Rania yang tanpa kabar sedikitpun.


Saat Khanif hendak membuka pintu kamar karena ingin menunggu diluar penginapan saja, pintu kamar Khanif diketuk oleh seseorang. Mendengarnya, Khanif melangkah cepat membuka pintu.


"Pak."


Davina mengangguk, ia lalu berkata, "Rania baru saja sampai. Mereka masih ...."


Tanpa memperdulikan perkataan Davina selanjutnya, Khanif sudah menerobos keluar untuk menemui wanita yang sudah membuatnya sangat khawatir ini.


Sementara diluar penginapan, Rania dan Reyhan masih sibuk berbincang-bincang saat Khanif menghampiri mereka. Khanif masih diam memandangi Rania dan Reyhan yang masih belum sadar akan kedatangannya.


Khanif lalu berdehem, agar dua orang berbeda jenis itu segera mengetahui kedatangannya.


"Pak Khanif," ujar Rania terlebih dahulu menoleh.


"Kalian sudah pulang."


"Hari sudah sangat malam, apalagi dengan cuaca seperti ini. Masuklah lebih dahulu," saran Khanif.


Rania mengangguk, ia lalu beralih kembali melihat Reyhan untuk pamit masuk ke dalam rumah. "Kak, aku masuk dulu."

__ADS_1


"Hem, masuklah, nanti kakak akan datang lagi."


"Iya kak. Rania tunggu." Setelah mengatakannya, Rania pun meninggalkan Khanif dan Reyhan.


Kini tinggallah, Khanif dan Reyhan yang masih berada didepan penginapan. Merasa suasana tiba-tiba terasa canggung, Reyhan pun pamit pulang. Bukannya ia ingin menghindar, hanya saja ia masih punya urusan yang masih mendesak.


"Hari sudah sangat malam, saya pamit pulang dulu. Permisi." Setelah mengatakannya, Reyhan pun berbalik untuk pulang.


"Tunggu!" ujar Khanif menghentikan langkah kaki Reyhan. Membuat Reyhan kembali berbalik.


"Ya."


"Bisa kita duduk sebentar?"


"Tentu saja."


Mereka pun duduk di kursi depan penginapan. Sebelum Khanif membuka suara, Reyhan sudah lebih dahulu memulai percakapan.


"Maaf, saya tidak langsung membawa Rania pulang setelah makan malam."


"Kali ini saya akan memaafkan Anda. Tapi kalau hal yang sama terjadi lagi dikemudian hari, saya tidak bisa menjaminnya."


Reyhan tersenyum menanggapi. Ia yakin kalau lelaki didepannya ini sangat memegang teguh perkataannya. Apalagi ia sempat mendengar cerita Rania sebelum kemari yang mengatakan kalau khanif berjanji akan menjaga Rania selama ikut tugas ke kota ini. Mendengar cerita Rania, Reyhan bisa sedikit merasa lega.


Ia pun sedikit memiringkan tubuhnya saat mulai berbicara, agar Khanif mempercayai apa yang ingin dikatakannya dan juga membuat Khanif tidak perlu terlalu khawatir lagi selama dirinya ada didekat Rania.


"Sebelumnya Rania telah memberitahu saya, kalau Anda telah berjanji pada papa Rania untuk menjaga Rania selama ada disini. Tapi Anda jangan khawatir, selama Rania bersama saya, saya pun akan menjaga Rania meski harus mempertaruhkan diri saya sendiri."


Khanif melihat Reyhan. Ia ingin mencari sinar keraguan di manik mata Reyhan, namun Khanif tidak menemukannya.


Merasa Khanif belum mempercayainya, Reyhan pun kembali mengatakan, "saya tidak akan membuat Anda percaya pada kata-kata saya. Tapi saya akan membuat Anda percaya lewat tindakan saya." Sesudah mengatakannya, Reyhan terdiam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya lagi, "baiklah, saya pulang dulu."


Reyhan pun pergi meninggalkan Khanif. Saat Reyhan sudah berada didepan pintu mobilnya, Reyhan menghentikan tangannya yang hendak membuka pintu mobil karena mendengar pertanyaan Khanif yang tertuju padanya.


"Apa hubunganmu dengan Rania?"


Reyhan berbalik, ia lalu menjawab, "saya dan Rania, kami ...."


...To be continued ...

__ADS_1


Semoga yang like/vote/komentar diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah, aamiin 🤲


...By Siska C ...


__ADS_2