
"Kenapa ngga kakak aja yang mulai?"
"Emm, ngga dong. Kita ini wanita, harus jaga image agar selalu mempesona didepan lelaki."
Hah? Jaga image. Sejak kapan Tasya memikirkan image. Dulu saja ia begitu menyebalkan bagi orang yang lemah. Lalu sekarang menjadi orang yang begitu memikirkan citranya? Rania rasa, kepala Tasya sudah terkatuk oleh suatu benda yang keras hingga membuat kepribadian Tasya sedikit tersadar kalau ia memang harus menjaga sikap.
Tapi perubahan Tasya ini tidak ada bedanya dengan dirinya yang dulu-dulu yang selalu saja menyombongkan diri dan bersikap selalu terdepan dari wanita lain. Untung saja saat ini ia sedikit memikirkan diri untuk dampak kedepannya.
Jika saja Tasya memikirkan hal ini sejak lama, bukan tidak mungkin banyak lelaki yang menyukainya dan mungkin mengejar-ngejar dirinya. Bagimana tidak mungkin, ia cantik tapi dengan kepribadian yang suka membully, ia telah menjatuhkan harga dirinya sendiri. Tasya, ia wanita yang belum sadar apa arti cantik yang sesungguhnya.
"Semoga aja, semuanya belum telat."
"Maksudnya?" tanya Tasya tidak mengerti.
"Ya, belum telat kalau kakak mau jaga image."
Tasya diam. Ia kini mengerti maksud dari perkataan Rania. Tidak ingin kesal dan dilihat banyak orang, Tasya lalu meninggalkan Rania begitu saja.
"Duh!" gerutu Rania seraya menepuk kecil kepalanya karena lagi-lagi ia larut dalam perbincangan anehnya dengan Tasya.
Rania pun berlari kecil masuk kedalam toko. "Permisi, permisi," ujar Rania saat ia melewati para pengunjung disana.
Sesampainya Rania di meja pemesanan, ia mulai memesan pesanan May. "Brownies choco lava dan coffe cappuchino-nya satu, mbak."
"Mohon tunggu sebentar ya, mbak."
Rania mengangguk, ia pun mengambil tempat duduk sambil menunggu pesanannya siap. Ia lalu mengambil ponsel di dalam tas salempangnya dan mulai memainkan ponselnya. Saat Rania sibuk mengecek media sosialnya, secara tidak sengaja Rania mendengar percakapan dari pengujung dibelakangnya.
"Eh, Lin. Kamu udah lihat belum video yang lagi viral baru-baru ini?" tanya pengunjung berbaju abu.
Wanita yang bernama Lin itu lantas mendonggakkan kepalanya dari melihat ponselnya.
"Video lamaran di tempat nonton film itu?" tanyanya memastikan.
Wanita berbaju abu sontak saja menganggukkan kepalanya, membenarkan.
"Aku udah lihat."
"Gimana respon kamu?"
"Biasa aja sih. Bahkan banyak juga yang udah lakuin seperti itu."
"Duh kamu. Bukan itunya yang aku maksud."
"Jadi maksud kamu gimana?"
"Aku tuh, mimpi kepengen dibegituin juga suatu hari nanti," ujarnya terkikik geli dengan rona wajah yang memerah karena malu-malu.
__ADS_1
"Mimpi kali kamu, pacar aja belum punya. Langsung mau ada yang lamar lagi!"
"Siapa tahu aja kesampaian. Harusnya kamu mendukung, dong. Bukan malah buat aku down gini."
"Biarin, agar mimpimu ngga ketinggian. Kan bahaya kalau jatuh, pasti sakit," kekehnya.
Mendengar cerita yang sampai ke telinganya itu membuat Rania lantas menundukkan wajahnya. Ia bahkan langsung saja menggerai rambutnya yang lurus untuk menutupi separuh wajahnya. Tentu saja ia lakukan untuk menyembunyikan dirinya dari orang-orang yang telah melihat videonya.
Sungguh ia tidak menyangka videonya dengan Zaky bisa tersebar luar sampai seperti ini. Padahal, sebelum ia dan Zaky meninggalkan ruangan, ia meminta orang-orang disana untuk tidak mengunggah dan bahkan Rania meminta pada mereka untuk menghapus videonya dengan Zaky. Tapi ada saja beberapa orang yang tidak menghormati keputusannya itu.
Jika sudah begini. Rania harus meminta tolong pada papa. Tapi taruhannya ia pasti akan dimarahi dan mungkin akan di diamkan. Namun mau bagaimana lagi, hanya papa yang bisa membantunya.
"Mbak, ini pesanannya."
Rania menoleh, ia pun beranjak dari tempat duduknya seraya menyimpan ponselnya di tas.
"Ini uangnya. Terima kasih."
"Sama-sama, mbak. Kami menunggu kedatangan mbak selanjutnya."
Rania tersenyum. Ia pun meninggalkan toko brownies. Baru saja Rania meninggalkan toko brownies, ponsel di tasnya berdering. Rania lalu merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya.
