Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 183. Aku baik-baik saja


__ADS_3

Empat hari menjelang pernikahan Khanif, Khanif masih saja sibuk berada didalam ruangannya memeriksa segela laporan dari berbagai divisi di perusahaannya.


Awalnya Davina sudah memberitaukan pada Khanif kalau dirinya bisa memeriksa laporan itu. Namun Khanif masih kekuh mengerjakan semuanya seperti saat ini.


"Apa tidak sebaiknya kakak pulang lebih awal?" tanya Davina yang kini tengah membujuk Khanif lagi agar bisa menyerahkan pekerjaannya padanya.


"Bukannya kakak udah katakan sebelumnya kalau besok sore kakak sudah tidak akan bekerja lagi?"


"Davina tau, tapi ada baiknya kalau besok kakak mulai ambil cuti. Lagipula besok udah hari ke tiga loh sebelum kakak jadi pengantin pria. Apa tidak sebaiknya kakak cuti lebih cepat jadi jadwal kakak?"


"Kamu tau kenapa kakak baru akan cuti besok?"


Davina lantas menggelengkan kepalanya pelan tanda tidak mengerti.


"Karena kakak berencana akan ambil cuti panjang," ujar Khanif sambil tersenyum lebar pada Davina. "Makanya kakak harus bekerja ekstra untuk libur yang panjang."


"Davina tau, tapi ...."


"Kakak sadar kekhawatiran kamu, tapi kakak benar-benar masih bisa kerja. Kamu tidak perlu khawatir lagi, ya. Oh, iya. Kakak ada permintaan buat kamu."


"Apa kak?" tanya Davina pada akhirnya menyerah pada semangat Khanif.


"Kakak lihat jilbab kamu motifnya bagus-bagus. Kamu beli mana?" tanya Khanif membuat Davina mengernyit heran.


"Kakak mau apa tanyain jilbab Davina?"


"Kakak mau memberikan jilbab pada seseorang."


"Buat Rania?"


"Kenapa kamu bisa tau?" tanya Khanif membuat Davina terkikik geli.


Tentu saja Davina bisa menebaknya! Siapa lagi ingin dihadiahkan jilbab dari Khanif kalau bukan untuk Rania. Jihan? Anak nakal itu tidak suka memakai jilbab segi empat. Ia hanya menyukai jilbab pasminah saja.


"Tantu saja tau. Baiklah. Kakak mau berapa? Biar aku beliin nanti."


"Tidak usah. Biar kakak saja. Jadi dimana letak tokonya?"


"Di jalan Nuri. Disana adalah salah satu toko penjual khusus jilbab. Nama tokonya shahira hijab."


"Baiklah. Terima kasih atas informasinya."


"Sama-sama kak. Kalau gitu aku keluar dulu. Ingat meski kakak masih kerja, tapi kalau udah waktunya pulang nanti, kakak harus pulang juga. Jangan lembur lagi kayak kemarin-kemarin."


"Iya, iya."


Setelahnya, Davina pun segera berlalu dari ruangan Khanif.


***


Sore harinya, Khanif benar-benar mendatangi sebuah toko Shahira Hijab yang tadi dikatakan oleh Davina. Saat ia sudah ada didepan tokonya, seorang karyawan toko lantas datang menghampirinya.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang wanita berjilbab cream.


"Saya mau cari jilbab untuk wanita dewasa."


"Mari ikut saya."


Karyawan toko itu pun berjalan lebih dahulu untuk menujukkan jilbab wanita dewasa yang tadi Khanif telah katakan.


Sesampainya disana, karyawan toko itu pun kembali berkata, "Anda bisa melihat-lihatnya disini."


Khanif pun mulai melihat-lihat jilbab yang ingin diberikannya pada Rania. Karena tidak tau bahan jilbab yang berkualitas baik, Khanif kembali bertanya pada karyawan toko itu. Lalu, lagi dan lagi karyawan toko itu pun kembali menujukkan jilbab dengan kualitas bagus pada Khanif.


