Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 177. Siapa Wanita Itu?


__ADS_3

Tinggal seminggu lagi pernikahan antara Khanif dan Rania akan digelar di salah satu hotel milik Khanif.


Meski pernikahan mereka tidak lama lagi, tak ayal kedua calon pengantin itu masih sibuk bekerja satu sama lain. Namun yang berbeda dari kedua calon pengantin itu, Khanif masih harus bekerja selama beberapa hari kedepannya lagi.


Sedangkan Rania, besok adalah hari terakhirnya ia bekerja dikantor Khanif karena sebagai calon pengantin wanita, ia harus mempersiapkan banyak hal sebelum benar-benar menjadi sosok seorang istri yang terbaik bagi suaminya kelak.


Untuk itu, Rania dan Khanif tidak akan bertemu sebelum janji suci mereka terucap. Sulit memang, namun hal itu akan sepadan jika mereka bisa melewatinya.


"Pulang kantor nanti, aku yang akan antar pulang, ya," ujar Khanif sesaat mereka telah makan siang bersama.


"Kakak Rey udah bilang mau jemput aku."


Khanif menghela napas panjang. Ini saja ia bisa mengajak Rania keluar untuk makan siang bersama karena Khanif menjanjikan sesuatu untuk Davina.


"Tinggal besok loh, kita bisa bersama kayak gini."


"Tapi kan itu cuma beberapa hari aja. Setelahnya ... kita bisa bersama-sama terus," ujar Rania menenangkan. "Kakak aneh ya," ujar Rania tiba-tiba.


Khanif yang fokus mengendarai mobilnya lantas menolehkan wajahnya sekilas, lalu berkata, "aneh kenapa?"


"Ya, aneh aja. Dulu kakak tuh rada-rada cuek gitu. Nah, sekarang manjanya ngga inget waktu."


"Dulu, aku masih memikirkan banyak kemungkinan lainnya. Seperti, bagaimana kalau kamu menaruh dendam padaku sejak kejadian di taman belakang sekolah saat itu. Bagaimana jika kamu sudah mempunyai seseorang dihatimu dan lebih parahnya, Bagaimana kalau kamu tidak dapat menungguku lagi," ujar Khanif membuat Rania tertawa di pertanyaan terakhirnya.


"Kenapa tertawa?" tanya Khanif.


"Aneh saja saat kakak bertanya bagaimana kalau aku tidak menunggu kakak. Emang aku memilih sendiri sampai saat sebelum kakak melamarku karena menunggu kakak gitu?"


Tiba-tiba saja Khanif terdiam. Ia tidak tau harus menjawab apa. Apa selama ini dirinyalah yang terlalu kepedean?


"Aku hanya bercanda."


Khanif lega. "Jadi benarkan kamu menunggu aku?"


"Ada benar dan tidaknya juga sih! Benarnya saat kita bertemu lagi setelah sekian lama dan tidak benarnya, setelah kita berpisah lama. Ngga tau aja, setelah bertemu kakak lagi, aku jadi punya harapan gitu."


"Harapan kalau kita bisa bersama nantinya?"


"Hem. Tapi tingkat keraguannya itu berbanding 50 : 50. Jadi rada-rada ngga percaya diri aja, sih."


Hati Khanif menghangat. "Tak apa karena yang terpenting saat ini, keraguan itu akhirnya menipis juga."


"Hem. Ya. Ngga nyangka banget kalau hadapan aku bisa tercapai," ujar Rania malah membuat Khanif terkekeh pelan. "Jangan mulai lagi kak," kata Rania kemudian dengan bibir yang manyun.


"Kakak tertawa karena cerita kita rada-rada mirip."

__ADS_1


"Mirip?"


"He'em. Mirip. Miripnya karena aku juga mempunyai harapan yang sama. Bedanya itu hanya karena aku cuma takut kalau harapanku itu tidak tercapai."


"Soal keraguan ada ngga kak?"


"Ragu apakah aku bisa bersamamu kelak atau tidak?"


"Iya."


"Kakak tidak mempunyai keraguan itu. Karena kakak yakin bisa memilikimu nantinya, tapi itu tergantung sama yang di Atas juga sih. Bagaimana akhirnya dari perjalanan kita ini sebelum aku duduk didepan papa kamu nantinya."


"Makanya kakak jangan buat aku kesal-kesal karena tingkah kakak yang aneh-aneh," ujar Rania jika mengingat beberapa hari lalu, dimana Khanif sengaja membuatnya kesal sehingga ia tidak mengangkat sambungan ponsel Khanif hampir seharian.


