Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 130. Pelan-Pelan Saja


__ADS_3

Apa yang dikatakan Khanif pada Rania kemarin sore benar adanya. Saat ini ia baru saja sampai di villa setelah melakukan perjalanan selama berjam-jam. Pemandangan disana sangat berbeda sejak terakhir kali Khanif kunjungi.


Tama memang pilihan yang terbaik, tidak salah ia menjadikan Tama sebagai pengawas disini. Lihat! Beberapa hari kedepan, vila-nya sudah bisa diresmikan. Khanif bahkan kagum akan hasil kerja akhir Tama.


"Perkerjaanmu memuaskan, saya tidak salah memilih kamu," ujar Khanif setelah melihat-lihat sekitar vila.


"Terima kasih atas pujian, Anda," balas Tama. "Ada beberapa fasilitas yang saya tambahkan disini, semoga bapak menyukainya."


"Hem, selama itu bagus untuk vila ini, saya tidak mempermasalahkannya. Saya bahkan tidak dapat berkata apa-apa setelah melihat hasil kerjamu ini," katanya kagum.


"Oh, iya. Saya kira Anda akan datang senin nanti, tapi ternyata dugaan saya salah. Kalau saya tau bapak akan datang hari ini, saya pasti akan menyambut bapak."


"Sesuai jadwal sebenarnya begitu, namun saya ingin melihat-melihat vila disini. Lihat, saya bahkan dibuat kagum akan hasil kerjamu."


Tama tersenyum. Mereka pun kembali melanjutkan langkah kaki mereka untuk melihat-lihat sekitaran vila.


"Oh, iya. Bagaimana dengan kebun stroberi, apakah sudah diperluas?"


"Iya, pak. Kalau bapak mau, kita bisa ke sana sekarang," ajak Tama.


Khanif pun mengikuti langkah kaki Tama menuju kebun stroberi yang kata Tama telah diperluas dari sebelumnya. Sesampainya mereka disana, Khanif mengambil keranjang buah. Lalu sedetik berikutnya, ia berjalan ke buah stroberi yang sudah bisa di panen.


Pot berukuran sedang yang terisi dengan beberapa pohon stroberi itu kini mulai terlihat begitu menggiurkan. Apalagi saat ada beberapa buah stroberi siap panen yang tergantung diluar pot-nya. Merah yang terlihat begitu manis mengundang Khanif untuk segera memetiknya.


Khanif lantas menjulurkan tangannya di salah satu tangkai stroberi yang sudah siap dipanen. Dengan menggunakan tiga jarinya, Khanif sudah bisa mendapatkan sebuah stroberi yang begitu segar di mata Khanif. Khanif lalu menaruh dikeranjangnya dan mulai memetik beberapa buah lagi untuk menemaninya saat sedang bersantai nanti.


"Bagaimana dengan buah markisa yang akan dibuat menjadi lorong kecil?"


"Lagi tahap penyelesaian, pak. Saya sudah mendapatkan beberapa bibit yang langsung bisa dililitkan di besi melengkungnya. Jadi, beberapa hari kedepan, semua akan selesai."


"Yang penting sudah bisa selesai sebelum hari kamis."

__ADS_1


"Iya, pak."


"Kamu juga perlu memetik buah disini. Dengan beberapa buah yang dipetik hari ini, tidak akan membuat orang yang akan hadir tidak akan dapat mencicipinya," canda Khanif saat melihat Tama hanya mengikutinya saja tanpa ada niatan untuk mengambil keranjang buah seperti dirinya.


Ya, Tama adalah sosok lelaki yang kaku. Kaku karena jika sudah bekerja, ia akan fokus pada pekerjaannya meski perkerjaan sudah sesantai sekarang, ia tetap akan menganggap pekerjaannya penting sampai perkerjaannya itu selesai. Untuk itulah, Khanif tidak salah dalam menjadikan Tama sebagai pengawas di vila-nya ini.


Tama tersenyum kecil, ia lalu berbalik  mengambil keranjang buah dan mulai memetiknya setelah melihat beberapa buah stroberi yang seperti memanggilnya untuk di masukkan ke dalam keranjangnya.