"Kalau boleh tau, Anda ingin membeli jilbab untuk siapa?" tanya karyawan toko itu.


"Saya ingin membelikannya untuk seseorang wanita."


Mendengar Khanif berkata seperti itu, membuat karyawan toko itu tersenyum. Lalu sedetik kemudian, karyawan toko itu pun menunjukkan beberapa lembar jilbab dengan motif yang cantik pada Khanif.

__ADS_1


"Jilbab ini adalah jilbab yang terbaik yang ada di toko kami. Selain itu, motifnya juga kekinian dengan bahan yang tebal tapi adem saat dikenakan."


"Saya ambil enam pasang saja," ujar Khanif memilih mengambil setengah lusin agar Rania mau menerima pemberiannya yang tidak seberapa.


"Mau dibungkuskan seperti kado juga?"


"Iya."


"Baiklah. Kalau begitu Anda silakan pergi ke kasir untuk membayarnya lebih dahulu."


Khanif mengangguk. Ia pun berlalu dari sana sesuai perkataan karyawan toko yang telah melayaninya itu.


"Terima kasih," ujar Khanif setelah menerima belanjannya.


"Sama-sama. Silakan berkunjung lain waktu."


Setelahnya, Khanif pun segera berlalu dari sana menuju rumahnya.


Beberapa menit kemudian, akhirnya ia telah sampai di rumah. Ia pun berlalu keluar dari mobil.


Saat ia hendak masuk ke dalam rumah, pandangan matanya terganggu pada sosok gadis yang masih sibuk dengan olahraga sorenya itu.


"Kamu udah kurus masih aja olahraga," ujar Khanif sengaja menjahili sang adik.


Jihan yang tengah berlari-lari kecil pun sontak menghentikan kegiatannya itu, lali berbalik melihat Khanif dengan pandangan kesal.


"Ini tuh namanya langsing bukan kurus, kak."


"Iya, iya. Apapun itu tetap saja sama di mata kakak."


"Ih, kakak. Udah sana, masuk rumah aja. Ngga udah lama-lama ada disini," katanya kesal. Namun mampu membuat Khanif terkikik geli.


Tidak lama setelah Khanif masuk ke dalam rumah, terlihat sebuah mobil suv masuk ke halaman rumahnya. Jihan pun lantas pergi menghampiri mobil putih itu. Ah, tidak lebih tepatnya seseorang yang berada didalam mobil itu.


"Kak Zaky!" pekiknya senang.


"Baru dua hari yang lalu kak. Kakak mau apa kesini?" tanya Jihan.


"Kakak mau bertemu sama kakak kamu. Dia udah pulang kerja kan?"


"Iya, kak. Kalau gitu kakak masuk gih."


Jihan dan Zaky pun berjalan bersisian masuk ke dalam rumah. Sesampainya di ruangan tamu, Jihan meminta tolong pada bibi untuk membuatkan Zaky teh.


"Oh, iya. Kakak ada keperluan apa sama kak Khanif?" tanya Jihan memulai percakapan kembali.


"Kakak mau buat perhitungan sama kakak kamu buat ngebatalin pernikahannya sama Rania," ujar Zaky yang sebenarnya hanya bercanda saja.


"Eh, mana boleh begitu. Makanya kakak jangan kelamaan aksinya. Jadinya, kak Rania menerima kak Khanif."


"Perkataanmu benar juga, tapi semua sudah terlambat. Jadi kakak mau bertemu dengan kakakmu sekarang juga."


Saat Jihan hendak membalas perkataan Zaky, sudah lebih dahulu bibi membawakan Zaky secangkir teh hangat.


"Silakan di minum dokter Zaky."


"Iya, bi. Makasih, ya bi."


"Sama-sama."


Seperginya bibi itu, Jihan pun kembali melanjutkan perkataannya saat Zaky tengah mencicipi teh buatan bibi.


