
"Kalau boleh tau, nama istri Anda siapa?"
"Namanya adalah Rania."
Caroline lantas melihat ke arah Rania.
"Dia adalah istri Anda juga?" tanya Caroline sambil menujuk Rania yang telah tersenyum kecil. Pasalnya, Caroline tau kalau nama sekretaris Khanif adalah Rania juga. Apa mereka adalah orang yang sama?
"Oh, tidak. Anda salah paham. Kata istri saya, dia saat ini sedang ada di rumah."
Sudah, senyuman Rania barusan sudah berubah menjadi senyuman terpaksa disaat Khanif tidak mengakuinya didepan wanita yang tengah tertarik pada Khanif ini.
"Saya mengira kalau sekretaris Anda ini adalah istri Anda juga karena nama yang sama."
"Mana ada," ujar Khanif tersenyum sambil melihat Rania dengan pandangan jahilnya.
"Kalau begitu salam sama istri Anda dan kapan-kapan kalau kita bertemu, ajak dia sekalian."
"Tentu saja."
"Baiklah. Sepertinya kita sudah lama bercakap-cakap disini. Kalau begitu saya pamit duluan."
"Iya. Hati-hati dijalan."
Seperginya Caroline, Khanif lantas melihat Rania.
"Sebaiknya kita pulang juga, ma chérie. Ayo," ujar Khanif seraya mengambil tangan Rania untuk digenggamnya.
Namun Rania yang sudah terlanjur kesal, langsung saja melepaskan genggam tangan Khanif padanya.
"Ma chérie, kamu kenapa?"
"Kenapa apanya? Bapak jangan modus dengan megang-megang aku, ya. Ingat bapak itu sudah mempunyai istri dan istri Anda saat ini sedang ada dirumah."
"Ah iya, aku baru teringat. Terima kasih telah memberitau aku," ujar Khanif berpura-pura teringat.
"Kakak!" teriak Rania tiba-tiba membuat Khanif terkikik geli.
"Iya, iya. Maaf ma chérie. Kakak hanya bercanda. Lagi pula tadi saat masih di kantor. Bukannya kamu bilang kalau istri kakak sedang ada dirumah? Makanya saat Caroline bertanya tentang kamu, aku jawab kalau istri aku sedang ada di rumah."
"Mana ada aku pernah mengatakannya!" seru Rania tidak terima sambil bersedekap dada.
"Coba ingat-ingat lagi saat dikantor tadi, ma chérie."
Rania pun kembali mengingat-ingat kejadian saat dikantor tadi. Sesaat kemudian, Rania kini ingat apa yang telah dikatakannya pada Khanif!
"Bapak Khanif yang terhormat, istri Anda saat ini sedang berada di rumah menunggu kepulangan Anda. Sekian informasi dari saya."
"Kakak sengajakan!" seru Rania tiba-tiba.
"Tentu saja."
"Kakak!" seru Rania kesal hingga membuat Khanif lagi-lagi tidak dapat menahan tawanya.
"Malam ini ... kakak tidur diluar. Jangan tidur bareng aku!"
Setelah mengatakannya, Rania lantas segera berlalu dari sana. Namun secepat itu pula Khanif berlari mengejarnya.
"Ma chérie, maaf. Kakak hanya bercanda saja. Kakak janji tidak akan mengulanginya lagi, sungguh!" ujar Khanif setelah ia berhasil menghentikan langkah kaki Rania.
__ADS_1
"Kakak janji?"
"He'em. Janji."
"Baiklah, tapi sebagai tanda ketulusan kakak. Kakak harus tetap tidur diluar nanti malam."
"Ma chérie ...."
Sudah! Itu adalah hukuman untuknya.
***
Malam harinya, Rania benar-benar menyuruh Khanif tidur di luar. Lihat! Saat ini Khanif masih saja berada di ruangan keluarga sambil menonton film.
Meski sedang menonton film kesukaannya yang sedang tayang di salah satu siaran televisi swasta, namun Khanif tidak menikmati tayangan itu sama sekali.
Hal itu tentu saja karena dirinya masih kepikiran dengan Rania. Apa Rania sebegitu niatnya hingga membuat dirinya tertidur di luar? Keinginan dan tanpa selimut?
Khanif lantas beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar mereka.
"Ma chérie ...," panggil Khanif pelan seraya mengetuk-ngetuk pintu kamarnya.
Untung saja mereka saat ini hanya berdua di dalam rumah karena semua anggota keluarga Khanif sedang pergi mengantar Jihan pulang.
Kalau tidak, entah apa tanggapan mama nantinya saat melihat anak laki-laki kesayangannya sedang dikuncikan dari dalam oleh istrinya sendiri. Apa mama akan membelanya atau malah ikut menyalahkannya.
Kalau Khanif pikir lagi, seperitnya mama akan ikut memarahinya juga.
Khanif pun dengan lesu kembali ke sofa. Lalu tanpa diduga, pintu kamarnya terbuka menampilkan sosok sang istri yang terlihat begitu cantik malam ini.
