Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 152. Don't Misunderstand


__ADS_3

Perkataan Khanif dua hari yang lalu pada Rania terbukti benar. Semua itu terlihat saat ia tidak lagi mengantar jemput Rania, tidak lagi mengajak Rania makan siang dan tidak lagi sengaja berpapasan dengan Rania dimana pun.


Semua hal itu pun membuat Rania merasa ada yang kurang darinya, namun ia masih saja menyangkalnya. Bahkan saat Dian dengan sengaja menggoda dirinya yang terus-terusan saja melamun sesaat sejak kemarin, ia seperti sengaja mengelaknya.


"Sepertinya ada yang lagi-lagi sedang melamun, nih!" ujar Dian.


Rania tersadar. Ia lalu menolehkan wajahnya pada Dian karena ingin menunjukkan kalau perkataan Dian tidaklah benar.


"Siapa juga yang melamun. Aku tuh lagi pusing sama laporan keuangan tahunan ini," dusta Rania sebagian.


"Sepertinya ada yang mengelak, nih."


Rania kembali melihat Dian dengan wajah yang sengaja ia buat cemberut.


"Iya, iya, deh," kata Dian akhirnya mengalah untuk tidak menggoda Rania lagi.


Ia lalu mendudukkan dirinya di kursi kerjanya, lalu memutarnya hingga menghadap pada Rania.


"Apa aku bilang, nanti kamu akan nyesal sendiri kalau pak Khanif ngga ngajakin kamu makan siang lagi. Ini aja baru dua hari, tapi kamu udah sering melamunkan pak Khanif. Gimana kalau seminggu atau sebulan atau bahkan sampai seta ...."


"Udah, udah. Jangan mengatakan hal yang tidak mungkin lagi," potong Rania cepat.


Dian lalu mendekatkan dirinya pada Rania.


"Apa pak Khanif ngga pernah menelponmu atau mengirimkan sms padamu untuk sekedar bertanya kabar?" tanya Dian membuat Rania menggelengkan kepalanya pelan tanda membenarkan perkataan Dian.


"Gawat!" ujar Dian pura-pura panik, hingga membuat Rania ikutan panik juga.


"Gawat kenapa?"


"Ya, gawat aja. Gimana kalau pak Khanif udah dapat pengganti kamu."


"Bukannya bagus kalau gitu? Akukan tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi."


Deg, seseorang yang sedang di lamunkan Rania beberapa saat yang lalu pun terpaku diam ditempatnya. Niat hati ingin mengajak Rania makan siang karena sudah dua hari ini ia sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Namun yang ia dapati tidak sesuai dengan rencananya.


Ia bahkan sengaja tidak mengirim kabar atau menanyakan kabar Rania karena ia ingin Rania yakin dengan perasaannya pada dirinya.


Namun apa ini? Ia mendengar sebuah kalimat yang sekali lagi menjadi penolakan halus untuknya dalam mendekati Rania.


Apa ia harus menyerah? Tapi bagaimana dengan hatinya yang telah ia berikan untuk menjadi milik Rania? Apakah ia harus berusaha untuk mengambilnya kembali, lalu mengucinya di tempat yang terdalam dalam dirinya?


Apakah ini adalah jalan terakhirnya?


Khanif dilema, ia sepertinya harus menjauh sejenak dari sosok wanita bernama Rania.


Ia pun secepat mungkin berlalu dari ruangan keuangan sebelum ada seseorang yang sempat melihat dirinya berada disana.


Namun tanpa Khanif ketahui, Rania tidak bermaksud berkata seperti itu pada Dian karena Rania sebenarnya telah menyesali, kenapa tidak dari dulu ia mengiyakan ajakan makan siang Khanif. Ia memang telah menyesalinya.

__ADS_1


Hingga sesaat kemudian ia kembali melanjutkan perkataannya yang sempat ia tunda tadi dengan nada menyesal.


"Aku seperti menyesal tidak menikmati waktu luang pak Khanif."


"Lalu kenapa kamu berkata seperti itu tadi?"


Rania menghela napas panjang sebelum kembali melanjutkan perkataannya, "itu perkataanku beberapa hari yang lalu dan kini aku sadar kalau ucapanmu beberapa hari lalu terbukti benar," ujar Rania.


"Kamu sih, aku udah beri saran tapi kamu ngga percaya," ujar Dian membuat Rania memanyunkan bibirnya sebagai respon.


"Iya, tau aku salah."


"Tapi ngga papa, kamu bisa membawakan makan siang buat pak Khanif keesokan harinya."


"Langsung membawakan ke ruangannya gitu?" tanya Rania seperti kehilangan ide saja.


"Ya, ngga dong, Rania. Kamu terlebih dahulu memberikan kabar buat pak Khanif. Kamu kirimkan pesan atau apalah. Lalu kamu katakan ingin mengajaknya makan siang bersama. Simpel kan!"