"Gimana kalau kakak sama aku aja," ujar Jihan sukses membuat Zaky tersedak oleh teh-nya.


"Duh, kak. Maaf. Jihan ngga bermaksud membuat kakak tersedak kayak gini."


"Udah, ngga papa kok," ujar Zaky yang sesekali masih terbatuk-batuk kecil.


"Kakak harus pelan-pelan minumnya. Jadi, gimana tawaran aku kak?"

__ADS_1


"Kamu masih kecil. Kuliah aja dulu yang benar."


"Kalau aku udah lulus kuliah, kakak mau?"


"Tergantung."


"Sudah! Kakak tidak seru atau kakak sama kak Davina aja."


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Khanif yang tiba-tiba muncul di ruangan tamu.


"Tidak ada yang penting. Kakak berdua bicara aja. Aku mau lanjut olahraga lagi."


"Ya. Kamu olahraga saja sana. Tapi ingat jangan kelamaan. Ntar kamu tinggal tulang aja saat masuk kerumah."


"Kakak, jangan jail deh!"


"Iya, iya, iya, anak kecil."


Jihan bersunggut kesal sebelum berlalu dari sana.


Setelah Jihan benar-benar sudah tuhan terlihat lagi, Zaky pun mulai menyampaikan maksud kedatangannya.


"Kamu datang mau memeriksa kesehatan aku?" tanya Khanif tak percaya. "Siapa yang menyuruhmu datang."


"Davina. Katanya beberapa hari ini kamu terus lembur, jadi aku disuruh untuk memeriksa keadaanmu."


"Jangan dengarkan perkataannya. Aku baik-baik saja kok."


"Baguslah kalau begitu."


Setelahnya, mereka pun melanjutkan perbincangkan mereka dengan topik pembicaraan yang lain.


***


Sepulangnya Zaky dari rumah Khanif, ia langsung saja masuk ke dalam kamar dan menguncinya.


Bunda yang melihat hal itu pun jadi bertanya-tanya dalam hati. Kenapa putranya jadi seperti itu? Dia tidak biasanya begini? Ada apa?


Hingga bunda pun akhirnya berjalan ke kamar Zaky dan mengetuk pintu kamarnya.


"Sayang, bisa bunda masuk?" tanya Bunda Zaky sambil terus mengetuk pintu bercat putih itu.


Satu detik, dua detik sampai sepuluh detik, tidak ada tanda-tanda kalau pintu didepannya ini akan terbuka.


Hingga akhirnya, bunda kembali berbicara, "tidak ingin bercerita sama bunda? Baiklah. Kalau kamu sudah siap, ingat bunda selalu ada untuk kamu."


Bunda pun berlalu dari sana dengan perasaan tidak rela. Namun baru beberapa langkah bunda pergi, kamar bercat putih itu sudah terbuka - menampilkan sosok lelaki berkemeja putih.


"Bunda," panggilnya pelan hingga membuat sang Ibunda berbalik melihatnya.


"Akhirnya kamu mau membukanya juga, nak," ujar bunda seraya mendekati Zaky.


"Maafkan Zaky, bunda. Zaky tidak dapat membawa Rania ke dalam keluarga kita lagi," ujar Zaky penuh penyesalan.


"Tak apa sayang. Bunda mengerti, tapi ada saatnya kamu harus bersikap lebih dewasa. Seperti saat ini," ujar bunda pelan. "Bunda yakin. Suatu saat nanti, kamu juga akan menemukan orang yang tepat untukmu. Jadi, jangan membuat dirimu seperti ini lagi. Bunda ngga suka lihatnya."


"Zaky janji, bunda."


"Itu baru anak bunda. Baiklah. Gih, sana bersih-bersih dulu, kamu bau acem."


"Bunda."


"Iya, iya, sana."


...To be continued ...


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲


...By Siska C...

__ADS_1


__ADS_2