
Halo selamat sore semua. Semoga kalian semua sehat-sehat ya, Aamiin. Oh iya, karena poinya udah mencapai target, maka dari itu, sesuai janji aku akan up 2 BAB hari ini. Jadi yang udah memberikan poinya terima kasih banyak ya, dan bagi yang belum Semoga kalian bisa memberikan Poin di cerita ku ini.
Baiklah, selamat membaca 🤗🤗😉
...***...
"Sayang," panggil Khanif pelan.
Namun saat ia Rania sudah bisa mengendalikan rasa deg-degannya dengan mengatakan, "iya."
"Bagaimana kalau kita pergi lebih dahulu dari tempat ini?" tanya Khanif membuat Rania membulatkan matanya tanpa sadar. Khanif yang tidak ingin kalau Rania salah paham padanya pun langsung melanjutkan ucapannya kembali. "Maksud aku, aku lihat pada tamu undangan telah berangsur-angsur pulang. Disini juga yang tinggal hanya sisa beberapa orang juga. Apalagi ini sudah hampir jam sebelas. Pasti kamu juga sudah lelah."
"Tapi tidak enak kalau kita pergi lebih dahulu dari mereka."
"Kalau begitu kita tunggu beberapa menit lagi."
"Baiklah."
Khanif dan Rania pun kini hanya memilih duduk di kursi pengantin mereka seraya menunggu para tamu undangan meninggalkan acara mereka. Bukan maksud mengusir, hanya saja, ini sudah hampir tengah malam dan pastinya mereka juga sudah sangat kelelahan dengan banyaknya rangkaian acara yang telah mereka lalui selama satu hari ini.
Hingga tamu terakhir pun akhirnya meninggalkan lokasi acara. Mama Adelin dan lainnya langsung saja pergi menghampiri ke dua pasang pengantin baru itu.
"Sayang," panggil mama pelan.
"Iya, ma."
"Mama sama yang lainnya pulang dulu, ya."
"Iya, ma. Mama hati-hati dijalan."
"Iya, sayang."
Mama Dahlia yang juga ada disana pun pamit pulang pada Khanif dan Rania. Namun belum juga mereka benar-benar pergi, Rania sudah lebih dahulu berkata, "loh, ma. Bukannya kita pulang bersama?"
Mama sontak saja tertawa kecil. "Nak. Bukannya kamu akan menginap di sini?"
"Apa?"
"Sudah. Mama pulang dulu."
"Iya, ma," ujar Khanif cepat.
Keluarga Rania pun kini telah pulang mengikuti jejak keluarga Khanif sebelumnya.
"Kita menginap di hotel ini?"
"Iya, kenapa? Jihan tidak memberitaumu?"
Rania tentu saja menggelengkan kepalanya pelan. "Dia tidak berkata apa-apa tentang ini."
"Anak itu," gumam Khanif pelan. Ia tau kalau Jihan pasti sengaja melakukannya. Namun tak apa karena hal itu bukanlah masalah yang besar. Khanif pun lalu kembali melanjutkan ucapannya. "tak apa mungkin dia lupa. Kalau begitu kita segera pergi dari sini. Kamu pasti sudah sangat lelah menjamu para tamu yang hadir."
"Iya."
"Ayo." Khanif pun sekali lagi mengambil tangan Rania untuk digenggamnya.
Mereka berdua tengah berjalan ke kamar hotel yang telah dihias menjadi kamar pengantin mereka di sini.
Sesampainya mereka di depan pintu, Khanif lantas memasukkan kodenya, lalu melangkah masuk bersama Rania setelah pintunya terbuka.
__ADS_1
Seketika mereka ada didalam kamar, tiba-tiba Rania merasa ada aura yang aneh. Namun bukan aura merinding karena sesuatu hal, melainkan ia merasa aneh karena mereka hanya berdua saja di dalam kamar hotel ini. Tidak seperti saat dirumahnya tadi. Meski mereka berdua didalam kamar, tapi diluar masih ada keluarga Rania yang lain.
"Kamu mau membersihkan diri terlebih dahulu atau bagaimana?" tanya Khanif tiba-tiba membuat Rania mengalihkan pandangannya pada Khanif.
"Bagaimana dengan pakaian gantiku?"
"Semua sudah ada di lemari."
Rania lantas berjalan ke arah lemari. Ia ingin memastikan kalau baju gantinya memang sudah disiapkan sebelumnya.
Sesaat Rania membukanya, ia merasa lega karena perkataan Khanif ada benarnya. Namun semua itu tidak bertahan lama saat Rania meneliti satu persatu baju gantinya.
"Apa ini masih bisa dikatakan baju ganti?" tanya Rania dalam hati.
Pasalnya, baju ganti yang ada didalam pikiran Rania sebelumnya sangat berbeda dengan baju ganti yang ada didalam lemari. Baju ganti ini sangat terlalu terbuka.
"Kenapa?" tanya Khanif saat melihat Rania hanya diam saja.