"Mbak May!" Rania segera menggeser ikon berwarna hijau untuk menerima panggilan dari May. "Iya, Mbak May."
"Kamu dimana, Ra. Kok lama sekali?"
"Cepatlah."
May menutup sambungannya tanpa Rania sempat menjawab lagi. Rania pun kembali memasukkan ponselnya ke dalam tasnya dan mulai berlari kecil untuk kembali ke kantor. Ketika Rania tiba diruangannya, May terlihat berkecak pinggang menunggunya.
"Kenapa lama sekali, sih!" ujar May seperti sepuluh menit yang lalu seraya mengambil pesannya pada Rania.
Alih-Alih mengucapkan terima kasih atau mengajak Rania untuk mencicipi brownies juga, May malah meninggalkan Rania dengan wajah yang cemberut. Untung saja May lagi datang bulan, jadi Rania paham dengan kepribadian May kalau sudah seperti ini. Kalau tidak, Rania pasti akan memberikan ceramahnya juga pada May - sama seperti Tasya tadi.
***
Waktu berlalu tanpa terasa bagi Rania. Ia pun bersiap-siap untuk pulang. Jika saja Mama Adelin tidak akan datang menjemputnya, boro-boro untuk berkaca, memperbaiki penampilan pun Rania tidak akan selama ini.
Setelah Rania merasa baik, ia pun meninggalkan meja kerja dan bergegas pergi ke lobby, menunggu Mama Adelin datang.
"Kok belum pulang, Ra. Lagi nungguin siapa?" tanya Dian yang memang hendak pulang.
Rania melihat ke sumber suara. Ia tersenyum lalu memanggil Dian dengan isyarat tangannya. Dian yang telah sampai didekatnya pun lantas duduk disampingnya.
"Lagi nungguin siapa?" ulang Dian bertanya.
"Aku lagi nunggu, tante Adelin."
__ADS_1
"Ibunya, pak Khanif?"
Rania mengangguk membenarkan. Dian lantas menutup mulutnya tak menyangka kalau Rania akan jadi sedekat ini dengan ibu dari atasan mereka.
"Udah, ngga udah sok kaget seperti itu."
"Ya, elah. Mana tahu aku kalau hubunganmu dengan pak Khanif sudah sejauh ini. Mana videomu dengan Zaky terlihat romantis lagi. Aku jadi penasaran, kamu milih siapa!" ungkap Dian membuat Rania jadi menolehkan wajahnya ke kanan dan kiri. Melihat teman kerjanya yang mungkin mendengarkan ucapan blak-blakan dari Dian.
Rania lalu kembali melihat Dian dan memberikan isyarat dengan tangannya yang tertempel dibibir agar Dian bisa menghentikan ucapannya. Dian pun ikut menempelkan jarinya dibibirnya juga. Ia baru sadar kalau mereka masih berada di lobby kantor.
"Maaf. Aku ngga sengaja. Kamu sih, ngga kode aku dari tadi," kata Dian. "Atau jangan-jangan kamu ..."
"Udah, ngga usah banyak nebak," potong Rania. "Pasti nanti ada akhirnya."
Dian senyum-senyum melihat Rania. Ia sungguh tak menyangka Rania akan mengatakan hal itu.
"Baiklah aku tunggu kabar baiknya. Lebih cepat lebih baik," kekeh Dian. "Aku udah ngga sabar mau makan daging gratis di acara ..."
Rania refleks menutup bibir Dian saat ada beberapa teman kerja mereka lewat.
"Maaf, sengaja," ujar Rania membuat Dian cemberut, namun Dian tahu kalau Rania hanya bercanda begitu pula dengan dirinya yang tengah mengerucutkan bibir.
Tidak lama kemudian, ponsel Rania berdering. Ia lalu mengangkat telepon dari Mama Adelin.
"Assalamualaikum, tan."
"Waalaikumsalam, nak Rania. Tante udah ada di depan kantor. Kamu keluar aja ya, tante tunggu disini."
"Iya, tan."
Sambungan terputus, Rania menoleh pada Dian. "Aku harus pergi sekarang."
"Iya. Ini juga aku udah mau pulang. Yuk sama-sama keluar."
Rania mengangguk. Mereka pun keluar bersama dari gedung kantor. Sesampainya diluar, Rania langsung saja masuk ke dalam mobil dan duduk didekat Mama Adelin. Setelah melambaikan tangannya, mobil yang membawa dua wanita beda usia itu pun pergi menuju bandara.
"Maaf ya, nak Rania jadi ngerepotin kamu," ujar Mama tetap fokus menyetir mobil.
"Ngga papa kok, tan. Rania malah senang."
Tiba-tiba saja Mama Adelin mengerem mendadak mobilnya yang membuat Rania terkejut, namun bukannya merasa salah, reaksi mama malah berbeda. Mama lalu menoleh melihat Rania dengan mata berbinar cerah.
...To be continued ...
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
...By Siska C ...
__ADS_1