"Iya, iya. Kakak tidak akan melakukannya lagi, tapi kalau ngga bosan aja sih."


"Kak!" seru Rania.


"Maaf, maaf. Kakak bercanda."


Setelah lama berkendara, akhirnya mereka telah tiba di kantor. Sesaat mereka berdua keluar dari mobil, langkah kaki mereka tertahan saat tanpa sengaja manik mata mereka menangkap sosok wanita paruh baya yang sedang berserekap dada sambil menggeleng-gelengkan kepalanya kekiri dan ke kanan.


"Mama," ujar Khanif pelan. Ia lalu menolehkan wajahnya pada Rania.


Mama Adelin yang memang mempunyai perlu di perusahaan siang ini pun datang menghampiri mereka.


"Jadi begini kelakuan kalian kalau di kantor?"


"Mama, ini kebetulan kok," ujar Khanif.


"Kebetulan pergi bersama selama sejam?"


"Ka ... kami tadi pergi makan siang bersama, ma," ujar Rania.


"Jadi bagaimana makan siang kalian?"


"Berjalan tanpa hambatan, ma. Seperti jalan tol," ujar Khanif sambil tersenyum lucu.


"Anak ini!" seru mama. "Kalian itu harus jaga jarak. Beda-in saat jam kerja dan tidak. Kalau kalian seperti ini, apa nanti kata karyawan. Terutama kamu Khanif. Kamu harus memberi contoh yang baik pada bawahanmu."


"Ma, kami ..."


"Mama tidak memarahi kalian karena telah melanggar pesan mama. Hanya saja mama sengaja melakukannya untuk melindungi kalian. Bagaimana kalau sebelum pernikahan ada berita buruk yang terjadi pada kalian. Kalian pasti tau, kalau sebuah berita buruk yang tidak benar pasti dapat tersebar dengan sangat cepat. Bahkan kalian juga tidak dapat mengelaknya karena kelakuan kalian yang dapat mereka lihat dari mata kepala mereka sendiri."


"Maaf, ma. Khanif melupakan hal itu. Khanif janji akan menjaga diri Khanif dan Rania."

__ADS_1


"Baiklah. Karena kamu telah berjanji, maka kamu masuk lebih dahulu. Mama akan menyusul sama Rania sebentar."


"Iya, ma," ujar Khanif. Ia lalu beralih pada Rania.


"Aku masuk dulu, ya."


"Iya.


Seperginya Khanif, mama tiba-tiba saja mengambil tangan Rania untuk digenggamnya dan lebih tepatnya, mama ingin memberikan Rania pengertian soal perkataan mama barusan.


"Maaf, ya soal perkataan mama tadi."


"Iya, ma. Ngga papa kok. Malahan Rania seneng karena perhatian mama barusan."


"Syukurlah kamu mengerti, sayang. Mama hanya tidak ingin kalian jadi bahan perbincangkan yang tidak baik."


"Iya, ma."


"Kalau gitu, ayo kita masuk. Mama ingin bercerita denganmu walau sedikit."


"Ayo, ma."


Rania dan mama Adelin pun segera melangkahkan kaki mereka masuk ke dalam kantor.


***


Jam telah menujukkan pukul lima lewat. Rania pun telah bersiap-siap untuk pulang kerumah karena semua pekerjaan yang ditugaskan oleh Khanif padanya telah ia kerjakan semuanya.


Ia pun saat ini telah berdiri didepan pintu ruangan kerja Khanif ingin meminta izin pulang lebih dahulu.


Sesaat Rania ingin mengetuk pintu, ia malah tanpa sengaja mendengar suara Khanif sedang berbicara dengan seseorang di sambungan telepon karena pada kenyataannya ruangan Khanif tidak terkunci dengan rapat. Entah siapa yang tadi telah masuk sampai lupa menguncinya.


Ia sebenarnya ingin meminta izin untuk pulang. Namun mendengar suara Khanif yang terdengar berbicara dengan seorang perempuan yang tidak Rania kenali suaranya, membuat Rania malah mengurungkan niatnya itu.


Ia pun lantas pergi dari sana tanpa berbicara dengan Khanif.


Sepanjang jalan menuju lobi, Rania diam. Ia bahkan terdiam saat masih di dalam lift. Sungguh, percakapan Khanif sedang seseorang itu membuatnya jadi bertanya-tanya.


Siapa wanita itu?


...To be continued...


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲


...By Siska C ...

__ADS_1


__ADS_2