Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 121. Nasi Sudah Menjadi Bubur


__ADS_3

"Ra, lihat aku dulu dong. Penting ini!" sungut Dian serius.


Rania lantas menolehkan wajahnya pada Dian. "Ada apa?"


"Aku lapar nih, kamu udah makan belum?"


"Hah! Jam segini kamu belum makan?"


Dian menganggukkan kepalanya. "Kamu udah makan belum?" tanyanya ulang.


"Udah tadi. Makanya aku semangat gini kerjanya," kekeh Rania.


"Ah, masa gara-gara makan kamu bisa se-semangat ini? Makan di kantin pun ngga kayak gini biasanya. Pasti ada yang beda!" tebak Dian.


"Mana ada. Sudah ah, aku mau lanjut kerja dulu."


"Eh tunggu, aku denger ada restoran yang memberikan tiket gratis nonton. Baru tiketnya itu, tiket nonton film yang aku ingin ajakin kamu, loh! Gimana kalau nanti kita pergi makan disana saat pulang. Siapa tahu kita bisa dapat juga. Mumpung gratis."


"Aku masih kenyang. Ngga bisa isi perut lagi. Kalau kamu mau, kamu ajakin yang lain aja."


"Ya, ngga seru itu. Ayolah, Ra!" bujuknya lagi.


"Makasih atas ajakannya, tapi bener deh, aku udah kenyang ini. Mungkin besok baru bisa makan lagi."


"Atau jangan-jangan kamu udah pergi kesana? Hayo ngaku!"


Rania menghela napas panjang. Pada akhirnya, Dian pasti tau juga! "Iya udah. Makanya nih, aku kekenyangan."


"Wah, berarti kamu dapat tiket nonton dong. Eh, tapi tunggu. Tiket itu kan bisa didapatkan kalau makannya dua orang," ujar Dian. Tiba-tiba saja angin segar hinggap di kepala Dian hingga membuat wanita berhijab itu senyum-senyum melihat Rania. "Pantasan aja aku udah setengah mati ngajakin kamu nonton, kamu malah nolak terus. Ternyata, kamu udah dapat tiketnya toh! Ngomong-ngomong kamu pergi sama siapa?"


"Apa pak Khanif kayak aku juga ya?" katanya dalam hati yang tidak lagi memperhatikan ucapan Dian yang masih menunggu jawabannya.


"Ra," panggilnya saat Rania masih saja sibuk dengan pemikirannya sendiri. "Rania!" panggilnya sekali lagi hingga membuat Rania tersadar.


Ah, bukan Rania saja yang menoleh padanya, melainkan teman-teman ruangannya pun ikut melihat Dian. Bagaimana tidak, Dian memanggil Rania seperti ia memanggilnya dalam jarak lima puluh meter. Dian lantas menutup mulutnya dan menundukkan kepalanya pada mereka yang melihatnya sebagai tanda permintaan maaf.


"Kamu lagi mikirin apa, sih!"


"Mikirin kamu yang baru saja berteriak memanggil namaku," canda Rania.

__ADS_1


"Aku serius loh, ini. Ah, sudahlah. Sekarang jawab pertanyaanku. Kamu pergi nonton sama siapa?"


"Kamu jangan ribut, ya."


Dian menganggukkan mengiyakan ucapan Rania.


"Aku pergi sama, pak Khanif!"


"What!" teriaknya tanpa sadar.


Nasi sudah menjadi bubur. Sudah Rania duga akan jadi seperti ini jadinya, tapi ia masih saja meminta Dian agar tidak terkejut bahkan sampai berteriak dan untuk kedua kalinya, para karyawan satu ruangan mereka melihat mereka dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Ups, maaf. Aku ngga sengaja," sesal Dian.


Baru saja Rania ingin membalas ucapan Dian, May - atasan mereka sudah lebih dahulu menegur mereka karena membuat percakapan yang tidak ada hubungannya dengan perkerjaan. Rania dan Dian lantas kembali mengerjakan pekerjaan mereka lagi.


"Sekali lagi kalian bercakap-cakap pada hal yang tidak ada hubungannya dengan perkerjaan, kalian akan menerima akibatnya!" ketus May berlalu meninggalkan mereka.


"Baru juga ini," komen Dian tak terima seraya memajukan bibirnya tak suka.


"Udah, ini salah kita kok. Bercakap selama waktu kerja," lerai Rania. "Aku mau lanjut kerja lagi. Kamu juga, biar kita cepet pulang."


***


Khanif tengah sibuk membaca dokumen pemasaran saat intercom-nya berbunyi. Ia lalu menekan tombol menerima panggilan dengan dirinya yang menyadarkan diri disandaran kursi saat menjawabnya,  "ya, ada apa?" tanya Khanif.