"Kakak yakin ini baju ganti aku?" tanya Rania tanpa sadar dengan pandangan yang sulit diartikan.
Khanif lantas berjalan cepat ke arah Rania dan melihat isi lemari itu.
Sama seperti Rania, Khanif juga terkejut melihat isi lemari Rania.
"Anak itu!" seru Khanif dalam hati seraya memijit pelipisnya.
"Pa ... pakaian ganti itu bukan aku yang siapkan," katanya menjelaskan. "Tunggu aku hubungi Jihan dulu."
Khanif lantas bergegas mengambil ponselnya yang ia simpan diatas nakas samping tempat tidur.
Ia lalu mencari nomor sang adik, Jihan dan meneleponnya. Setelah tersambung, Khanif langsung saja mengatakan kalau Jihan harus kembali ke hotel untuk menemuinya.
Ah, sudahlah. Ia harus segera bergegas sebelum Khanif meneleponnya lagi dan mengancamnya untuk tidak memberikan dirinya uang jajan.
Sesaat Jihan keluar kamar dengan cardigan rajutnya yang panjang, mama yang melihatnya pun lantas bertanya.
"Kamu mau kemana, nak?"
"Kak Khanif manggil Jihan kesana, ma."
"Ada keperluan apa?"
"Ngga tau. Jihan hanya ditelpon untuk segera datang ke sana."
Meski tau apa penyebab Khanif memanggil dirinya, tapi hal ini bukan termaksud berbohong kan? Lagi pula Khanif hanya menyuruhnya datang tanpa berkata alasannya apa.
"Ini udah malam. Ngga baik kalau kamu pergi. Kamu masuk ke kamar sana. Biar mama yang menghubungi kakakmu nanti."
"Iya, ma. Mama harus cepat menghubungi kak Khanif loh. Ntar dia nelpon lagi sama Jihan."
"Iya, iya. Sana cepat istirahat."
"Iya, ma." Jihan pun segera berlalu dari sana dengan hati yang riang. "Semoga aja berhasil," rapalnya dalam hati.
Mama Adelin yang masih ada di ruang tengah pun kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya, lalu segera mendial nomor telepon Khanif.
"Assalamualaikum, nak."
Khanif yang tidak memperhatikan siapa yang meneleponnya barusan langsung saja menjauhkan ponselnya dari telinganya untuk melihat siapa yang telah menelepon dirinya.
__ADS_1
"Mama!" seru Khanif pelan.
Ia lalu kembali menempelkan ponselnya di telinganya seraya menjawab salam dari mama.
"Wa'alaikumsalam, ma."
"Kenapa kamu menyuruh adikmu kembali kesana tengah malam begini?" tanya mama tiba-tiba membuat Khanif menghela napas pendek.
"Anak nakal itu benar-benar sesuatu," ujar Khanif dalam hati.
"Nak?" seru mama saat Khanif tidak menjawab pertanyaannya.
"Ini, ma. Khanif ada keperluan sama adik," ujar Khanif sambil melirik Rania.
"Hem, lalu? Bukannya bisa besok saja?
Kenapa kamu menyuruh adikmu datang? Bukannya kamu tau kalau jalanan di jam segini sudah sangat sepi pengendara?" tanya mama bertubi-tubi hingga membuat Khanif tidak tau harus berkata apa.
Lalu beberapa detik kemudian, Khanif pun memberanikan diri berkata, "adik salah memberikan baju ganti sama Rania, ma."
Kini mama yang terdiam. Ia pun jadi tau penyebab Khanif menyuruh sang adik datang kesana.
"Kalau begitu biar mama saja yang datang kesana."
Khanif lalu beralih melihat Rania dan mengatakannya dengan suara pelan, "mama akan datang ke sini untuk membawakan kamu baju ganti."
Sontak hal itu membuat Rania berjalan cepat ke arah Khanif dan mengambil ponsel Khanif untuk berbicara dengan mama mertuanya.
"Ma, ini Rania, ma."
"Iya, nak."
"Mama ngga usah datang kesini. Rania bisa memakai pakaian lainnya, kok." ujar Rania karena ia pikir tidak ada baiknya kalau ia menyusahkan mama mertuanya di hari pertama mereka menikah. Apalagi jika itu menyangkut persoalan pakaian saja.
Lagi pula, ia masih bisa memakai pakaian lainnya kan? Seperti bathdrobe hotel contohnya!
"Kamu yakin, nak?"
"Iya, ma."
"Baiklah. Kalau gitu kalian baik-baik disana, ya. Besok pagi mama bawakan pakaian kamu."
"Iya, ma."
Mama Adelin pun menyudahi percakapan mereka dengan mengucapkan kata salam dan dibalas dengan ucapan yang sama dari Rania.
"Bagaimana?" tanya Khanif.
"Aku pakai bathdrobe hotel saja."
"Kamu yakin, sayang?"
Rania mengangguk ragu sebagai jawabannya.
...To be continued ...
Semoga yang berikan like, vote dan komen diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah dari Allah, aamiin
...By Siska C...
__ADS_1