Apa dia sengaja berdandan seperti itu?
"Apa yang kakak lihat?" tanya Rania.
"Ma chérie, kamu membukakan kakak pintu ya?" tanya Khanif penuh harap.
"Tidak. Siapa bilang? Aku haus makanya keluar kamar untuk ambil air minum."
Rania lantas segera pergi ke dapur untuk mengambil segelas air minum dan membawanya masuk ke dalam kamar.
"Ma chérie, apa iya kakak harus tidur di luar?"
"He'em." Rania mengangguk-anggukan kepalanya agar lebih meyakinkan buat Khanif.
"Tapi untuk malam ini aja, kan?"
"Tergantung sikap kakak nantinya."
"Baiklah. Kalau tidak ada lagi yang ingin kakak katakan, aku masuk dulu."
Belum juga Khanif kembali bersuara, Rania sudah lebih dahulu menutup pintu kamar mereka.
Lagi-lagi, Khanif kembali ke sofa dengan lesu. Bagaimana tidak, Rania seperti sengaja berpakaian seperti itu malam ini dan sengaja menyuruhnya tidur di luar.
"Ma chérie," ujar Khanif pelan saat ia mulai menidurkan dirinya di sofa. "Sepertinya malam ini aku harus kedinginan lagi! Huft."
Khanif pun mematikan televisinya dan mencoba untuk membuat dirinya terlelap.
***
__ADS_1
Sedang Rania sudah beberapa kali mundar-mandir didepan pintu kamarnya. Ia begitu cemas membiarkan Khanif untuk tidur diluar malam ini. Bagaimana kalau Khanif nanti sakit karena kedinginan? Apalagi Rania tidak memberikannya selimut.
Apa ia memberikan selimut saja, lalu ia masuk kembali? Sepertinya itu adalah pilihan yang tepat.
Rania pun mengambil sebuah selimut didalam lemari. Lalu ia bergegas keluar kamar untuk memberikan Khanif selimut hangatnya.
Saat Rania baru saja membuka pintu kamarnya, netra matanya langsung saja menangkap sosok lelaki yang sudah tertidur lelap di atas sofa.
Dengan langkah pelan dan penuh kehati-hatian, Rania berjalan ke dekat Khanif. Setelah berada didekatnya, Rania berdiam sejenak untuk melihat wajah Khanif yang sudah tertidur lelap.
Meski ia sudah biasa melihat wajah terlelap Khanif, tapi Rania tidak sedikitpun bosan untuk melihatnya terus menerus.
Rania lantas menyamakan tingginya dengan Khanif yang sudah terlelap di atas sofa.
Lalu tanpa terencana, jari telunjuk Rania terulur untuk menyentuh bulu mata Khanif yang lentik. Ia terus menggerakkan jari telunjuknya naik turun memeprmainkan bulu mata Khanif.
"Sudah puas memandangi wajah tampan suamimu ini?" ujar Khanif tiba-tiba hingga membuat Rania berdiri.
Namun belum sempat Rania berdiri sempurna, Rania sudah lebih dahulu kehilangan keseimbangan. Hingga dirinya hampir saja jatuh ke belakang, jika saja Khanif tidak begitu sigap menarik Rania ke dalam pelukannya.
"Hati-hati, ma chérie," ujar Khanif begitu Khanif.
Sesaat Rania tersadar, ia pun segera melepaskan dirinya dari pelukan Khanif. Namun semua sia-sia saja saat Khanif begitu mengeratkan pelukannya pada Rania.
"Kak, lepas."
"Tidak akan sebelum kamu memaafkan kakak."
"Kak."
"Tidak, ma chérie," ujar Khanif.
Lalu secara tiba-tiba khanif membalikkan keadaan dirinya dengan membawa Rania terbaring dibawahnya dengan menjadikan tangan kirinya sebagai tumpuan tubuhnya agar dirinya tidak terlalu menindis Rania.
"Kak," seru Rania merasa malu dengan keadaan mereka yang seperti ini di ruangan keluarga. Bagaimana kalau mama, papa dan Davina tiba-tiba pulang dan melihat posisi mereka yang inti* seperti ini. Apa yang nanti akan mereka katakan?
Khanif yang tau apa yang ada didalam pikiran Rania, langsung saja mengatakan, "mereka tidak akan pulang secepat itu."
"Kak, minggir ih," seru Rania.
"Maafkan kakak dulu."
"Ba ... baiklah. Aku memaafkan kakak."
Khanif lantas bangun dari atas tubuh Rania.
"Kakak berat tau," komentar Rania.
"Mau kakak pijat?"
"Apa?"
"Sudah, sini kakak pijat."
Tanpa menunggu persetujuan Rania, Khanif langsung saja mengangkat Rania masuk ke dalam kamar mereka.
...To be continued...
Semoga yang berikan like, vote dan komen diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah dari Allah, aamiin
__ADS_1
Yuk mampir juga di cerita baru aku. Judulnya "Cintai Aku atau Tidak" Udah sampai bab 6 loh!
...By Siska C ...