"Pak, mbak Tasya ada di lobi sekarang."


"Bukannya saya sudah bilang jika ada yang mencari saya, tapi tidak ada urusannya dengan pekerjaan kamu tolak saja."


"Dia ngotot ingin keruangan, bapak." cicitnya. Pasalnya, saat ini Tasya berada didepannya dengan pandangan mata yang tidak pernah lepas darinya.


Khanif memijit pelipisnya yang terasa pening. "Kamu bilang saja saya lagi sibuk dan kamu atur ulang pertemuan saya dengannya."


"Saya sampaikan pak," katanya mengakhiri pembicaraannya dengan Khanif.


"Maaf, mbak. Pak Khanif lagi sibuk. Beliau tidak bisa diganggu. Kalau mbak mau, saya akan menjadwalkan ulang pertemuan mbak sama pak Khanif," jelas Sintia, resepsionis kantor Khanif.


Tasya memanyunkan bibirnya tak suka. "Kalau dia sibuk tidak bisa menemuiku disini, maka saya yang akan menemuinya di ruangannya!"

__ADS_1


"Eh, mbak ...."


Belum lagi Sintia menyelesaikan kata-katanya, Tasya secepat mungkin berlalu dari sana menuju lift. Sintia tidak tinggal diam. Ia menunggu lift berikutnya untuk menyusul Tasya. Biar bagaimana pun, ia tetap harus melakukannya agar Khanif tau kalau dirinya telah melarang wanita keras kepala itu.


Baru saja Tasya keluar dari lift. Ia bernafas lega saat ia tidak mendapati sekretaris Khanif yang biasanya menanyainya juga. Tasya pun melenggang masuk ke dalam ruangan Khanif. Saat Tasya hendak memutar knop pintu, tangannya dicegat oleh Sintia yang baru tiba dengan napas yang ngos-ngosan.


"Mbak, Pak Khanif lagi sibuk. Beliau tidak ingin di ganggu," jelas Sintia lagi.


"Udah terlanjur juga," kata Tasya yang bermaksud kalau dirinya sudah berada didepan pintu ruangan Khanif. Tinggal memutar knop pintu saja, maka ia bisa bertemu Khanif. "Minggir, jangan menghalangi jalan saya!" herdik Tasya seraya menyentakkan tangan Sintia.


Setelah pegangan Sintia terlepas, Tasya lalu memutar knop pintu ruangan Khanif lalu melangkahkan kakinya masuk.


"Khanif!" panggil Tasya tersenyum.


Khanif lantas mendonggakkan wajahnya. Melihat wanita yang kini tengah berjalan kearahanya.


"Maaf, pak. Saya sudah melarang mbak Tasya, tapi mbak-nya malah melenggang masuk ke ruangan, bapak," cicit Sintia takut-takut kalau Khanif malah menganggap pekerjaannya tidak becus.


"Hem, tak apa. Kamu bisa pergi sekarang."


"Baik, pak. Saya pamit undur diri," pamitnya kemudian. Sebelum Sintia berlalu dari ruangan Khanif, Sintia melihat sekilas pada Tasya yang tersenyum lebar padanya. Tasya seperti menunjukkan kalau Sintia telah salah kalau Khanif akan menyuruhnya keluar.


"Huft, resepsionis kamu itu, terlalu kaku banget jadi orang," keluh Tasya seraya berjalan ke arah sofa. "Masa aku yang udah dia kenal betul dilarang pergi ke ruanganmu. Aku kan, ngga tiap hari kesini!" komentar Tasya.


Semsampainya disana, Tasya lalu mendudukkan dirinya dengan menghadap pada Khanif agar ia bisa melihat apa yang tengah Khanif kerjakan.


"Itu sudah tugas dia!" lerai Khanif. "Kamu lihat sendiri kan, banyaknya tumpukan dokumen di meja kerjaku ini?"


Tasya menganggukkan membenarkan. "Tapi aku ngga suka di begitu-in. Lagi pula aku datang kesini bukan buat gangguin pekerjaan kamu!"


Jika Khanif tidak segera mengubah topik pembicaraan mereka, entah sampai kapan Tasya akan selalu merasa kesal pada resepsionis-nya itu. Khanif lalu menyadarkan tubuhnya ke sandaran kursi seraya menghela napas lelah.


"Oh  iya. Ada apa kamu datang kemari?"


"Aku ...," ujar Tasya ragu-ragu untuk mengatakannya pada Khanif karena Tasya takut kalau Khanif tidak akan suka dengan perkataannya itu.


...To be continued...


Note : Minder adalah perasaan saat kamu tidak yakin akan kemampuanmu. Kamu secara nggak sadar menganggap dirimu tidak akan cukup untuk mencapai suatu target tertentu.

__ADS_1


...By Siska C...


__ADS_2