"Aku kan perempuan, Di. Malu tau," ujar Rania membuat Dian menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tangan yang seperti tengah menepuk jidatnya.


"Duh, Ra. Cinta itu ngga memandang siapa yang lebih dahulu menyatakan. Baik laki-laki ataupun perempuan, siapa yang lebih dahulu menyatakannya, pasti akan mendapat akhirnya juga. Jadi apa bedanya?"


Rania mengangguk-anggukkan kepalanya pelan tanda mengerti ucapan Dian.


"Tapi aku malu, Di. Ngga ada angin, ngga ada hujan, aku tiba-tiba mengabari pak Khanif untuk makan siang bersama."


"Rania, nahan malu sedikit kan ngga papa. Contohnya aku yang lebih dahulu mendekati David. Lihat, kami sekarang bahkan sudah bersama."


"Iya juga sih. Papa dan kakak kamu sih ngelarang kamu buat dekat dengan lelaki yang baru kamu kenal."


Lagi-lagi Rania menghela napas panjang.


Saat Dian ingin kembali mengatakan sesuatu untuk Rania, sudah lebih dahulu Rania dipanggil sama May untuk segera ke ruangannya.


Sesampainya Rania di depan ruangan May, Rania pun mengetuk pintu didepannya sebanyak tiga kali. Lalu setelah itu, dengan perlahan ia pun memutar knop pintu dan melangkah masuk mendekati May yang sibuk dengan komputer didepannya.


"Mbak May memanggil saya?" tanya Rania memastikan. Takut kalau teman dua meja dari meja kerjanya, hanya berkata asal karena mengetahui kalau dirinya dan Dian tengah asik berbincang-bincang tanpa mengajaknya berbicara juga.


"Iya, kamu dan Dian sedang berbicara apa sampai panggilan mbak, kamu ngga dengar?"


"Oh, itu. Hanya pembicaraan ngga penting aja, mbak."


"Baiklah. Mbak mau minta tolong sama kamu untuk memberikan laporan keuangan tahun lalu sama pak Khanif. Beliau memintanya barusan."


"I ... iya, mbak."


"Ini." May pun memberikan setumpuk dokumen keuangan tahun lalu pada Rania.


"Kalau pak Khanif tanya kenapa kamu yang ngantarin, kamu bilang aja kalau mbak sedang ngga enak badan," ujar May yang lebih tepatnya sedang datang bulan, hingga membuat perut bagian bawahnya begitu nyeri.

__ADS_1


"Iya, mbak."


"Terima kasih ya, Rania. "


"Sama-sama, mbak. Kalau begitu aku pergi dulu."


"Hem."


Rania pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan May dengan senyuman yang mengambang.


Bahkan Dian yang hendak masuk ke dalam ruangan May, mengernyit heran saat mendapati senyuman merekah dari Rania yang baru ia lihat setelah dua hari terlihat murung terus menerus.


"Sepertinya ada yang lagi mendapat durian runtuh nih!"


"Bukan durian, tapi rejeki nomplok," kekehnya membuat Dian ikut terkekeh.


"Baiklah, aku masuk dulu."


"Hem."


Rania pun kembali melanjutkan langkah kakinya menuju ruangan Khanif.


Beberapa hari belakangan ia begitu ragu untuk naik lift kaca, namun hari ini, ia akan memberanikan dirinya. Biarlah ia merasakan tatapan tidak percaya ataupun tatapan semacamnya, karena ia tidak akan peduli lagi. Ia hanya ingin segera bertemu dengan Khanif. Melihat wajah lelaki yang tidak pernah dilihatnya selama dua hari ini, meski mereka masih berada dikantor yang sama.


Setelah Rania masuk ke dalam lift kaca, ia pun menekan tombol lift di angka dua satu menuju ruangan Khanif.


Saat lift berdentang sekali dan pintu lift telah terbuka lebar, Rania pun melangkahkan kakinya menuju ruangan Khanif.


Namun sebelum itu, ia menghampiri meja kerja Farah dulu untuk menanyakan keberadaan Khanif didalam ruangannya.


"Fah," panggil Rania pelan.


"Hem, ada apa?"


"Pak Khanif ada didalam ngga? Aku mau ngantarin dokumen yang pak Khanif butuhkan."


"Dia ada didalam. Kamu masuk aja."


Farah pun kembali melanjutkan pengetikannya yang sempat tertunda sesaat karena Rania.


Sedang Rania, ia pun kembali berjalan ke arah pintu bercat putih yang tepat ada didepan saat ini.


Setelah mengetuk pintu dan mendengar seruan masuk dari dalam, Rania pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Khanif.


Namun langkah kaki itu sedikit terhenti saat melihat Khanif tidak sendirian didalam ruangannya.


...To be continued...


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲

__ADS_1


...By Siska C...


__ADS_2