Sore harinya, Khanif dan Tama terlihat duduk bersantai di taman kecil depan vila dengan menikmati cemilan beserta jus buah yang dibuat oleh koki dengan bahan utamanya adalah stroberi yang pagi tadi mereka petik.


Berbeda dengan Khanif yang puas melihat keadaan vila-nya, lalu lanjut memetik buah stroberi dan sorenya menikmati hasil petikan mereka, Rania malah asik berlari mengelilingi lapangan yang berada tidak jauh dari rumahnya.


Entah sudah berapa kali ia berlari kecil memutari lapangan yang biasanya warga sekitar memakainya untuk latihan sepak bola. Ia bahkan masih terlihat bersemangat lari meski keringat mulai bercucuran membasahi wajahnya dan bajunya sebagian.


Ya, memang beberapa hari ini Rania telah menimbang berat badannya, ia sempat kaget saat melihat angka yang biasanya berada di angka empat puluh tujuh kini berada di atas angka lima puluh.


Ia bahkan beberapa kali menimbang berat badannya, takut kalau timbangan berat badan dirumahnya rusak. Namun, beberapa kali pun itu, angkanya tetap sama. Hal itu membuatnya sampai pada tahap ini, tahap menurunkan kembali berat badan seperti waktu yang telah lalu.


Rania lantas mengambil tempat duduk disebuah bangku panjang. Lalu tangannya terulur mengambil sebotol air mineral dan mulai meneguknya hingga rasa hausnya hilang. Ia pun memilih duduk sebentar melihat orang-orang-orang yang tengah berolahraga.


Saat dirinya terpaku pada sekelompok anak muda yang mulai saling serang dalam bermain bola, terlihat seorang lelaki datang menghampirinya.


"Kita bertemu lagi," kata sosok lelaki yang tengah berdiri tepat disamping kiri Rania.


"David!" ujar Rania terkejut. "Apa yang kamu lakukan disini?"


"Aku juga berolahraga."


"Hah!" Rania mengernyit heran. "Bukannya rumah kamu agak jauh dari sini setelah pindah?" tanya Rania. Pasalnya, baru-baru ini Dian mengatakan padanya kalau David telah pindah rumah dengan jarak yang jauh dari lapangan ini.


"Oh itu, aku sengaja datang kemari. Soalnya sebelum pindah, aku sering datang kesini untuk olahraga. Ya jadi, meski sudah pindah, aku tetap masih disini."

__ADS_1


"Emm, kamu belum terlalu mengetahui keadaan lingkungan baru kamu?"


"Ya, kira-kira seperti itulah." David lalu mengalihkan pembicaraan mereka dengan mengatakan, "kamu udah selesai olahraga-nya?"


"Hem, benar. Sebentar lagi aku pulang."


"Mau ku antar, aku bawa mobil ke sini."


"Terima kasih, tapi aku jalan kaki saja. Kamu tau kan, rumahku tidak jauh dari sini. Lagi pula sepertinya, kamu baru saja mulai berolahraga. Tidak enak kalau aku menganggumu berolahraga."


David diam. Ia tidak bisa memaksa Rania lagi untuk menerima ajakannya.


"Baiklah, kalau begitu kamu berhati-hatilah dalam perjalanan," ujar David. "Aku berolahraga dulu."


"Hem, aku juga udah mau pulang."


Setelah percakapan singkat itu, mereka berdua benar-benar terpisah. Satu yang mulai berlarian kecil mengelilingi lapangan dan satunya berjalan santai menuju rumah.


Sesampainya Rania dirumah, ia terus melihat bunga-bunga yang telah ditanamnya beberapa bulan belakangan ini. Setelah mengisi air didalam gembor - alat penyiram tanaman seperti timba air, namun memiliki corong dan pengangan, Rania pun menyiram tanaman bunganya satu persatu.


Saat Rania tengah fokus menyiram tanaman bunganya, tiba-tiba Rania berteriak terkejut hingga membuat mama berlarian keluar rumah untuk melihat putri semata wayangnya.


"Ada apa, sayang?"


"Ma ...."


...To be continued. ...


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲


...By Siska C ...

__ADS_1


__ADS_2